Hikmah Perilaku Jujur dalam Islam - Pegadaian Syariah
logo

Hikmah Perilaku Jujur dalam Islam

1 bulan yang lalu    
Hikmah Perilaku Jujur dalam Islam

Salah satu sifat wajib yang dimiliki oleh Nabi dan Rasul adalah shiddiq atau berkata benar. Shiddiq bisa juga diartikan dengan jujur. Lawan dari jujur adalah dusta, bohong atau mengabarkan sesuatu yang tidak akurat. Setiap manusia boleh meniru sifat wajib yang dimiliki oleh Nabi dan Rasul tersebut.

Ada banyak kebaikan yang muncul ketika kita bisa istiqamah menegakkan kejujuran. Berikut ini ada beberapa hikmah perilaku jujur yang bisa diperoleh dalam kehidupan sehari-hari:

Pertama, mendapatkan rida dari Allah SWT. Impian tertinggi manusia beriman adalah mendapat rida dari Allah SWT dunia akhirat, sejak hidup sampai di hari akhir kelak. Orang mukmin jujur akan bisa beribadah dengan tenang, karena akan siap menjalankan takwa dengan mudah. Mukmin jujur bisa menjalankan perintah Allah SWT tanpa beban, menjauhi larangan Allah SWT tanpa penyesalan.

Orang jujur akan cenderung beribadah dengan baik, menjalankan transaksi muamalah dengan baik. Sikap jujur bisa menyebabkan urusan vertikal dengan Allah SWT akan terbina dengan baik. Urusan horizontal dengan masyarakat dan lingkungan juga akan tertata dengan baik. Dengan demikian, orang jujur akan cenderung menjalankan hidup dengan penuh keridaan, baik dari Allah SWT maupun dari makhluk lingkungan sekitar.

Kedua, perasaan menjadi tenang. Orang jujur akan menjalani hidup dengan tenang karena selalu berusaha menghindar untuk melakukan perbuatan yang tidak baik. Kita tahu bahwa berbuat yang tidak baik itu menimbulkan beban perasaan, meskipun orang lain tidak tahu. Oleh sebab itu, ketika orang berhasil konsisten jujur, maka perasaannya akan selalu tenang, dalam kondisi apapun.

Hal ini berlawanan dengan orang yang tidak jujur. Ketika orang bohong satu kali, maka ia akan merasakan beban negatif atas kebohongannya. Apalagi, kebohongan biasanya akan terus menimbulkan kebohongan berikutnya, sehingga beban perasaan negatif orang yang tidak jujur tersebut akan semakin bertambah.

Ketiga, peroleh pahala yang besar. Ketika kita bisa menjalankan hidup dengan jujur, maka akan banyak amalan kita baik dari sisi ibadah maupun muamalah. Oleh sebab itu, pantas saja jika pahala atas ibadah dan muamalah orang jujur juga akan semakin meningkat. Pahala orang jujur bisa dirasakan langsung dalam kehidupan sehari-hari di dunia dan mendapatkan pahala berlimpah di hari akhir kelak.

Keempat, mendapatkan kemudahan dalam urusan hidup. Dalam kondisi apapun, orang jujur akan selalu berpikir dan bertindak baik. Oleh sebab itu, orang jujur akan mudah menemukan solusi atas persoalan hidup. Bukan berarti orang jujur akan bebas dari masalah, namun ketika ada masalah, orang jujur akan lebih tenang dalam menjalani semua urusan hidup.

Orang lain juga akan mudah percaya atas sikap orang jujur, sehingga sikap jujur berpotensi menghadirkan banyak kebaikan dari orang lain. Pekerjaan yang baik di manapun juga membutuhkan orang jujur, sehingga orang jujur juga akan cenderung mudah memperoleh pekerjaan baik yang sesuai kebutuhannya.

Kelima, selamat dari bahaya dan adzab. Orang bohong akan terus melakukan kebohongan untuk menutupi kebohongan awalnya. Kondisi tersebut menyebabkan pembohong akan berpotensi mendapatkan bahaya dari setiap aktivitas bohongnya, oleh karena setiap kebohongan berpotensi menghadirkan umpan balik yang buruk dari setiap pihak yang dibohongi.

Sedangkan dampak dari orang jujur adalah kebalikannya. Oleh karena ia selalu jujur, maka hal ini meminimalisir potensi ancaman dari orang lain oleh atas kebohongannya. Potensi bahaya hanya muncul ketika ia terlalu terbuka. Jujur bukan berarti sangat terbuka. Ada batasan keterbukaan. Ada hal yang belum tentu harus disampaikan dalam rangka kejujuran. Batasan ini bisa disesuaikan dengan norma yang ada.

Keenam, mudah dipercaya orang lain. Orang jujur akan mudah dipercaya orang lain oleh karena orang jujur akan cenderung selalu berusaha amanah dalam menjalankan kepercayaan orang lain. Kalau ia tidak siap menjalankan amanah, maka ia juga akan menyampaikannya kepada pemberi amanah atas ketidakmampuannya.

Orang jujur juga cenderung akan dipercaya oleh orang yang jujur. Bahkan orang yang tidak jujur pun sejatinya lebih percaya kepada orang yang jujur. Jadi, orang jujur akan berpotensi dipercaya oleh semua orang. Hanya saja, terkadang ada orang yang tidak suka dengan orang yang jujur. Biasanya orang tersebut adalah orang yang tidak baik dan tidak siap jujur.

Ketujuh, bermental positif konstruktif. Orang jujur akan bersikap positif atas setiap peristiwa. Orang yang bermental positif pasti juga bermental membangun. Ketika ada persoalan, ia tidak akan memperkeruh suasana. Ia akan cenderung mencarikan solusi yang tepat, baik dan benar.

Sebaliknya, orang yang tidak jujur akan beraura negatif dan aura negatif ini akan terus meningkat oleh karena ketidakjujuran akan menimbulkan hadirnya ketidakjujuran berikutnya. Hal ini juga akan memperkeruh suasana, baik bagi mental pelakunya maupun mental lingkungan sekitarnya.

Kedelapan, mudah percaya diri. Orang jujur juga mudah percaya diri oleh karena tidak ada beban-beban negatif yang memberatkan langkah hidupnya. Secara psikologis, orang jujur juga tampak tenang, matang, tanpa beban, sehingga akan menimbulkan aura positif juga.

Kepercayaan diri orang jujur akan menambah kebaikan pada dirinya dan orang lain. Kebaikan ini akan terus meningkat, dan begitu seterusnya. Dengan demikian, orang jujur akan terus percaya diri dan kepercayaan dirinya akan terus meningkat oleh karena sikap positif yang terus ditunjukkan dan dikondisikan oleh lingkungan sekitarnya.

Kesembilan, terhindar dari dusta dan munafik. Lawan dari jujur adalah dusta. Oleh sebab itu, orang jujur akan terhindar dari perilaku dusta. Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, “ Tanda munafiq ada 3, yakni ketika berbicara mengabarkan sesuatu maka ia dusta, ketika berjanji maka ia mengingkari, ketika dipercaya maka ia khianat ” (HR Bukhari).

Perhatikan bahwa ciri pertama seorang munafik adalah ketika mengabarkan sesuatu, maka ia berdusta. Padahal dusta adalah lawan dari kejujuran. Oleh sebab itu, ketika kita berhasil konsisten melakukan perilaku jujur, maka bisa mencegah diri dari perilaku munafik.

Kesepuluh, selalu berada dalam kebaikan. Kejujuran menyebabkan pelakunya untuk selalu bertindak benar, bersikap positif konstruktif, percaya diri dan dipercaya orang lain. Oleh sebab itu, orang yang jujur akan cenderung selalu berada dalam kebaikan sepanjang hidupnya. Orang jujur akan berpotensi selalu bersabar dan bersyukur atas semua kondisi hidupnya.

Selanjutnya, cara utama agar bisa konsisten jujur adalah teruslah bersikap jujur. Setelah itu, kendalikan diri agar bisa menempatkan diri kapan saatnya harus terbuka dan seberapa jauh bersikap terbuka. Hal ini sangat penting diperhatikan karena kecenderungan orang jujur adalah akan mudah terbuka terhadap pihak lain. Keterbukaan ini yang perlu ditata dan dikendalikan agar tidak malah membahayakan diri dan orang lain.

Demikian hikmah perilaku jujur dalam Islam dan cara melakukannya agar tepat langkah serta tidak membahayakan diri dan orang lain.

 

Artikel ditulis oleh Tim Advika, keterangan lebih lanjut hubungi e-mail info@advikamedia.com



Artikel Terkait


  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu

Komentar Artikel "Hikmah Perilaku Jujur dalam Islam"