Mengenal Hukum Badal Haji - Pegadaian Syariah
logo

Mengenal Hukum Badal Haji

1 tahun yang lalu      Haji
Mengenal Hukum Badal Haji

Ibadah haji merupakan salah satu ibadah yang diwajibkan bagi seluruh umat Islam yang mampu melaksanakannya. Sayangnya, tidak semua orang berkesempatan melakukan ibadah haji karena berbagai hal. Bahkan, tidak sedikit yang menyimpan impian untuk berhaji hingga tutup usia. Lalu, apakah mereka termasuk golongan yang merugi karena tidak sempat melakukan ibadah rukun Islam yang kelima ini?

Sejatinya, bagi mereka yang tidak sempat melakukan ibadah haji semasa hidup, Allah memberikan alternatif agar hamba-Nya dapat memenuhi kewajiban ini. Yaitu, diperbolehkan mewakilkan ibadah haji kepada orang lain, yang kemudian disebut dengan Badal Haji. Lalu, bagaimana dengan hukum Badal Haji?

Hukum Badal Haji
Badal Haji ini tentu tidak sesederhana mewakilkan tugas atau kewajiban Anda kepada orang lain.  Ada syarat-syarat yang harus dipenuhi, serta ada hukum yang mengatur praktiknya dan harus Anda patuhi. Berikut hukum Badal Haji yang harus Anda pahami, sebelum Anda menghajikan orang tua atau orang terdekat:

1. Ibadah Haji atas Nama Orang yang Lanjut Usia
Dalam sebuah hadis diriwayatkan, "Dari Ibnu Abas bahwasanya dia menemai Nabi Muhammad SAW pada waktu haji Wada. Datanglah seorang wanita dari Khots'am dan berkata, 'Sesungguhnya ketetapan Allah tentang fardunya haji atas hamba-Nya telah sampai kepada ayahku yang sudah lanjut usia, dia tidak mampu menaiki kendaraannya, sedang dia belum ibadah haji. Apakah boleh aku berniat ibadah haji atas namanya?' dan Beliau menjawab, 'Ya'." (HR. Bukhari dan Muslim)

Pertanyaan tentang ibadah haji atas nama orang lain ini terjadi pada akhir hayat Rasulullah, yaitu ketika beliau melakukan haji Wada. Tidak lama setelah itu, beliau wafat. Karena itulah hukum yang terkandung di dalamnya tidak dapat dihapus dengan hukum-hukum yang turun sebelumnya.

Selain itu, Rasulullah juga tidak bertanya tentang keadaan orang tuanya. Apakah dia orang kaya atau orang miskin? Apakah dia berniat untuk melakukan ibadah haji atau tidak? Hal ini memberi isyarat bahwa niat dari orang yang dihajikan bukan merupakan syarat sahnya menghajikan. Hanya saja beliau mengetahui bahwa ayah dari wanita tersebut belum melakukan ibadah haji. Dan, dari hadis tersebut juga dapat disimpulkan bahwa berniat haji atas nama orang lain dapat dilakukan walaupun orang tersebut masih hidup.

2. Ibadah Haji atas Nama Orang yang Sudah Meninggal
Sebuah hadis meriwayatkan, "Dari Ibnu Abas bahwasanya seorang perempuan datang kepada Rasulullah, lalu berkata, 'sesungguhnya ibuku bernazar untuk ibadah haji, lalu wafat seelum menunaikannya. Apakah boleh aku berhaji atas namanya?' beliau bersabda, 'Ya, lakukanlah ibadah haji atas namanya. Bagaimana pandanganmu kalau dia punya kewajiban membayar utang, bukankah kamu yang membayarnya?' ia berkata, 'Ya'. Maka Rasulullah bersabda, 'bayarlah utangnya kepada Allah, Dialah yang lebih berhak untuk dipenuhi tuntutannya'. (HR. Bukhari)

Dari hadis tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa nazar untuk ibadah haji wajib dipenuhi. Baik itu karena nazarnya ataupun karena hukum fardu haji itu sendiri. Karenanya, Rasulullah menekankan pentingnya Badal Haji, seperti halnya membayar utang kepada manusia yang tidak terhalang oleh kematian.

Meski demikian, Badal Haji atas nama orang yang sudah meninggal tidak hanya karena adanya nazar, tetapi juga dapat dilakukan meski tidak bernazar. Karena bagaimanapun, bernazar atau tidak, ibadah haji adalah ibadah wajib bagi semua mukmin.

Nah, itulah hukum Badal Haji yang perlu Anda ketahui. Namun, kita perlu kembali lagi bahwasannya manusia sejatinya hanya bisa berencana, baik itu usia, rezeki, dan jodoh menjadi rahasia Allah SWT. Tidak ada salahnya jika mulai dari sekarang Anda sudah memikirkan bagaimana caranya agar bisa menginjak ke Tanah Sui. Pegadaian Syariah memberikan kemudahan pendaftaran dan pembiayaan haji lewat Pembiayaan Arrum Haji. Anda akan memperoleh tabungan haji yang kelak dapat digunakan untuk memperoleh nomor porsi haji. Semoga bermanfaat!

 

Artikel ditulis oleh Tim Advika, keterangan lebih lanjut hubungi e-mail info@advikamedia.com




Komentar Artikel "Mengenal Hukum Badal Haji"