Hablum Minannas dan Kaitannya dalam Menjalankan Bisnis - Pegadaian Syariah
logo

Hablum Minannas dan Kaitannya dalam Menjalankan Bisnis

1 bulan yang lalu    
Hablum Minannas dan Kaitannya dalam Menjalankan Bisnis

Fikih dibagi menjadi dua besaran, yakni fikih ibadah dan fikih muamalah. Fikih ibadah membahas tata cara menjalankan ritual ibadah kepada Allah SWT yang biasanya disebut dengan hablum minallah (hubungan antara manusia dengan Allah SWT). Sedangkan fikih muamalah membahas tata cara menjalankan transaksi antarmanusia yang biasa disebut dengan hablum minannas.

Salah satu transaksi antarmanusia adalah transaksi bisnis. Pada kesempatan ini akan kita urai mengenai hablum minannas dan kaitannya dalam menjalankan bisnis. Ada beberapa etika bisnis yang menunjukkan pelaksanaan hablum minannas sesuai dengan syariah Islam.

Pertama, kepatuhan terhadap kontrak. Khithab tertinggi dalam rangka kontrak bisnis syariah adalah perintah taat dengan akad/kontrak. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al Maidah ayat 1, “ Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad.”

Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini dengan mengutip pendapat Ibnu ‘Abbas, Mujahid, dan beberapa ulama lainnya mengatakan, “ Yang dimaksud dengan aqad adalah perjanjian .” Ibnu Jarir juga menceritakan adanya ijma’ tentang hal itu. Ia mengatakan, “ Perjanjian-perjanjian adalah apa yang mereka sepakati, berupa sumpah atau yang lainnya .”

Mengenai ayat tersebut, Ali bin Abi Thalhah mengatakan dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, “Yang dimaksud dengan perjanjian tersebut adalah segala yang dihalalkan dan diharamkan Allah, yang difardhukan, dan apa yang ditetapkan Allah di dalam Al-Qur’an secara keseluruhan, maka janganlah kalian mengkhianati dan melanggarnya.” Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Hal itu menunjukkan keharusan berpegang dan menepati janji.”

Ini adalah kunci etika bisnis paling utama, yakni mematuhi semua klausul dalam perjanjian. Semua pihak harus menjalankan kewajibannya. Semua pihak harus memperhatikan ada hak yang harus dipenuhi kepada pihak lain yang berakad.

Lembaga bisnis bisa menerapkan manajemen risiko dalam rangka mengupayakan agar semua pihak berpegang teguh menjalankan amanah kontrak. Misalnya dengan melakukan analisis kelayakan pengusaha, analisis kelayakan usaha, bahkan jika diperlukan, boleh minta agunan kepada orang yang diberi modal dalam bisnis.

Kedua, tidak menjalankan transaksi yang dilarang syariah Islam. Etika bisnis berikutnya yang harus diperhatikan oleh pelaku bisnis adalah meninggalkan transaksi yang dilarang syariah Islam.

Transaksi terlarang yang harus dihindari dalam bisnis ini misalnya riba (ketika ada hutang bersyarat aliran manfaat bagi pemberi hutang), tadlis (penipuan), gharar (ketidakjelasan), maisir (spekulasi yang terlarang), ihtikar (penimbunan), bay najasy (melakukan permintaan palsu), risywah (suap), zhalim (aniaya dan menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya) bisnis zat haram, serta maksiat (melawan Allah SWT dan Rasulullah).

Pebisnis harus memastikan bisa menghindarkan diri dari transaksi terlarang tersebut. Ketika ia diajak pihak lain untuk melakukan transaksi terlarang tersebut, ia mampu menolak dan mengarahkan agar transaksi yang dilakukannya dengan orang lain bisa terhindar dari hal yang dilarang syariah Islam.

Ketiga, menjalankan akhlak pebisnis. Akhlak pebisnis ini bisa dimiliki pebisnis dengan meniru sifat wajib yang dimiliki oleh Rasulullah SAW yakni shiddiq , amanah , tabligh , dan fathonah .

Pebisnis harus shiddiq , misalnya berkata yang benar, tidak dusta. Pebisnis harus punya sifat amanah , punya integritas, menjalankan kewajiban dengan baik. Pebisnis juga harus memiliki keterampilan komunikasi yang baik, mampu menyampaikan pesan dan arahan bisnis dengan baik. Pebisnis juga harus cerdas, punya ide brilian, punya kemampuan melakukan inovasi, baik terkait produk maupun kemasan produk.

Keempat, ada mekanisme perdamaian. Kitab fikih klasik biasanya membahas bab khusus perdamaian ini. Ketika terjadi perselisihan di bidang bisnis, salah satu etika yang dikedepankan adalah semangat menjaga perdamaian antarpihak. Perdamaian ini bisa diperkuat dengan musyawarah untuk mufakat dalam penyelesaian perselisihan.

Andaikan terjadi perselisihin sampai tahapan pengadilan, pebisnis juga harus tetap berpegang teguh untuk mencapai kebaikan bersama, tidak berusaha menghancurkan, lebih berpikir solutif, positif fan konstruktif.

Kelima, ada mekanisme penyelesaian kewajiban dalam hutang. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al Baqarah ayat 280, “ Dan jika (orang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.

Ayat ini bukan merupakan ayat perintah, namun sebagai anjuran kuat bahwa ketika dalam transaksi bisnis melibatkan hutang piutang atau pemenuhan kewajiban, salah satu etika yang perlu dijunjung tinggi adalah pemberian tangguh sampai penghutang berada dalam kondisi yang tidak sulit lagi. Bahkan, jika penghutang benar-benar dalam kondisi sulit, fakir, miskin, dan sejenisnya, maka pemberi hutang dianjurkan untuk menyedekahkannya kepada penghutang.

Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini bahwa Allah SWT menganjurkan agar bersabar jika orang yang meminjam dalam kesulitan membayar hutang, yang tidak memperoleh apa yang untuk membayar. Tidak seperti yang terjadi di kalangan orang-orang Jahiliyah, ketika salah seorang di antara mereka mengatakan kepada peminjam, jika sudah jatuh tempo, “ Dibayar atau ditambahkan pada bunganya .” Selanjutnya Allah SWT menganjurkan untuk menghapuskannya saja. Dan Dia menyediakan kebaikan dan pahala yang melimpah atas hal itu. 

Bagi kamu yang membutuhkan modal usaha, kamu bisa memanfaatkan produk Rahn atau Arrum BPKB yang dikeluarkan oleh Pegadaian Syariah.

Keunggulan produk Rahn prosedur pengajuannya sangat mudah, karena kamu hanya perlu membawa agunan berupa perhiasan emas dan barang berharga lainnya ke outlet Pegadaian Syariah. Setelah itu kamu bisa mendapat pinjaman ( marhun bih ) mulai dari Rp50 ribu rupiah sampai Rp200 juta rupiah atau lebih dengan jangka waktu pinjaman maksimal 4 bulan atau 120 hari.

Sedangkan pembiayaan Arrum memudahkan para pengusaha kecil untuk mendapatkan modal usaha dengan jaminan BPKB kendaraan. Kendaraan tetap pada pemiliknya sehingga dapat digunakan untuk mendukung usaha sehari-hari.

Demikian beberapa etika bisnis yang menunjukkan pelaksanaan hablum minannas sesuai dengan syariah Islam, yang meliputi sebelum terjadinya transaksi bisnis, ketika terjadi sengketa dalam bisnis, sampai dengan penyelesaiannya. Semoga bermanfaat.

 

Artikel ditulis oleh Tim Advika, keterangan lebih lanjut hubungi e-mail info@advikamedia.com



Artikel Terkait


  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu

Komentar Artikel "Hablum Minannas dan Kaitannya dalam Menjalankan Bisnis"