Mengenal Jenis-Jenis Pembiayaan Syariah - Pegadaian Syariah
logo

Mengenal Jenis-Jenis Pembiayaan Syariah

6 bulan yang lalu    
Mengenal Jenis-Jenis Pembiayaan Syariah

"Profit masuk akal hadir jika dan hanya jika melalui jual beli. Tidak boleh tidak." Inilah rumus utama pengambilan profit sesuai syariah. Semua profit yang muncul, harus terlebih dulu melewati transaksi bernama jual beli.

Begitu juga dengan transaksi di Lembaga Keuangan Syariah (LKS), baik bank syariah maupun nonbank syariah (pasar modal syariah, asuransi syariah, perusahaan pembiayaan syariah, Pegadaian Syariah, dan lain-lain) harus ikut dengan rumus bisnis syariah tersebut jika ingin ambil profit. Tidak boleh tidak.

Salah satu mekanisme transaksi yang menjadi inti bisnis dari LKS adalah pembiayaan syariah, yakni penyaluran dana dari LKS kepada masyarakat (nasabah) berdasarkan prinsip syariah. Pembiayaan syariah pun harus ikut rumus di atas, jika ingin ambil profit.

Ada dua jenis transaksi pembiayaan syariah bermotif profit, yakni transaksi jual beli, dan jenis kongsi. Sedangkan pembiayaan syariah dengan motif nonprofit disebut dengan pinjaman.

Pada skema jual beli, ada beberapa model transaksi pembiayaan syariah, baik dari sisi jenis objek jual beli-nya maupun cara pembayaran. Di antaranya adalah jual beli tegaskan untung (murabahah), jual beli manfaat (ijarah) yang biasanya disebut sewa menyewa, sewa berakhir lanjut milik (ijarah muntahiya bit tamlik) yang biasanya disebut IMBT, jual beli konstruksi (istishna), jual beli pesanan (salam), jual beli manfaat dengan pembayaran di muka (ijarah maushufah fi dzimmah), dan lain-lain. Namun, hanya akad-akad tersebut yang populer diterapkan oleh LKS.

Sedangkan pada skema kongsi, hanya ada 2 jenis, yakni kongsi investasi (mudharabah) dan kongsi usaha (musyarakah). Ada akad turunan dari kongsi usaha yakni kongsi berkurang bersama sewa (musyarakah mutanaqishah). Pada akad terakhir ini biasanya dikombinasikan dengan akad jual beli manfaat (sewa menyewa).

Pada kesempatan ini hanya akan disampaikan jenis-jenis pembiayaan syariah yang populer digunakan di LKS, yakni jual beli tegaskan untung, jual beli konstruksi, jual beli manfaat, sewa berakhir lanjut milik, kongsi berkurang bersama sewa, dan pinjaman bersama jual beli.

Jual Beli Tegaskan Untung

Pembiayaan syariah dengan akad jual beli tegaskan untung disebut juga dengan murabahah. Kuncinya adalah pada penegasan jumlah keuntungan (ribh) yang diambil oleh penjual, sehingga akan ketahuan harga pokok perolehan (HPP) dan jumlah harga total setelah ditambah jumlah keuntungan yang diambil.

Cara bayar pada akad murabahah ini bisa dilakukan dengan tunai maupun angsuran. Namun, LKS hanya memberlakukan cara pembayaran secara angsuran. Jika ingin memiliki barang secara tunai, bisa langsung beli dari pemasok (supplier) awal.

Skema murabahah bisa dipergunakan untuk pembelian barang jenis apapun yang disediakan oleh LKS, termasuk jual beli emas secara tidak tunai, jual beli barang elektronik, jual beli kendaraan bermotor, jual beli peralatan dokter, jual beli alat berat, jual beli barang yang dipergunakan untuk modal kerja, dan lain-lain.

Jual Beli Konstruksi

Pembiayaan syariah dengan akad jual beli konstruksi ini disebut juga dengan istishna’. Kata kunci akad ini adalah minta dibuatkan sesuatu. Akad ini biasanya dipergunakan oleh LKS untuk memenuhi kebutuhan nasabah melakukan renovasi rumah. Skema pembiayaan syariah ini biasanya dilakukan dengan pencairan per termin. Misalnya termin tahap kedua akan cair jika penyelesaian pekerjaan pada termin tahap pertama sudah dilakukan.

Sewa Menyewa

Pembiayaan syariah dengan akad sewa menyewa disebut juga dengan ijarah. Akad ini biasanya dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan nasabah untuk melakukan sewa ruko, sewa kantor, dan lain-lain. Skema akadnya sederhana, LKS menyewa ruko dari pemilik ruko, misalnya Rp 10 juta, kemudian LKS menyewakan ruko itu kepada nasabah sebesar Rp 10 juta. Sewa menyewa ini sudah mengikuti kaidah bisnis syariah, karena profit yang diambil oleh LKS dilakukan melalui jual beli. Jika objek akad pada murabahah adalah barang, maka objek akad pada ijarah adalah manfaat dari barang. Sah. Sesuai syariah.

Sewa Berakhir Lanjut Milik

Pembiayaan syariah dengan akad sewa berakhir lanjut milik disebut juga dengan ijarah muntahiya bit tamlik (IMBT). Akad ini biasanya dipergunakan oleh LKS untuk memenuhi kebutuhan kepemilikan rumah dan kendaraan bermotor.

Skema akadnya sederhana, LKS membeli rumah atau kendaraan dari supplier, kemudian LKS menyewakan rumah atau kendaraan kepada nasabah dengan janji bahwa jika nasabah melunasi sewa rumah atau kendaraan tersebut, maka rumah tersebut akan diberikan kepada nasabah dengan akad hibah, atau dijual ke nasabah dengan akad jual beli. Skema sewa berakhir lanjut milik ini sudah mengikuti kaidah bisnis syariah, karena profit yang diambil oleh LKS melalui jual beli manfaat atas rumah dan kendaraan. Sah dan sesuai syariah.

Kongsi

Pembiayaan syariah dengan akad kongsi (kerja sama bisnis) ini dibagi menjadi dua, yakni kongsi investasi (mudharabah) dan kongsi usaha (musyarakah). Akad ini biasanya dipergunakan LKS untuk melakukan pembiayaan produktif. Bedanya, jika mudharabah ini modal sepenuhnya berasal dari 1 pihak saja, sedangkan pada musyarakah, modal berasal dari minimal 2 pihak yang sedang berkongsi.

Akad kongsi ini bukan akad jual beli, sehingga pada saat deal akad, LKS tidak boleh menentukan kepastian jumlah keuntungan yang ingin diperolehnya. LKS terlebih dulu harus menunggu ada akad jual beli yang dilakukan nasabah, baru ada profit atau hasil yang bisa dibagikan.

Pada saat akad, hanya boleh disepakati adanya nisbah bagi hasil. Silahkan didiskusikan aja berapa nisbah bagi hasilnya, berdasarkan andil masing-masing pihak dalam berbisnis. Hasilnya disepakati persen x hasil. Misalnya ada 2 pihak berkongsi, nisbah bagi hasilnya adalah 50% : 50%, atau 80% : 20%, silahkan diatur sesuai kesepakatan antarpihak.

Kongsi Berkurang bersama Sewa

Pembiayaan syariah dengan akad kongsi berkurang bersama sewa ini disebut juga dengan musyarakah mutanaqishah. Akad ini biasanya dipergunakan LKS untuk memenuhi kebutuhan kepemilikan rumah dan kendaraan bermotor. Skema akadnya sederhana, LKS dan nasabah melakukan kongsi kepemilikan bersama atas rumah, kemudian rumah tersebut juga disewa oleh nasabah. Nasabah melakukan angsuran sewa dan angsuran porsi kepemilikan, misalnya dari 20% secara bertahap menjadi 100% milik nasabah. Pada akad ini, LKS mengambil profit dari jual beli manfaat (sewa menyewa) sehingga profit yang diambil adalah sah sesuai syariah.

Pinjaman dan Jual Beli Manfaat

Pembiayaan syariah dengan akad pinjaman dan jual beli mafaat ini disebut juga dengan akad qardh wal ijarah. Skema akadnya sederhana, yakni LKS memberikan pinjaman dana. Bersamaan dengan itu, LKS melakukan jual beli manfaat dengan nasabah. Jadi, keuntungan yang diperoleh LKS adalah dari jual beli manfaat. Sah. Sesuai syariah. Akad ini biasanya dipergunakan LKS untuk memenuhi kebutuhan nasabah terhadap barang konsumtif, barang modal kerja, juga kebutuhan jasa. Contoh produk LKS yang menggunakan akad ini adalah kepemilikan emas, multijasa pendidikan, multijasa pengobatan, dan lain-lain.

Demikian jenis-jenis pembiayaan syariah yang banyak ditemui pada Lembaga Keuangan Syariah. Semoga bermanfaat!

 

Artikel ditulis oleh Tim Advika, keterangan lebih lanjut hubungi e-mail info@advikamedia.com



Artikel Terkait


  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu

Komentar Artikel "Mengenal Jenis-Jenis Pembiayaan Syariah"