Manajemen Keuangan Syariah - Pegadaian Syariah
logo

Manajemen Keuangan Syariah

5 bulan yang lalu    
Manajemen Keuangan Syariah

Manajemen adalah sebuah proses perencanaan, pengorganisasian, pengoordinasian dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran secara efektif dan efisien. Sedangkan manajemen keuangan dikaitkan dengan cara menciptakan dan menjaga nilai ekonomi atau kesejahteraan, konsekuensinya, serta semua pengambilan keputusan harus difokuskan pada penciptaan kesejahteraan.

Itulah definisi umum dari manajemen dan manajemen keuangan. Dengan demikian, manajemen keuangan syariah berarti manajemen keuangan dikaitkan dengan cara menciptakan dan menjaga nilai ekonomi atau kesejahteraan, konsekuensinya, serta semua pengambilan keputusan harus difokuskan pada penciptaan kesejahteraan yang dijalankan sesuai prinsip syariah.

Dengan demikian, secara sederhana, manajemen keuangan syariah bisa diartikan sebagai manajemen penatakelolaan keuangan dari sisi cara memperolehnya sampai dengan cara pembelanjaannya yang dijalankan sesuai prinsip syariah.

Dari sisi cara memperolehnya, keuangan syariah harus didasarkan pada prinsip keuangan syariah yakni dengan menghindari transaksi yang dilarang syariah Islam. Transaksi yang dilarang syariah meliputi transaksi dengan objek zat haram, transaksi riba (mensyaratkan kelebihan pengembalian dari hutang piutang), transaksi gharar (ketidakpastian hal yang seharusnya dipastikan), transaksi maisir (spekulasi), transaksi risywah (suap), transaksi tadlis (penipuan), transaksi maksiat, transaksi zhalim erta semua transaksi yang tidak memenuhi rukun dan syarat akad.

Dari sisi profesi yang diajarkan syariat Islam, Rasulullah SAW telah memberikan rumus sumber nafkah sebagaimana diriwayatkan oleh Rifa'ah Ibnu Rafi' bahwa Nabi Muhammad SAW pernah ditanya, pekerjaan apakah yang paling baik? Beliau bersabda: "Pekerjaan seseorang dengan tangannya dan setiap jual-beli yang bersih." Riwayat al-Bazzar. Hadits shahih menurut Hakim. (Bulugh al Maram min Adillat al Ahkam, halaman 227).

Dari hadits tersebut bisa disimpulkan bahwa sumber harta yang paling utama adalah dari tangannya sendiri dan setiap jual beli yang bersih. Dari tangan sendiri artinya kita terlibat langsung dalam perolehan harta. Keterlibatan langsung ini bisa mudah ditemui pada profesi pedagang.

Pedagang adalah orang yang berdagang (tijarah), yakni orang yang melakukan jual beli (bay’) atau kongsi (syirkah). Objek jual beli terdiri dari barang dan manfaat. Manfaat terdiri dari manfaat barang dan manfaat perbuatan (jasa). Dengan demikian, profesi yang paling utama adalah profesi jual beli (yang pasti akan melibatkan diri sendiri) dan/atau kongsi yang pasti akan melibatkan jual beli.

Contoh pedagang barang adalah pedagang sayuran, pedagang makanan, dan pedagang barang apapun yang halal. Contoh pedagang manfaat barang adalah pemilik penyewaan kendaraan, pemilik penyewaan rumah, pemilik penyewaan tempat penyimpanan barang. Sedangkan contoh pedagang manfaat perbuatan (jasa) adalah konsultan, guru, pegawai swasta, pegawai negeri, makelar, sopir, dan lain-lain.

Itulah profesi yang utama dalam rangka memperoleh harta sesuai syariah, yakni setiap profesi yang dijalankan dengan melibatkan skema jual beli dan/atau kongsi yang pasti akan melalui jual beli, jika ingin ambil profit secara masuk akal.

Dari sisi cara pembelanjaannya pun harus menghindarkan diri dari transaksi yang dilarang syariat tersebut. Jadi, jangan hanya sumber dananya saja yang baik, namun alokasi pembelanjaannya pun harus halal dan baik.

Pembelanjaan harta dimulai dari pemberian nafkah yang wajib, seperti nafkah kepada diri sendiri, kepada istri, kepada anak, kepada orang tua, kepada saudara, kepada kaum dhuafa, dan lain-lain. Jika harta sudah mencapai haul dan nishab, maka tunaikanlah zakatnya.

Skema perolehan dan pembelanjaan harta ini bisa berdampak pada seluruh sendi kehidupan kita karena harta yang diperoleh dan harta yang dibelanjakan akan terkait langsung dengan tata kelola nafkah, konsumsi (makanan), konsumsi pakaian dan lain-lain yang akan berdampak pada seluruh kondisi kehidupan kita. Oleh karena itu, pastikan harta kita bersumber dari transaksi yang halal dan ditransaksikan pada skema yang halal pula.

Ada begitu banyak tips manajemen keuangan syariah secara modern, namun ketika kita mengikuti ajaran Islam dalam penatakelolaan nafkah (khususnya dalam hal keuangan), insya Allah ada keberkahan, serta selamat dunia akhirat.

Dalam rangka memperoleh dan membelanjakan harta secara halal, baik dan maksimal, ada beberapa rumusan yang sudah diajarkan oleh syariat Islam dalam bidang Muamalah, yakni terkait dengan kebutuhan manusia. Rumusan ini merupakan akar dari manajemen keuangan syariah yang bisa diterapkan oleh orang awam sekalipun.

Pertama, kebutuhandharuriyyat(primer). Rumus kebutuhan dharuriyyat  adalah pemenuhan maqashid syariah atau tujuan-tujuan syariat, yakni penjagaan agama (hifzhu ad diin), penjagaan jiwa (hifzhu an nafs), penjagaan akal (hifzhu al aql), penjagaan keturunan (hifzhu an nasl), dan penjagaan harta (hifzhu an nasl).

Pihak yang paling memahami kondisi apakah kita perlu melakukan saving (menabung) atau melakukan investasi atau melakukan hal lainnya di bidang keuangan adalah kita sendiri, pelakunya. Cara mengukur prioritas kebutuhan atau keinginan adalah berdasarkan maqashid syariah tersebut.

Pemenuhan maqashid syariah tersebut berurutan dan penting semua. Dalam kondisi apapun terkait tata kelola harta, penjagaan agama adalah yang paling utama. Bahkan kita boleh melakukan transaksi yang terlarang jika iman kita terancam. Selanjutnya adalah tata kelola nafkah kita harus selalu menomorsatukan penjagaan terhadap jiwa, akal, keturunan dan harta.

Kedua, kebutuhan hajiyyat (sekunder). Keberadaan kendaraan bermotor adalah hal penting dalam kehidupan kita, meskipun tiadanya motor tidak membuat kita mati. Inilah contoh kebutuhan hajiyyat  . Keberadaan motor akan mempermudah kehidupan kita dan akan mempermudah semua urusan kita sehari-hari.

Ada kaidah fikih yang menyatakan bahwa haramnya zat bisa dilanggar jika untuk memenuhi kebutuhan dharuriyyat, misalnya makan daging babi karena itulah satu-satunya makanan dan jika tidak dimakan akan mati. Lanjutan kaidah fikih tersebut adalah bahwa haramnya transaksi bisa dilanggar jika untuk memenuhi kebutuhan hajiyyat  , misalnya penggunaan bay al inah pada transaksi take over dari bank konven ke bank syariah.

Ketiga, kebutuhan tahsiniyat(tersier). Kita akan paham bahwa memilih jurusan kuliah di bidang ilmu muamalah akan lebih prioritas (lebih baik) dibandingkan dengan memilih jurusan seni musik. Inilah tahsiniyat, ada pilihan yang lebih baik, meskipun memilih jurusan kuliah di bidang seni musik adalah halal.

Apakah kita perlu berhutang? Silahkan dicermati saja rumus kebutuhan dharuriyyat , hajiyyat dan tahsiniyat di atas, niscaya bisa menyimpulkan sendiri tentang perlu atau tidaknya berhutang. Hukum asal berhutang adalah boleh. Yang harus dihindari adalah hobi berhutang. Jangan lakukan itu. Berhutanglah jika memang urgent atau merupakan pemenuhan kebutuhan.

Ketika kita bisa memahami makna dan esensi dari 3 jenis kebutuhan tersebut ditambah dengan pemahaman kita tentang transaksi yang dilarang oleh syariah Islam, maka kita akan mudah memahami akar cara memperoleh harta dan cara membelanjakannya secara tepat sesuai dengan manajemen keuangan syariah yang baik.

 

Artikel ditulis oleh Tim Advika, keterangan lebih lanjut hubungi e-mail info@advikamedia.com



Artikel Terkait


  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu

Komentar Artikel "Manajemen Keuangan Syariah"