Karakteristik Pembiayaan Kendaraan Bermotor Syariah - Pegadaian Syariah
logo

Karakteristik Pembiayaan Kendaraan Bermotor Syariah

7 bulan yang lalu    
Karakteristik Pembiayaan Kendaraan Bermotor Syariah

Pembiayaan kendaraan bermotor, atau popular disebut leasing, merupakan salah satu instrumen penyaluran dana yang dipergunakan oleh lembaga keuangan untuk memenuhi kebutuhan kepemilikan kendaraan bermotor dengan menggunakan cara pembayaran tidak tunai. Saat ini sudah ada pembiayaan yang dijalankan dengan skema transaksi berbasis syariah.

Pembiayaan syariah adalah transaksi pembiayaan kendaraan bermotor dengan menggunakan prinsip syariah. Istilah pembiayaan syariah ini dipergunakan untuk memudahkan masyarakat membedakan antara pembiayaan yang haram dengan pembiayaan yang halal. Berikut ini akan kita ungkap mengenai karakteristik pembiayaan yang dijalankan sesuai prinsip syariah.

Pertama, pembiayaan syariah berani menggunakan istilah pada transaksi yang halal (sesuai syariah). Istilah atau nama atau label adalah representasi pertama dari syariat Islam. Syariat Islam dijalankan berawal dari adanya istilah-istilah. Ketika istilah sudah beda, meskipun aktivitasnya serasa sama, tetap saja hukum syariatnya akan berbeda. Rukun dan syaratnya juga pasti berbeda.

Ketika istilah tidak dianggap penting, maka istilah-istilah dalam syariat juga menjadi tidak penting. Contoh istilah dalam transaksi sesuai syariat adalah sholat, infak, sedekah, zakat, nikah, jual beli, sewa menyewa, kongsi, hibah, dan lain-lain. Contoh istilah dalam transaksi terlarang adalah zina, korupsi, judi, bunga (simpanan atau pinjaman ditambah bunga).

Kita berharap agar lembaga-lembaga keuangan yang melayani pembiayaan bisa menggunakan istilah yang sesuai syariat Islam. Regulator sudah memberikan instrumen dan membuat aturan legal formal pembiayaan (pembiayaan) syariah ini. Hal ini patut disyukuri. Tinggal pelaku industri ini mau atau tidak menjalankannya.
Kedua, akad yang dipergunakan adalah akad dagang. Hal ini sesuai dengan prinsip pengambilan keuntungan bahwa profit sah hadir jika dan hanya jika melalui jual beli. Jika sebuah transaksi belum melalui jual beli, maka transaksi tersebut tidak sah dalam mengambil keuntungan.

Karakteristik utama pembiayaan syariah akan terlihat dari akad-akad yang dipergunakan. Akad yang dipergunakan oleh pembiayaan syariah adalah jual beli tegaskan untung (murabahah), sewa berakhir lanjut milik (ijarah muntahiya bit tamlik), kongsi berkurang bersama sewa (musyarakah mutanaqishah). Selain akad tersebut, ada alternatif akad lain yang dipergunakan pembiayaan syariah terutama dalam pembiayaan ulang (refinancing) syariah, yakni akad bay’ wal ijarah muntahiya bit tamlik (yang biasa disebut dengan bay’ wal isti`jar) serta bay’ dalam rangka musyarakah mutanaqishah.

Pada akad murabahah, perusahaan pembiayaan syariah membeli unit kendaraan dari dealer, kemudian perusahaan pembiayaan syariah menjualnya ke nasabah dengan mengambil keuntungan dari transaksi jual beli tersebut. Karakteristik utama akad ini adalah penegasan pengambilan keuntungan oleh pihak perusahaan pembiayaan syariah. Akad ini hanya dipergunakan untuk pembelian unit kendaraan motor baru.
Pada akad ijarah muntahiya bit tamlik, perusahaan pembiayaan syariah membeli unit kendaraan bermotor dari dealer kemudian disewakan kepada nasabah dengan janji akan dilakukan pemindahan kepemilikan kepada nasabah jika nasabah sudah selesai melakukan angsuran sewa.

Pada akad musyarakah mutanaqishah, perusahaan pembiayaan syariah dan nasabah melakukan kongsi kepemilikan atas unit kendaraan bermotor (menjadi kepemilikan bersama misalnya porsi kepemilikan perusahaan pembiayaan syariah adalah 80% dan porsi kepemilikan nasabah adalah 20%), kemudian kendaraan bermotor tersebut disewa oleh nasabah. Nasabah melakukan angsuran dalam rangka penyewaan unit kendaraan bermotor dan angsuran porsi kepemilikan secara berangsur-angsur dari 20% menjadi 100% di akhir masa sewa. Akad ini juga bisa dipergunakan untuk skema transaksi pembiayaan ulang (refinancing) syariah.

Pada akad bay’ wal isti`jar, perusahaan pembiayaan syariah membeli unit kendaraan bermotor milik nasabah. Selanjutnya, kendaraan bermotor disewakan kepada nasabah dengan janji akan memindahkan kepemilikan kendaraan bermotor kepada nasabah setelah nasabah selesei melakukan akad sewa. Akad ini dijalankan untuk mengakomodir kebutuhan dana untuk nasabah yang sebelumnya sudah memiliki unit kendaraan bermotor.

Pada akad bay’ dalam rangka musyarakah mutanaqishah, perusahaan pembiayaan syariah membeli unit kendaraan bermotor milik nasabah. Selanjutnya, perusahaan pembiayaan syariah dan nasabah melakukan kongsi kepemilikan atas unit kendaraan bermotor. Nasabah menyewa kendaraan tersebut sambil mengangsur porsi kepemilikan nasabah secara bertahap sampai 100% kendaraan bermotor menjadi sempurna milik nasabah. Akad ini dijalankan untuk mengakomodir kebutuhan dana untuk nasabah yang sebelumnya sudah memiliki unit kendaraan bermotor.

Itulah akad-akad yang merupakan karakteristik utama pembiayaan syariah. Akad-akad tersebut digunakan dalam rangka kepemilikan unit kendaraan bermotor yang baru maupun dalam rangka pembiayaan ulang (refinancing) syariah untuk memenuhi kebutuhan dana bagi nasabah yang sebelumnya sudah memiliki unit kendaraan bermotor.

Kedua, tidak boleh melakukan transaksi yang dilarang syariah. Transaksi terlarang syariah terutama dalam muamalah adalah seperti riba, penipuan, ketidakjelasan, korupsi, suap, transaksi yang batil, transaksi yang tidak sah, zhalim, maksiat, dan transaksi lain yang dilarang syariat.

Pelarangan atas transaksi tersebut juga diatur secara legal formal dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan dalam naungan direktorat Industri Keuangan Non Bank (IKNB) Syariah. Pengawasan dari sisi syariah dilakukan oleh Dewan Pengawas Syariah (DPS) Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI).

Ketiga, akad amanah. Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu.” (Al-Maidah: 1). Ali ibnu Abu Talhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman Allah tersebut (yang dimaksud) yaitu janji-janji itu menyangkut hal-hal yang dihalalkan oleh Allah dan hal-hal yang diharamkan-Nya serta hal-hal yang difardhukan oleh-Nya dan batasan-batasan (hukum-hukum) yang terkandung di dalam Al-Qur'an seluruhnya Dengan kata lain, janganlah kalian berbuat khianat dan janganlah kalian langgar hal tersebut. (Tafsir Ibnu Katsir Juz 2 halaman 6).

Pembiayaan syariah menjadikan titah (khithab) Al-Qur'an sebagai rujukan dan ruh dalam bertransaksi. Hal ini dijalankan untuk memastikan agar semua pihak yang bertransaksi pada pembiayaan syariah harus selalu menjaga amanah dan tidak khianat atas perjanjian pasal demi pasal yang sudah tertulis dan ditandatangani antarpihak.

Keempat, diawasi oleh Dewan Pengawas-Pengawas Syariah dari anggota DSN MUI yang di tugaskan di perusahaan tersebut. Dewan Pengawas Syariah (DPS) memiliki kedudukan setara dengan komosaris di perusahaan tersebut.

Pembiayaan syariah memastikan bahwa sejak awal produk dibuat, harus sudah melalui opini DPS, harus sudah melalui persetujuan DPS dan dalam pelaksanaannya diawasi oleh DPS yang biasanya dibantu oleh tim auditor. Masyarakat lebih tenang dalam bermuamalah oleh karena setiap perusahaan penyedia pembiayaan syariah sudah diawasi oleh Ulama Dewan yang kredibel dalam naungan Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia.

 

Artikel ditulis oleh Tim Advika, keterangan lebih lanjut hubungi e-mail info@advikamedia.com



Artikel Terkait


  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu

Komentar Artikel "Karakteristik Pembiayaan Kendaraan Bermotor Syariah"