5 Amalan Tahun Baru Islam yang Istimewa - Pegadaian Syariah
logo

5 Amalan Tahun Baru Islam yang Istimewa

4 bulan yang lalu    
5 Amalan Tahun Baru Islam yang Istimewa

Salah satu kreativitas (bid’ah) fenomenal yang dilakukan oleh para Sahabat (setelah wafatnya Rasulullah SAW) adalah penetapan Muharram sebagai bulan awal tahun baru Islam (Hijriyyah). Istilah Muharram ini muncul karena bulan ini merupakan salah satu dari empat bulan haram, bulan yang disucikan dalam Islam.

Keempat bulan haram yang dimaksud bisa dilihat pada hadits Rasulullah SAW, "Sesungguhnya zaman ini telah berjalan (berputar) sebagaimana perjalanan awalnya ketika Allah menciptakan langit dan bumi, yang mana satu tahun itu ada dua belas bulan. Diantaranya ada empat bulan haram, tiga bulan yang (letaknya) berurutan, yaitu Dzul Qa'dah, Dzul Hijjah, dan Muharram, kemudian bulan Rajab Mudhar yang berada diantara Jumada (Akhir) dan Sya'ban."  (HR. Al Bukhari: 4385 dan Muslim: 1679).

Bulan Muharram adalah bulan yang istimewa. Ada beberapa amalan tahun baru Islam yang istimewa yang juga bisa kita lakukan dalam mengisi bulan Muharram:

Pertama, bulan Muharram adalah dilipatgandakannya pahala atas amal baik. Selain itu, setiap amal buruk juga akan dilipatgandakan balasannya. Oleh sebab itu, secara lugas Allah melarang berbuat zhalim (aniaya) pada bulan Muharram. Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surat At Taubah Ayat 36, “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram (suci). Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.”

Ibnu Abbas ra menafsirkan ayat di atas, “(Janganlah kalian menganiaya diri kalian) dalam seluruh bulan. Kemudian Allah mengkhususkan empat bulan sebagai bulan-bulan haram dan Allah pun mengagungkan kemuliaannya. Allah juga menjadikan perbuatan dosa yang dilakukan didalamnya lebih besar. Demikian pula, Allah pun menjadikan amalan shalih dan ganjaran yang didapatkan didalamnya lebih besar pula”.

Ibnu Qatadah menafsirkan ayat di atas, “Di antara bulan-bulan (yang ada), Allah pun telah memilih Ramadhan dan bulan-bulan haram. Dia memilih hari Jumat diantara hari-hari yang lainnya, memilih malam Lailatul Qadar diantara malam-malam yang ada. Maka agungkanlah segala yang diagungkan oleh Allah, karena menurut pandangan orang yang memiliki pemahaman dan akal yang baik bahwa sesuatu itu menjadi agung dengan diagungkan oleh Allah.”

Ibnu Katsir menafsirkan ayat di atas, “Allah berfirman maka janganlah kalian menganiaya diri kalian dalam bulan (haram) yang empat itu. Maksudnya pada bulan-bulan haram ini, karena dosa (pada bulan-bulan tersebut) lebih kuat dan lebih parah dibandingkan pada bulan-bulan selainnya, sebagaimana kemaksiatan di Tanah Suci (Makkah dan Madinah) dilipatgandakan (dalam masalah besarnya dosa).”

Ibnu Katsir juga menyatakan, “Demikian pula kemaksiatan (yang dilakukan) pada bulan-bulan haram, (juga) bertambah berat kadar dosa-dosa (yang dilakukan). Oleh karena itu, menurut madzab Syafi’iyyah dan banyak ulama memandang bahwa tebusan (diyat) (juga) bertambah besarnya pada bulan-bulan haram. Demikian pula orang yang melakukan pembunuhan di tanah suci atau membunuh saudara yang masih ada hubungan mahram dengannya”. 

Kedua, puasa tasu’a (puasa tanggal 9 Muharram). Diriwayatkan oleh Imam Muslim bahwa Rasulullah sempat diprotes oleh umat Islam di Madinah, “Ya Rasulallah, hari itu (’Asyura) diagungkan oleh Yahudi.” Maksudnya, kenapa umat Islam mengerjakan sesuatu persis seperti yang dilakukan oleh umat Yahudi? Beliau lalu bersabda, "Di tahun depan insya Allah kita akan berpuasa pada tanggal 9.”  Setelah itu, tidak hanya disunnahkan puasa pada tanggal 10 tapi juga tanggal 9 Muharram.

Sayang, sebelum datang tahun berikutnya Rasulullah telah wafat. Al Hafidz Ibnu Hajar mengatakan keinginan beliau untuk berpuasa pada tanggal 9 dimaksudkan agar tidak persis seperti yang dilakukan oleh umat pada masa Nabi sebelumya, yakni Yahudi dan Nashrani. (Fathul Bari 4: 245).

Ketiga, puasa ‘asyura (puasa tanggal 10 Muharram). Diriwayatkan bahwa ketika tiba di Madinah, Rasulullah melihat orang-orang Yahudi di sana juga berpuasa pada hari ‘Asyura. Beliau bertanya: “Puasa apa ini?" Mereka menjawab: “Sebuah hari yang baik, ini adalah hari dimana Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka, maka Musa berpuasa pada hari itu sebagai wujud syukur.” Maka beliau bersabda: “Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian (Yahudi), maka kami akan berpuasa pada hari itu sebagai bentuk pengagungan kami terhadap hari itu.” (HR. Bukhari).

Tentang keutamaan puasa ‘Asyura, Ibnu Abbas menyatakan: “Saya tidak pernah melihat Rasulullah berpuasa pada suatu hari karena ingin mengejar keutamaannya selain hari ini (‘Asyura) dan tidak pada suatu bulan selain bulan ini (maksudnya: bulan Ramadhan)." (HR. Bukhari).

Keempat, membaca doa akhir tahun dan doa awal tahun. Perlu diketahui bahwa tidak ada hadits shahih yang mengajarkan pembacaan doa akhir tahun dan doa awal tahun ini. Namun, hal tersebut tidak menyebabkan membaca doa tersebut dilarang. Silahkan diniatkan berdoa untuk kebaikan, dengan teks doa sesuai dengan susunan yang disusun sendiri atau berdasarkan doa yang sudah ada.

Hal yang dilarang adalah ketika kita mengklaim bahwa doa awal tahun dan doa akhir tahun sebagai doa ajaran dari Rasulullah SAW. Jangan pula mengatakan doa tersebut bersifat baku di dalam agama Islam. Kedua hal ini penting untuk dicermati agar kita tidak terjerumus dalam bid’ah (kreativitas) yang sesat.

Ibrah yang bisa diambil dari pembacaan doa tersebut adalah permohonan ampun kepada Allah atas dosa-dosa yang telah diperbuat selama satu tahun yang sudah lewat serta berdoa agar tahun berikutnya selalu diberi kelapangan untuk selalu istiqamah menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Doa tersebut sebagai pengingat yang baik dalam menjalanan aktivitas sehari-hari.

Kelima, muhasabah (introspeksi diri). Allah  berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al Hasyr ayat 18, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan setiap diri hendaklah memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)…” Ibnu Katsir berkata tentang tafsir ayat ini, “Yaitu, hendaklah kalian menghitung-hitung diri kalian sebelum kalian dihisab (pada hari kiamat), dan perhatikanlah apa yang telah kalian persiapkan berupa amal kebaikan sebagai bekal kembali dan menghadap kepada Rabb kalian.

Tahun baru Hijriyyah merupakan momen yang bisa kita pergunakan untuk melakukan introspeksi diri, menyesali dosa dan maksiat yang telah kita lakukan, bertaubat setiap saat, selanjutnya bertekad untuk memperbaiki diri di masa yang akan datang.

Demikian 5 amalan tahun baru Islam yang istimewa. Semoga di tahun yang baru ini kita menjadi lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Selamat Tahun Baru 1440 Hijriyyah.

 

Artikel ditulis oleh Tim Advika, keterangan lebih lanjut hubungi e-mail info@advikamedia.com



Artikel Terkait


  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu

Komentar Artikel "5 Amalan Tahun Baru Islam yang Istimewa"