Hikmah Maulid Nabi Muhammad SAW di Era Modern - Pegadaian Syariah
logo

Hikmah Maulid Nabi Muhammad SAW di Era Modern

3 minggu yang lalu    
Hikmah Maulid Nabi Muhammad SAW di Era Modern

Nabi Muhammad SAW adalah penutup para nabi dan rasul. Beliau diutus untuk menyempurnakan akhlak dan tidak diutus Allah SWT kecuali menjadi rahmat bagi alam semesta. Atas kemulian-kemuliaan inilah, tepat kiranya jika kita memeringati hari kelahiran Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam setiap bulan Rabi’ul awwal tepatnya pada tanggal 12 rabi’ul Awwal setiap tahunnya.

Menurut Imam al-Suyuthi, tercatat Raja Al-Mudhaffar Abu Sa`id Kukburi ibn Zainuddin Ali bin Baktakin (l. 549 H – w. 630 H) sebagai raja pertama yang memperingati hari kelahiran Rasulullah SAW dengan perayaan yang meriah luar biasa. Tidak kurang dari 300.000 dinar beliau keluarkan dengan ikhlas untuk bersedekah pada hari peringatan Maulid ini. Intinya menghimpun semangat juang dengan membacakan syi’ir dan karya sastra yang menceritakan kisah kelahiran Rasulullah SAW. Di antaranya yang paling terkenal adalah karya Syeikh Al-Barzanji yang menampilkan riwayat kelahiran Nabi SAW dalam bentuk natsar (prosa) dan nazham (puisi). Saking populernya, karya seni Barzanji ini hingga hari ini masih sering kita dengar dibacakan dalam seremoni peringatan Maulid Nabi SAW.

Maka sejak itu ada tradisi memperingati hari kelahiran Nabi SAW di banyak negeri Islam. Inti acaranya lebih kepada pembacaan sajak dan syi`ir peristiwa kelahiran Rasulullah SAW. Namun untuk menghidupkan semangat juang dan persatuan umat Islam, maka ditambah dengan adanya ceramah ( Mau’izhatul hasanah ).

Di Indonesia, terutama di pesantren, momentum tradisi Maulid Nabi SAW yang sudah melekat di masyarakat ini sebagai media dakwah dan pengajaran Islam. Sebagian organisasi Islam telah mencoba memanfaatkan momentum Maulid Nabi Muhammad SAW ini tidak sebatas seremoni dan haflah belaka, tetapi juga untuk melakukan amal-amal kebajikan seperti bakti sosial, santunan kepada fakir miskin, pameran produk Islam, pentas seni dan kegiatan lain yang lebih menyentuh persoalan masyarakat.

Berikut ini ada beberapa hikmah dari Maulid Nabi Muhammad SAW yang bisa kita teladani.

Pertama , meneladani akhlak dan sifat Rasulullah SAW. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Ahzab ayat 21, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”

Ibnu Katsir menafsirkan bahwa ayat tersebut merupakan dalil pokok yang paling besar, yang menganjurkan kepada kita agar mencontoh Rasulullah SAW dalam semua ucapan, perbuatan, dan sepak terjangnya. Oleh karena itu, Allah SWT memerintahkan kepada kaum mukmin agar mencontoh sikap Rasulullah SAW Ketika Perang Ahzab, yaitu dalam hal kesabaran, keteguhan hati, kesiagaan, dan perjuangannya, serta tetap menanti jalan keluar dari Allah SWT. Semoga shalawat dan salam terlimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam sampai hari kiamat.

Selain itu, akhlak Rasulullah SAW adalah cerminan Al-Qur’an. Bahkan beliau sendiri adalah sosok sempurna yang hadir di tengah-tengah umat manusia, membawa kabar gembira, menerangi kegelapan dengan membawa cahaya Islam. Hisyam bin Amir pernah bertanya kepada Aisyah RA tentang akhlak Rasulullah SAW, Aisyah menjawab,  “Akhlak Rasulullah SAW adalah Al-Qur’an”  (HR Muslim). Sungguh, jawaban Aisyah ini singkat, namun sarat makna yang luar biasa. Ia menyifati beliau dengan satu sifat yang dapat mewakili seluruh sifat yang ada.

Rasulullah SAW juga memiliki sifat yang layak diteladani, yakni shiddiq , amanah, tabligh , dan fathonah . Shiddiq adalah integritas, kejujuran, selalu menjunjung tinggi kebenaran. Amanah adalah memegang teguh kepercayaan, bisa dipercaya. Tabligh adalah menyampaikan dengan benar dan baik atas apa yang menjadi perintah Allah. Fathanah adalah kecerdasan, kepintaran, ketangkasan.

Kedua , ungkapan kecintaan dan kegembiraan kepada Rasulullah SAW. Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW merupakan salah satu bukti cinta kita kepada Rasulullah SAW. Di berbagai tempat biasanya diadakan pembacaan sirah nabawiyyah dengan iringan hadhrah , mengagungkan Rasulullah SAW dalam Dalam suasana khidmat dan penuh kegembiraan

Peringatan Maulid Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam ini diharapkan bisa memperdalam cinta kita kepada Rasulullah SAW sehingga umat bisa terus meneladani akhlak beliau oleh karena rasa cinta yang mendalam. Rasa gembira juga bisa menyebabkan bertambahnya rasa iman kepada Rasulullah SAW dan semakin senang menjalankan ajaran agama yang dibawa oleh Rasulullah SAW, yakni agama Islam.

Bahkan selain orang islampun saja mendapatkan manfaat dengan kegembiraan itu. Diriwayatkan ketika Tsuwaibah, budak perempuan Abu Lahab, paman Nabi, menyampaikan berita gembira tentang kelahiran sang Cahaya Alam Semesta itu, Abu Lahab pun memerdekakannya sebagai tanda suka cita. Ternyata sejak dilahirkan, Rasulullah SAW sudah memberi kemanfaatan dan menyebabkan kegembiraan.

Demikianlah rahmat Allah SWT terhadap siapa pun yang bergembira atas kelahiran Nabi, termasuk juga terhadap orang kafir sekalipun. Maka jika kepada seorang yang kafir pun Allah SWT merahmati karena kegembiraan atas kelahiran Rasulullah SAW, apalagi anugerah Allah bagi umatnya yang beriman dan bertakwa.

Ketiga , meneguhkan kecintaan kepada Rasulullah SAW. Cinta Rasulullah SAW bisa saja pudar seiring berjalannya waktu. Iman itu bisa bertambah dan bisa berkurang. Oleh sebab itu, peneguhan kecintaan kepada Rasulullah SAW merupakan sebuah keniscayaan, sebagai konsekuensi dari keimanan. Kecintaan pada utusan Allah SWT ini harus berada di atas segalanya, melebihi kecintaan pada anak dan istri, kecintaan terhadap harta, kedudukannya, bahkan kecintaannya terhadap dirinya sendiri.

Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah sempurna iman salah seorang dari kalian hingga aku lebih dicintainya daripada orangtua dan anaknya (HR. Bukhari).” Hadits ini menegaskan bahwa ketika cinta kita kepada Rasulullah SAW tidak lebih besar dari cinta kita kepada makhluk, maka kita tidak masuk dalam kategori orang beriman yang sempurna.

Hikmah ini bisa dijadikan pedoman bahwa di tengah semua kesibukan kerja dan aktivitas di dunia modern, kita tetap memegang teguh hal-hal yang diajarkan oleh Rasulullah SAW dan membuang jauh godaan untuk melakukan hal yang dilarang oleh Rasulullah SAW.

Keempat , membiasakan membaca shalawat. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Azhab ayat 56, “ Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuknya dan ucapkanlah salam sejahtera kepadanya.”

Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini dengan menyatakan bahwa Imam Bukhari mengatakan, Abul Aliyah telah mengatakan bahwa yang dimaksud dengan shalawat dari Allah ialah pujian-Nya kepada Rasulullah SAW di kalangan para malaikat, dan shalawat dari para malaikat ialah doa mereka untuknya. Ibnu Abbas mengatakan bahwa makna  yushalluuna  ialah memberikan keberkahan. Demikianlah menurut apa yang telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari secara ta'liq (memakai komentar) yang bersumber dari keduanya (Abul Aliyah dan Ibnu Abbas).

Salah satu hikmah Maulid Nabi Muhammad SAW adalah pengingat bagi umat untuk terus mengucapkan shalawat kepada Rasulullah SAW di berbagai aktivitas, sehingga semua aktivitas kita bisa terus terkontrol karena terus ingat Rasulullah SAW. Dengan demikian, semua aktivitas kita bisa memeroleh keberkahan dari Allah SWT.

Kelima , momen pengharapan syafaat Rasulullah SAW. Arti kata syafaat adalah perantaraan. Makna syafaat adalah pertolongan pihak ketiga kepada pihak yang membutuhkannya dalam rangka memberikan suatu manfaat atau menolak suatu mudharat. Rasulullah bisa memberikan syafaat, sebagaimana hadits beliau, “Syafaatku untuk umatku yang ahli dosa besar ” (hadits riwayat Imam Abu Dawud, Imam Tirmidzi, Imam Ahmad, Imam Hakim, dan lain-lain).

Rasulullah SAW juga bersabda, “ Setiap Nabi mempunyai doa yang mustajabah, maka setiap Nabi doanya dikabulkan segera, sedangkan saya menyimpan doaku untuk memberikan syafaat kepada umatku di hari kiamat. Syafaat itu insya Allah diperoleh umatku yang meninggal tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun ” (hadis riwayat Imam Muslim, Imam Tirmidzi, Imam Ibnu Majah, dan Imam Ahmad).

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW mengandung hikmah dalam kehidupan modern bahwa kecintaan, kegembiraan, keimanan dan keteladanan terhadap akhlak Rasulullah SAW di segala hal baik urusan akidah, syariah maupun akhlak, bisa menyebabkan umatnya memeroleh syafaat kelak di hari akhir.

Keenam , mengingatkan pesan beliau sebelum wafat. Rasulullah SAW bersabda menjelang berhembusnya nafas terakhir beliau, “Aku tinggalkan pada kalian dua hal, kalian tidak akan tersesat dengannya, yakni Kitabullah dan sunnah Nabi-Nya sallallahu alaihi wa sallam” (HR. Malik).

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW mengingatkan kembali kepada umat untuk terus berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan hadits serta tafsirannya berdasarkan metode ushul fiqh yang akurat.

Ketujuh , mengingatkan kembali bahwa Rasulullah SAW sudah wafat dan diteruskan oleh pewaris para nabi, yakni ulama. Rasulullah SAW bersabda, “ Ulama adalah pewaris para nabi ” (HR At-Tirmidzi dari Abu Ad-Darda ra). Setelah menegaskan kecintaan kepada Rasulullah SAW, berikutnya adalah kecintaan terhadap pewaris Rasulullah SAW yakni Ulama.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW bisa menjadikan sarana kepada umatnya untuk terus meneladani ulama kontemporer (masa kini) yang memenuhi kriteria sebagai Ulil Amri , oleh karena itu Allah SWT memerintahkan agar taat kepada Ulil Amri . Salah satu bagian dari Ulil Amri adalah para ulama.

Demikian uraian hikmah Maulid Nabi Muhammad SAW, semoga kita tetap terjaga iman kita untuk terus mencintai dan meneladani akhlakul karimah Rasulullah SAW. Amin.

 

Artikel ditulis oleh Tim Advika, keterangan lebih lanjut hubungi e-mail info@advikamedia.com



Artikel Terkait


  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu

Komentar Artikel "Hikmah Maulid Nabi Muhammad SAW di Era Modern"