3 Ayat Al-Qur’an Tentang Inovasi - Pegadaian Syariah
logo

3 Ayat Al-Qur’an Tentang Inovasi

5 bulan yang lalu    
3 Ayat Al-Qur’an Tentang Inovasi

Aktivitas inovasi atau ibdaa’ adalah membuat karya baru tanpa meniru dan mengikuti (yang lain). Salah satu definisi dari ibdaa’ adalah bada’a asy-syai’, yabda’uhu bad’an wa ibtada’ahu, yakni mengadakan dan memulai sesuatu, menemukan sesuatu yang tidak ada pendahulunya, tanpa contoh. Jadi, kata ibdaa berarti mengadakan sesuatu yang baru, yang tidak ada pendahulunya dan rekayasa yang tidak ada contoh sebelumnya, baik itu rekayasa pemikiran maupun rekayasa produk karya sesuatu. Hasil karya inovasi disebut dengan bid’ah.

Inovasi (pembuatan bid’ah) adalah hal yang sudah sewajarnya dilakukan, apalagi dalam dunia kontemporer seperti sekarang ini. Dunia terus berkembang, teknologi terus berubah semakin canggih. Namun, kita harus hati-hati agar tidak terjebak melakukan inovasi yang sesat (bid’ah dholalah).

Cara paling mudah mencermati apakah bid’ah yang dilakukan ini baik atau buruk, rumusnya sederhana. Jika bid’ah dilakukan dalam hal ritual ibadah, maka bid’ah ini adalah bid’ah sayyi`ah (bid’ah yang buruk). Dalam menjalankan ritual ibadah harus ada dalil perintahnya, sehingga kita tidak boleh kreatif dalam hal ritual ibadah. Batasan ibadah adalah terkait rukun Islam dan hal lain selain urusan muamalah. Sholat Subuh itu dua rakaat, tidak bisa diubah menjadi 3 rakaat.

Sedangkan dalam hal muamalah (transaksi motif profit dan nonprofit), inovasi (bid’ah) boleh dilakukan sampai ada dalil keharamannya. Contoh inovasi di bidang muamalah adalah adanya Lembaga Keuangan Syariah seperti Bank Syariah, Asuransi Syariah, Pasar Modal Syariah, Pegadaian Syariah, dan lain-lain.

Ada beberapa ayat Al-Quran tentang inovasi yang mencerminkan adanya kesenyataan manusia dalam melakukan inovasi (bid’ah) ini. Ayat-ayat ini mendorong kita untuk berpikir, berproduksi, berinovasi dan menghadirkan kreativitas.

Pertama, Al-Qur’an Surat Ali Imran: 190 – 191, yang berbunyi, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.

Terkait dengan Al-Qur’an Surat Ali Imran: 190, Ibnu Katsir menyatakan bahwa makna dari “sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi,” yakni dalam ketinggiannya dan keluasannya, dan yang ini dalam hamparannya, kepadatannya serta tata letaknya, dan semua yang ada pada keduanya berupa tanda-tanda yang dapat disaksikan lagi amat besar, seperti bintang-bintang yang beredar dan yang tetap, lautan, gunung-gunung dan padang pasir, pepohonan, tumbuh-tumbuhan, tanam-tanaman dan buah-buahan serta hewan-hewan, barang-barang tambang, serta berbagai macam manfaat yang beraneka warna, bermacam-macam rasa, bau, dan kegunaannya.

Selanjutnya, definisi dari “dan silih bergantinya malam dan siang” bermakna saling bergiliran dan saling mengurangi panjang dan pendeknya; adakalanya yang satu panjang, sedangkan yang lainnya pendek, kemudian keduanya menjadi sama. Setelah itu, bagian yang satu mengambil sebagian waktu dari yang lain hingga ia menjadi panjang waktunya, yang sebelum itu pendek, dan menjadi pendeklah yang tadinya panjang. Semuanya itu berjalan berdasarkan pengaturan dari Tuhan Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui.

Selanjutnya, tafsiran dari “terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal” yaitu akal-akal yang sempurna lagi memiliki kecerdasan, karena hanya yang demikianlah yang dapat mengetahui segala sesuatu dengan hakikatnya masing-masing secara jelas dan gamblang. Lain halnya dengan orang yang tuli dan bisu serta orang-orang yang tak berakal. (Tafsir Ibnu Katsir Juz 2 halaman 183).

Ayat ini jelas merangsang akal kita untuk terus meraih ilmu dan melakukan inovasi di berbagai bidang, termasuk melakukan eksplorasi terhadap alam semesta. Eksplorasi ilmiah bisa menghadirkan inovasi-inovasi dari sisi peralatan, mesin, metode dan karya-karya lain yang bisa menjawab kebutuhan manusia terkait keberadaan semua hal yang ada di langit dan bumi.

Kedua, Al-Qur’an Surat Luqman: 20, yang berbunyi, “Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa kitab yang memberi penerangan.”

Ibnu Katsir mengungkap bahwa Allah SWT mengingatkan kepada makhluk-Nya akan semua nikmat yang telah Dia limpahkan kepada mereka, bahwa Dia telah menundukkan bagi mereka semua bintang yang di langit sebagai penerangan buat mereka di malam hari dan di siang harinya. Dia telah menciptakan pula bagi mereka awan, hujan, salju serta embun yang ada di langit, dan Dia jadikan langit bagi mereka sebagai atap yang terpelihara.

Dan Allah telah menciptakan bagi mereka bumi ini sebagai tempat tinggal yang disertai sungai-sungainya, pepohonannya, tanam-tanamannya, dan buah-buahannya. Dia telah melimpahkan pula kepada mereka nikmat-nikmat-Nya yang lahir dan yang batin, yaitu dengan mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab-Nya kepada mereka untuk menyingkirkan semua keraguan dan penyakit.

Tetapi dengan adanya semua itu tidaklah mereka semuanya beriman, bahkan di antara mereka ada orang-orang yang membantah tentang keesaan Allah dan diutus-Nya para rasul. Bantahan mereka terhadap hal itu tidak berdasarkan pengetahuan, tidak bersandarkan kepada alasan yang benar, tidak pula berdasarkan kitab yang ada lagi benar. (Tafsir Ibnu Katsir Juz 6 halaman 347).

Ayat ini mendorong kita untuk mempelajari keberadaan alam semesta ini dengan ilmu pengetahuan yang dikaitkan dengan Al-Qur’an, hadits, beserta dalil lainnya. Kita boleh melakukan inovasi dengan tetap bersandar pada Al-Qur’an dan hadits sebagai sumber penerangan.

Ketiga, Al-Qur’an Surat Ali Imran: 130, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.”

Melalui firman-Nya di atas, Allah melarang hamba-hamba-Nya yang beriman melakukan riba dan memakannya dengan berlipat ganda. Sebagaimana pada masa Jahiliyyah dulu mereka mengatakan: “Jika hutang sudah jatuh tempo, maka ada dua kemungkinan; dibayar atau dibungakan. Jika dibayar, maka selesai sudah urusan. Dan jika tidak dibayar, maka ditetapkan tambahan untuk jangka waktu tertentu dan kemudian ditambahkan pada pinjaman pokok.” Demikian seterusnya pada setiap tahunnya. Mungkin jumlah sedikit bisa berlipat ganda menjadi banyak. (Tafsir Ibnu Katsir Juz 2 halaman 117).

Ayat Al-Qur’an ini menyebabkan hadirnya inovasi di bidang muamalah. Pada masa Rasulullah, masa sahabat sampai dengan sebelum masa modern saat ini, transaksi-transaksi muamalah masih bersifat sederhana, belum menggunakan teknologi canggih seperti saat ini.

Saat ini umat Islam harus terus melakukan inovasi untuk mengimbangi perkembangan zaman dengan era teknologi yang semakin canggih. Lembaga Keuangan Syariah (LKS) merupakan salah satu inovasi yang sangat fenomenal untuk melaksanakan transaksi muamalah yang terhindar dari Riba dan transaksi terlarang lainnya, di era modern. Di antara LKS yang marak hadir saat ini adalah Bank Syariah, Asuransi Syariah, Pegadaian Syariah, Koperasi Syariah, dan lain-lain.

Demikian 3 ayat Al-Qur’an yang merangsang kita untuk meraih ilmu dan terus melakukan inovasi dalam rangka menjawab tantangan zaman yang serba canggih sekarang ini. Semoga bermanfaat!

 

Artikel ditulis oleh Tim Advika, keterangan lebih lanjut hubungi e-mail info@advikamedia.com



Artikel Terkait


  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu

Komentar Artikel "3 Ayat Al-Qur’an Tentang Inovasi"