5 Prinsip Bisnis Syariah yang Perlu Diketahui - Pegadaian Syariah
logo

5 Prinsip Bisnis Syariah yang Perlu Diketahui

9 bulan yang lalu    
5 Prinsip Bisnis Syariah yang Perlu Diketahui

Bisnis syariah adalah bisnis yang dijalankan sesuai syariah Islam. Tentu saja, setiap alur bisnis memiliki kaidah-kaidah yang harus dipenuhi. Ada 5 prinsip bisnis syariah. Sebagaimana kelaziman sebuah prinsip, maka kelima hal ini harus ada di dalam setiap bisnis yang ingin dikatakan sesuai syariah.

Pertama, keuntungan diperoleh harus melalui transaksi jual beli. Profit masuk akal hadir jika dan hanya jika melalui jual beli. Itu prinsip pertama yang harus dipegang oleh pebisnis yang ingin menjalankan bisnis sesuai Syariah.

Perhatikan, Alquran membedakan kata dagang (motif profit) dengan kata jual beli. Alquran menyebut kata tijarah (perdagangan atau transaksi bermotif profit) sebanyak 8 kali. Alquran juga menyebut kata bay’ (jual beli sebanyak 6 kali).

Salah satu ayat paling pouler yang dijadikan sebagai prinsip dagang adalah Al-Qur’an Surat Annisa ayat 29, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian saling memakan harta sesama kalian dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kalian.”

Ibnu Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir menegaskan bahwa Allah SWT melarang hamba-hamba-Nya yang beriman memakan harta sebagian dari mereka atas sebagian yang lain dengan cara yang batil, yakni melalui usaha dagang (tjarah) yang tidak diakui oleh syariat, seperti dengan cara riba dan judi serta cara-cara lainnya yang termasuk ke dalam kategori tersebut dengan menggunakan berbagai macam tipuan dan pengelabuan. 

Ketika dijelaskan dalam kajian ilmu fikih muamalah, pemilahan bisnis [(tijarah) ini bisa dibagi menjadi 2, yakni jual beli dan kongsi. Kalau jual beli jelas bahwa transaksinya adalah langsung jual beli. Sedangkan pada akad kongsi, tidak boleh ada keuntungan yang muncul sampai hadirnya transaksi jual beli. Jadi, bisnis apapun yang ingin memperoleh keuntungan harus melalui jual beli.

Kedua, terpenuhi rukun dan syarat dagang. Prinsip ini sangat penting untuk dipahami. Ketika rukun dan syarat terpenuhi, maka bisnis tersebut berarti sudah sesuai syariah. Tidak perlu mencari indikator kesyariahan lainnya yang tidak perlu.

Rukun bisnis syariah terdiri dari pelaku (penjual dan pembeli), objek (termasuk harga), dan ijab qabul. Itu untuk jual beli. Jika akad bisnisnya adalah kongsi, maka harus ada pelaku (pemodal dan pengusaha atau merangkap keduanya), objek (usaha) termasuk adanya perencanaan keuntungan dan ijab qabul.

Syarat bisnis syariah akan ada pada masing-masing rukunnya. Pelakunya berakal sehat, pelakunya adalah orang yang berbeda. Ijab dan qabulnya juga harus sesuai dengan tujuan akad, barangnya harus jelas atau bisa diserahkan sesuai spesifikasi pesanan bisa diserahkan, barangnya bukan zat haram, kriteria barangnya jelas, bisa dikuasai, harganya jelas, proyeksi bagi hasilnya jelas, dan berbagai kriteria lain yang tidak zhalim.

Dalam rangka penentuan nominal transaksi bisnis, dibagi menjadi 2 besaran. Jika akadnya adalah jual beli, maka besaran nominal transaksinya harus sudah dipastikan sejak awal perjanjian. Sedangkan pada transaksi kongsi, nominal transaksi hasil atau keuntungannya tidak boleh dipastikan sejak awal, menunggu sampai ada hasil, baru bisa dibagikan.

Ketiga, rela sama rela. Setelah poin pertama dan kedua terpenuhi, berikutnya harus rela sama rela. Akad dengan rela sama rela akan sah jika sebelumnya sudah terpenuhi rukun dan syarat akad. Judi, zina, penyuapan, bisa terjadi karena rela sama rela, namun dari sisi rukun dan syarat akadnya tidak sah, sehingga rela sama rela dalam transaksi yang tidak sah, menjadi tidak sah juga.

Namun, poin ini memunculkan perbedaan pendapat. Menurut Madzhab Hanafi, penentuan hukum syariah itu berdasarkan maksud dan esensinya. Jika tidak rela sama rela, maka ada ketidakikhlasan pihak yang berakad sehingga tidak sah. Lain halnya dengan Madzhab Syafi’i yang menentukan hukum transaksi berdasarkan lafadz dan alurnya. Madzhab Syafi’i tidak menganalisis apakah pihak yang berakad itu ikhlas atau tidak. Asalkan sudah terpenuhi rukun dan syaratnya, maka bisnis tersebut dianggap sah sesuai Syariah.

Pada prinsipnya, semua pihak yang bertransaksi perlu menjaga kerelaan hati masing-masing pihak. Cara yang bisa dilakukan adalah dengan menjelaskan kondisi barang yang dijual, semua pihak memahami hak dan kewajiban masing-masing, apalagi jika ada alternatif khiyar (pilihan membatalkan jual beli jika barang yang dibeli tidak sesuai kondisi yang dijanjikan), atau jika ada klausul lain yang disepakati.

Prinsip rela sama rela ini juga sangat penting ketika dalam bisnis terjadi kerugian. Rela sama rela bisa disepakati tanpa melalui pengadilan maupun meminta pihak lain untuk menjadi pengadil (pengadilan legal formal). Jika pengadilan sudah mengambil keputusan, mari kita terima dengan ikhlas. Jika ada hal yang kurang memuaskan, bisa ditempuh sesuai jalur hukum.

Keempat, tidak boleh melakukan transaksi yang terlarang. Hukum asal transaksi muamalah adalah semua boleh dilakukan sampai ada dalil keharamannya. Mari kita pahami transaksi terlarang, agar kita paham batasan transaksi yang tidak diperbolehan.

Transaksi terlarang dibagi menjadi 2 besaran, yakni dari sisi zat dan dari sisi nonzat. Bisnis syariah tidak boleh melakukan transaksi bisnis zat haram. Namun, dalam kondisi tertentu, boleh saja memperjualbelikan zat haram untuk dijadikan sebagai keperluan medis, obat-obatan, yang tentu harus sesuai prosedur yang berlaku di Indonesia.

Sedangkan dari sisi nonzat, ada beberapa transaksi terlarang yakni riba, gharar, maisir, akad yang batil, zhalim dan maksiat. Riba pinjaman adalah mensyaratkan manfaat atas transaksi pinjaman untuk pemberi pinjaman. Riba jual beli adalah pertukaran barang ribawi yang tidak kontan, tidak sejenis, tidak senilai.

Gharar adalah transaksi menidakpastikan hal yang pasti atau memastikan hal yang tidak pasti. Maisir adalah transaksi saling menyetorkan dana atau harta, ada yang memperoleh dana setoran (berdasarkan undian atau cara lain), dan yang diperoleh oleh pemenang mengambil hak dari yang kalah.

Akad yang batil adalah akad yang tidak memenuhi rukun dan syarat akad. Akad yang zhalim adalah akad aniaya, menempatan sesuatu tidak pada tempatnya. Akad maksiat adalah akad dalam rangka melawan perintah Allah atau dalam rangka melakukan larangan Allah.

Kelima, memperhatikan maqashid syariah. Ini sejatinya adalah prinsip paling utama dalam menjalankan bisnis syariah, yakni terjaganya 5 maqashid syariah. Konsep ini dikemukakan oleh Asy Syathibi dan Al Ghazali, kemudian diikuti oleh Ulama Fikih sampai saat ini.

Maqashid syariah tersebut adalah terjaganya agama, terjaganya jiwa, terjaganya akal, terjaganya keturunan dan terjaganya harta. Bisnis yang sesuai Syariah tentu akan terus memastikan terjaganya kelima hal tersebut.  Jika ada skema bisnis yag tidak memperhatikan semua maqashid syariah tersebut, maka berhati-hatilah, kemungkinan bisnis tersebut adalah bisnis yang tidak sesuai Syariah.

Demikian 5 prinsip bisnis syariah untuk kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari. Semoga bermanfaat!

 

Artikel ditulis oleh Tim Advika, keterangan lebih lanjut hubungi e-mail info@advikamedia.com



Artikel Terkait


  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu

Komentar Artikel "5 Prinsip Bisnis Syariah yang Perlu Diketahui"