5 Ilmuwan Islam dan Penemuannya - Pegadaian Syariah
logo

5 Ilmuwan Islam dan Penemuannya

10 bulan yang lalu    
5 Ilmuwan Islam dan Penemuannya

Sepeninggal Rasulullah SAW dan sahabat, Islam pernah mengalami masa keemasan pada masa Daulah Umaiyah, Abbasiyah, sampai masa kejayaan Andalusia. Tak ketinggalan juga kejayaan Islam menuju abad modern, yakni pada masa Turki Utsmani.

Pada masa kejayaannya, Islam telah melahirkan ilmuwan-ilmuwan yang sampai saat ini dijadikan rujukan oleh berbagai ilmuan modern. Berikut ini ada 5 ilmuwan Islam dan penemuannya:

 

  1. Al Khawarizmi atau Muhammad Ibnu Musa al Khawarizmi (780 – 850).

Al-Khawarizmi dikenal di barat sebagai al Khawarizmi, al Cowarizmi, al Ahawizmi, al Karismi, al Goritmi, al Gorismi dan beberapa cara ejaan lagi. Al Khawarizmi adalah seorang tokoh Islam yang berpengetahuan luas. Beliau dikenal sebagai Penemu Aljabar dan Angka Nol. Pengetahuan dan keahliannya bukan hanya dalam bidang syariah tapi di dalam bidang falsafah, logika, aritmatika, geometri, musik, ilmu hitung, sejarah Islam dan kimia.

Beliau telah menciptakan pemakaian secans dan tangen dalam penyelidikan trigonometri dan astronomi. Saat masih muda, beliau bekerja di bawah pemerintahan Khalifah al-Ma’mun, bekerja di Bayt al-Hikmah di Baghdad. Beliau bekerja dalam sebuah observatori yaitu tempat belajar matematika dan astronomi. Beliau juga dipercaya untuk memimpin perpustakaan khalifah. Beliau pernah memperkenalkan angka-angka India dan cara-cara perhitungan India pada dunia Islam. Beliau juga merupakan seorang penulis ensiklopedia dalam berbagai disiplin.

Al Khawarizmi adalah seorang tokoh yang pertama kali memperkenalkan aljabar dan hisab. Banyak lagi ilmu pengetahuan yang beliau pelajari dalam bidang matematika dan menghasilkan konsep-konsep matematika yang begitu populer yang masih digunakan sampai sekarang.

Al Khawarizmi juga dikenal sebagai ahli astronomi. Astronomi dapat diartikan sebagai ilmu falaq (pengetahuan tentang bintang-bintang yang melibatkan kajian tentang kedudukan, pergerakan, dan pemikiran serta tafsiran yang berkaitan dengan bintang.

 

  1. Al Kindi atau Abu Yusuf Ya’qub Ibnu Ishaq al Kindi atau al Kindus (801 – 873)

Al Kindi dikenal sebagai filsuf pertama yang lahir dari kalangan Islam. Selain bisa berbahasa Arab, ia mahir berbahasa Yunani. Banyak karya-karya filsuf Yunani diterjemahkannya dalam bahasa Arab; antara lain karya Aristoteles dan Plotinos. Sayangnya ada sebuah karya Plotinus yang diterjemahkannya sebagai karangan Aristoteles yang berjudul Teologi menurut Aristoteles, yang di kemudian hari menimbulkan sedikit kebingungan.

Al Kindi telah menulis banyak karya dalam berbagai disiplin ilmu, dari metafisika, etika, logika dan psikologi, hingga ilmu pengobatan, farmakologi, matematika, astrologi dan optik, juga meliputi topik praktis seperti parfum, pedang, zoologi, kaca, meteorologi dan gempa bumi.

Ia sangat menghargai matematika. Hal ini disebabkan karena matematika, bagi al-Kindi, adalah mukadimah bagi siapa saja yang ingin mempelajari filsafat. Mukadimah ini begitu penting sehingga tidak mungkin bagi seseorang untuk mencapai keahlian dalam filsafat tanpa terlebih dulu menguasai matematika. Matematika di sini meliputi ilmu tentang bilangan, harmoni, geometri, dan astronomi. Yang paling utama dari seluruh cakupan matematika di sini adalah ilmu bilangan atau aritmetika karena jika bilangan tidak ada, maka tidak akan ada sesuatu apapun.

Di bidang filsafat, al Kindi berpendapat bahwa fungsi filsafat sesungguhnya bukan untuk menggugat kebenaran wahyu atau untuk menuntut keunggulan yang lancang atau menuntut persamaan dengan wahyu. Filsafat haruslah sama sekali tidak mengajukan tuntutan sebagai jalan tertinggi menuju kebenaran dan mau merendahkan dirinya sebagai penunjang bagi wahyu. Al Kindi mengumpulkan berbagai karya filsafat secara ensiklopedis, yang kemudian diselesaikan oleh Ibnu Sina (Avicenna) seabad kemudian.

 

  1. Ibnu Sina atau Avicenna (986 – 1037)

Ibnu Sina atau Avicenna adalah seorang filsuf, ilmuwan, dan dokter kelahiran Persia (sekarang Iran). Beliau juga seorang penulis yang produktif. Sebagian besar karyanya adalah tentang filosofi dan pengobatan. Bagi banyak orang, beliau adalah Bapak Pengobatan Modern.

Dia adalah pengarang dari 450 buku pada beberapa pokok bahasan besar. Banyak di antaranya memusatkan pada filosofi dan kedokteran. George Sarton menyebut Ibnu Sina adalah "ilmuwan paling terkenal dari Islam dan salah satu yang paling terkenal pada semua bidang, tempat, dan waktu". Karyanya yang paling terkenal adalah The Book of Healing dan The Canon of Medicine (al Qanun fi at Tibb) yang merupakan referensi di bidang kedokteran selama berabad-abad.

 

  1. Ibnu Haitam atau Alhazen (Basra, 965 – Cairo, 1039)

Ibnu Haitam merupakan ilmuwan Muslim yang gemar melakukan penyelidikan. Beliau merupakan orang pertama yang menulis dan menemukan berbagai data penting mengenai cahaya. Penyelidikannya mengenai cahaya telah memberikan ilham kepada ahli sains barat seperti Boger, Bacon, dan Kepler mencipta mikroskop serta teleskop.

Beberapa buku mengenai cahaya yang ditulisnya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, antara lain Light dan On Twilight Phenomena. Kajiannya banyak membahas mengenai senja dan lingkaran cahaya di sekitar bulan, matahari, bayang-bayang dan gerhana.

Menurut Ibnu Haitam, cahaya fajar bermula apabila mata­hari berada di garis 19 derajat di ufuk timur. Warna merah pada senja pula akan hilang apabila mata­hari berada di garis 19 derajat ufuk barat. Dalam kajiannya, dia juga telah berhasil menghasilkan kedudukan cahaya seperti bias cahaya dan pembalikan cahaya.

Ibnu Haitam juga turut melakukan percobaan terhadap kaca yang dibakar, dan dari situ ditemukanlah teori lensa pembesar. Teori itu telah digunakan oleh para ilmuwan di Italia untuk menghasilkan kaca pembesar yang pertama di dunia.

Ibnu Haitam juga telah menemukan prinsip isi padu udara sebelum seorang ilmuwan bernama Tricella yang mengetahui perkara itu 500 tahun kemudian. Ibnu Haitam juga telah menemukan kewujudan tarikan gravitasi sebelum Issaac Newton mengetahuinya.

Selain itu, teori Ibnu Hai­tam mengenai jiwa manusia sebagai satu rentetan perasaan yang bersambung-sambung secara teratur telah memberikan ilham kepada ilmuwan barat untuk menghasilkan wayang gambar. Teori dia telah membawa kepada penemuan film yang kemudiannya disambung-sambung dan dimainkan kepada para penonton sebagaimana yang dapat kita lihat pada masa kini.

 

  1. Abu Musa Jabir bin Hayyan atau Gebert (721 – 815)

Di dunia Barat, Abu Musa Jabir bin Hayyan atau dikenal dengan nama Geber. Beliau adalah seorang polymath terkemuka; kimiawan, alkimiawan, ahli astronomi dan astrologi, insinyur, ahli bumi, ahli filsafat, ahli fisika, apoteker dan dokter.

Kontribusi terbesar Jabir adalah dalam bidang kimia. Keahliannya ini didapatnya dengan ia berguru pada Barmaki Vizier, pada masa pemerintahan Harun Ar-Rasyid di Baghdad. Ia mengembangkan teknik eksperimentasi sistematis di dalam penelitian kimia, sehingga setiap eksperimen dapat direproduksi kembali. Jabir menekankan bahwa kuantitas zat berhubungan dengan reaksi kimia yang terjadi, sehingga dapat dianggap Jabir telah merintis ditemukannya hukum perbandingan tetap.

Kontribusi lainnya antara lain dalam penyempurnaan proses kristalisasi, distilasi, kalsinasi, sublimasi dan penguapan serta pengembangan instrumen untuk melakukan proses-proses tersebut.

 

Demikian 5 ilmuwan Islam dan penemuannya. Semoga kita bisa meneladani kegigihan beliau-beliau untuk terus melakukan penelitian dan inovasi ilmu pengetahuan. Amin.

 

Artikel ditulis oleh Tim Advika, keterangan lebih lanjut hubungi e-mail info@advikamedia.com



Artikel Terkait


  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu

Komentar Artikel "5 Ilmuwan Islam dan Penemuannya"