Tantangan Pemuda Islam di Era Globalisasi - Pegadaian Syariah
logo

Tantangan Pemuda Islam di Era Globalisasi

8 bulan yang lalu    
Tantangan Pemuda Islam di Era Globalisasi

Tiada elok tatkala ada seorang pemuda yang membanggakan siapa orang tuanya. Namun, sangat membanggakan seorang pemuda yang menunjukkan jati dirinya sendiri. Ini ungkapan yang menggugah bagi pemuda Islam untuk terus menunjukkan kemampuan diri sendiri, menunjukkan kualitas diri.

Arus globalisasi sudah membanjiri segala penjuru sisi kehidupan manusia modern. Pemuda Islam pun dituntut untuk menyesuaikan diri dengan arus globalisasi tersebut. Berikut ini ada beberapa tantangan sekaligus penjelasan solusi bagi pemuda Islam dalam menghadapi arus globalisasi, agar tetap bisa menjadi pribadi muslim kaaffah.

Pertama, tantangan terkait isu fikih ibadah. Atas tantangan ini diharapkan agar pemuda Islam mampu menguasai ilmu ibadah secara komprehensif. Tidak diciptakan jin dan manusia oleh Allah kecuali untuk beribadah. Oleh karena itu, tantangan utama pemuda Islam dalam menghadapi globalisasi adalah menguasai ilmu ibadah.

Ilmu ibadah yang wajib dikuasai, tentu saja ilmu tentang rukun Islam yang lima. Dimulai dari ilmu syahadat, yakni bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, bersaksi bahwa Muhammad SAW adalah rasulullah. Persaksian yang tidak sekedar persaksian, yakni menjalankan apa yang diperintahkan dan meninggalkan larangan Allah dan Rasulullah. Dalam era apapun, hal ini harus dipegang teguh oleh pemuda Islam.

Berikutnya adalah ilmu tentang shalat, puasa, zakat, dan haji. Tentu saja pemuda Islam harus mampu menguasai dan mengamalkan ilmu-ilmu yang menjadi syarat sahnya sebuah ibadah, misalnya ilmu thaharah (ilmu tentang bersuci dari hadats dan dari najis). Ini adalah ilmu paling dasar dalam rangka pemuda Islam bisa menjalankan Islam secara kaaffah dalam era globalisasi.

Setelah ketauhidan, ilmu tentang ibadah ini sangat penting untuk dipahami dan diamalkan. Hal ini disebabkan oleh kedudukan ibadah yang menjadi salah satu hal yang sangat pokok dibandingkan wilayah ilmu Islam yang lainnya. Ketika ibadah yang kita lakukan tidak sah, maka akan berdampak pada aktivitas lainnya. Misalnya, shalat adalah tiang agama. Sebuah bangunan, jika tiangnya rapuh, maka bangunan tidak bisa berdiri kokoh. Jika tiangnya roboh, maka roboh pula amalan lainnya.

Jadi, pemuda Islam diharapkan untuk bisa menguasai ilmu ibadah secara komprehensif. Dan jangan lupa, bahwa saat ini tidak ada yang layak disebut mujtahid (orang yang bisa ber-ijtihad memutuskan hukum sendiri). Sehingga diperlukan ilmu untuk memahami ajaran Islam berdasarkan perspektif ulama terdahulu, seperti yang sudah dilakukan oleh Imam Madzhab. Hal ini sangat penting bagi pemuda Islam untuk memberikan solusi atas persoalan yang mungkin muncul akibat pemahaman masyarakat terhadap cara beragama yang belum tentu tepat.

Kedua, tantangan terkait isu fikih muamalah. Setelah menguasai dan bisa menjalankan ilmu ibadah dengan baik, pemuda Islam diharapan bisa menguasai ilmu muamalah dengan baik. Ilmu muamalah adalah ilmu tentang transaksi antar manusia, baik transaksi bermotif profit maupun nonprofit.

Contoh ilmu muamalah adalah ilmu tentang jual beli, ilmu tentang kongsi, ilmu tentang hutang piutang, serta berbagai ilmu tentang berbagai transaksi yang dilarang dalam muamalah. Transaksi yang dilarang dalam syariat Islam adalah transaksi penipuan, transaksi ketidakpastian, transaksi riba, transaksi suap, transaksi zhalim, transaksi maksiat, transaksi zat haram, serta transaksi yang tidak memenuhi rukun dan syarat akad.

Dalam era globalisasi, ilmu ini sangat diperlukan, terutama dalam rangka menghadapi berbagai inovasi muamalah kontemporer yang bahkan serba berbasis teknologi. Contoh inovasi kontemporer yang landasan hukumnya belum ada di masa lalu, seperti bisnis online, bisnis dropship, transaksi elektronik, transaksi pembayaran online, transportasi online, dan berbagai skema bisnis maupun nonbisnis kontemporer lainnya.

Pemuda Islam diharapkan mampu memahami fikih muamalah kontemporer, apalagi banyak masyarakat yang masih awam terhadap kesyariahan berbagai transaksi kontemporer. Pemuda Islam diharapkan bisa memberikan solusi atas transaksi kontemporer yang belum sesuai syariah Islam.

Ketiga, tantangan krisis etika dan moral. Atas tantangan ini, pemuda Islam diharapkan mampu menguasai ilmu dinamika hati terutama akhlak secara komprehenif, agar mampu menjadi penyejuk bijak dalam carut marutnya kondisi masyarakat akhir-akhir ini.

Ilmu akhlak ini terdiri dari akhlak terhadap Allah maupun akhlak terhadap manusia lain dan lingkungan sekitar. Contoh akhlak kepada Allah adalah adanya roja (penuh harap kepada Allah), khasy-yah (takut kepada Allah dan atas siksa Allah), cinta kepada Allah, sabar, syukur, dan lain-lain.

Sedangkan akhlak kepada manusia dan makhluk lain adalah seperti berbakti kepada orang tua, sikap kasih sayang, memiliki sopan santun, tetap jujur, bisa dipercaya, memaafkan, menghormati orang lain, menghargai tamu, dan lain-lain.

Ilmu ini menjadi bekal bagi pemuda Islam untuk bisa bersikap dengan tepat ketika menghadapi berbagai kondisi, baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan, baik kaitannya dengan Allah maupun kaitannya dengan manusia dan makhluk lainnya. Dalam era globalisasi, pemuda Islam dituntut makin bijak bersikap, apalagi di era teknologi dan dunia maya yang mudah sekali muncul kabar tidak akurat. Jika salah bersikap, maka bisa jadi fitnah.

Pemahaman dan pengamalan pemuda Islam atas ilmu akhlak ini bisa menyebabkan langgengnya persaudaraan sesama Muslim maupun antar ummat beragama, dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Keempat, tantangan atas hadirnya era digital. Sekarang adalah eranya digital. Hal ini semakin terasa pada berbagai model transaksi bisnis yang serba digital. Atas tantangan ini, pemuda Islam diharapkan mampu memahami sarana digital yang digunakan oleh masyarakat dalam berinteraksi muamalah.

Pemahaman pemuda Islam terhadap sarana digital dan diimbangi dengan pemahaman transaksi muamalah yang baik, bisa menyebabkan pemuda Islam bisa tampil memberikan solusi atas berbagai persoalan, terutama hal yang terkait dengan transaksi bisnis dan nonbisnis berbasis digital.

Kelima, menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kita hidup di dalam nuansa keanekaragaman yang sangat kental. Baik dari sisi keanekaragaman budaya, suku, bahasa dan lain-lain. Keanekaragaman yang harus tetap bersatu.

Kadang kala ada gesekan kecil di antara kita sesama warga negara Indonesia. Pemuda Islam diharapkan tetap mampu memberikan solusi dan menjadi pembela atas tegaknya persatuan dan kesatuan bangsa dan negara. Pemuda Islam diharapkan mampu menjadi pelopor dalam menjaga toleransi, saling menghormati dan menghargai antara sesama.

Demikian 5 tantangan pemuda Islam di era globalisasi. Kelima tantangan dan solusi tersebut sudah meliputi semua hal yang mungkin akan dihadapi oleh masyarakat di era modern sekarang ini. Pemuda Islam adalah pemberi solusi. Pemuda Islam bukan seorang yang suka mengeluh dan menambah keruh suasana.

 

Artikel ditulis oleh Tim Advika, keterangan lebih lanjut hubungi e-mail info@advikamedia.com



Artikel Terkait


  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu

Komentar Artikel "Tantangan Pemuda Islam di Era Globalisasi"