Mendidik Anak Secara Islami - Pegadaian Syariah
logo

Mendidik Anak Secara Islami

5 bulan yang lalu    
Mendidik Anak Secara Islami

Allah SWT akan meninggikan derajat orang yang beriman dan berilmu. Penguasaan terhadap ilmu merupakan hal yang utama setelah keimanan. Oleh karena itu, pendidikan dalam rangka memperoleh ilmu dan pengetahuan merupakan aspek terpenting yang harus ditanamkan sejak dini.

Kita memiliki kewajiban memberikan pendidikan yang terbaik kepada anak kita supaya menjadi anak Islami. Berikut ini ada beberapa hal yang harus diperhatikan di dalam mendidik anak menurut kaca mata Islam:

Pertama, ajarkan ilmu sejak dini. Berbagai penelitian psikologi membuktikan bahwa anak sudah bisa merespon informasi yang masuk sejak masih dalam kandungan, terutama sejak ruh ditiupkan pada usia 40 hari dalam kandungan.

Pendidikan utama dan pertama dimulai dengan keberadaan karakter ibu dan ayahnya sejak anak masih dalam kandungan. Kondisi jiwa, perasaan, kecerdasan, karakter dan sifat ibu akan berdampak juga pada anak sejak masih dalam kandungan. Peran ayah juga sangat signifikan, termasuk dalam hal menjaga agar kondisi ibu tetap stabil dan memberikan rangsangan positif bagi jiwa anak ketika masih dalam kandungan.

Coba berikan rangsangan suara sejak anak masih dalam kandungan. Rangsangan suara terbaik adalah dengan terus membaca Al-Qur’an dengan suara nyaring di dekat sang ibu, diperdengarkan kepada anak yang masih dalam kandungan. Sehingga tak heran jika ada anak yang cepat menghafal Al-Qur’an di usia dini karena sudah sering mendengarkan ayat-ayat suci Al-Qur’an sejak masih dalam kandungan sang ibu.

Ilmu hadits dan kitab klasik pun bisa diajarkan kepada anak sejak masih dalam kandungan. Bacakan terus dengan suara nyaring, niscaya kelak si anak akan sangat familiar dengan ilmu-ilmu tersebut dan akan mudah memahaminya dengan cepat.

Musik yang diperdengarkan sejak anak dalam kandungan juga bisa berdampak positif, terutama musik klasik. Berbagai penelitian juga membuktikan bahwa musik klasik berdampak positif pada tumbuh kembang kecerdasan inteligensi dan emosi anak. Bahkan bisa membantu pertumbuhan kecerdasan spiritual secara maksimal.

Kedua, berikan nama yang baik dan mendidik. Kita bisa meniru cara Allah SWT dalam mendidik Nabi Adam AS ketika Adam diturunkan ke muka bumi. Allah SWT mengajarkan asma-asma (nama-nama) kepada Adam AS, baik nama dalam arti khusus (nama benda) maupun nama dalam arti aktivitas, sifat-sifat ketuhanan maupun sifat-sifat kemanusiaan. Begitulah pentingnya nama yang merupakan representasi awal dari syariat Islam. Syariat dijalankan terus menerus untuk mencapai hakikat dan ma’rifat kepada Allah.

Pendidikan terbaik dimulai dengan pemberian nama yang baik dan mendidik. Nama (asmaa') memiliki makna masing-masing. Nama adalah doa. Oleh karena itu, hak pertama anak adalah diberi nama yang baik dan mendidik.

Anak yang memiliki nama baik, positif dan mendidik, tentu akan memiliki semangat yang berbeda jika dibandingkan dengan anak yang diberi nama dengan pilihan kata dan makna biasa-biasa saja bahkan kurang mencerminkan karakter kebaikan yang kuat.

Ketiga, pahami dan pahamkan rumus meraih ilmu. Kitab Ta’lim al Muta’allim memberikan rumus bahwa tidak akan diperoleh ilmu kecuali dengan 6 perkara, yakni kecerdasan (siap mengencerkan akal), rakus terhadap ilmu, sabar, bekal, pengarahan dari guru, dan panjangnya waktu.

Pendidik yang baik harus memahami dan bisa memahamkan hal tersebut kepada anak sejak dini. Keenam hal tersebut bisa diterapkan dan diajarkan kepada anak sejak dini, dalam berbagai konteks.

Pendidik harus yakin bahwa setiap diri manusia itu cerdas. Ketika anak masih kecil, lingkungan akan membentuknya menjadi seperti apa. Orang tua adalah pihak yang paling bertanggung jawab atas anaknya akan menjadi seperti apa kelak.

Pendidik bisa mengajarkan ilmu dari ilmu bersuci sampai ilmu tentang mati. Ulama terdahulu mengajarkan kita untuk rakus berbagai ilmu tersebut, baik ilmu ibadah, ilmu muamalah, maupun ilmu dinamika hati. Ulama dahulu tidak mengajarkan kita untuk ahli di satu bidang saja. Mereka rakus dalam meraih ilmu. Mari kita tiru hal ini dan kita ajarkan kepada anak didik kita.

Meraih ilmu harus disertai kesabaran. Jangan bermental ingin cepat bisa. Meraih ilmu itu butuh proses. Selain itu juga butuh bekal, baik bekal berupa materi (uang), bekal kesungguhan, maupun bekal tenaga dan pikiran. Kita tanamkan hal ini kepada anak sejak dini.

Selanjutnya, guru terbaik pada pendidikan adalah orangtua kandung maupun orangtua lainnya jika orangtua kandung sudah tiada. Orangtua harus siap menjadi pembimbing yang baik sebagai syarat diraihnya ilmu. Selanjutnya adalah guru di luar rumah. Oleh sebab itu, pemilihan guru dan sekolah akan sangat berdampak pada pendidikan anak.

Dan jangan lupa bahwa ilmu diraih di sepanjang waktu, sampai akhir hayat. Ilmu akan terus berkembang sepanjang hayat. Jika berbatas waktu, itu adalah sekedar pengetahuan. Teruslah mendidik anak di sepanjang hayatnya. Tentu dengan metode yang berbeda-beda. Beda usia akan beda perlakuan dalam pendidikan.

Keempat, ajarkan ilmu ibadah. Ilmu yang pertama kali harus ditanamkan kepada anak sejak usia dini adalah ilmu tentang ibadah. Ilmu tentang ibadah adalah semua ilmu tentang rukun Islam.

Pengajaran terbaik adalah dengan pembimbingan dari guru. Orangtua sebagai guru harus bisa mengajarkan ilmu ibadah ini dengan praktik langsung. Ajaklah si kecil menghafal, mengucap, dan memaknai syahadat sejak usia dini. Ajarkan si kecil tentang keimanan sejak dini.

Berilah contoh praktik wudhu dan praktik sholat, sejak anak usia dini. Ajaklah sholat berjamaah. Fasilitasi semua keperluan anak terkait sholat berjamaah, mulai dari baju, celana, sarung, kopyah, sajadah. Siapkan tempat khusus untuk melakukan sholat berjamaah.

Anak juga harus diajarkan tentang ilmu tentang zakat sejak usia dini, baik zakat fitrah maupun zakat mal. Informasikan kepada anak ketika kita sedang menunaikan zakat. Jangan lupa ajarkan anak tentang infak, sedekah dan wakaf.

Sejak dini kita juga bisa memperkenalkan kepada anak tentang Haji dan Umrah. Kita ajarkan kepada anak tentang ibadah haji, syaratnya, tempatnya, istilahnya, aktivitasnya dan hikmah dari ibadah haji. Ajarkan sejak dini, meskipun seakan-akan anak belum tahu, namun anak akan merekam ilmu dan akan diterapkannya kelak ia dewasa.

Kelima, ajarkan ilmu muamalah. Faktor terpenting dalam hidup adalah keberadaan nafkah. Ibadah bisa lancar maksimal jika nafkah terpenuhi. Nafkah diperoleh dari transaksi profit. Oleh karena itu, setiap anak harus kita ajarkan tentang muamalah (transaksi motif profit) sejak usia dini.

Mari kita ajarkan kepada anak kita tentang berdagang dan jiwa kewirausahaan sejak dini. Kita ajarkan kepada anak tentang transaksi dagang yang paling sederhana, cara dagang, risiko dagang, hikmah dagang dan semua yang terkait dengan muamalah, tentu dengan cara yang tepat dan sesuai porsinya.

Pengajaran paling efektif adalah dengan memberikan contoh dan praktik. Tentu saja berdagang itu objeknya ada banyak, ada dagang barang, dagang manfaat benda (sewa menyewa) dan ada dagang jasa (tenaga dan keahlian). Berbagai lini dagang tersebut bisa kita contohkan praktiknya kepada anaks ejak usia dini.

Keenam, ajarkan ilmu dinamika hati. Hati adalah penggerak semua aktivitas manusia. Oleh karena itu, ilmu tentang dinamika hati menjadi ilmu paling penting yang akan berpengaruh kepada seluruh aktivitas manusia dalam urusan ibadah dan muamalah. Hati baik akan berdampak baik, dan hati buruk akan berdampak buruk pada seluruh aktivitas manusia.

Sebagian di antara yang termasuk dalam ilmu dinamika hati adalah sabar, syukur, ikhlas, ridha, harap, takut, cinta, kasih, damai, berani, empati, dan sifat-sifat lain yang merupakan cerminan hati. Boleh juga memahami sifat dan dinamika hati yang buruk untuk tidak dilakukan.

Ilmu ini kita ajarkan kepada anak usia dini dengan memberikan contoh keseharian dalam tutur, sikap dan sifat kita yang harus baik, agar berdampak baik juga kepada anak. Ingat, anak akan mencontoh lingkungan dan karakter anak di usia dini akan membetuk karakter ketika ia dewasa dan berumah tangga kelak.

Demikian uraian tentang mendidik anak secara Islami. Tidak lupa juga bahwa tanggal 20 November juga diperingati sebagai Hari Anak-Anak Sedunia. Semoga nantinya kita bisa menghadirkan generasi hebat yang berorientasi pada kepentingan dunia akhirat. Amin.

 

Artikel ditulis oleh Tim Advika, keterangan lebih lanjut hubungi e-mail info@advikamedia.com



Artikel Terkait


  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu

Komentar Artikel "Mendidik Anak Secara Islami"