Makna Isra Miraj dalam Kehidupan Modern - Pegadaian Syariah
logo

Makna Isra Miraj dalam Kehidupan Modern

2 bulan yang lalu    
Makna Isra Miraj dalam Kehidupan Modern

Isra’ Mi’raj terdiri dari Isra’ dan Mi’raj. Isra’ adalah perjalanan Rasulullah SAW pada suatu malam dari Masjid al Haram ke Masjid al Aqsha. Sedangkan Mi’raj adalah perjalanan Rasulullah SAW dari Masjid al Aqsha sampai sidratul muntaha bertemu dengan Allah. Itulah definisi Isra mi’raj paling populer yang kita pahami sejak kecil.

Definisi populer tentang Isra’ merujuk pada Al-Qur’an Surat Al Isra’ ayat 1, yakni “Maha Suci Allah, yang telah memerjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

Ibnu Abbas dalam Tafsir Ibnu Abbas h. 233 menafsirkan ayat ini sebagai berikut:

(1) subhaana, maha suci (Allah). Maha suci kepada Dzat yang tiada anak dan tiada sekutu. Penggunaan kata subhaana di awal ayat ini juga membuktikan bahwa ayat ini memang menjelaskan peristiwa agung, peristiwa yang menakjubkan, bukan kejadian yang biasa.

(2) alladzii asraa bi’abdihii, yang telah memperjalankan hamba-Nya. Kata asraa ini mencerminkan bahwa Allah telah memperjalankan hamba-Nya yakni Rasulullah SAW. Rasulullah tidak berjalan sendiri. Allah yang memperjalankan. Kata asraa ini juga menunjukkan bahwa Rasulullah SAW memang benar-benar berpindah tempat secara fisik. Penggunaan kata abdi ini juga menegaskan bahwa Rasulullah adalah seorang hamba yang sedang diperjalankan oleh majikan. Beliau tidak bisa membantah, taat kepada Allah SWT.

(3) laylan, pada suatu malam, awwala al layl, yakni pada awalnya malam. Hal ini menegaskan bahwa perjalannya terjadi bukan sepanjang malam, namun hanya di bagian dari malam.

(4) min al masjid al haram, dari masjidil haram, salah satu tempat suci bagi ummat Islam. Dari masjid al haram inilah Rasulullah SAW di-isra’-kan.

(5) ilaa al masjid al aqshaa, tempat untuk menempatkan diri menjauh dari bumi dan mendekat dengan langit, yakni masjid bayt al maqdis. Dari masjid bayt al maqdis inilah Rasulullah SAW di-mi’raj-kan.

(6) alladzii baaraknaa hawlahuu, yang dilimpahkan keberkahan di sekelilingnya, yakni dengan air, pepohonan dan buah-buahan.

(7) linuriyahuu, dalam rangka memperlihatkan kepada Rasulullah SAW.

(8) min aayaatinaa, sebagian dari keajaiban dari Allah SWT atas setiap apa saja yang dilihat oleh Rasulullah SAW pada malam itu. Rasulullah SAW diberi kesempatan melihat surga.

(9) innahuu huwa as samii’u, sungguh Allah adalah Maha Mendengar.

(10) al bashiiru, Allah Maha Melihat. Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat. Ini merupakan penegasan bahwa persitiwa ini benar-benar terjadi.

Sedangkan peristiwa Mi’raj ini dipertegas oleh Al-Qur’an Surat An Najm Ayat 14-18, yakni “(Yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal. (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.”

Sebagai hamba yang beriman, kita pasti meyakini kebenaran Isra’ dan Mi’raj ini. Selanjutnya, mari kita urai hikmah yang tersembunyi serta makna Isra’ Mi’raj.

Pertama, ujian keimanan. Hal terpenting dalam hidup kita adalah keimanan kepada Allah, siap mengikuti apapun yang menjadi perintah Allah dan siap meyakini apapun yang menjadi ketentuan Allah.

Peristiwa isra’ dan mi’raj ini cukup khayal jika dilogikakan menggunakan akal manusia tanpa bermodal keimanan. Bayangkan, hanya dalam sebagian malam saja, pada saat itu, pesawat jet belum ada, namun Rasulullah SAW sudah melakukan perjalanan fisik dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha lanjut ke langit ke tujuh, tepatnya di sidrah al muntahaa. Abu Bakar ash Shiddiq adalah orang pertama yang mempercayai Isra’ Mi’raj Rasulullah SAW.

Iman tak lagi menakar logika matematika. Iman tak lagi tergantung pada rasio semata. Di masa kini, kamu bisa melihat banyak fenomena yang tak masuk akal, namun kamu menjalankannya dalam rangka beribadah kepada Allah, baik ibadah ritual maupun ibadah sosial.

Kedua, kita ini hanya butiran debu. Istilah ini memang tepat untuk menunjukkan bahwa kita manusia ini cuma butiran dari bumi. Bumi hanyalah butiran dari tata surya. Tata surya hanyalah butiran dari galaksi. Galaksi hanyalah butiran dari supercluster. Supercluster hanyalah butiran dari langit pertama (sebagaimana yang dikenal dalam ilmu astronomi masa kini).

Langit pertama hanyalah butiran dari langit kedua. Langit kedua hanyalah butiran dari langit ketiga. Begitu seterusnya sampai langit ketujuh. Di situlah ilustrasi dari sidrah al muntahaa, tempat terjadinya Mi’raj.

Deskripsi dan ilustrasi Mi’raj ini membukakan mata kita bahwa betapa sangat kecilnya diri kita dibandingkan dengan semesta realitas. Betapa sangat kecilnya semesta realitas dibandingkan dengan Allah dan kuasa-Nya. Oleh karena itu, marilah kita tidak sombong. Kita hanyalah butiran debu dalam semesta.

Ketiga, tinggalkan kehinaan, raih kemuliaan. Hikmah ini hadir setelah mencermati fakta peristiwa Isra’ Mi’raj yang kamu imani. Isra’ Mi’raj adalah peristiwa simbolis bagi kamu untuk meninggalkan rendahnya derajat bumi, membubung tinggi naik ke langit ketujuh, naik ke sidratul muntaha, yang ada hanyalah surga, kedamaian, keajaiban.

Inilah ilustrasi dari insan kami, manusia sempurna, manusia yang mencapai derajat tertinggi dari sisi rohani. Al-Qur’an menegaskan bahwa kita bertebaran di muka bumi ini adalah dalam rangka menggapai rumah akhirat, namun kita tidak boleh melupakan urusan dunia. Hal ini mencerminkan betapa mencari penghidupan dunia adalah kesenyataan, namun tujuan akhir kita adalah akhirat.

Keempat, hikmah dari buah kesabaran. Rasulullah SAW didera musibah tiada henti, ditambah wafatnya paman dan istri Rasulullah SAW yakni Abu Thalib dan Khadijah. Dua figur yang jadi pendukung utama dakwah Rasulullah SAW. Ketika Rasulullah SAW dakwah ke Tha’if pun malah dilempari batu dan kotoran. Akhirnya Allah memberikan pengalaman spiritual nan indah, yakni Isra’ dan Mi’raj.

Hal ini menjadi pelajaran bagi kamu, ketika kamu menghadapi persoalan yang berat, seakan tidak mampu menanggungnya, maka bersabarlah, yakinlah ada hikmah tersembunyi di balik ujian yang diberikan Allah kepada kamu. Insya Allah ada peristiwa indah menanti kamu. Apalagi Allah menegaskan bahwa di setiap kesulitan, pasti sedang ada kemudahan.

Kelima, peristiwa agung turunnya perintah sholat. Salah satu hikmah Mi’raj adalah ditandai dengan hadirnya perintah sholat. Diriwayatkan bahwa semula perintah sholat ini 50 kali dalam sehari, namun akhirnya menjadi 5 kali dalam sehari.

Allah menegaskan bahwa sholat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar. Al-Qur’an pun mengurai bahwa sholat menjadi salah satu cara agar bisnis kamu tidak merugi. Rasulullah SAW juga menyatakan bahwa sholat adalah tiang agama.

Hikmah yang bisa kamu ambil, mari laksanakan perintah sholat dengan baik, pahami makna bacaannya, resapi, amalkan, sehingga bisa mencegah perbuatan keji dan mungkar. Jika perbuatan keji dan mungkar sudah terhindar, maka hanya kenikmatan hidup yang hadir meliputi seluruh kehidupan kamu. Amin.

 

Artikel ditulis oleh Tim Advika, keterangan lebih lanjut hubungi e-mail info@advikamedia.com



Artikel Terkait


  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu

Komentar Artikel "Makna Isra Miraj dalam Kehidupan Modern"