Bagaimana Hukum Investasi dalam Islam? - Pegadaian Syariah
logo

Bagaimana Hukum Investasi dalam Islam?

5 bulan yang lalu    
Bagaimana Hukum Investasi dalam Islam?

Investasi adalah penanaman modal usaha yang diberikan kepada pengusaha dalam rangka menjalankan usaha tertentu dengan tujuan memperoleh keuntungan. Sedangkan investasi syariah adalah investasi yang dijalankan sesuai dengan kaidah syariah Islam. Ketika ingin merinci hukum investasi dalam Islam, maka perlu diurai logika hukumnya berdasarkan dalil Al-Qur’an, hadits, maupun dalil terkait lainnya.

Runutan hukum investasi dalam Islam bisa mulai dicermati pada Al-Qur’an surat An Nisa ayat 29, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian saling memakan harta sesama kalian dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kalian.” Ayat ini adalah ayat utama yang menegaskan bahwa dalam investasi sesuai hukum Islam, dilarang menggunakan transaksi yang batil.

Ibnu Katsir menafsirkan ayat tersebut dengan menegaskan bahwa Allah SWT melarang hamba-Nya yang beriman untuk memakan harta di antara mereka dengan cara yang batil, yakni melalui usaha yang tidak diakui oleh syariat. Cara batil yang dimaksud di antaranya seperti dengan cara riba, gharar, judi, zhalim, maksiat, dan cara lainnya.

Cara lain yang termasuk ke dalam kategori tersebut adalah dengan menggunakan berbagai macam tipuan dan pengelabuan. Sekalipun pada lahiriahnya cara-cara tersebut memakai cara yang diakui oleh hukum syara', tetapi Allah lebih mengetahui bahwa sesungguhnya para pelakunya hanyalah semata-mata menjalankan riba, tetapi dengan cara hilah (tipu muslihat). Hindarilah hal-hal batil tersebut.

Runutan dalil berikutnya adalah Al-Qur’an surat Al Maidah ayat 1, “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu.” Dalam tafsir Ibnu Katsir, ‘Ali bin Abi Thalhah mengatakan dari Ibnu ‘Abbas, [ia berkata]: “Yang dimaksud dengan perjanjian tersebut adalah segala yang dihalalkan dan diharamkan Allah, yang difardlukan, dan apa yang ditetapkan Allah di dalam al-Qur’an secara keseluruhan, maka janganlah kalian mengkhianati dan melanggarnya.”

Allah juga menegaskan etika Investasi dalam Islam, yakni pada Al-Qur’an surat Al Baqarah ayat 283, “Maka jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya.”

Kedua ayat di atas menegaskan kepada pelaku investasi agar saling mematuhi klausul perjanjian investasi, menjalankan kewajiban, memberikan hak sesuai ketentuan. Ayat ini juga menekankan urgensi sikap amanah terhadap kongsi investasi yang dilakukan antarpihak.

Terkait investasi (mudharabah) ini, ada hadits Rasulullah SAW riwayat Thabrani dari Ibnu Abbas, “Abbas bin Abdul Mutltallib jika menyerahkan harta sebagai mudharabah, ia mensyaratkan kepada mudharib-nya agar tidak mengarungi lautan dan tidak menuruni lembah, serta tidak membeli hewan ternak. Jika persyaratan itu dilanggar, ia (mudharib) harus menanggung risikonya. Ketika persyaratan yang ditetapkan Abbas itu didengar Rasulullah, beliau membenarkannya.”

Ada satu lagi hadits yang cukup populer menegaskan keutamaan investasi, yakni  hadits Rasulullah SAW riwayat Ibnu Majah dari Syuhaib, Nabi bersabda, “Ada tiga hal yang mengandung berkah: jual beli tidak secara tunai, muqaradhah (mudharabah), dan mencampur gandum dengan jewawut untuk keperluan rumah tangga, bukan untuk dijual.” Mudharabah adalah kongsi investasi dalam hukum Islam.

Setelah rujukan Al-Qur’an dan hadits, dalil hukum investasi dalam Islam ini bisa dicermati dalam Ijma’ dan Qiyas. Diriwayatkan bahwa sejumlah sahabat menyerahkan (kepada orang, mudharib) harta anak yatim sebagai mudharabah dan tak ada seorang pun mengingkari mereka. Oleh karenanya hal tersebut dipandang sebagai ijma'. (Wahbah az Zuhaily, al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, 1989, 4/838).

Berikutnya, transaksi mudharabah ini diqiyaskan atau dianalogikan hukumnya kepada transaksi musaqah, yakni qiyas pada transaksi kerja sama pemilik kebun dengan penggarapnya dengan adanya skema bagi hasil.

Dari uraian runutan dalil di atas bisa disimpulkan bahwa investasi merupakan transaksi yang diperbolehkan menurut syariah Islam. Tentu saja harus mematuhi kaidah kongsi investasi sesuai Syariah Islam. Berikut ini adalah beberapa kaidah kongsi investasi menurut syariah Islam.

Pertama, semua pihak yang terlibat dalam kongsi harus cakap hukum. Hal ini harus ditegaskan karena mereka melakukan perjanjian legal formal dalam ranah hukum syariah sekaligus hukum positif. Pengusaha juga merupakan pihak yang cakap dalam melakukan usaha sesuai yang disepakati dalam akad.

Kedua, ada pernyataan ijab qabul antar pihak dan dituangkan dalam perjanjian. Perjanjian legal formal yang kuat dinyatakan secara tertulis sesuai prosedur hukum yang berlaku. Hal ini sejalan dengan Al-Qur’an surat Al Baqarah ayat 282. Perjanjian tertulis dilakukan untuk meghindari bahaya kezhaliman dalam akad di kemudian hari.

Ketiga, modal yang diberikan dalam kongsi berupa uang atau aset atau barang yang bisa dinilai dan diketahui jumlah dan jenisnya. Pada saat akad, modal tersebut harus jelas nilainya, bisa diukur oleh semua pihak.

Modal juga tidak dalam bentuk piutang dan harus dibayarkan kepada pengusaha baik secara bertahap maupun tidak, sesuai kesepakatan dalam akad. Dalam kongsi investasi ini, pengusaha tidak menyertakan modalnya, hanya bertindak sebagai pengusaha saja.

Keempat, keuntungan merupakan jumlah yang didapat sebagai kelebihan dari modal. Keuntungan dibagi untuk antarpihak yang berkongsi. Pembagiannya bisa dengan skema bagi hasil (revenue sharing) atau dengan bagi untung/rugi (profit/loss sharing). Haram hukumnya minta hasil yang pasti.

Pada saat awal kongsi, semua pihak menyepakati nisbah bagi hasil atau nisbah bagi untung/rugi dalam bentuk persentase atau bagian. Hal ini dilakukan agar pembagian keuntungan nantinya bisa jelas porsinya. Nisbah disepakati oleh semua pihak, sesuai dengan kontribusi dan pertimbangan lain yang ditentukan oleh semua pihak yang berkongsi.

Kelima, penanggung rugi adalah pemodal, kecuali ada kelalaian yang dilakukan oleh pengusaha. Ketika pengusaha sudah melakukan kewajiban dengan benar dan bisa dibuktikan sesuai yang tertuang dalam perjanjian, maka penanggung rugi adalah pemodal. Sebaliknya, jika pengusaha tidak menjalankan kewajiban bisnis dengan baik, maka penanggung rugi adalah pengusaha. Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa penanggung rugi dalam kongsi investasi adalah pihak yang tidak menjalankan kewajiban.

Keenam, usaha yang dijalankan merupakan usaha yang baik, tidak bertentangan dengan syariat Islam yakni tidak boleh berupa kegiatan usaha yang dilarang syariat. Dalam kongsi investasi, pelaksana usaha adalah pengusaha. Namun, pemodal boleh melakukan pengawasan atas usaha yang dijalankan, sesuai dengan kesepakatan.

Demikian hukum investasi dalam Islam disertai dengan hal-hal yang harus diperhatikan di dalam menjalankan kongsi investasi. Bagi kamu yang ingin berinvestasi secara syariah, bisa mengajukan investasi di Pegadaian Syariah melalui produk Mulia yang menjadi pilihan tepat untuk investasi abadi. Di sini, Pegadaian Syariah memberikan layanan penjualan emas batangan baik secara tunai maupun angsuran dengan proses yang mudah dan jangka waktu yang fleksibel. Investasi Mulia bisa menjadi alternatif pilihan investasi yang aman untuk mewujudkan kebutuhan masa depanmu, seperti menunaikan ibadah haji, mempersiapkan biaya pendidikan anak, memiliki rumah idaman serta kendaraan pribadi. Semoga bermanfaat!

Artikel ditulis oleh Tim Advika, keterangan lebih lanjut hubungi e-mail info@advikamedia.com



Artikel Terkait


  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu

Komentar Artikel "Bagaimana Hukum Investasi dalam Islam?"