5 Sosok Pahlawan yang Terkenal dalam Sejarah Islam - Pegadaian Syariah
logo

5 Sosok Pahlawan yang Terkenal dalam Sejarah Islam

5 bulan yang lalu    
5 Sosok Pahlawan yang Terkenal dalam Sejarah Islam

Islam memiliki pahlawan-pahlawan tangguh di medan perang, sejak masa Rasulullah, Sahabat, Khilafah Islamiyyah pasca al Khulafa ar Rasyidun sampai dengan pahlawan Islam masa perjuangan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Berikut ini adalah 5 sosok pahlawan Islam pilihan sepanjang sejarah:

1. Khalid bin Walid (585 – 642)

Khalid bin Walid memiliki nama lengkap Abū Sulaymān Khālid ibn al-Walīd ibn al-Mughīrah al-Makhzūmī, atau juga dikenal dengan Sayf Allāh al-Maslūl (pedang yang terhunus).

Khalid bin Walid adalah Muallaf, bergabung bersama Rasulullah SAW setelah terjadinya Perjanjian Hudaibiyyah serta berpartisipasi dalam berbagai ekspedisi untuk Muhammad, seperti Pertempuran Mu'tah. Ini merupakan pertempuran pertama antara orang Romawi dan Muslim. Pada pertempuran Mu'tah, Khalid ditunjuk untuk menjadi panglima perang pengganti setelah ketiga panglima perang dalam Pertempuran Mu'tah yaitu Zaid bin Haritsah, lalu Jafar ibn Abi Talib, lalu Abdullah ibn Rawahah tewas terbunuh secara berurutan dalam pertempuran yang sengit itu.

Khalid bin Walid dikenal sebagai panglima perang yang tidak pernah terkalahkan sepanjang karirnya. Khalid bin Walid dan pasukannya tidak pernah dikalahkan dalam lebih dari 100 pertempuran melawan Kekaisaran Byzantium, Kekaisaran Sasanid, dan sekutu-sekutu mereka termasuk juga suku-suku Arab di luar kekuasaan Khalifah.

Sejarah membuktikan bahwa Jazirah Arab bersatu untuk pertama kalinya adalah pada masa kepemimpinan militernya. Salah satu pencapaian strategis yang diraih Khalid bin Walid adalah penaklukan Arab selama Perang Riddah, Persia Mesopotamia dan Suriah Romawi hanya dalam waktu empat tahun pada tahun 632 ke 636. Khalid juga dikenang karena kemenangan telaknya pada Pertempuran Yamamah, Pertempuran Ullais, dan Pertempuran Firaz, dan kesuksesan taktiknya pada Pertempuran Walaja dan Pertempuran Yarmuk.

Pemimpin yang efektif dari pasukan yang tersusun untuk melawan Kekaisaran Byzantium selama tahap awal dari Peperangan Romawi Timur-Arab. Di bawah komandonya, Damaskus ditaklukan pada tahun 634 dan kunci kemenangan Arab melawan pasukan Kekaisaran Byzantium dicapai pada Pertempuran Yarmuk (636) yang menyebabkan penaklukan Bilad al-Sham (Levant).

Pada tahun 638, di puncak-puncak karirnya sebagai panglima perang, Khalid diberhentikan jabatannya oleh Khalifah Umar Bin Khattab, dan Khalid bin Walid menerimanya. Hal ini dilakukan oleh Khalifah Umar bin Khattab untuk menghilangkan potensi kesombongan pada diri Khalid bin Walid yang saat itu bertabur puja puji atas kegemilangan prestasinya di bidang militer.

2. Salahuddin al Ayyubi (1138 – 1193)

Salahuddin al Ayyubi bernama asli Yusuf bin Najmuddin al-Ayyubi. Beliau adalah seorang jenderal dan pejuang muslim Kurdi dari Tirkit. Ia mendirikan Dinasti Ayyubiyyah di Mesir, Suriah, sebagian Yaman, Irak, Mekkah Hijaz dan Diyar Bakr. Sultan Salahuddin al Ayyubi juga adalah seorang Ulama. Beliau memberikan catatan kaki dan berbagai macam penjalasan dalam Kitab Hadits Abu Dawud.

Salahuddin al Ayyubi dikenal dengan Salahuddin Ayyubi/Saladin/Salah ad-Din. Salahuddin terkenal di dunia Muslim dan Kristen karena kepemimpinannya, kekuatan militer, serta sifatnya yang ksatria dan pengampun pada saat berperang melawan tentara Salib.

Salahuddin Al-Ayyubi berhasil mematahkan serangan Tentara Salib dan pasukan Romawi Bizantium yang melancarkan Perang Salib kedua terhadap Mesir. Sultan Nuruddin memerintahkan Shalahuddin mengambil kekuasaan dari tangan Khilafah Fathimiyah dan mengembalikan kepada Khilafah Abbasiyah di Baghdad mulai tahun 567 H/1171 M. Setelah Khalifah Al-'Adid, khalifah Fathimiyah terakhir meninggal maka kekuasaan sepenuhnya di tangan Shalahuddin Al-Ayyubi.

3. Muhammad al Fatih (1432 – 1481)

Muhammad al Fatih atau Sultan Mehmed II dikenal sebagai el-Fatih (sang penakluk). Al Fatih adalah seorang Sultan pada dinasti Turki Utsmani yang menaklukkan kekaisaran Romawi Timur. Ia merupakan anak didik Syekh Syamsuddin yang masih merupakan keturunan Abu Bakar As-Siddiq.

Al Fatih memiliki kepakaran dalam bidang ketentaraan, sains, matematika dan menguasai 6 bahasa saat berumur 21 tahun. Al Fatih dikenal sebagai seorang pemimpin yang hebat, pilih tanding, dan tawadhu' setelah Sultan Salahuddin  al-Ayyubi (pahlawan Islam dalam perang Salib) dan Sultan Saifuddin Mahmud Al-Qutuz (pahlawan Islam dalam peperangan di 'Ain Al-Jalut melawan tentara Mongol).

Puncak kejayaan al Fatih dicapai pada saat menaklukkan Konstantinopel yang menyebabkan banyak kawan dan lawan kagum dengan kepemimpinannya serta kagum dengan taktik dan strategi peperangannya yang dikatakan mendahului pada zamannya dan juga kaidah pemilihan tentaranya. 

Al Fatih jugalah yang mengganti nama Konstantinopel menjadi Islambol (Islam keseluruhannya). Kini nama tersebut telah diganti oleh Mustafa Kemal Ataturk menjadi Istanbul. Untuk memperingati jasanya, Masjid Al Fatih telah dibangun di sebelah makamnya.

4. Pangeran Diponegoro (1785 – 1855)

Nama kecil Pangeran Diponegoro adalah Bendara Raden Mas Antawirya atau Bendara Pangeran Harya Dipanegara. Diponegoro lahir di Yogyakarta pada 11 November 1785 dan wafat di Makassar pada 8 Januari 1855.

Diponegoro adalah pahlawan nasional Republik Indonesia. Diponegoro terkenal karena memimpin Perang Diponegoro atau Perang Jawa pada tahun 1825 – 1830 melawan pemerintah Hindia Belanda. Perang tersebut tercatat sebagai perang dengan korban paling besar dalam sejarah Indonesia.

Sikap Diponegoro yang menentang Belanda secara terbuka, mendapat simpati dan dukungan rakyat. Atas saran GPH Mangkubumi, pamannya, Diponegoro menyingkir dari Tegalrejo, dan membuat markas di sebuah gua yang bernama Gua Selarong. Saat itu, Diponegoro menyatakan bahwa perlawanannya adalah perang sabil, perlawanan menghadapi kaum kafir.

Kyai Mojo yang lahir di Desa Mojo di wilayah Pajang, dekat Kota Surakarta tertarik berjuang bersama Pangeran Diponegoro karena Pangeran Diponegoro ingin mendirikan kerajaan yang berlandaskan Islam. Selain Kyai Mojo, perjuangan Diponegoro juga didukung oleh Sunan Pakubuwono VI dan Raden Tumenggung Prawiradigdaya Bupati Gagatan. 

Pada tahun 1827, Belanda melakukan penyerangan terhadap Diponegoro dengan menggunakan sistem benteng sehingga Pasukan Diponegoro terjepit. Pada tahun 1829, Kyai Maja, pemimpin spiritual pemberontakan, ditangkap. Menyusul kemudian Pangeran Mangkubumi dan panglima utamanya Sentot Alibasya Prawirodirjo ditangkap oleh Belanda. Pada tanggal 28 Maret 1830, Pangeran Diponegoro menemui Jenderal Van De Kock di Magelang untuk perundingan. Jenderal Van De Kock memaksa Pangeran Diponegoro menghentikan perang dan permintaan terserbut ditolak. Akhirnya, Pangeran Diponegoro ditangkap dan diasingkan ke Manado, kemudian dipindahkan ke Makassar hingga wafatnya di Benteng Rotterdam tanggal 8 Januari 1855.

5. Panglima Besar Jenderal Sudirman (1916 – 1950)

Jenderal Besar Raden Soedirman atau Sudirman yang lahir pada 24 Januari 1916 – 29 Januari 1950) adalah perwira tertinggi Indonesia pada masa Revolusi Nasional Indonesia. Sudirman adalah panglima besar Tentara Nasional Indonesia yang pertama.

Awal karir Sudirman di bidang militer dimulai pada tahun 1944, saat berusia 28 tahun. Pada saat itu, Sudirman bergabung dengan tentara Pembela Tanah Air (PETA) yang disponsori Jepang, menjabat sebagai komandan batalion di Banyumas. Setelah masa kemerdekaan RI, Presiden Soekarno menugaskan Sudirman untuk mengawasi proses penyerahan diri tentara Jepang di Banyumas.

Sudirman diangkat menjadi Panglima Besar TKR di Yogyakarta pada tanggal 12 November 1945. Sudirman memerintahkan perang melawan Inggris di Ambarawa, sampai Inggris dipukul mundur dari Ambarawa.

Sudirman menjadi saksi kegagalan negosiasi dengan tentara kolonial Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia, yang pertama adalah Perjanjian Linggarjati  yang turut disusun oleh Sudirman  dan kemudian Perjanjian Renville  yang menyebabkan Indonesia harus mengembalikan wilayah yang diambilnya dalam Agresi Militer I kepada Belanda dan penarikan 35.000 tentara Indonesia.

Pada tanggal 19 Desember 1948, Belanda melancarkan Agresi Militer II untuk menduduki Yogyakarta. Di saat pemimpin-pemimpin politik berlindung di kraton sultan, Sudirman, beserta sekelompok kecil tentara dan dokter pribadinya, melakukan perjalanan ke arah selatan dan memulai perlawanan gerilya selama tujuh bulan.

Awalnya mereka diikuti oleh pasukan Belanda, tetapi Sudirman dan pasukannya berhasil kabur dan mendirikan markas sementara di Sobo, di dekat Gunung Lawu. Dari tempat ini, ia mampu mengomandoi kegiatan militer di Pulau Jawa, termasuk Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta, yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Soeharto. Ketika Belanda mulai menarik diri, Sudirman dipanggil kembali ke Yogyakarta pada bulan Juli 1949.

Meskipun ingin terus melanjutkan perlawanan terhadap pasukan Belanda, ia dilarang oleh Presiden Soekarno. Penyakit TBC yang diidapnya kambuh; ia pensiun dan pindah ke Magelang. Sudirman wafat kurang lebih satu bulan setelah Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta.

Demikian figur 5 pahlawan Islam yang masyhur dalam sejarah sejak masa Rasulullah SAW sampai masa kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Semoga kita bisa meneladani kegigihan perjuangannya. Amin.

 

Artikel ditulis oleh Tim Advika, keterangan lebih lanjut hubungi e-mail info@advikamedia.com



Artikel Terkait


  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu

Komentar Artikel "5 Sosok Pahlawan yang Terkenal dalam Sejarah Islam"