Hakikat Merdeka Menurut Islam - Pegadaian Syariah
logo

Hakikat Merdeka Menurut Islam

5 bulan yang lalu    
Hakikat Merdeka Menurut Islam

Setiap tanggal 17 Agustus, Negara Kesatuan Republik Indonesia merayakan hari kemerdekaan. Hari tersebut diperingati sebagai terlepasnya Indonesia dari belenggu penjajahan asing, ditandai dengan Proklamasi Kemerdekaan RI yang dikumandangkan oleh Soekarno – Hatta pada 17 Agustus 1945.

Berbagai aktivitas dilakukan oleh masyarakat Indonesia dalam merayakan pesta kemerdekaan RI ini. Berbagai perlombaan diadakan baik sebelum maupun sesudah upacara peringatan detik-detik proklamasi. Seluruh pelosok negeri pun semakin lekat dengan warna merah putih yang tampak dari umbul-umbul dan bendera berbagai ukuran yang dipasang di tempat strategis, dari pusat kota sampai pelosok desa.

Islam juga mengenal konsep kemerdekaan. Kemerdekaan ( istiqlal ) ini secara sederhana dimaknai dengan terlepasnya diri dari berbagai macam belenggu. Belenggu ini bisa merupakan penindasan, penjajahan, kegelapan, keterbelakangan, kemiskinan, dan berbagai keburukan sejenisnya.

Dalam sejarah Islam, ada beberapa peristiwa yang menjadi simbol hakikat dan makna merdeka menurut Islam yang bisa kita jadikan sebagai teladan bersama dalam memeringati kemerdekaan RI.

Pertama, Rasul terdahulu pernah menjadi motor gerakan pembebasan umatnya dari kesesatan berpikir. Gerakan ini dipelopori oleh Nabi Ibrahim as, tatkala membebaskan umatnya dari kesesatan berpikir dalam mencari Tuhan. Hal ini menunjukkan makna utama kemerdekaan adalah ketika berhasil terlepas dari kesesatan berpikir.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-An’aam ayat 74 – 79, “Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya, Aazar, ‘Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata.’ Dan Demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (kami memperlihatkannya) agar Dia Termasuk orang yang yakin. Ketika malam telah gelap, Dia melihat sebuah bintang (lalu) Dia berkata: ‘Inilah Tuhanku,’ tetapi tatkala bintang itu tenggelam Dia berkata: ‘Saya tidak suka kepada yang tenggelam.’ Kemudian tatkala Dia melihat bulan terbit Dia berkata: ‘Inilah Tuhanku.’ tetapi setelah bulan itu terbenam, Dia berkata: ‘Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaKu, pastilah aku Termasuk orang yang sesat.’ Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, Dia berkata: ‘Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar.’ Maka tatkala matahari itu terbenam, Dia berkata: ‘Hai kaumku, Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah Termasuk orang-orang yang mempersekutukan tuhan.’”  

Ayat tersebut menceritakan proses terjadinya pencerahan bagi umat Nabi Ibrahim as dari kesesatan yang melanda. Ibnu Katsir menafsirkan ayat tersebut yakni Nabi Ibrahim as menasehati ayahnya tentang penyembahan yang dilakukannya terhadap berhala-berhala, mengingkari sekaligus melarangnya melakukan hal tersebut. Namun ayahnya tidak juga berhenti dari perbuatan tersebut. Maka Nabi Ibrahim as memohonkan ampunan bagi ayahnya sepanjang hidupnya, dan ketika ayahnya mati dalam keadaan musyrik dan yang demikian itu diketahui Ibrahim secara jelas, maka ia menghentikan permohonan ampunan bagi ayahnya tersebut serta melepaskan diri darinya.

Selanjutnya, ayat tersebut memberikan bukti keesaan Allah SWT. Ibnu Katsir menegaskan bahwa Allah SWT menjelaskan kepadanya sebagai bukti melalui pengamatan yang dilakukannya terhadap penciptaan langit dan bumi bahwa semua itu menunjukkan keesaan Allah SWT dalam kekuasaan dan penciptaan-Nya, dan bahwa tidak ada ilah (yang berhak diibadahi) dan Rabb selain Allah SWT. Itulah makna kemerdekaan ditinjau dari sisi tauhid.

Kedua , Rasul terdahulu pun pernah menjadi motor gerakan pembebasan umatnya dari penjajahan rezim yang zhalim. Hal ini tercantum dalam Al-Qur’an Surat Al-A’raaf ayat 127 -129, “ Berkatalah pembesar-pembesar dart kaum Fir’aun (kepada Fir’aun): ‘Apakah kamu membiarkan Musa dan kaumnya untuk membuat kerusakan di negeri ini (Mesir) dan meninggalkanmu serta ilah-ilahmu.’ Fir’aun menjawab: ‘Akan kita bunuh anak lelaki mereka dan kita biarkan hidup perempuan-perempuan mereka dan sesungguhnya kita berkuasa penuh di atas mereka.’ Musa berkata kepada kaumnya: ‘Mohonlah pertolongan kepada Allah SWT dan bersabarlah; sesungguhnya bumi (ini) kepunyaan Allah SWT; dipusakakan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.’ Kaum Musa berkata: ‘Kami telah ditindas (oleh Fir’aun) sebelum kamu datang kepada kami dan sesudah kamu datang. Musa menjawab: ‘Mudah-mudahan Allah SWT membinasakan musuhmu dan menjadikan kamu khalifah di bumi(Nya), maka Allah SWT akan melihat bagaimana perbuatanmu.”

Ibnu Katsir memaknai ayat ini dengan pernyataan bahwa Allah SWT memberitahu mengenai kerja sama antara Fir’aun dengan para pembesar kaumnya serta mengenai niat jahat dan kebencian yang mereka sembunyikan terhadap Musa dan kaumnya. Keangkuhan rezim penguasa ini membuat mereka tak segan membunuh dan memperbudak kaum laki-laki Bani Israil (bangsa Israel) dan menistakan kaum perempuannya. Keangkuhan inilah yang mendorong Musa tergerak memimpin bangsanya memperoleh kembali kemuliaan dan martabatnya sebagai manusia.

Ibnu Katsir mengungkap bahwa pada akhirnya umat Nabi Musa as berkata, “ mereka telah berbuat terhadap kami hal-hal yang seperti engkau saksikan sendiri, yaitu berupa penghinaan dan penindasan, sebelum kedatanganmu, hai Musa, juga setelahnya. Maka ia pun memperingatkan mereka terhadap kondisi mereka sekarang dan kehidupan yang kelak akan mereka jalani, Musa as. berkata: “Mudah-mudahan Allah SWT membinasakan musuhmu.” Ini merupakan seruan kepada mereka agar mereka senantiasa bersyukur ketika memperoleh kenikmatan dan terlepas dari segala penderitaan .”

Selanjutnya, Nabi Musa as berhasil membebaskan ummatnya dari penindasan Fir’aun dan Fir’aun ditenggelamkan oleh Allah SWT. Ini merupakan makna dan hakikat kemerdekaan berikutnya yakni lepasnya masyarakat dari belenggu penjajahan dan penindasan sebuah rezim.

Ketiga, Islam sebagai agama paripurna yang membebaskan manusia dari gelap menuju jalan terang benderang. Hal ini sesuai firman Allah SWT pada Al-Qur’an Surat Al-Maidah ayat 3, “ Pada hari ini telah Aku sempurnakan  agama mu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu.” Ayat ini adalah ayat Al-Qur’an yang terakhir kali turun dan disampaikan oleh Rasulullah SAW pada Haji Wada’ (haji perpisahan).

Ibnu Katsir menafsirkan bahwa ini merupakan nikmat Allah SWT yang paling besar kepada umat ini, karena Allah SWT telah menyempurnakan bagi mereka agama mereka; mereka tidak memerlukan lagi agama yang lain, tidak pula memerlukan nabi lain selain nabi mereka; semoga salawat dan salam terlimpahkan kepadanya. Karena itulah Allah SWT menjadikan Rasulullah SAW sebagai nabi terakhir yang diutus-Nya untuk manusia dan jin. Tiada halal selain apa yang dihalalkannya, tiada haram kecuali apa yang diharamkannya dan tiada agama kecuali apa yang disyariatkannya. Semua yang ia beritakan adalah benar belaka, tiada dusta dan tiada kebohongan padanya. 

Ini adalah hakikat dan makna utama dari kemerdekaan, yakni terbebasnya kita dari kegelapan dengan hadirnya kondisi terang benderang dalam menjalani hidup ini, yakni atas hadirnya Islam sebagai agama yang paripurna.

Kemerdekaan ini juga harus bisa menyatukan bangsa. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat Al-Hujurat ayat 13, “ Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah SWT ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah SWT Maha mengetahui lagi Maha Mengenal .”Ayat ini menegaskan bahwa kita hidup berbangsa dan bersuku-suku namun tetap harus menjadi satu kesatuan.

Selain tiga hakikat merdeka menurut Islam di atas, alangkah baiknya jika kita juga bisa meraih kemerdekaan dalam hal finansial. Maksudnya adalah kamu tidak akan merasa khawatir lagi dengan krisis keuangan. Jika seseorang telah mencapai merdeka finansial, orang tersebut akan bisa merasa lebih aman dan tenang. Salah satu cara yang bisa kamu lakukan adalah dengan mencari penghasilan pasif, yang bisa menjadi alternatif pemasukan selain gaji atau pendapatan bulanan. Macam-macam penghasilan pasif pun ada banyak, mulai dari properti, hak cipta, sewa barang, royalti, sampai investasi emas.

Ketika kamu masih memiliki penghasilan aktif, kamu bisa melakukan investasi emas. Pegadaian Syariah memfasilitasi kamu untuk berinvestasi dengan cara tunai, menabung, atau mengangsur yang sesuai dengan syariah. Jika kamu memiliki dana yang cukup, layanan yang bisa kamu pilih adalah Mulia  dari Pegadaian Syariah. Di sini, kamu bisa memiliki emas batangan dengan berat mulai dari 5 gram sampai dengan 1 kilogram. Jika kamu masih memiliki keterbatasan dana, kamu bisa memilih layanan Tabungan Emas dari Pegadaian Syariah karena kamu sudah bisa memiliki emas mulai dari 5.000-an atau setara dengan 0,01 gram.

Mari kita mengisi kemerdekaan ini dengan semakin mempererat rasa kesatuan dan persatuan bangsa agar terwujud negara yang aman, damai, dan sejahtera. Amin.

 

Artikel ditulis oleh Tim Advika, keterangan lebih lanjut hubungi e-mail info@advikamedia.com



Artikel Terkait


  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu

Komentar Artikel "Hakikat Merdeka Menurut Islam"