Cari Tahu Ciri-Ciri Orang Sukses Menurut Islam - Pegadaian Syariah
logo

Cari Tahu Ciri-Ciri Orang Sukses Menurut Islam

2 bulan yang lalu    
Cari Tahu Ciri-Ciri Orang Sukses Menurut Islam

Setiap orang pasti ingin sukses. Tolok ukur kesuksesan paling mudah adalah ketika kita berhasil menjalankan fungsi keberadaan kita diciptakan, yakni beribadah kepada Allah. Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surat Az-Zariyat ayat 56, “ Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku.

Ibnu Katsir menafsirkan ayat tersebut bahwa sesungguhnya Allah menciptakan jin dan manusia agar Allah memerintahkan mereka untuk menyembah Allah, bukan karena Allah membutuhkan mereka. Ali Ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra yakni agar mereka mengakui kehambaan mereka kepada Allah, baik dengan sukarela maupun terpaksa. Menurut Ibnu Juraij, makna yang dimaksud ialah melainkan supaya mereka mengenal Allah. Itulah indikator utama kesuksesan dalam hidup.

Agar indikator sukses lebih spesifik, mari kita simak Al-Qur’an Surat Al-Mukminun ayat 1 – 11, “ Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barang siapa yang mencari di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya, dan orang-orang yang memelihara salatnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi Surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya. ” Tafsir atas ayat ini akan kita urai satu per satu.

Pertama , terjaganya keimanan (Al-Mukminun ayat 1). Iman adalah meyakini dalam hati, mengikrarkan dengan lisan, dan mengamalkan dengan perbuatan atas perintah Allah. Jadi, iman itu tidak hanya sekedar meyakini ajaran Allah, namun mengikrarkan dan melaksanakan ajaran Allah. Ibnu Katsir memulai tafsiran atas ayat tersebut dengan penegasan bahwa sungguh telah beruntung, berbahagia, dan beroleh keberhasilan mereka yang beriman dan memiliki ciri lain sebagaimana ciri orang sukses berikutnya.

Iman harus diiringi dengan amal saleh. Sering ditemui dalam ayat Al-Qur’an, kata iman disandingkan dengan amal saleh. Sedangkan buah dari iman adalah akhlaqul karimah . Hal ini sejalan dengan diutusnya Rasulullah SAW di muka bumi adalah untuk menyempurnakan akhlaqul karimah . Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa ciri utama orang sukses ketika tetap beriman, beramal saleh dan ber- akhlaqul karimah .

Kedua , orang-orang yang khusyuk dalam salatnya (Al Mukminun ayat 2). Menurut Tafsir Ibnu Katsir, khusyuk dalam salat itu tiada lain hanya dapat dilakukan oleh orang yang memusatkan hati kepada salatnya, menyibukkan dirinya dengan salat, dan melupakan hal yang lainnya serta lebih baik mementingkan salat daripada hal lainnya. Dalam keadaan seperti ini barulah seseorang dapat merasakan ketenangan dan kenikmatan dalam salatnya. Seperti yang dikatakan oleh Rasulullah SAW dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Imam Nasai melalui sahabat Anas dari Nabi SAW yang telah bersabda, “ Aku dijadikan senang kepada wewangian, wanita, dan dijadikan kesenangan hatiku bila dalam salat ”.

Ketiga , orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna (Al-Mukminun ayat 3). Ibnu Katsir menjelaskan bahwa orang yang termasuk dalam kategori ini adalah orang yang berhasil menjauhkan diri dari hal-hal batil, perkara musyrik, perkara maksiat dan semua perbuatan tidak berguna, sebagaimana firman Allah dalam Suart Al-Furqan ayat 72, “ Dan apabila mereka bersua dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berguna, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.

Keempat, orang-orang yang menunaikan zakat (Al-Mukminun ayat 4). Ibnu Katsir menafsirkan bahwa menurut kebanyakan ulama, makna yang dimaksud dengan zakat dalam ayat ini ialah zakat harta benda, padahal ayat ini adalah ayat Makkiyyah; dan sesungguhnya zakat itu baru difardukan setelah di Madinah, yaitu pada tahun dua Hijriah.

Menurut makna lahiriahnya, zakat yang difardukan di Madinah merupakan zakat yang mempunyai nisab dan takaran khusus. Padahal, prinsip zakat telah difardukan sejak di Mekah. Allah SWT telah berfirman di dalam surat Al-An'am ayat 141 yang Makkiyyah, yaitu “ Dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin).” Dengan demikian dapat diartikan bahwa salah satu makna lain dari zakat dalam ayat ini ialah  zakatun nafs  (membersihkan diri) dari kemusyrikan dan kekotoran.

Tiada orang berzakat tanpa berkemampuan. Hal ini menunjukkan bahwa salah satu indikator sukses adalah orang yang berkemampuan dari sisi harta. Kekayaan harta bisa diperoleh dengan jalan yang halal, di antaranya skema jual beli dan investasi. Ada banyak instrumen misalnya ilmu yang bermanfaat, amal kebaikan, investasi harta seperti tanah, rumah, emas, nama baik, hak cipta dan harta lainnya.

Kelima , orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barang siapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas (Al-Mukminun ayat 5-7).

Ibnu Katsir menafsirkan bahwa ciri orang-orang yang menang atau sukses adalah orang-orang yang memelihara kemaluan mereka dari perbuatan yang diharamkan. Oleh karena itu, mereka tidak terjerumus ke dalam perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh Allah, seperti zina dan liwat. Dan mereka tidak mendekati selain dari istri-istri mereka yang dihalalkan oleh Allah bagi mereka, atau budak-budak perempuan yang mereka miliki dari tawanan perangnya. Barang siapa yang melakukan hal-hal yang dihalalkan oleh Allah, maka tiada tercela dan tiada dosa baginya.

Keenam , orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya (Al-Mukminun ayat 8). Ibnu Katsir menafsirkan bahwa apabila mereka dipercaya, tidak berkhianat; bahkan menunaikan amanat itu kepada pemiliknya. Apabila mereka berjanji atau mengadakan transaksi, maka mereka menunaikannya dengan benar, tidak seperti sikap orang-orang munafik yang dikatakan oleh Rasulullah SAW mempunyai ciri khas berikut sesuai sabdanya: Tanda orang munafik ada tiga, yaitu: Apabila berbicara ia dusta; apabila berjanji ia ingkar; dan apabila dipercaya ia khianat.

Ketujuh , orang-orang yang memelihara salatnya (Al-Mukminun ayat 9). Orang yang memelihara tentu saja adalah orang yang tidak meninggalkan kewajiban salat. Lebih spesifik, Ibnu Katsir menafsirkannya dengan mengerjakan salat rutin tepat pada waktunya masing-masing.

Ibnu Mas'ud ra ketika ia bertanya kepada Rasulullah SAW, ia berkata, “ Aku pernah bertanya; "Wahai Rasulullah amal apakah yang paling disukai oleh Allah?" Rasulullah SAW menjawab, "Mengerjakan salat di dalam waktunya." Saya bertanya lagi, "Kemudian apa lagi?” Beliau menjawab, "Berbakti kepada kedua orang tua." Saya bertanya lagi, "Kemudian apa lagi?” Beliau menjawab, "Berjihad pada jalan Allah .”

Itulah ciri-ciri orang yang sukses menurut Islam , baik sukses di dunia maupun sukses di akhirat. Pahalanya adalah surga Fidraus. Ketika di dunia, bagi orang yang terus bertakwa kepada Allah, maka Allah akan memberikan jalan keluar atas berbagai persoalan dan akan melimpahkan rezeki yang tiada terkira kepada mereka. Semoga bermanfaat, Sahabat!

 

Artikel ditulis oleh Tim Advika, keterangan lebih lanjut hubungi e-mail info@advikamedia.com



Artikel Terkait


  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu

Komentar Artikel "Cari Tahu Ciri-Ciri Orang Sukses Menurut Islam"