Ciri-Ciri Lingkungan Bisnis yang Islami - Pegadaian Syariah
logo

Ciri-Ciri Lingkungan Bisnis yang Islami

7 bulan yang lalu    
Ciri-Ciri Lingkungan Bisnis yang Islami

Bisnis Islami adalah bisnis yang dijalankan dengan menegakkan nilai-nilai yang diajarkan oleh syariat Islam. Berarti, lingkungan bisnis yang Islami adalah lingkungan bisnis yang menegakkan nilai-nilai Islam. Nilai bisnis Islami ini sifatnya universal karena bukan semata terkait dengan ritual ibadah, sehingga bisa diterapkan oleh semua orang.

Berikut ini akan kita urai mengenai ciri-ciri lingkungan bisnis yang Islami, berdasarkan azas ekonomi syariah, yakni kemaslahatan, keseimbangan, persaudaraan, keadilan dan universal.

Pertama, menegakkan nilai kemaslahatan. Ciri pertama lingkungan bisnis Islami adalah ketika lingkungan bisnis tersebut ditata dan dikelola dalam rangka menegakkan kemaslahatan, baik kemaslahatan dari sudut pandang individu maupun kemaslahatan umum.

Perusahaan yang Islami akan memikirkan kemaslahatan setiap SDM (Sumber Daya Manusia) yang terlibat di dalamnya dan memperhatikan kepentingan umum. Bisnis yang Islami akan memikirkan kebutuhan pokok SDM-nya. Bisnis yang Islami juga akan memperhatikan lingkungan sekitar, seperti perhatian terhadap AMDAL (Analisis Mengenai Dampak dan Lingkungan), penerapan program penyaluran Zakat, Corporate Social Reponsibility (CSR), serta program sosial lainnya.

Perlu diketahui bahwa tolok ukur kemaslahatan dalam bisnis adalah ketika memenuhi kebutuhan dharuriyyat dan hajiyyat dalam bingkai maqashid syariah (tujuan-tujuan syariah). Ada 5 aspek dalam maqashid syariah, yakni menjaga agama (hifzh ad diin), menjaga jiwa (hifzh an nafs), menjaga akal (hifzh al aql), menjaga keturunan (hifzh an nasl), menjaga harta (hifzh al maal).

Kelima hal tersebut disesuaikan dengan kondisi dharuriyyat atau hajiyyat. Dharuriyyat terjadi ketika sesuatu tidak dipenuhi, maka akan menimbulkan kehancuran atau kematian. Sedangkan hajiyyat terjadi ketika sesuatu tidak dipenuhi, maka tidak akan menimbulkan kehancuran atau kematian, namun akan menghadirkan kesusahan dan kesulitan.

Lingkungan bisnis yang Islami akan memastikan terpenuhinya kebutuhan dharuriyyat dan hajiyyat dalam memenuhi semua aspek maqashid syariah. Apapun produk dan lini bisnisnya, pastikan bahwa seluruh aspek bisnisnya diatur agar menghadirkan kemaslahatan sebagaimana definisi di atas.

Kedua, menegakkan nilai keseimbangan. Lingkungan bisnis yang Islami akan terus menjaga keseimbangan antara kepentingan duniawi dan ukhrawi, kepentingan material dan spiritual. Lingkungan bisnis yang sehat akan memperhatikan keseimbangan dalam keseriusan mengejar target sekaligus menata manajemen risiko di semua lini.

Keseimbangan ini sangat diperlukan agar tercipta harmoni dalam bisnis. Ketika kita terlalu fokus mengejar target saja, maka sangat mungkin akan kehilangan ruh spiritual dan menimbulkan kelelahan psikis. Padahal psikis atau jiwa adalah motor penggerak bisnis.

Ketiga, menegakkan nilai persaudaraan. Persaudaraan adalah salah satu simbol akhlak. Bisnis yang Islami akan memperhatikan nilai-nilai ukhuwah (persaudaraan), baik antar sesama orang beriman maupun dengan pihak lain yang berbeda keyakinan. Tentu saja, nilai persaudaraan di sini adalah ketika tetap memegang teguh nilai profesionalisme dan integritas.

Nilai persaudaraan dalam bisnis bisa menghadirkan hadirnya suasana kerja yang baik dan kondusif. Nilai persaudaraan bisa diimplementasikan dalam hubungan sesama karyawan, atasan dengan bawahan, bawahan dengan atasan, serta dengan pihak luar, baik dengan regulasi, partner, maupun klien. Nilai-nilai ini bisa memperkuat tingkat kenyamanan kerja, loyalitas, dan kepercayaan publik terhadap bisnis dan produknya.

Keempat, menegakkan nilai keadilan. Keadilan adalah penempatan sesuatu pada tempatnya. Definisi keadilan dalam bisnis adalah ketika bisnis dijalankan sesuai dengan syariah Islam di bidang muamalah. Dalam muamalah, semua transaksi boleh dilakukan kecuali pada hal-hal yang dilarang syariah Islam. Dengan demikian, cara mudah memahami definisi menegakkan nilai keadilan adalah ketika bisnis tidak menjalankan transaksi yang dilarang syariat Islam, terutama di bidang muamalah.

Ada dua besaran transaksi terlarang dalam muamalah, yakni dari sisi zat dan dari sisi nonzat. Dari sisi zatnya jelas bahwa lingkungan bisnis yang Islami adalah ketika tidak menjual dan memproduksi produk yang diharamkan syariat Islam, seperti daging babi, khamr (minuman keras), narkoba, barang yang membahayakan dan lain-lain.

Sedangkan dari sisi zat akan ada banyak transaksi terlarang. Meskipun banyak, namun tetap jauh lebih banyak transaksi yang diperbolehkan. Adapun transaksi yang dilarang syariat dalam bidang bisnis adalah riba, gharar, maisir, risywah, zhalim, maksiat dan transaksi yang tidak sah.

Riba adalah transaksi yang mensyaratkan kelebihan pengembalian atas hutang maupun pada transaksi jual beli. Bisnis Islami apapun harus terbebas dari transaksi ribawi. Selanjutnya, ada gharar ketika transaksi memastikan hal yang belum pasti. Bisnis Islami apapun harus terbebas dari transaksi gharar. Kemudian ada Maisir adalah transaksi spekulasi terlarang atau biasa dikenal dengan judi. Bisnis Islami apapun harus terbebas dari transaksi maisir.

Lalu ada risywah adalah suap menyuap. Lingkungan bisnis yang Islami akan menghindari transaksi suap menyuap, baik yang dilakukan sembunyi-sembunyi maupun yang diatur secara prosedural. Tidak jarang penyuapan ini terjadi terang-terangan dan bahkan seakan membudaya (menjadi urf).

Tidak zhalim adalah dengan menempatkan sesuatu pada tempatnya. Secara teknis, tidak zhalim ini akan ada banyak praktik. Namun, yang paling bisa dicermati dan menjadi ruh dari keseluruhan bisnis adalah dengan menekankan budaya jujur (integritas), komunikasi efektif, profesional, dan amanah.

Lingkungan bisnis yang Islami tentu akan menjunjung tinggi nilai kejujuran dan penuh integritas. Nilai-nilai ini harus menjadi budaya kerja perusahaan yang Islami. Bisnis yang Islami akan memperhatikan Good Corporate Governance (GCG) dari sisi pelaksanaan dan pengawasannya.

Lingkungan bisnis Islami juga akan menata agar komunikasi dalam perusahaan bisa dijalankan secara efektif, baik komunikasi antarindividu yang menjadi budaya kerja, serta komunikasi efektif antara individu dengan perusahaan. Biasanya disiapkan perangkat komunikasinya, seperti media internal atau jika perusahaan berkapasitas optimal, bisa dibentuk Serikat Pekerja yang efektif.

Bisnis yang Islami juga akan memberikan peluang bagi seluruh sumber daya yang terlibat untuk menjalankan bisnis secara profesional. Perusahaan memperhatikan kinerja SDM yang ada, memperhatikan karirnya, memperhatikan kompensasi dan benefitnya. Bisnis yang Islami juga tegas dalam menegakkan peraturan yang Islami.

Lingkungan bisnis yang Islami juga tidak memberi peluang kepada SDM-nya untuk melakukan maksiat serta transaksi lain yang dilarang syariah. Penanaman nilai anti maksiat ini ditata dari visi, misi, nilai dan budaya kerja yang dijalankan.

Satu hal yang paling penting dari implementasinya adalah peraturan perusahaan ditata sedemikian rupa sehingga sudah meninggalkan semua transaksi yang dilarang syariah sebagaimana diuraikan di atas. Peraturan dilengkapi dengan pengenaan sanksi bagi yang melanggarnya, dan diaplikasikan secara tegas.

Kelima, menjaga universalisme. Lingkungan bisnis Islami akan menjaga kenyataan Islam sebagai rahmatan lil alamin, yakni rahmat bagi semesta alam. Lingkungan bisnis Islami akan menjaga kenyamanan bagi pemeluk agama lain yang terlibat dalam bisnis tersebut. Budaya kerja yang Islami akan selalu menjaga toleransi dan penghormatan terhadap nilai-nilai universalisme.

Demikian ciri-ciri lingkungan bisnis yang Islami. Kelima ciri tersebut bersifat umum dan bisa dikembangkan lebih spesifik lagi dalam visi, misi, nilai dan budaya kerja setiap perusahaan sesuai dengan lini bisnisnya masing-masing. Semoga bermanfaat!

 

Artikel ditulis oleh Tim Advika, keterangan lebih lanjut hubungi e-mail info@advikamedia.com



Artikel Terkait


  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu

Komentar Artikel "Ciri-Ciri Lingkungan Bisnis yang Islami"