Bagaimana Memulihkan Keuangan Pasca Lebaran? - Pegadaian Syariah
logo

Bagaimana Memulihkan Keuangan Pasca Lebaran?

7 bulan yang lalu    
Bagaimana Memulihkan Keuangan Pasca Lebaran?

Ramadan dan Lebaran adalah momen yang lazimnya akan menyebabkan terjadinya peningkatan pengeluaran karena kenaikan harga barang dan jasa, baik dalam rangka pemenuhan kebutuhan sehari-hari, ditambah dengan aktivitas Ramadan sampai dengan kebutuhan mudik Lebaran. Kondisi keuangan pun akan terdampak, meskipun ada Tunjangan Hari Raya (THR).

Pada saat Lebaran tiba, terjadi puncak pengeluaran. Setelah Lebaran berlalu, perlu dilakukan pemulihan kondisi keuangan agar penataan keuangan tetap dalam kondisi baik dan stabil. Berikut ini ada beberapa hal yang bisa kamu lakukan dalam rangka memulihkan keuangan pasca Lebaran.

Pertama, tetap takwa kepada Allah. Al-Qur’an Surah Ath-Thalaq ayat 2-3 menjelaskan “Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan  (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.”

Pemulihan keuangan akan sangat terkait erat dengan menghadirkan pendapatan atau rezeki. Takwa adalah rumus utama tentang cara menghadirkan rezeki menurut Al-Qur’an. Dalam kondisi apapun, teruslah bertakwa kepada Allah. Allah sudah berjanji akan menghadirkan rezeki tiada terkira bagi kamu yang bertakwa.

Selain bertakwa, tingkatkan rasa syukur kepada Allah dengan terus berbuat baik atas nikmat yang dikaruniakan. Allah berfirman dalam Surat Ibrahim ayat 7, “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".

Ada lagi ayat yang cukup populer dalam rangka menghadirkan rezeki berlipat, yakni Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 261, “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”

Dengan demikian, cara pertama yang harus dilakukan jika ingin agar rezeki tetap mengalir dan barakah sehingga pasca lebaran tetap tenang dalam urusan rezeki adalah dengan terus menjaga takwa kepada Allah (yakni menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah), terus bersyukur dengan berbuat kebaikan serta menafkahkan rezeki ke jalan yang benar sesuai Syariat Islam.

Kedua, tetap bahagiakan ibu dan keluarga. Dari Abu Hurairah r.a. berkata, “Ada seseorang yang datang menghadap Rasulullah dan bertanya: “Ya Rasulullah, siapakah orang yang lebih berhak dengan kebaikanku?” Jawab Rasulullah, “Ibumu.” Ia bertanya lagi, “Lalu siapa?” Jawabnya, “Ibumu.” Ia bertanya lagi, “Lalu siapa?” Jawabnya, “Ibumu.” Ia bertanya lagi, “Lalu siapa?” Jawabnya, “Ayahmu.” (HR Bukhari, Muslim, dan Ibnu Majah).

Ada hadits lain yang senada, diriwayatkan oleh Imam Ahmad, An-Nasa’i, Al-Hakim yang menshahihkannya, dari Aisyah r.a. berkata, “Aku bertanya kepada Nabi Muhammad saw., siapakah manusia yang paling berhak atas seorang wanita?” Jawabnya, “Suaminya.” “Kalau atas laki-laki?” Jawabnya, “Ibunya.

Syariat Islam telah mengatur keistimewaan posisi Ibu. Tak sedikit di antara kita yang juga mengalami derasnya aliran rezeki karena terus menyenangkan hati Ibu, terus berkomunikasi dengan Ibu dan terus didoakan baik oleh Ibu kita. Setelah lebaran berlalu, teruslah berbakti kepada orang tua terutama Ibu, insya Allah rezeki akan mengalir dan barakah.

Ketiga, periksa kembali pengeluaran. Setelah urusan spiritualitas dan keyakinan terhadap Allah atas rezeki kita bisa kita tanamkan, selanjutnya secara teknis kita cek kembali pengeluaran kita. Lakukan evaluasi atas pengeluaran yang terjadi selama Ramadan dan Lebaran. Jika ada pengeluaran yang tidak urgen dan tidak penting, jangan ulangi lagi pola tersebut.

Jangan lupa lakukan perhitungan kembali cashflow keuangan kita, jangan-jangan lebih besar pasak daripada tiang, meskipun uang tunai masih tersedia. Periksa dan kalkulasikan sumber pengeluaran selama Ramadan dan Lebaran ini, apakah ada yang bersumber dari hutang. Jika ada yang bersumber dari hutang, prioritaskan untuk segera dibayarkan. Jika pembayaran hutang secara angsuran, cadangkan minimal 1 kali angsuran dalam rangka pembayaran hutang.

Keempat, tata kembali perencanaan keuangan. Ada kalanya kita tidak maksimal dan tidak tertib ketika melakukan perencanaan keuangan. Selanjutnya coba tata kembali perencanaan keuangan mulai dari pengelolaan pendapatan, pengelolaan sumber pendapatan, dan pengelolaan pengeluaran.

Coba inventarisir kembali sumber-sumber pendapatan, dari pendapatan paling likuid atau mudah cair sampai dengan sumber pendapatan yang tidak mudah dicairkan. Jika memungkinkan, tambah lagi sumber-sumber pendapatan. Jika kamu pegawai, maka kamu bisa menambah sumber penghasilan dari investasi, baik di instrumen keuangan maupun di sektor produksi dan jasa yang tidak melibatkan kamu sebagai pelaku usaha. Jika kamu bukan pegawai, maka kamu bisa kreatif membuat sumber-sumber pendapatan baru agar pendapatan kamu menjadi terus bertambah.

Silahkan tata kembali pos-pos pengeluaran yang selama ini mungkin tidak rapi. Pastikan kembali urutan yang harus dipenuhi adalah dari kebutuhan paling urgen, penting, sampai dengan yang tidak penting. Dalam Islam, prioritas kebutuhan ini dimulai dari kebutuhan yang dharuriyat (yang urgen dan penting), kemudian kebutuhan hajiyat (penting), baru pada kebutuhan tahsiniyat (kebutuhan yang sifatnya keperluan sampai keinginan, tidak urgen dan penting untuk dipenuhi).

Pastikan kamu sudah memiliki dana dalam pos cadangan dalam rangka kondisi darurat atau mendesak. Tentu saja, dana ini di luar dana untuk kebutuhan sehari-hari, di luar dana tabungan, di luar dana yang akan dipergunakan untuk membayar angsuran. Persiapkan berbagai pos pengeluaran ini secara rapi.

Kelima, disiplin. Ini adalah kunci dari implementasi perencanaan keuangan syariah. Disiplin ini meliputi semua sisi perencanaan keuangan, yakni dari disiplin bertakwa, disiplin bersyukur, disiplin menafkahkan harta dalam kebaikan, dan berbagai aktivitas lain terkait keyakinan kita terhadap ajaran Allah dalam hal perencanaan keuangan.

Satu hal yang sangat penting untuk dilakukan juga disiplin dalam hal teknis perencanaan keuangan, dari pemenuhan rencana pendapatan, pengelolaan pengeluaran dari kebutuhan urgen sampai pemenuhan keinginan, semua harus dijalankan dengan disiplin, agar kondisi ke depan bisa sesuai dengan yang direncanakan. Jika ada perubahan rencana, tetap tekadkan selalu ada dalam kondisi penatakelolaan keuangan yang baik.

Demikian cara memulihkan keuangan pasca Lebaran, semoga bermanfaat. Amin.

 

Artikel ditulis oleh Tim Advika, keterangan lebih lanjut hubungi e-mail info@advikamedia.com



Artikel Terkait


  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu

Komentar Artikel "Bagaimana Memulihkan Keuangan Pasca Lebaran?"