Ciri-Ciri Haji Mabrur Menurut Rasulullah SAW - Pegadaian Syariah
logo

Ciri-Ciri Haji Mabrur Menurut Rasulullah SAW

5 bulan yang lalu      Haji
Ciri-Ciri Haji Mabrur Menurut Rasulullah SAW

Ibadah haji merupakan salah satu kewajiban yang harus dijalankan setiap Muslim yang bekemampuan, baik kemampuan dari sisi jiwa, raga, ekonomi, dan kemampuan dari sisi keamanan. Impian utama dari jemaah haji adalah haji yang mabrur.

Al Hafidh Ibn Hajar al Asqalani dalam kitab Fathul Bari , syarah Bukhar i Muslim, menjelaskan bahwa haji mabrur adalah haji yang maqbul, yakni haji yang diterima oleh Allah SWT. Sedangkan Abu Bakar Jabir al Jazari dalam kitab Minhajul Muslimin mengungkapkan bahwa haji mabrur ialah haji yang bersih dari segala dosa, penuh dengan amal saleh dan kebajikan-kebajikan. 

Dalam hadits riwayat Bukhari, Rasulullah SAW bersabda, “ Tidak ada balasan (yang pantas diberikan) bagi haji mabrur kecuali surga ,” (HR Bukhari). Artinya jelas bahwa tidak ada pahala bagi jemaah haji yang mabrur kecuali surga.

Tidak heran jika semua jemaah haji memimpikan haji yang mabrur. Lalu, bagaimana ciri-ciri haji yang mabrur menurut Rasulullah SAW? Dengan mencermati ciri-ciri ini, diharapkan kita semua bisa selalu menjaga sikap baik sebelum, pada saat, dan setelah menjalankan ibadah haji di Tanah Suci.

Pertama , bersih dari segala perbuatan maksiat, konsisten menjalankan amal saleh dan kebajikan. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW, “ Barang siapa yang haji dan ia tidak rafats dan tidak fusuq, ia akan kembali pada keadaannya saat dilahirkan ibunya .” (HR. Muslim No. 1350 dan yang lain, dan ini adalah lafazh Ahmad di Musnad No. 7136).

Hadits ini menegaskan bahwa ketika jemaah haji berhasil menghindarkan diri dari rafats dan fusuq , maka ia akan kembali bersih, mabrur, ibarat manusia yang baru dilahirkan. Hadits tersebut juga sejalan dengan firman Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat 197, “(Musim) haji adalah beberapa bulan yang diketahui. Barang siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan-bulan itu untuk mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, fusuq, dan berbantah-bantahan selama mengerjakan haji .”

Rafats adalah semua bentuk kekejian dan perkara yang tidak berguna. Termasuk dalam definisi rafats adalah larangan dalam ibadah haji seperti bersenggama, bercumbu atau membicarakannya, meskipun dengan pasangan sendiri selama ihram. Fusuq adalah keluar dari ketaatan kepada Allah SWT, apapun bentuknya, sama dengan semua bentuk kemaksiatan kepada Allah SWT. Sedangkan jidal adalah berbantah-bantahan secara berlebihan. Maksudnya adalah ia berhasil menjaga diri dari berbantah-bantahan yang tidak perlu. Kalaupun ada hal yang ingin didiskusikan, maka ia akan menyampaikan argumennya dengan penuh hikmah, menjadi teladan yang baik, dan menghindari perdebatan yang tidak perlu.

Kemabruran ibadah haji terlihat sejak pelaksanaannya dengan tidak melakukan hal yang dilarang sejak awal sampai ibadah haji selesai dilaksanakan. Setelah pulang dari haji pun akan terlihat dampaknya. Ia tidak akan melakukan hal maksiat kepada Allah dan ia pun taat kepada Allah.

Hal ini patut dijadikan perhatian oleh jemaah haji agar sejak berangkat sampai pulang dari Tanah Suci, ia terus menjaga perilakunya dari hal-hal yang dilarang syariah dan terus menjaga ketaatan kepada Allah serta menjauhi larangan-Nya.

Kedua , murah hati dan berkata-kata baik. Imam Ahmad dalam Musnad-nya meriwayatkan bahwa  para sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, “ Wahai Rasulullah, apa itu haji mabrur ?’ Rasulullah menjawab, “ Memberikan makanan dan menebarkan kedamaian .” Ada riwayat lain yang menyatakan bahwa ketika Rasulullah SAW ditanya tentang haji mabrur, Rasulullah SAW kemudian bersabda, “ Memberikan makanan dan santun dalam berkata .” (HR. al-Baihaqi 2/413 (no. 10693), dihukumi shahîh oleh al-Hakim).

Ini adalah ciri berikutnya dari haji mabrur. Ia menjadi pribadi pemurah, memberi makan kepada orang yang kelaparan, senang berbagi kepada orang yang membutuhkan, dan senang berbagi hal-hal yang baik kepada sesama.

Berikutnya, haji mabrur ditandai dengan perkataan dan perilaku santun, kata-katanya penuh hikmah, pribadinya penuh kedamaian. Pribadi haji mabrur akan semakin kuat menahan amarah, semakin sabar dalam bersikap, dan tentu saja selalu menjaga syukur atas kondisi yang dijalaninya.

Ketiga , menjadi pribadi yang baik. Rasulullah SAW bersabda, “ Sungguh Allah itu baik dan hanya menerima yang baik .” (HR Muslim No. 1015). Hadits ini berlaku untuk semua aktivitas Muslim, termasuk dalam aktivitas ibadah haji.

Ibadah haji yang diterima adalah ibadah haji yang baik, dilaksanakan dengan baik, menghasilkan perilaku yang baik, menghadirkan dampak dan pengaruh yang baik. Hadits tersebut menegaskan sebuah rumusan bahwa ciri Haji mabrur adalah ketika jemaah memiliki karakter dan pribadi yang baik di segala hal.

Sebagai anak, ia semakin berbakti kepada orangtua. Sebagai orangtua, ia semakin baik mendidik anaknya. Sebagai suami, ia semakin sayang kepada istrinya. Sebagai istri, ia semakin taat kepada suaminya. Sebagai murid, ia semakin mematuhi gurunya. Sebagai guru, ia makin membimbing muridnya. Begitu seterusnya.

Jika ia pejabat, maka ia semakin amanah terhadap jabatannya, semakin taat kepada Allah, semakin sayang kepada rakyat yang dipimpinnya, semakin tanggung jawab terhadap tugas dan kewajibannya. Jika ia adalah ulama, maka ia juga akan semakin tawadhu dan takut kepada Allah dan Rasulullah.

Jika ia pernah melakukan kesalahan terhadap sesama manusia, maka ia sepenuh hati meminta maaf dan tidak akan mengulangi kesalahan itu lagi. Jika ia punya hutang materi dan nonmateri, maka ia juga segera menyelesaikan kewajibannya.

Demikian tiga ciri utama haji mabrur berdasarkan hadits Rasulullah SAW. Singkatnya, haji mabrur mengantarkan jemaah haji untuk selalu taat dan takut kepada Allah, berkarakter baik, dan selalu berbuat baik kepada sesama serta lingkungan sekitarnya.

Bagi kamu yang ingin melaksanakan ibadah haji, segeralah persiapkan sejak dini. Dan kini Pegadaian Syariah memiliki produk yang bisa memenuhi kebutuhan ibadah haji, yakni pembiayaan Arrum Haji.

Pembiayaan Arrum Haji adalah layanan yang memberikan nasabah pembiayaan untuk mendapatkan porsi haji. Kamu tinggal menyiapkan jaminan emas logam mulia 15 gram atau emas perhiasan 20 gram yang setara kurang lebih 7 juta rupiah, kemudian uang pinjaman senilai Rp 25 juta akan diberikan dalam bentuk tabungan haji.

Keunggulan produk ini adalah kamu bisa memperoleh tabungan haji yang langsung dapat digunakan untuk memperoleh nomor porsi haji. Selain itu, emas dan dokumen haji aman tersimpan di Pegadaian. Biaya pemeliharaan barang jaminan juga terjangkau, jaminan emas dapat dipergunakan untuk pelunasan biaya haji pada saat siap berangkat.

Untuk bisa mengajukan layanan Arrum Haji, persyaratan yang perlu kamu perhatikan adalah memenuhi syarat sebagai pendaftar haji serta melampirkan fotokopi KTP atau kartu identitas yang masih berlaku.

Segera datang ke kantor Pegadaian Syariah terdekat untuk memanfaatkan fasilitas Pembiayaan Arrum Haji, insya Allah perjalanan haji yang kamu impikan bisa berjalan lancar, mudah dan barakah. Amin.

 

Artikel ditulis oleh Tim Advika, keterangan lebih lanjut hubungi e-mail info@advikamedia.com




Komentar Artikel "Ciri-Ciri Haji Mabrur Menurut Rasulullah SAW"