Komponen-Komponen Pendidikan Islam - Pegadaian Syariah
logo

Komponen-Komponen Pendidikan Islam

7 bulan yang lalu    
Komponen-Komponen Pendidikan Islam

Kitab Ta’liim al Muta’allim Thariiq at Ta’allum menyatakan bahwa ilmu yang wajib dikuasai adalah ilmu al haal. Ilmu al haal adalah ilmu yang dengannya bisa mengantarkan manusia beribadah kepada Allah secara maksimal. Ilmu al haal ini terdiri dari ilmu ibadah, ilmu buyuu’ (jual beli) dan ilmu ahwaal al qalb (ilmu tentang dinamika hati).

Dengan demikian, materi yang menjadi komponen dalam sistem pendidikan Islam juga akan meliputi hal-hal tersebut. Mari kita bedah satu persatu rincian komponen pendidikan Islam. Selain materi, ada juga komponen penunjang sistem pendidikan Islam. Berikut ini akan kita urai satu per satu:

Pertama, komponen ibadah. Komponen pendidikan ini meliputi segala hal yang terkait dengan ritual ibadah serta dampaknya terhadap hubungan antara manusia dengan Tuhan serta hubungan antara manusia dengan makhluk.

Komponen ibadah ini dimulai dari penanaman akidah yang kokoh. Akidah berasal dari aqada yang artinya pembelengguan, ikatan yang kuat. Ketika kita sudah beriman, maka kita harus siap dibelenggu dan siap diikat atas hal-hal yang kita imani. Hal ini merupakan landasan utama dalam pendidikan Islam.

Akidah yang kokoh dalam Islam ditandai dengan keyakinan kita terhadap rukun iman, yakni iman kepada Allah, iman kepada Malaikat Allah, iman kepada Rasul Allah, iman kepada Kitab Allah, iman kepada hari akhir, iman kepada qadha dan qadar.

Sub komponen berikutnya adalah pemahaman terhadap ritual ibadah. Ritual ibadah sudah digariskan oleh Allah dalam Al-Qur’an dan assunnah serta penentuan hukum syara’. Pemahaman terhadap ketentuan syara’ dalam hal ibadah disebut dengan fikih ibadah. Dalam urusan fikih ibadah, semua tidak boleh dilakukan sampai ada dalil perintahnya.

Oleh karena itu, pemahaman atas perintah ibadah ini menjadi komponen penting dalam pendidikan Islam. Kita harus memahami perintah-perintah ibadah, mulai dari syahadat, shalat, puasa, zakat, haji sampai dengan syarat sahnya dilakukannya ibadah tersebut.

Contoh syarat sahnya dilakukan ibadah tersebut misalnya harus paham ilmu tentang bersuci agar bisa menjalankan shalat dan haji dengan baik. Contoh lain, kita harus memiliki penghasilan yang cukup satu nishab dan satu haul agar bisa menjalankan ibadah zakat, serta bisa melaksanakan ibadah haji.

Aktivitas menjalankan ritual ibadah ini merupakan sebuah kewajiban, sehingga pemahaman terhadap fikih ibadah juga merupakan komponen pendidikan Islam yang wajib dikuasai dan disampaikan di lembaga pendidikan.

Selanjutnya, ketika akidah sudah kokoh, ibadah kita sudah baik, maka akan menimbulkan kesalehan sosial. Ibadah yang sukses adalah ketika menimbulkan kemanfaatan bagi makhluk lain, baik bagi sesama manusia maupun dengan binatang, tumbuhan dan lingkungan sekitar.

Kedua, komponen muamalah. Muamalah adalah semua aktivitas yang terkait dengan transaksi motif profit dan nonprofit. Sederhananya, muamalah adalah aktivitas selain ritual ibadah.

Muamalah merupakan komponen sangat penting dalam pendidikan Islam. Ilmu muamalah mengatur kehadiran nafkah untuk manusia. Ketika manusia memiliki kewajiban beribadah kepada Allah, maka semua sarana utama penunjang beribadah kepada Allah berupa keberadaan nafkah pun menjadi wajib.

Manusia wajib memahami ilmu muamalah, jika ingin memperoleh nafkah sesuai jalan syariah. Rumus muamalah ini sederhana, yakni semua boleh dilakukan sampai ada dalil larangannya. Oleh karena itu, pemahaman terhadap transaksi muamalah menjadi salah satu komponen penting dalam pendidikan Islam.

Setelah memahami komponen ilmu muamalah, maka kita harus bisa mempraktikkan ilmu muamalah tersebut. Oleh karena itu, ilmu praktik bisnis sesuai syariah menjadi komponen penting dalam pendidikan Islam. Jadi, tidak hanya sekedar teori muamalah.

Tentu saja harus kita cermati bersama bahwa dagang ini meliputi dagang barang dan dagang manfaat yang terdiri dari manfaat benda (sewa menyewa) dan manfaat perbuatan (jasa). Profesi yang tepat menurut Islam adalah semua profesi dagang, baik dagang barang maupun dagang jasa.

Hal ini perlu diperhatikan agar tidak ada anggapan ada profesi yang masuk kriteria lebih baik dibanding dengan profesi lain. Contoh, pegawai adalah penjual jasa, berwirausaha juga bisa jadi penjual barang atau penjual jasa. Kedua profesi tersebut sama-sama masuk kriteria yang baik. Adapun profesi yang paling baik adalah yang dijalankan dengan sepenuh takwa kepada Allah.

Dengan demikian, komponen pendidikan dalam konteks ini adalah pemahaman terhadap muamalah dan cara mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dilakukan untuk menghadirkan nafkah dalam rangka bisa beribadah kepada Allah dengan baik.

Ketiga, komponen dinamika hati. Komponen ini menjadi komponen terpenting dalam pendidikan Islam. Semua aktivitas ritual ibadah dan muamalah yang kita lakukan harus diliputi dengan dinamika hati yang baik.

Sub komponen dinamika hati ini ditandai dengan kuatnya akhlak. Oleh karena itu, pelajaran akhlak menjadi sangat penting disajikan kepada anak didik. Bahkan pendidik pun harus memiliki akhlak yang luhur agar bisa menjadi teladan bagi anak didiknya.

Sub komponen berikutnya adalah luasnya wawasan berpikir. Kemampuan berpikir baik dan luas akan dipengaruhi secara kuat oleh dinamika hati yang baik. Sifat dan karakter yang baik akan berdampak pada cara berpikir yang baik.

Kuatnya fisik juga menjadi hal yang penting dalam rangka meningkatkan stabilnya dinamika hati. Ada logika bahwa pikiran yang sehat bisa juga disebabkan oleh keberadaan fisik dan sehat. Fisik sehat dan hati yang sehat menjadi komponen penting dalam pendidikan Islam.

Selain itu, dinamika hati yang baik akan dipengaruhi oleh kuatnya jiwa. Semua manifestasi perilaku manusia akan dihasilkan oleh jiwanya. Jiwa yang kuat akan menjadi sub komponen penting dalam pendidikan Islam yang akan berpengaruh pada seluruh kehidupan manusia.

Keempat, penunjang tercapainya pendidikan Islam. Jika komponen-komponen sebelumnya merupakan komponen materi pendidikan Islam, maka ada satu hal penting yang bisa menjadi penunjang terwujudnya penerapan materi tersebut, yakni sistem dan sarana pendidikan yang baik.

Tidak dapat dipungkiri bahwa tidak diperoleh ilmu kecuali dengan 6 perkara, yakni kecerdasan, rakus (ilmu), kesabaran, bekal, pembimbingan guru dan panjangnya waktu. Sebuah sistem pendidikan yang baik akan mengakomodir kehadiran penerapan 6 perkara tersebut.

Jadi, sistem pendidikan dengan materi yang baik, metode yang baik serta infrastruktur yang baik akan menjadi komponen penting dalam pendidikan Islam. Jika semua komponen bisa diintegrasikan dan ditata kelola dengan baik, niscaya pendidikan Islam akan terlaksana dengan baik dan menghasilkan generasi Islam yang membanggakan Allah dan Rasulullah. Semoga bermanfaat. Amin.

 

Artikel ditulis oleh Tim Advika, keterangan lebih lanjut hubungi e-mail info@advikamedia.com



Artikel Terkait


  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu

Komentar Artikel "Komponen-Komponen Pendidikan Islam"