Cari Tahu Perihal Mas Kawin dalam Islam di Sini - Pegadaian Syariah
logo

Cari Tahu Perihal Mas Kawin dalam Islam di Sini

4 bulan yang lalu      Investasi Emas
Cari Tahu Perihal Mas Kawin dalam Islam di Sini

Mas kawin atau mahar merupakan pemberian berupa sesuatu (baik material maupun nonmaterial) yang bernilai dari calon suami terhadap calon istri yang dinyatakan pada saat akad nikah dilaksanakan. Pembayaran mas kawin ini hukumnya wajib, berdasarkan dalil dalam Al-Qur’an Surat An Nisa ayat 4, “Berikanlah mas kawin (mahar) kepada wanita (yang kalian nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kalian sebagian dari maskawin itu dengan senang hati maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan yang sedap lagi baik akibatnya).”

Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengutip pendapat berbagai ulama yang pada garis besarnya menyatakan bahwa seorang lelaki diwajibkan membayar mas kawin kepada calon istrinya sebagai suatu keharusan. Hendaknya hal tersebut dilakukannya dengan senang hati. Sebagaimana seseorang memberikan hadiahnya secara suka rela, maka seseorang diharuskan memberikan mas kawin kepada istrinya secara senang hati pula. Jika pihak istri dengan suka hati sesudah penyebutan mas kawinnya mengembalikan sebagian dari mas kawin itu kepadanya, maka pihak suami boleh memakannya dengan senang hati dan halal. 

Pemberian mas kawin ini tidak wajib disebutkan dalam akad nikah, namun hukumnya sunnah. Meskipun pada saat akad nikah tidak ada penyebutan mas kawin-nya, nikahnya tetap sah. Bahkan mas kawin yang tidak langsung dibayar tunai juga sah.

Ada dua jenis mas kawin dalam Islam, yakni mahar musamma dan mahar mitsli. Mahar musamma adalah mahar yang disebutkan jenis dan jumlahnya pada saat akad nikah berlangsung. Sedangkan mahar mitsli adalah mahar yang jenis atau kadarnya diukur dengan mahar yang pernah diterima oleh keluarga terdekat dengan status sosial, umur, kecantikan, gadis, janda atau indikator lainnya.

Besaran mas kawin ini tidak ada tolak ukur pasti. Imam Nawawi memberikan rumus sesuatu yang bisa dijadikan sebagai mahar atau mas kawin. Beliau menyebutkan, “Segala sesuatu yang bisa diperjualbelikan berarti sah untuk dijadikan mahar” (Minhaj Ath Tholibin, 2: 478). Sesuatu ini bisa berharga tinggi, bisa berharga rendah.

Landasan lain adalah hadits dari Sahl bin Sa’ad ra, bahwa ada seorang wanita yang menawarkan untuk dinikahi oleh Rasulullah SAW, namun beliau tidak tertarik dengannya. Hingga ada salah seorang lelaki yang hadir dalam majelis tersebut meminta agar beliau menikahkannya dengan wanita tersebut. Rasulullah SAW bertanya, “Apakah engkau memiliki sesuatu untuk dijadikan mahar?” “Tidak demi Allah, wahai Rasulullah,” jawabnya. “Pergilah ke keluargamu, lihatlah mungkin engkau mendapatkan sesuatu,” pinta Rasulullah SAW.

Laki-laki itu pun pergi, tak berapa lama ia kembali, “Demi Allah, saya tidak mendapatkan sesuatu pun,” ujarnya. Rasulullah SAW bersabda,“Carilah walaupun hanya berupa cincin besi.” Laki-laki itu pergi lagi kemudian tak berapa lama ia pun kembali, “Demi Allah, wahai Rasulullah! Saya tidak mendapatkan walaupun cincin dari besi, tapi ini sarung saya, setengahnya untuk wanita ini.” “Apa yang dapat kau perbuat dengan izarmu (sarungmu)? Jika engkau memakainya berarti wanita ini tidak mendapat sarung itu. Dan jika dia memakainya berarti kamu tidak memakai sarung itu.”

Laki-laki itu pun duduk hingga tatkala telah lama duduknya, ia bangkit. Rasulullah SAW melihatnya berbalik pergi, maka beliau memerintahkan seseorang untuk memanggil laki-laki tersebut. Ketika ia telah ada di hadapan Rasulullah SAW, beliau bertanya, “Apa yang kau hafal dari Al-Quran?” “Saya hafal surat ini dan surat itu,” jawabnya. “Benar-benar engkau menghafalnya di dalam hatimu?” tegas Rasulullah SAW. “Iya,” jawabnya. “Kalau begitu, baiklah, sungguh aku telah menikahkan engkau dengan wanita ini dengan mahar berupa surat-surat Al-Qur`an yang engkau hafal,” sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. (HR. Bukhari no. 5087 dan Muslim no. 1425).

Imam Nawawi mengatakan bahwa hadits tersebut menunjukkan bahwa mahar (mas kawin) bisa sesuatu yang bernilai rendah dan bisa harta yang amat mahal jika kedua pasangan saling ridha. Penyebutan cincin dari besi menunjukkan nilai yang tak mahal. Inilah pendapat dalam madzhab Syafi’i dan juga pendapat jumhur ulama dari salaf dan khalaf. (Syarh Shahih Muslim, 9: 190).

Imam Madzhab sendiri memang ada perbedaan pendapat terkait besaran mahar. Imam Syafii dan Imam Ahmad bin Hanbal berpendapat bahwa tidak ada pembatasan nilai minimal mas kawin yang bisa diberikan. Menurut kedua Madzhab ini, mahar bisa berupa uang, barang yang bisa dijual, upah atas sewa atau jasa. Sedangkan Imam Abu Hanifah dan Imam Malik berpendapat bahwa batasan minimal untuk mahar adalah sebesar 10 dirham perak.

Berdasarkan hal tersebut bisa disimpulkan bahwa mahar bisa berupa apapun yang berharga dan bisa diperjualbelikan. Contoh mas kawin adalah emas, perak, berlian, uang, perhiasan, pakaian, seperangkat alat sholat dan berbagai barang berharga lainnya. Bahkan boleh berupa bacaan ayat suci Al-Qur’an.

Buat kamu yang ingin mempersiapkan mas kawin sejak dini, Pegadaian Syariah mempermudah kamu memiliki emas lewat layanan Mulia. Mulia adalah layanan penjualan emas batangan kepada masyarakat secara tunai atau angsuran dengan proses yang mudah dan jangka waktu yang fleksibel. Selain untuk mempersiapkan mas kawin, layanan Mulia juga dapat menjadi alternatif pilihan investasi yang aman untuk mewujudkan kebutuhan masa depan, seperti menunaikan ibadah haji, mempersiapkan biaya pendidikan anak, memiliki rumah idaman, dan lain sebagainya.

Emas batangan bisa kamu miliki dengan cara pembelian tunai atau angsuran, dengan berat mulai dari 5 gram sampai dengan 1 kilogram. Uang muka bisa diberikan mulai dari 10% sampai dengan 90% dari nilai logam mulia dengan jangka waktu angsuran mulai dari 3 bulan sampai dengan 36 bulan.

Prosedur dan persyaratannya pun mudah, yakni untuk pembelian secara tunai, kamu cukup datang ke Pegadaian Syariah dengan membayar nilai logam mulia yang akan dibeli. Sedangkan untuk pembelian secara angsuran, kamu dapat menentukan pola pembayaran angsuran sesuai dengan keinginan.

Demikian ulasan mengenai mas kawin dalam Islam serta solusi bagi kamu yang ingin mempersiapkan pernikahan sejak dini. Semoga cepat terwujud. Amin.

 

Artikel ditulis oleh Tim Advika, keterangan lebih lanjut hubungi e-mail info@advikamedia.com




Komentar Artikel "Cari Tahu Perihal Mas Kawin dalam Islam di Sini"