Apa yang Membedakan Syarat Wajib Haji dan Syarat Sah Haji? - Pegadaian Syariah
logo

Apa yang Membedakan Syarat Wajib Haji dan Syarat Sah Haji?

2 minggu yang lalu      Haji
Apa yang Membedakan Syarat Wajib Haji dan Syarat Sah Haji?

Ibadah haji merupakan Rukun Islam kelima yang tidak serta wajib dilaksanakan kecuali bagi orang yang sudah memenuhi syaratnya, yaitu memiliki kemampuan ( al-Istithaa-'ah ) sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat Ali Imran ayat 97, "…mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah…" .

Sebagaimana lazimnya pelaksanaan ritual ibadah, ada syarat wajib dan syarat sah (rukun haji) atas pelaksanaan ibadah tersebut. Di sini ibadah haji juga termasuk ibadah mahdhah (ritualnya sudah diatur oleh syariah Islam). Oleh karena itu, ibadah haji harus dikerjakan sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW agar haji dinilai sah secara hukum Islam.

Syarat wajib haji adalah hal yang menyebabkan seseorang wajib melaksanakan ibadah tertentu. Sedangkan syarat sah (rukun) haji adalah hal yang menyebabkan ibadah menjadi sah.

Dengan demikian, hal utama yang membedakan syarat wajib dan syarat sah haji terletak pada definisinya. Syarat wajib haji adalah hal yang menyebabkan seseorang dihukumi wajib untuk melaksanakan ibadah haji. Sedangkan syarat sah haji adalah hal yang menyebabkan ibadah haji menjadi sah. Untuk memahami lebih rinci mengenai keduanya, mari kita simak syarat wajib dan syarat sah ibadah haji.

Syarat Wajib Haji

Syarat wajib haji adalah Islam, baligh , berakal, merdeka, dan mampu. Haji hanya diwajibkan bagi umat Islam, bukan umat agama lain. Haji juga diwajibkan bagi orang yang sudah baligh sehingga memenuhi kewajiban beribadah. Orang tidak berakal (gila) juga tidak wajib berhaji. Budak tidak diwajibkan berhaji, namun saat ini tidak ada perbudakan.

Anak yang belum baligh tidak wajib berhaji, namun boleh berhaji. Ketika ada seorang anak Muslim berhaji, hajinya tetap sah sebagai amalan sunnah , namun kewajibannya belum gugur. Ketika anak tersebut kelak sudah dewasa dan memiliki kemampuan, tetap dikenakan kewajiban untuk berhaji meskipun sebelumnya sudah berhaji pada saat belum dewasa ( aqil baligh ).

Syarat wajib paling utama adalah ketika seorang Muslim, aqil baligh , merdeka, sudah memenuhi kriteria mampu. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surat Ali Imran ayat 97, “ Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.

Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini bahwa menurut jumhur ulama , ini adalah ayat yang menunjukkan kewajiban haji. Telah banyak hadits yang menyebutkan bahwa ibadah haji adalah salah satu rukun, sendi, dan asas Islam. Kaum Muslimin pun telah ber- ijma’ atas hal tersebut secara tegas. Hanya saja diwajibkan kepada orang mukallaf satu kali saja seumur hidup berdasarkan nash dan ijma’ .

Ayat tersebut menyuratkan syarat wajib haji, yakni bagi orang yang mampu. Indikator mampu terdiri dari mampu dari sisi jasmani dan rohani, mampu dari sisi ekonomi, serta mampu dari sisi keamanan.

Orang yang tidak sehat jasmani, tidak diwajibkan berhaji meskipun ia mampu dari sisi ekonomi dan keamanan. Orang yang sedang memiliki beban psikologis yang berat juga tidak wajib haji, meskipun ia mampu dari sisi fisik, ekonomi, dan keamanan.

Orang yang tidak mampu dari sisi ekonomi atau biaya haji juga tidak wajib menjalankan ibadah haji meskipun ia sehat jasmani dan rohani serta ada jaminan keamanan. Orang yang memiliki hutang banyak juga tidak wajib berhaji oleh karena ada prioritas yang lebih penting diselesaikan, yakni membayar hutang-hutangnya.

Orang yang memiliki kemampuan di sisi jasmani, rohani, dan ekonomi, tidak wajib menjalankan ibadah haji jika tidak ada jaminan keamanan, misalnya kondisi politik negaranya sedang tidak kondusif. Jadi, orang bisa disebut wajib haji adalah ketika memenuhi semua syarat kemampuan meliputi kemampuan jasmani, rohani, ekonomi dan keamanan.

Demikianlah ibadah haji dapat disebut sebagai ibadah harta dan fisik. Bahkan jika tidak dapat melaksanakan haji secara fisik dapat diganti dengan membayar denda harta, atau sebaliknya jika tidak mampu membayar harta maka dapat menggantinya dengar menggantikan dengan secara fisik. Misalnya, kewajiban membayar Dam karena haji Tamattu’ atau Qiran maka wajib membayar Hadyu (Dam). Jika tidak mampu membayarnya maka wajib berpuasa sepulu hari, yang tiga hari di Tanah Haram dan tujuh hari di Tanah Air.

Syarat Sah Haji (Rukun  Haji)

Yang dimaksud syarat sah haji (rukun haji) adalah kegiatan yang harus dikerjakan atau di penuhi oleh mukallaf dalam ibadah haji, seperti ihram, wukuf, tawaf, sa'i, tahallul, tertib atau berurutan

Adapun syarat sahnya haji adalah sebagai berikut:

Pertama, dikerjakan pada waktu-waktu tertentu, yaitu pada 10 hari pertama bulan Zulhijah. Haji tidak sah jika dilakukan di luar bulan-bulan tersebut.

Kedua, dilakukan sesuai urutan pelaksanaan haji, baik rukun haji maupun wajib haji. Jika pelaksanaan rukun dan wajib haji tidak berurutan dan sesuai waktu dan tempat yang ditentukan, maka hajinya tidak sah.

Ketiga , dikerjakan di tempat-tempat tertentu, yaitu Masjidil Haram untuk thawaf , Padang Arafah untuk wukuf , Bukit Safa dan Marwa untuk sa’i , Jamarat untuk melempar jumrah , serta Muzdalifah dan Mina untuk mabit . Jika ritualnya dilakukan di luar tempat-tempat tersebut, maka ibadah hajinya tidak sah.

Keempat , memenuhi semua syarat pelaksanaan serangkaian amalan dalam haji misalkan thawaf, sa’i, dan seterusnya. Pada setiap amalan haji, ada berbagai ketentuan yang harus dipenuhi agar hajinya sah.

Kelima , bagi jemaah haji perempuan, ia harus didampingi suami atau laki-laki yang memiliki hubungan saudara dekat dengannya, mendapat izin suaminya, dan tidak sedang menjalani masa iddah .

Haji dikatakan sah jika memenuhi rukun haji, yaitu hal-hal yang wajib dilakukan dalam berhaji yang apabila ada yang tidak dilaksanakan, maka dinyatakan gagal haji alias tidak sah, harus mengulang di kesempatan berikutnya, jika mampu.

Rukun haji terdiri dari ihram, wukuf, thawaf ifadhoh, sa’i dan tahallul . Ihram adalah memakai kain yang tidak berjahit, tidak boleh menutup kepala bagi laki-laki, dan tidak boleh menutupi wajah serta telapak tangan bagi perempuan tapi diperbolehkan memakai sandal atau selop.

Wukuf di Padang Arafah adalah berhenti di Padang Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah mulai waktu dhuhur hingga terbit fajar pada tanggal 10 Dzulhijjah. Thawaf ifadhoh adalah mengelilingi Ka’bah tujuh kali di mulai dari Hajar Aswad. Sa'i adalah berlari-lari kecil antara Bukit Safa dan Marwah sebanyak tujuh kali. Tahallul adalah memotong rambut kepala sedikitnya tiga helai rambut untuk kepentingan ihram .

Demikianlah perbedaan dan penjelasan antara syarat wajib haji dan syarat sah haji. Jika kamu ingin mempersiapkan ibadah haji dari sekarang, kamu bisa ke Pegadaian Syariah untuk memanfaatkan produk pembiayaan Arrum Haji.

Pembiayaan Arrum Haji adalah layanan yang memberikan kemudahan bagi kamu untuk melakukan pendaftaran dan pembiayaan haji. Persyaratannya kamu harus memenuhi syarat sebagai pendaftar haji, menyerahkan berbagai dokumen yang diperlukan dan jaminan emas minimal 7 juta rupiah. Setelah itu, kamu akan memperoleh pinjaman senilai 25 juta rupiah dalam bentuk tabungan haji.

Keunggulan yang kamu dapatkan dari pembiayaan Arrum Haji adalah kamu memperoleh tabungan haji yang langsung dapat digunakan untuk memperoleh nomor porsi haji. Selain itu, emas dan dokumen haji aman tersimpan di Pegadaian Syariah dan jaminan emas dapat dipergunakan untuk pelunasan biaya haji pada saat lunas. Semoga mimpi ke Tanah Suci segera terwujud. Amin.

 

Artikel ditulis oleh Tim Advika, keterangan lebih lanjut hubungi e-mail info@advikamedia.com




Komentar Artikel "Apa yang Membedakan Syarat Wajib Haji dan Syarat Sah Haji?"