Pinjaman Berbasis Syariah, Kenapa Tidak? - Pegadaian Syariah
logo

Pinjaman Berbasis Syariah, Kenapa Tidak?

8 bulan yang lalu    
Pinjaman Berbasis Syariah, Kenapa Tidak?

Profit masuk akal hadir jika dan hanya jika melalui jual beli. Itulah rumus utama bisnis syariah. Rumus ini berlaku untuk skema transaksi apapun yang bermotif profit. Akad kongsi juga merupakan transaksi motif profit yang penentuan kepastian keuntungannya pun harus melalui jual beli.

Sedangkan, jika transaksinya adalah transaksi nonprofit, maka jangan minta profit. Contoh transaksi nonprofit adalah pinjaman. Pada skema pinjaman yang menentukan syarat kelebihan pengembalian, inilah riba.

Logika bisnis syariah inilah yang dipergunakan oleh Lembaga Keuangan Syariah (LKS). Penyaluran dana atau pembiayaan yang bermotif profit, hanya akan mengenal dua akad, yakni jual beli atau kongsi. Pada transaksi pinjaman, pasti akan dilengkapi dengan jual beli, jika LKS ingin mengambil profit.

Secara garis besar, akad pembiayaan berbasis syariah terdiri dari jual beli barang, jual beli manfaat, jual beli jasa, kongsi investasi, serta kongsi usaha. Transaksi-transaksi ini sudah meliputi berbagai kebutuhan masyarakat terkait produk dan jasa-jasa keuangan.

Dari sisi kebutuhan penggunaannya, pembiayaan dibagi menjadi dua besaran, yakni untuk memenuhi kebutuhan konsumtif dan produktif. Kedua jenis tujuan pembiayaan ini bisa ditempuh dengan penggunaan akad jual beli maupun kongsi.

Akad-akad berbasis syariah ini tidak diterapkan di Lembaga Keuangan Konvensional (LKK). Pada penyaluran dananya, LKK dan nasabah hanya mengenal akad pinjaman yang dipersyaratkan adanya kelebihan pengembalian berupa bunga.

Akad Pembiayaan Konsumtif

Akad pembiayaan konsumtif adalah akad-akad pembiayaan di LKS yang dilakukan dalam rangka memenuhi kebutuhan konsumtif. Kebutuhan ini bisa meliputi pembelian barang maupun pembelian jasa dan manfaat.

Contoh transaksi pembiayaan konsumtif berbasis syariah yang sangat populer adalah KPR Syariah (Kepemilikan Pembiayaan Rumah sesuai Syariah) dan KKB Syariah (Kepemilikan Kendaraan Bermotor sesuai Syariah). Semua transaksi/akad pada KPR Syariah dan KKB Syariah pasti melalui jual beli.

Adapun alternatif akad yang biasanya dipergunakan pada KPR Syariah dan KKB Syariah adalah Jual Beli Tegaskan Untung (Murabahah), Jual Beli Konstruksi (Istishna’), Sewa Berakhir Lanjut Milik (Ijarah Muntahiya bit Tamlik), dan Kongsi Berkurang Bersama Sewa (Musyarakah Mutanaqishah).

Jual Beli Tegaskan Untung (Murabahah) adalah akad pembiayaan berbasis jual beli dengan menyebutkan jumlah keuntungan yang diambil oleh pihak LKS, sehingga akan diketahui harga pokok perolehan dari supplier dan harga total yang ditransaksikan antara LKS dengan nasabah. Cara pembayarannya dilakukan dengan angsuran.

Jual Beli Konstruksi (Istishna) adalah jual beli untuk pembuatan barang dengan konstruksi bertahap. Pencairan dana kepada nasabah juga dilakukan secara bertahap sesuai dengan capaian pekerjaan sesuai dengan tahapan yang disepakati.

Sewa Berakhir Lanjut Milik (Ijarah Muntahiya bit Tamlik) adalah akad sewa barang dari LKS kepada nasabah dengan janji bahwa jika sewa sudah berakhir, maka akan dilakukan pemindahan kepemilikan kepada nasabah. Pemindahan kepemilikan ini dilakukan dengan transaksi hibah atau jual beli.

Kongsi Berkurang Bersama Sewa (Musyarakah Mutanaqishah) adalah akad kongsi kepemilikan bersama yang dilakukan oleh LKS dengan nasabah, untuk selanjutnya nasabah melakukan penambahan porsi kepemilikan sampai 100 persen kepemilikan menjadi milik nasabah. Sehingga kepemilikan LKS terhadap barang tersebut berkurang secara perlahan. Selain itu, nasabah juga melakukan transaksi dan angsuran sewa atas barang tersebut.

Akad lain dari transaksi pembiayaan konsumtif berbasis syariah adalah pinjaman yang dikombinasikan dengan jual beli manfaat atau jasa. Skemanya sederhana. LKS memberikan pinjaman kepada Nasabah dengan tidak disyaratkan adanya kelebihan dalam pengembaliannya. LKS melakukan jual beli manfaat atau jasa kepada nasabah.

Pada akad gadai syariah, alur bisnisnya dimulai dengan nasabah menggadaikan barang di LKS. LKS menaksir harga barang yang akan digadaikan, sehingga LKS bisa menentukan biaya pemeliharaan barang yang digadaikan. Di sinilah terjadi jual beli jasa atau manfaat pemeliharaan barang gadai. Kemudian LKS memberikan pinjaman dengan tanpa memberikan syarat kelebihan dalam pengembalian. Dengan demikian, ada dua unsur angsuran yang dilakukan oleh Nasabah, yakni angsuran pinjaman dan angsuran biaya pemeliharaan agunan.

Akad Pembiayaan Produktif

Dari sisi jenis akadnya, pembiayaan dengan tujuan produktif ini hanya mengenal akad kongsi. Kongsi ini bisa meliputi kongsi investasi (mudharabah) dan kongsi usaha (musyarakah).

Bedanya, pada kongsi investasi (mudharabah), 100 persen sumber modal berasal dari 1 pihak saja, sehingga 1 pihak berperan sebagai pemodal, pihak lain berperan sebagai pengusaha. Sedangkan pada kongsi usaha (musyarakah), sumber modal berasal dari minimal 2 pihak.

Pada skema kongsi ini boleh ditentukan proyeksi imbal hasil yang akan diperoleh. Karena proyeksi, maka tidak boleh memastikan hasil sejak awal akad. Ada risiko untung, rugi, dan impas. Yang boleh disepakati di awal akad adalah nisbah bagi hasil yang dihitungan dengan rumus, persen dikalikan dengan hasil. Hal ini berbeda dengan skema pinjaman berbasis bunga yang dari awal sudah diminta hasil pasti dengan rumus persen dikalikan dengan pokok pinjaman.

Demikianlah uraian tentang pembiayaan dan pinjaman syariah. Semua akad yang dipergunakan adalah skema yang masuk akal. Risiko yang diambil pun sesuai dengan risiko bisnis yang wajar. Sebuah transaksi yang layak pilih.

Jika Anda memiliki kebutuhan, baik berupa kebutuhan konsumtif maupun produktif, dan Anda tidak memiliki dana yang cukup untuk memenuhinya, maka Anda bisa mengajukan pembiayaan dan pinjaman berbasis syariah di Lembaga Keuangan Syariah.

Pegadaian Syariah sebagai salah satu bagian dari lembaga keuangan berbasis syariah dan 100% milik negara (BUMN) juga memberikan fasilitas pembiayaan dan pinjaman sesuai kebutuhan Anda, baik untuk kebutuhan konsumtif maupun produktif. Contoh produknya adalah Tabungan Emas, Mulia, Gadai Syariah (RAHN), Arrum BPKB, Konsinyai Emas, dan Arrum Haji untuk pembiayaan haji sesuai syariah.

Keunggulan yang dimiliki Pegadaian Syariah adalah pelayanan yang mudah, cepat, online dengan semua cabang se-Indonesia, keamanan barang agunan terjamin, dan yang terpenting adalah transaksi yang sudah sesuai syariah serta sesuai logika bisnis yang wajar.

 

Artikel ditulis oleh Tim Advika, keterangan lebih lanjut hubungi e-mail info@advikamedia.com



Artikel Terkait


  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu

Komentar Artikel "Pinjaman Berbasis Syariah, Kenapa Tidak?"