5 Cara Menabung Secara Islami - Pegadaian Syariah
logo

5 Cara Menabung Secara Islami

8 bulan yang lalu    
5 Cara Menabung Secara Islami

Manusia hidup membutuhkan harta dalam rangka beribadah kepada Allah, keberlangsungan hidup untuk diri sendiri, keluarga, dan keturunannya. Maka dari itu, manusia harus mampu mengatur keuangan dengan baik.

Salah satu aktivitas pengelolaan keuangan paling sederhana namun sangat penting adalah aktivitas menabung. Menabung adalah menyisihkan sebagian dari harta untuk keperluan masa depan. Terkadang ada yang membedakan antara menabung dengan investasi, misalnya dari sisi jangka waktunya, risikonya, objeknya, dan skemanya.

Berikut ini kita bahas mengenai cara menabung Islami atau sesuai dengan syariah Islam, merujuk pada definisi menabung yang tersebut di atas.

Pertama, tunaikan yang wajib terlebih dulu. Sebelum kamu melaukan aktivitas menabung, tunaikan nafkah yang wajib terlebih dulu, baru melakukan aktivitas lain yang sunnah dan mubah.

Menafkahi keluarga adalah wajib. Jadi, sebelum menabung, tunaikanlah kewajiban terlebih dulu. Tiga kebutuhan pokok yang utama adalah sandang (pakaian), pangan (makanan), dan papan (tempat tinggal). Tentu saja, tidak usah berlebihan dalam pemenuhan kebutuhan pokok tersebut.

Kebutuhan penting selain sandang, pangan, dan papan adalah kebutuhan lain, mau tidak mau harus dikeluarkan secara rutin dalam rangka aktivitas sehari-hari. Contohnya adalah kendaraan. Ketika kita punya kendaraan sendiri, tetap ada perawatan, termasuk kebutuhan BBM. Ketika kita tidak punya kendaraan sendiri, tentu butuh dana harian yang kita pergunakan untuk bepergian, apalagi jika aktivitas kita berada jauh dari tempat tinggal kita.

Setelah kebutuhan pokok terpenuhi, lakukan sedekah seperti infak dalam rangka kebaikan. Jika memiliki harta yang wajib dizakati (sesuai haul dan nishab), maka lakukan zakat, termasuk zakat maal. Jika memiliki kemampuan, lakukan wakaf untuk ummat. Itulah tabungan sejati.

Kedua, istiqamah.Istiqamah dan konsisten dalam menabung, itu tidak mudah. Apalagi jika sumber dananya tidak pasti. Atau ketika sumber dananya pasti, kadangkala kita tidak tertib untuk menyisihkan sebagian harta sebagai tabungan.

Istiqamah dalam menabung bisa menjadikan tabungan kita konsisten bertambah. Walaupun tambahan rutinnya tidak signifikan, namun kelak akan sangat terasa ketika dananya sudah terkumpul banyak.

Pintar-pintarlah membedakan antara kebutuhan dan keinginan, antara hal mendesak, penting, atau tidak penting. Kalaupun ada dua kebutuhan yang dirasa sama penting, milikilah mental produktif, agar barang konsumtif yang kita miliki bisa bernilai guna. Misalnya, saat kita beli kendaraan, selain untuk kepentingan sendiri juga bisa disewakan.

Jadi, istiqamalah dalam menabung dan istiqamahlah untuk lebih memprioritaskan kebutuhan yang urgent dibandingkan dengan sesuatu yang hanya menjadi keinginan.

Ketiga, pilih transaksi yang syariah. Menurut fikih muamalah kontemporer, ada 3 skema menabung, yakni simpanan (wadi’ah), pinjaman (qardh), dan kepemilikan modal (mudharabah) baik untuk disimpan maupun disalurkan menjadi modal produktif. Masing-masing skema memiliki fitur dan konsekuensi yang berbeda-beda, namun punya esensi yang sama, yakni adanya simpanan atau cadangan harta yang bisa kita pergunakan di masa mendatang.

Pada skema simpanan, pemilik harta hanya menabung dengan cara menyimpan saja hartanya, tanpa disalurkan pada transaksi produktif. Contohnya adalah penyimpanan barang di brankas atau Save Deposit Box (SDB).

Pada skema pinjaman, pemilik harta meminjamkannya ke orang lain untuk berbagai keperluan. Pada skema keuangan syariah, skema ini biasanya dipergunakan dalam produk tabungan dan giro syariah. Harta ini bisa dipergunakan untuk keperluan konsumtif dan produktif, namun transaksi ini bukan motif profit.

Pada skema kepemilikan modal (mudharabah), inilah yang disebut dengan investasi. Pada skema investasi benda, biasanya memiliki nilai yang cenderung bertambah, kecuali ada penyusutan. Namun, pada investasi produktif, ada risiko untung, rugi atau impas. Pada skema keuangan syariah, skema ini biasanya dipergunakan dalam produk tabungan, giro dan deposito syariah. Harta ini dipergunakan untuk keperluan produktif.

Jadi, pilihlah instrumen investasi yang sudah sesuai Syariah. Hal ini sangat penting dilakukan oleh karena tata kelola keuangan syariah itu diatur mulai dalam rangka kita memperoleh sumber dana yang halal, penggunaannya juga halal.

Keempat, pilih instrumen yang tepat. Instrumen objek tabungan sesuai Syariah dibagi menjadi dua, yakni berupa aset (komoditas) atau uang. Perlakuannya berbeda-beda. Konsekuensinya juga berbeda-beda.

Jika tabungan berupa aset, maka aset itu bisa dijadikan sebagai modal usaha. Misalnya kendaraan. Selain bisa dipergunakan untuk keperluan keluarga, kendaraan bisa disewakan atau kita pergunakan sebagai modal kerja (baik untuk diri sendiri maupun orang lain).

Ada juga aset berupa barang yang nilainya cenderung naik, misalnya tanah, rumah atau emas. Investasi tanah atau rumah secara jangka panjang sangat menguntungkan, namun likuiditasnya cenderung rendah, karena belum tentu rumah atau tanah kita kita jual, nanti cepat laku.

Investasi kepemilikan barang yang nilainya cenderung naik dan likuiditasnya tinggi (mudah dicairkan) adalah investasi emas. Kalau kamu ingin mempraktikkan investasi jenis ini, kamu bisa datang ke Pegadaian Syariah terdekat untuk melakukan Tabungan Emas. Di sini, kamu bisa setor tabungan dengan uang dan akan langsung disetarakan dengan emas senilai saat itu. Kamu nanti tidak lagi disebut punya saldo rupiah, namun punya saldo sekian gram emas. Dan emas tabungan kamu benar-benar bisa dicairkan.

Sedangkan, jika harta yang ingin kamu tabung berupa uang, maka pilihlah instrumen keuangan syariah yang tepat. Misalnya, tabungan, giro dan deposito syariah. Jika kamu ingin melakukan tabungan dengan skema setoran ringan dan merupaan investasi di bursa, kamu bisa pake produk reksadana syariah.

Menabung bisa juga dilakukan melalui lembaga asuransi syariah. Sambil menabung, kamu pun bisa memperoleh layanan jasa asuransi syariah. Tentu saja yang harus kamu perhatikan ketika kamu nabung di asuransi syariah adalah jenis asuransinya itu Asuransi Jiwa atau Asuransi Umum. Perhatikan rinci setiap item yang tercantum dalam polis. Pelajari dengan seksama agar tidak kaget nanti pada saat ada proses klaim.

Kelima, lembaga kredibel. Hati-hati ketika kamu ingin melakukan investasi di lembaga keuangan. Pilihlah lembaga keuangan syariah, pilihlah perusahaan yang kredibel, misalnya perusahaan milik negara atau perusahaan swasta yang dianggap kredibel oleh masyarakat, cabangnya banyak, syukur sudah merupakan perusahaan terbuka (Tbk.).

Pilihlah Lembaga Keuangan Syariah yang dijamin oleh LPS (Lembaga Penjamin Simpanan). Ini artinya, tabungan kamu dijamin keamanannya, tidak hilang dan bahkan memungkinkan bertambah.

Ketika kamu ingin melakukan transaksi dengan individu, pilihlah individu yang memiliki rekam jejak baik, punya karakter yang baik, jujur, amanah dan bertanggung jawab.

Demikian 5 cara menabung secara Islami. Tulisan ini akan semakin bermanfaat jika setelah ini, kamu tetap konsisten menabung dengan cara-cara sesuai Islami. Semoga bermanfaat.

 

Artikel ditulis oleh Tim Advika, keterangan lebih lanjut hubungi e-mail info@advikamedia.com



Artikel Terkait


  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu

Komentar Artikel "5 Cara Menabung Secara Islami"