Ini Dia Pengertian Mampu dalam Syarat Wajib Haji - Pegadaian Syariah
logo

Ini Dia Pengertian Mampu dalam Syarat Wajib Haji

4 minggu yang lalu      Haji
Ini Dia Pengertian Mampu dalam Syarat Wajib Haji

Ibadah haji adalah ibadah yang wajib dilakukan oleh umat Islam yang mampu atau kuasa untuk melaksanakannya, baik secara ekonomi, fisik, psikologis, keamanan, perizinan, dan lain sebagainya. Ibadah haji termasuk dalam Rukun Islam, yakni rukun kelima yang dilakukan minimal sekali seumur hidup.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah pernah berkhutbah kepada kami dan bersabda, “ Wahai sekalian manusia, telah diwajibkan haji kepada kalian, maka kerjakanlah haji. ” Kemudian salah seorang (namanya al-Aqra’ bin Habis) menanyakan, “ Apakah setiap tahun, ya Rasulullah? ” Kemudian beliau diam hingga orang itu menanyakannya tiga kali. Lalu Rasulullah menjawab: “ Seandainya aku katakan ya, maka ia wajib dan kalian tidak akan mampu mengerjakannya.

Selanjutnya beliau bersabda, “ Biarkan aku sendiri menetapkan untuk kalian sebab sesungguhnya telah binasa orang-orang sebelum kalian dikarenakan mereka banyak bertanya dan berselisih terhadap para nabi mereka. Jika aku memerintahkan sesuatu, maka kerjakanlah sesuai dengan kemampuan kalian. Dan jika aku melarang sesuatu, maka tinggalkanlah. ” (HR. Muslim).

Ibadah haji dikatakan sah apabila memenuhi rukun dan syarat sahnya haji. Secara sederhana, rukun haji terdiri dari ihram, wukuf, thawaf, sa’I dan tahallul. Sedangkan syarat sah haji adalah beragama Islam, dewasa/baligh, berakal (tidak gila), bukan budak (merdeka). Syarat Muslim yang wajib haji adalah beragama Islam, baligh, berakal (tidak gila), bukan budak (merdeka), dan mampu melaksanakan ibadah haji.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surat Ali Imran ayat 97, “ Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; Barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam .” Menurut jumhur ulama, ayat ini merupakan ayat tentang perintah melakukan ibadah haji bagi yang mampu.

Ibnu Katsir mengungkapkan bahwa telah banyak hadits yang menyebutkan bahwa ibadah haji adalah salah satu rukun, sendi, dan asas Islam. Kaum Muslimin pun telah ber- ijma’ atas hal tersebut secara tegas. Hanya saja diwajibkan kepada orang mukallaf satu kali saja seumur hidup berdasarkan nash dan ijma’ .

Ibnu Katsir menafsirkan kata “ sabila ” (mengadakan perjalanan ke Baitullah) pada ayat di atas dengan makna bekal dan kendaraan. Artinya, bagi orang yang memiliki bekal dan kendaraan menuju baitullah diwajibkan haji atas mereka. Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir juga menyatakan bahwa mengenai firman-Nya, “ yaitu [bagi] orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah”) , Waki’ dan Ibnu jarir meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, “ Barangsiapa memiliki tiga ratus dirham, berarti ia telah mampu mengadakan perjalanan untuk ibadah haji ke Baitullah.

Ada Hadits lain dari Anas ra, ia berkata bahwa ada yang bertanya pada Rasulullah, “ Wahai Rasulullah, apa itu sabiil (mampu dalam haji)? ” Jawab beliau, “Mampu dalam hal bekal dan berkendaraan.” Hadits ini diriwayatkan oleh Ad Daruquthni dan dishahihkan oleh Al Hakim. Namun yang tepat hadits tersebut mursal. Tirmidzi juga mengeluarkan hadits tersebut dari Ibnu ‘Umar dan sanadnya dho’if. (HR. Ad Daruquthni 2: 216 dan Al Hakim 1: 442).

Istitha’ah (mampu) dalam pandangan ahli fikih dapat dibagi menjadi dua kategori:

Pertama, istitha’ah bi al-nafsi, yaitu orang yang mampu melaksanakan haji sendiri, meskipun nanti dalam pelaksanaannya dia harus dibimbing orang lain, seperti orang buta, dan dia mampu membayar upah orang yang membantunya.

Kedua, istitha’ah bi ghair , yaitu orang yang tidak mampu melaksanakan haji, karena usia ataupun fisiknya tidak kuat, sehingga dia harus meminta orang lain untuk menggantikannya haji ( Badal haji).

Sedangkan pengertian mampu dalam syarat wajib haji saat ini adalah sebagai berikut:

Pertama, kemampuan fisik dan psikis. Kemampuan fisik dan rohani ini ciri-cirinya adalah sehat jasmani dan rohani tidak dalam keadaan tua renta, sakit berat, lumpuh, mengalami sakit parah menular, gila, stress berat, dan lain sebagainya. Sebaiknya haji dilaksanakan ketika masih muda belia, sehat dan gesit sehingga mudah dalam menjalankan ibadah haji dan menjadi haji yang mabrur.

Kedua, kemampuan ekonomi. Indikator mudah dari sisi kemampuan ekonomi adalah memiliki uang yang cukup untuk Biaya Perjalanan Ibadah Haji (BPIH), biaya pulang pergi serta punya bekal selama menjalankan ibadah haji. Jangan sampai terlunta-lunta di Arab Saudi karena tidak punya uang lagi. Jika punya tanggungan keluarga pun harus tetap diberi nafkah selama berhaji.

Ada tudingan bahwa beribadah haji tidak boleh menggunakan dana talangan,pada dasarnya dana talangan haji ini hukumnya boleh ( mubah ) dengan syarat mengikuti/taat pada dhawabith yang terdapat dalam fatwa DSN-MUI Nomor: 29/DSN-MUI/VI/2002 tentang Pembiayaan Pengurusan Haji Lembaga Keuangan Syariah, yang ketentuannya antara lain: LKS hanya mendapat ujrah ( fee /upah) atas jasa pengurusan haji, sedangkan qardl yang timbul sebagai dana talangan haji tidak boleh dikenakan tambahan. Oleh karena ketika berangkat haji, maka talangan harus sudah lunas. Jadi, ketika menjalankan ibadah haji, tidak ada lagi tanggungan talangan haji. Andaikan beribadah haji dengan dana dari talanganpun sejatinya boleh saja, asalkan mampu membayarnya di kemudian hari sesuai kontrak dengan pemberi talangan.

Ketiga, kemampuan keamanan. Maksud dari kemampuan dalam hal keamanan adalah adanya keamanan yang cukup selama perjalanan dan melakukan ibadah haji serta keluarga dan harta yang ditinggalkan selama berhaji. Bagi wanita harus didampingi oleh suami atau muhrim laki-laki dewasa yang dapat dipercaya.

Demikian pengertian mampu dalam syarat wajib haji . Dalam rangka memenuhi kebutuhan menjalankan ibadah haji terutama dalam hal kemampuan ekonomi, silahkan ke Pegadaian Syariah untuk mengajukan pembiayaan Arrum Haji. Pembiayaan Arrum Haji pada Pegadaian Syariah merupakan layanan yang memberikan nasabah kemudahan pendaftaran dan pembiayaan haji. Nasabah tinggal menyiapkan jaminan emas minimal Rp 7 juta plus bukti SA BPIH SPPH & buku tabungan haji.

Keunggulan pembiayaan ini adalah memperoleh tabungan haji yang langsung dapat digunakan untuk memperoleh nomor porsi haji. Agunan emas dan dokumen haji aman tersimpan di Pegadaian Syariah. Jaminan emas dapat dipergunakan untuk pelunasan biaya haji pada saat lunas.

Semoga kebutuhan ibadah haji kamu bisa lancar, mudah, dan barakah . Amin.

 

Artikel ditulis oleh Tim Advika, keterangan lebih lanjut hubungi e-mail info@advikamedia.com




Komentar Artikel "Ini Dia Pengertian Mampu dalam Syarat Wajib Haji"