5 Cara Menahan Amarah di Bulan Puasa Menurut Islam - Pegadaian Syariah
logo

5 Cara Menahan Amarah di Bulan Puasa Menurut Islam

7 bulan yang lalu    
5 Cara Menahan Amarah di Bulan Puasa Menurut Islam

Setiap manusia punya jiwa (nafs) yang biasanya disebut dengan nafsu. Ada 3 jenis nafsu, yakni nafsu ammarah, nafsu lawwamah, dan nafsu muthmainnah. Nafsu ammarah adalah nafsu yang merusak dan mengarahkan manusia pada perbuatan yang dilarang agama. Nafsu lawwamah sudah mengenal baik buruk, namun kadang lalai. Nafsu muthmainnah adalah jiwa yang tenang dan mengarahkan menuju ketaatan kepada Allah. Menahan amarah dapat menjadi salah satu solusi agar kita tetap berada pada jiwa yang tenang atau nafsu muthmainnah.

Ketika seseorang sudah matang dalam bersikap, maka ia akan dominan pada nafsu muthmainnah. Ia mampu mengendalikan diri dan menahan emosi dengan tepat. Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Fajr ayat 27-30, “Wahai jiwa yang tenang. – Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridai-Nya. – Maka masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku, – dan masuklah ke dalam surga-Ku.

Nafsu yang berbahaya adalah nafsu ammarah. Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surat Yusuf ayat 53, “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”).

Pada kesempatan ini akan kita uraikan mengenai 5 cara menahan amarah di bulan puasa, atau juga bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, yang mana agar nafsu ammarah naik kelas menjadi nafsu muthmainnah. Ketika kita sudah terbiasa dengan nafsu muhtmainnah, maka dalam kondisi apapun, yang ada adalah mental selalu taat kepada Allah SWT.

Pertama, segera berucap ta’awudz, yakni auudzu billaahi minsysyaithoonirrajiim yang artinya aku berlindung kepada Allah dari (godaan) syaitan yang terkutuk. Cara ini dilakukan sebagai solusi paling cepat karena langsung bisa diucapkan dalam kondisi apapun.

Cara ini sesuai dengan hadits Rasulullah, dari Sulaiman bin Surd, beliau menceritakan, suatu hari saya duduk bersama Rasulullah SAW, ketika itu ada dua orang yang saling memaki. Salah satunya telah merah wajahnya dan urat lehernya memuncak. Kemudian Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh saya mengetahui ada satu kalimat, jika dibaca oleh orang ini, marahnya akan hilang. Jika dia membaca ta’awudz: a’uudzu billaahi minsysyaithoonirrajiim, marahnya akan hilang.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Jika amarah memuncak, ucapkanlah ta’awudz dengan sepenuh hati, ikhlaskan segala kegundahan dan emosi yang memuncak, maka pelan tapi pasti amarah akan reda. Jika belum juga reda, teruslah ucapkan ta’awudz tiada henti sampai amarah reda. Bersamaan dengan itu, lakukan beberapa langkah berikutnya.

Kedua, segera diamlah. Hadits yang melandasi hal ini adalah dari Ibnu Abbas ra, Rasulullah SAW bersabda, “Jika kalian marah, diamlah.” (HR. Ahmad dan Syuaib Al-Arnauth menilai Hasan lighairih). Segera diam adalah cara berikutnya yang bisa kita lakukan ketika amarah sedang memuncak.

Ketika kita marah, segeralah diam, sembari dalam hati berucap ta’awudz tiada henti sampai amarah benar-benar mereda. Yakinlah bahwa amarah yang memuncak tiada lain adalah representasi dari perilaku syaitan yang terkutuk. Jangan sampai kita bersedia menerima bujuk rayu syaitan yang merusak. Bahkan, jangan sampai kita menjadi bentuk nyata dari syaitan itu sendiri.

Diam berarti menjaga lisan. Coba kita perhatikan hadits Rasulullah SAW, “Seorang Muslim ialah orang yang mampu menjaga lidah dan tangannya dari mengganggu Muslim sesamanya” (HR. Bukhari dan Muslim). Betapa diam adalah hal utama jika kita tidak bisa bicara dengan baik. Bicara dengan baik bisa mencegah munculnya amarah-amarah yang merusak.

Ketiga, mengubah posisi menjadi lebih rendah. Dari Abu Dzar ra, Rasulullah SAW bersabda, “Apabila kalian marah, dan dia dalam posisi berdiri, hendaknya dia duduk. Karena dengan itu marahnya bisa hilang. Jika belum juga hilang, hendak dia mengambil posisi tidur.” (HR. Ahmad dan Abu Daud).

Secara psikologis, orang yang sedang marah adalah orang yang sedang ingin berada dalam posisi lebih tinggi atas orang yang dimarahi. Oleh karena itu, salah satu terapi menahan amarah adalah mengubah posisi fisik dari tinggi ke rendah. Jika sedang berdiri, duduklah. Jika sedang duduk, berbaringlah.

Paralel dengan terapi fisik tersebut, lakukan terapi psikis dengan menguatkan keyakinan dalam hati bahwa satu-satunya yang layak menjadi yang paling tinggi adalah Allah. Ketika kita marah dan ingin lebih tinggi dari orang lain, yakinlah bahwa kita tidak ada apa-apanya dibandingkan Allah Dzat Maha Tinggi.

Keempat, segeralah berwudhu. Urwah as Sa’di ra mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya marah itu dari setan, dan setan diciptakan dari api, dan api bisa dipadamkan dengan air. Apabila kalian marah, hendaknya dia berwudhu.” (HR. Ahmad 17985 dan Abu Daud 4784).

Ketika emosi sedang memuncak, segeralah ambil air wudhu bukan dalam rangka ritual ibadah mahdhah, namun sentuhan air bisa meredakan emosi. Mandi juga merupakan solusi yang bisa meredakan emosi. Apalagi jika memang saat itu belum melaksanakan salat wajib, segeralah salat. Ketika salat dilakukan dengan khusyu’, niscaya bisa meredam emosi dan malah menghadirkan ketaatan kepada Allah.

Kelima, mengingat manfaat menjaga amarah dan kerugian menuruti amarah. Dari Mu’adz bin Anas al Juhani ra, Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang berusaha menahan amarahnya, padahal dia mampu meluapkannya, maka dia akan Allah panggil di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat, sampai Allah menyuruhnya untuk memilih bidadari yang dia kehendaki.” (HR. Abu Daud, Turmudzi). Ketika kita bisa menjaga amarah, maka pahalanya adalah penghormatan yang diberikan oleh Allah di surga.

Perhatikan, ketika kita bisa menahan amarah, maka hal ini bisa menghindari terjadinya kemarahan balik dari pihak lain. Sebaliknya, ketika kita tidak bisa menahan amarah, bukan tidak mungkin akan menghadirkan amarah di pihak lain, saling merespon dengan amarah, sehingga amarah kedua belah pihak makin lama makin meningkat dan selanjutnya yang terjadi adalah perselisihan tiada henti, berlarut-larut, merusak berbagai hal.

Dampak buruk lain yang muncul dari amarah adalah perselisihan yang tak kunjung usai, silaturahim pun menjadi terganggu, padahal kita mafhum bahwa silaturahim akan memperluas pintu rezeki dan memperpanjang usia, baik usia fisik maupun usia psikologis kita.

Demikian 5 cara menahan nafs ammarah agar menjadi nafs muthmainnah. Ingatlah, saat ini kita sedang menjalankan ibadah puasa di bulan suci Ramadan. Mari kita terus menjaga kendali diri agar tetap berada dalam ketaatan kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW serta terhindar dari amarah yang merusak diri dan orang lain, baik secara fisik maupun psikologis. Semoga puasa memperoleh predikat taqwa. Amin.

 

Artikel ditulis oleh Tim Advika, keterangan lebih lanjut hubungi e-mail info@advikamedia.com



Artikel Terkait


  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu

Komentar Artikel "5 Cara Menahan Amarah di Bulan Puasa Menurut Islam"