5 Tantangan Bisnis Syariah - Pegadaian Syariah
logo

5 Tantangan Bisnis Syariah

9 bulan yang lalu    
5 Tantangan Bisnis Syariah

Bisnis syariah adalah bisnis yang dijalankan dengan prinsip syariah Islam. Prinsip syariah dalam bisnis adalah ketika bisnis dijalankan dengan menghindari transaksi terlarang. Hal ini sejalan dengan prinsip muamalah, yakni hukum asal dari muamalah adalah boleh sampai ada dalil larangannya.

Transaksi terlarang dalam bisnis syariah meliputi transaksi zat haram, penipuan, manipulasi, riba (mensyaratkan kelebihan pengembalian dari transaksi hutang piutang dan jual beli), gharar (memastikan hal yang seharusnya ditidakpastikan), maisir (spekulasi terlarang), suap, transaksi zhalim, transaksi maksiat, dan semua transaksi yang tidak sah dari sisi hukum Islam.

Dari konsep ini, muncul nilai-nilai bisnis Islami seperti kejujuran, integritas, profesionalisme, amanah, keadilan, kemaslahatan, keseimbangan, persaudaraan, dan universalisme. Nilai-nilai ini akan terwujud jika bisnis syariah berhasil meninggalkan berbagai transaksi terlarang tersebut di atas.

Dalam proses pengembangannya, bisnis syariah menghadapi beberapa tantangan bisnis, yang sekaligus menjadi pemicu bagi bisnis syariah agar bisa menjalankan tata kelola bisnis secara maksimal dalam koridor syariah Islam.

Pertama, penciptaan lingkungan bisnis yang Islami. Penciptaan lingkungan bisnis Islami menjadi hal paling utama yang harus diwujudkan oleh bisnis syariah. Secara teknis, hal ini bisa dimulai dari penentuan visi misi yang Islami. Selanjutnya diturunkan menjadi nilai dan budaya kerja yang Islami.

Perusahaan harus menyiapkan segala perangkat teknis maupun nonteknis dalam rangka mewujudkan visi misi, nilai dan budaya kerja Islami yang sudah ditentukan. Semua lini prosedur perusahaan harus ditata sesuai konsep Islami. Praktiknya harus dilakukan sesuai konsep dan dari sisi pengawasannya juga harus ditata dalam koridor penciptaan lingkungan bisnis Islami.

Aspek penting yang harus diwujudkan dalam penciptaan lingkungan bisnis syariah adalah menegakkan nilai kemaslahatan, keseimbangan, persaudaraan, keadilan dan universalisme. Nilai-nilai ini harus ditegakkan di setiap lini operasional bisnis syariah.

Kemaslahatan dalam bisnis bisa diwujudkan dengan penjagaan kelima maqashid syariah, yakni menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan akal. Perusahaan yang Islami akan bisa membedakan prioritas pemenuhan kebutuhan dharuriyyat dan hajiyyat, baik untuk setiap individu SDM perusahaan maupun konteks kemaslahatan secara umum.

Keseimbangan dalam bisnis bisa diwujudkan dengan menentukan prosedur yang selalu memperhatikan keseimbangan kepentingan dunia dan akhirat, aspek material dan spiritual, keharmonisan antara prioritas menghadirkan keuntungan dan menjaga risiko, serta hal lain yang menunjukkan adanya keseimbangan dalam menjalankan bisnis syariah.

Persaudaraan dalam bisnis syariah bisa diwujudkan dengan menegakkan nilai ukhuwah (persaudaraan) di dalam dunia kerja. Persaudaraan dan jalinan silaturahim yang baik akan menghadirkan rasa saling menghormati dan menghargai antarsesama SDM (Sumber Daya Manusia). Hal ini menjadi salah satu penyebab utama produktivitas SDM.

Keadilan dalam bisnis syariah diterapkan dengan konsisten menghindari transaksi yang dilarang syariah. Konsep ini juga bisa menghadirkan adanya integritas, kejujuran, amanah, profesionalisme, kepemimpinan, kerja sama, dan berbagai nilai-nilai bisnis syariah lainnya.

Sedangkan universalisme bisa diwujudkan dengan mengakomodir dan memperlakukan SDM perusahaan dengan baik meskipun memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Bisnis syariah adalah bisnis yang rahmatan lil alamin, bisa dipergunakan, membawa kedamaian, dan bermanfaat untuk siapa saja.

Kedua, peningkatan kompetensi SDM. Ada 3 aspek dalam kompetensi, yakni akhlak (attitude), keterampilan (skill), dan pengetahuan (knowledge). Aspek kompetensi ini urut prioritas. Peningkatan aspek akhlak diprioritaskan dibanding aspek keterampilan dan pengetahuan.

SDM yang kompeten ini memegang peranan kunci dalam mengembangkan bisnis Syariah. Arah pengembangan bisnis akan ditentukan oleh SDM-nya. Lingkungan bisnis Islami juga akan ditentukan oleh SDM-nya.

Pada kaidah pengembangan SDM, perusahaan akan lebih menyukai SDM yang memiliki kemauan kuat sekaligus memiliki kemampuan yang baik. Kemauan kuat merupakan faktor paling penting dalam pengembangan SDM baik dari sisi individu maupun dalam posisinya di organisasi perusahaan. Kemauan kuat akan menghadirkan kemudahan dalam pengembangan kompetensi SDM.

Pada pengembangan kompetensi SDM bisnis Syariah, perusahaan harus memastikan bahwa setiap aspek harus mencermintan nilai Islam. Akhlak harus Islami, keterampilan harus mencerminkan keterampilan perusahaan yang tidak melanggar larangan ajaran Islam, dan pengetahuan SDM harus terus dikembangkan, terutama dalam masalah terkait dengan bisnis Islami.

Ketiga, pengembangan infrastruktur dan teknologi informasi. Tidak dapat dipungkiri, bahwa dunia semakin modern, akses informasi semakin global dan teknologi pun semakin canggih. Bisnis syariah harus mampu menyesuaikan diri dengan keberadaan infrastruktur dan teknologi.

Bicara tentang infrastruktur maka akan bicara tentang investasi pengadaannya. Teknologi canggih membutuhkan biaya mahal. Di sini, bisnis syariah dituntut untuk mengejar laba tinggi dengan tetap menjaga manajemen risiko, dalam rangka bisa mempermudah penyediaan infrastruktur teknologi kekinian.

Bisnis syariah pun harus menyesuaikan diri dengan media sosial yang semuanya berbasis teknologi. Media sosial menjadi primadona masyarakat dalam berkomunikasi. Bisnis syariah ditantang untuk bisa memaksimalkan keberadaan media sosial seperti Facebook, Instagram, Twitter, Line, Telegram dan media sosial lainnya dalam rangka menjangkau publik secara luas.

Satu hal yang saat ini jadi tren adalah adanya FinTech (Financial Technology). Bisnis syariah bisa masuk ranah FinTech, seperti untuk bisnis peer to peer financing (pembiayaan langsung berbasis teknologi), FinTech untuk funding (aktivitas menabung berbasis teknologi online), teknologi payment point (pembayaran berbagai transaksi), serta FinTech lain yang bisa menunjang lini bisnis yang sedang dijalankan.

Keempat, pemahaman manajemen perusahaan. Salah satu tantangan yang harus dihadapi bisnis syariah adalah manajemen perusahaan, dari manajemen operasional sampai dengan manajemen bisnis. Manajemen perusahaan bisa meliputi manajemen SDM, manajemen organisasi, manajemen likuiditas, manajemen strategis, manajemen risiko, manajemen pengawasan, manajemen keuangan, manajemen teknologi dan informasi, serta berbagai aspek lain terkait manajemen perusahaan.

Bisnis syariah harus bisa memastikan bahwa semua alur bisnis yang penting, bisa tercatat dengan baik, bisa dilaporkan dengan baik, apalagi jika bisnis yang dijalankan memperoleh modal dari pihak ketiga maupun dari lembaga keuangan syariah yang harus memberikan laporan rutin dan tertulis. Sangat berisiko jika tidak ada pencatatan legal formalnya.

Hal ini harus sangat diperhatikan terutama dalam rangka menghadapi risiko hukum di kemudian hari. Ada kaidah fikih al kitaabu ka al khithaabi, tulisan itu ibarat titah (dalam hukum). Berkas tertulis merupakan aspek sangat utama yang harus diperhatikan dalam bisnis Syariah.

Kelima, edukasi dan aktivasi publik. Ketika bisnis syariah sudah membuat produk yang layak dijual kepada masyarakat, tantangannya adalah gimana agar produk itu bisa diketahui oleh masyarakat dan terbukti dibeli oleh masyarakat.

Sejatinya, produk yang baik akan memasarkan dirinya sendiri. Namun, bisnis syariah pun harus memiliki strategi yang jitu dalam rangka edukasi dan penjualan ke publik. Terkadang, bisnis berbasis syariah menggunakan istilah Arab yang tidak mudah dipahami masyarakat. Oleh karena itu solusinya adalah mengalihbahasakan istilah dalam bisnis syariah ke dalam bahasa Indonesia agar mudah dipahami publik.

Dalam hal aktivasi, bisnis syariah harus membuat program program menarik yang langsung bisa menyebabkan masyarakat mau membeli dan menggunakan produknya. Seringkali masyarakat tidak begitu mementingkan aspek kesyariahan, namun karena produknya hadir di depan mata dan terjangkau, maka akan jadi pilihan.

Demikian uraian tentang 5 tantangan bisnis syariah yang bisa Anda ketahui. Semoga bisa memberikan ide dan gagasan bagi Anda dalam menjalankan bisnis syariah. Amin.

 

Artikel ditulis oleh Tim Advika, keterangan lebih lanjut hubungi e-mail info@advikamedia.com



Artikel Terkait


  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu

Komentar Artikel "5 Tantangan Bisnis Syariah"