Bagaimana Cara Mengambil Keuntungan Berdagang dalam Islam? - Pegadaian Syariah
logo

Bagaimana Cara Mengambil Keuntungan Berdagang dalam Islam?

4 bulan yang lalu    
Bagaimana Cara Mengambil Keuntungan Berdagang dalam Islam?

Hukum asal dari muamalah (transaksi antarmanusia) adalah mubah (boleh) dilakukan, sampai ada dalil keharamannya. Begitu juga dalam transaksi bisnis (yang merupakan bagian dari aktivitas muamalah ) bahwa semua transaksi apapun dalam bisnis hukumnya boleh dilakukan, sampai ada dalil keharamannya. Artinya, kamu boleh kreatif dalam berbisnis, sampai ada dalil larangan atas kreativitas yang kamu lakukan.

Agar keuntungan atau hasil yang kamu peroleh dalam berdagang atau berbisnis bisa dianggap sah sesuai syariat Islam, maka kamu cukup melakukan beberapa hal berikut ini.

Pertama, menghindari transaksi dagang (perniagaan) yang batil . Dalil larangannya adalah “ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian saling memakan harta sesama kalian dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kalian. Dan janganlah kalian membunuh diri kalian, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepada kalian .” (Al-Qur’an Surat An Nisa ayat 29).

Ibnu Katsir menafsirkan bahwa Allah SWT melarang hamba-hamba-Nya yang beriman memakan harta sebagian dari mereka atas sebagian yang lain dengan cara yang batil , yakni melalui usaha yang tidak diakui oleh syariat, seperti dengan cara riba dan judi serta cara-cara lainnya yang termasuk ke kategori tersebut dengan menggunakan berbagai macam tipuan dan pengelabuan. 

Ayat ini menegaskan bahwa cara utama dalam pengambilan keuntungan adalah melalui dagang (perniagaan) yang sah, rela sama rela, serta menjauhi transaksi terlarang dalam dagang (bisnis).

Transaksi dagang (tijarah) dalam Islam dibagi menjadi dua, yakni jual-beli (bay’) dan kongsi (syirkah). Pada transaksi jual-beli, nominal harga dipastikan sejak awal, sehingga bisa langsung ditentukan nominal keuntungannya. Sedangkan pada skema kongsi tidak ada kepastian hasil sejak awal akad, sampai ada transaksi jual beli, baru sah ada hasil transaksi, kemudian hasil itu dibagikan antarpihak yang berkongsi.

Transaksi bisnis yang tidak batil tentu diawali dengan terpenuhinya rukun dan syarat bisnis. Rukun jual-beli terdiri dari adanya penjual, pembeli, objek jual-beli (barang, manfaat, harta ribawi), ada harga, dan ijab qabul (bisa melalui ucapan maupun kebiasaan yang dianggap sah). Sedangkan rukun kongsi terdiri dari adanya pihak yang terlibat (pemodal dan pengusaha), adanya objek akad yakni usaha yang halal, adanya ijab qabul (bisa melalui ucapan maupun kebiasaan yang dianggap sah).

Syarat transaksi juga harus dipenuhi. Pada transaksi jual-beli, semua pihak harus berakal dan cakap hukum, objek akad harus halal dan jelas atau bisa dihadirkan, ijab qabul juga memenuhi syarat serah terima objek akad, tidak ada kezhaliman. Pada transaksi kongsi, semua pihak harus berakal dan cakap hukum, objek akad harus halal dan jelas, ijab qabul juga memenuhi syarat sahnya kongsi, tidak ada kezhaliman.

Selain terpenuhinya rukun dan syarat, Ibnu Katsir menegaskan agar harta diperoleh tidak melalui transaksi terlarang, seperti riba, gharar, maisir, zhalim, maksiat dan lain-lain. Riba adalah manfaat yang disyaratkan diperoleh untuk pemberi pinjaman atas transaksi pinjaman dan/atau dari transaksi jual beli. Gharar adalah ketidak-pastian hal yang seharusnya pasti atau memastikan hal yang seharusnya pasti. Maisir adalah spekulasi dari transaksi bisnis. Zhalim adalah aniaya, tidak menempatkan sesuatu pada tempatnya. Sedangkan maksiat adalah meninggalkan perintah Allah dan melanggar larangan-Nya.

Dengan demikian, secara garis besar, keuntungan yang sah menurut syariat Islam bisa diperoleh melalui dua skema dagang yang sah, yakni terpenuhinya rukun dan syarat serta tidak melakukan transaksi terlarang. Keuntungan secara langsung diperoleh melalui transaksi jual-beli, sedangkan keuntungan tidak langsung diperoleh melalui transaksi kongsi (yang nantinya akan muncul keuntungan setelah ada transaksi jual belinya). Dalam kongsi, memungkinkan ada untung, rugi atau impas.

Kedua , menghindari jual beli yang gharar . Seperti yang dijelaskan sebelumnya, definisi sederhana dari gharar adalah memastikan hal yang seharusnya pasti atau menidakpastikan hal yang seharusnya pasti. Dalil larangannya adalah “ Abu Hurairah ra berkata bahwa Rasulullah SAW melarang jual-beli dengan cara melempar batu dan jual-beli gharar (yang belum jelas harga, barang, waktu dan tempatnya).” (HR Muslim).

Salah satu larangan dalam jual beli gharar adalah gharar dalam harga. Jumhur ulama menafsirkan bay’ al gharar dengan skema jual tunai dengan harga tertentu, jual tidak tunai dengan harga tertentu yang berbeda dengan harga tunai, tanpa pilihan satu harga. Misalnya penjual dan pembeli sudah sepakat dengan harga Rp 50 juta dengan angsuran 5 tahun. Ternyata, seiring berjalannya waktu, pembeli keberatan mengangsur selama 5 tahun dan minta perpanjangan menjadi 10 tahun, kemudian membuat harga baru yakni total Rp 75 juta dikurangi jumlah yang sudah diangsur. Ini dilarang syariah Islam.

Solusi yang bisa kamu lakukan adalah silahkan membuat banyak alternatif harga sebelum ada kesepakatan harga. Misalnya kamu menjual rumah jika pembayaran tunai maka harganya Rp 100 juta, jika diangsur selama 5 tahun maka harganya Rp 125 juta, jika diangsur selama 10 tahun maka harganya Rp 150 juta, jika diangsur selama 15 tahun maka harganya adalah Rp 175 juta. Ini sah sesuai syariat Islam jika disepakati memilih 1 harga.

Ketiga , menghindari ihtikar atau penimbunan barang agar bisa mengambil keuntungan atas kenaikan harga. Dalil larangannya adalah “ Dari Ma'mar Ibnu Abdullah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Tidak akan menimbun (barang) kecuali orang yang berdosa " (HR Muslim).

Transaksi terlarang yang dimaksud misalnya kamu sudah tahu bahwa akan ada kenaikan harga beras di waktu tertentu, kemudian kamu segera menimbun beras sebanyak-banyaknya agar nanti kamu bisa mengambil keuntungan besar karena kenaikan harga beras tersebut.

Namun, jika sebelumnya kamu sudah terlanjur memiliki stok beras, kamu juga tidak tahu akan ada kenaikan harga beras, kemudian begitu ada kenaikan harga beras maka kamu jual beras sesuai harga pasar dan kamu memperoleh keuntungan besar atas kondisi tersebut, hal ini diperbolehkan.

Keempat , menghindari bay’najasy. Dalil larangannya, “ Ibnu Umar ra berkata bahwa Rasulullah SAW melarang berjualan dengan najasy (memuji barang dagangan secara berlebihan) ” (HR Muttafaq Alaihi). Ini adalah dalil larangan bagi penjual untuk memuji barangnya sendiri secara berlebihan agar memperoleh keuntungan besar. Kamu boleh menyebutkan nilai lebih dari barang yang kamu miliki sesuai kondisi apa adanya, namun jangan memuji berlebihan apalagi menyebutkan hal yang tidak sesuai dengan kondisi yang sebenarnya.

Kelima , menghindari talaqqi rukban . Dalil larangannya adalah “ Dari Thawus, dari Ibnu Abbas ra bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Janganlah engkau menghadang kafilah di tengah perjalanan (untuk membeli barang dagangannya), dan janganlah orang kota menjual kepada orang desa." Aku bertanya kepada Ibnu Abbas: Apa maksud sabda beliau "Janganlah orang kita menjual kepada orang desa?" Ibnu Abbas menjawab: Janganlah menjadi makelar (perantara) (HR Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut riwayat Bukhari).

Dalil lainnya adalah “ Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Janganlah menghadang barang dagangan dari luar kota. Barangsiapa di hadang, kemudian sebagian barangnya dibeli, maka jika pemilik barang telah datang ke pasar, ia boleh memilih (antara membatalkan atau tidak)." (HR Muslim).

Hadits ini melarang kamu untuk menjadi makelar (perantara) namun produsen tidak mengetahui harga pasar. Jika kamu jadi perantara dan produsen tahu harga pasar, maka hal ini tidak dilarang.

Hampir semua Lembaga Keuangan Syariah (LKS) melakukan transaksi ini dengan skema jual beli tegaskan untung ( murabahah ). LKS berposisi sebagai lembaga intermediary (perantara) dengan menyebutkan harga perolehan dari produsen atau supplier (misalnya Rp 200 juta), kemudian dijual kepada nasabah (misalnya seharga Rp 400 juta). Hal ini hukumnya halal.

Keenam , menghindari bay’ al ‘urban .  Dalil larangannya adalah “ Amar Ibnu Syu'aib, dari ayahnya, dari kakeknya Radliyallaahu 'anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam melarang jual-beli 'urban (memberikan panjar/persekot terlebih dahulu dan jika jual-beli itu tidak jadi maka uang panjar tersebut hangus)" (HR Malik. Ia berkata: Aku menerimanya dari Amar Ibnu Syu'aib).

Hadits ini melarang kita memberlakukan uang panjar yang disepakati langsung hangus jika tidak jadi ada transaksi jual-beli. Solusinya, jangan sepakati hangus, namun boleh disepakati berkurang karena menjadi pengganti ( iwadh atau ta’widh ) atas biaya operasional yang dikeluarkan penjual dalam rangka proses jual beli sampai diputuskan batal oleh konsumen.

Demikian beberapa hal yang harus diperhatikan dalam rangka pengambilan keuntungan berdagang dalam Islam . Bagi kamu yang membutuhkan modal untuk pengembangan bisnis, Pegadaian Syariah menyediakan produk pembiayaan Arrum (Ar Rahn Untuk Usaha Mikro). Produk ini memudahkan para pengusaha kecil untuk mendapatkan tambahan modal usaha untuk pengembangan usaha dengan jaminan BPKB kendaraan. Kendaraan tetap kamu pegang, sehingga dapat digunakan untuk mendukung usaha sehari-hari.

Keunggulan produk ini yakni prosedur pengajuan marhun bih (pinjaman) yang mudah karena agunan hanya berupa BPKB kendaraan bermotor. Kemudian proses marhun bih (pinjaman) hanya butuh 3 hari. Nasabah akan dikenakan mu'nah per bulan (biaya pemeliharaan jaminan) hanya 0,7% dari nilai jaminan dengan pilihan jangka waktu pinjaman dari 12, 18, 24, 36 bulan.

Untuk bisa memanfaatkan layanan ini, nasabah perlu memiliki usaha yang memenuhi kriteria kelayakan serta telah berjalan 1 (satu) tahun, menyerahkan fotokopi KTP dan kartu keluarga serta dokumen kepemilikan kendaraan bermotor [BPKB asli, fotokopi STNK, dan Faktur Pembelian (tidak wajib)]. Semoga bermanfaat!

 

Artikel ditulis oleh Tim Advika, keterangan lebih lanjut hubungi e-mail info@advikamedia.com



Artikel Terkait


  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu

Komentar Artikel "Bagaimana Cara Mengambil Keuntungan Berdagang dalam Islam?"