Ini Dia Perbedaan Zakat, Infaq, dan Sedekah - Pegadaian Syariah
logo

Ini Dia Perbedaan Zakat, Infaq, dan Sedekah

2 bulan yang lalu    
Ini Dia Perbedaan Zakat, Infaq, dan Sedekah

Ada beberapa jenis aktivitas membelanjakan harta yang diajarkan oleh syariah Islam, yakni zakat, infaq, dan sedekah. Masing-masing memiliki definisi, hukum, serta teknis pelaksanaan yang berbeda-beda. Berikut ini adalah perbedaan zakat, infaq dan sedekah yang perlu kamu ketahui.

Pertama, perbedaan definisi.Zakat dari segi bahasa adalah bersih, suci, subur, berkat dan berkembang. Sedangkan dari segi istilah, zakat merupakan harta tertentu yang wajib dikeluarkan oleh orang yang beragama Islam dan diberikan kepada golongan yang berhak menerimanya dalam waktu yang telah ditentukan oleh syariat Islam.

Infaq dari segi bahasa berasal dari kata  anfaqa  yang yang bermakna mengeluarkan atau membelanjakan harta.  Menurut terminologi syariat, infaq berarti Infaq dari segi istilah yaitu mengeluarkan sebagian dari harta atau penghasilan untuk suatu kepentingan yang diperintahkan Islam.

Sedekah dari segi bahasa berasal dari kata shidqah yang artinya benar. Sebagian ulama menafsirkan bahwa orang yang suka bersedekah adalah orang yang benar imannya. Oleh sebab itu, sedekah juga menjadi cerminan keimanan. Sedangkan dari segi istilah, sedekah adalah pemberian sesuatu secara sukarela kepada orang lain yang tidak ditentukan jenis, jumlah maupun waktunya, kecuali sedekah wajib.

Kedua, perbedaan jenis. Ada dua jenis zakat, yakni zakat fitri dan zakat mal. Zakat fitri adalah zakat yang wajib dibayarkan oleh setiap orang Islam berupa bahan makanan atau uang senilai 3,5 liter atau 2,5 kilogram bahan makanan pokok pada bulan suci Ramadan. Sedangkan zakat mal adalah harta yang wajib dikeluarkan seorang Muslim dari rezeki yang diperolehnya, misalnya dari usaha pertanian, perniagaan, hasil laut, pertambangan, harta temuan, hasil ternak, emas, dan perak jika telah memenuhi nishab dan mencapai haul. Nishab dan haul masing-masing hartanya berbeda-beda.

Infaq juga ada beberapa jenis. Ada infaq yang sifatnya individual dan infaq sosial. Infaq individual misalnya terkait dengan nafkah kepada diri dan keluarga, infaq karena adanya kafarat , infaq dalam rangka nadzar , bahkan ada juga yang memasukkan zakat sebagai bagian dari infaq. Sedangkan infaq yang sifatnya sosial adalah infaq yang sifatnya untuk selain untuk memenuhi kewajiban diri sendiri, misalnya infaq untuk lembaga sosial, lembaga pendidikan, infaq dalam rangka memperjuangkan syariah Islam.

Sedekah pun ada beberapa jenis, yaitu sedekah dalam rangka memenuhi kewajiban dan sedekah dalam rangka kegiatan amal. Sedekah dalam rangka memenuhi kewajiban misalnya adalah zakat. Sedangkan selain sedekah wajib, pada umumnya dilakukan dalam rangka melaksanakan amalan kebaikan sebagai tabungan harta kelak di hari akhir.

Ketiga, perbedaan hukum. Hukum zakat adalah fardhu ain , baik zakat fitri maupun zakat mal. Zakat fitri wajib bagi setiap kelahiran atau setiap manusia Islam yang bernyawa. Sedangkan zakat mal wajib bagi harta yang sudah memenuhi haul (jangka waktu keberadaan harta mencapai 1 tahun atau jangka waktu tertentu tergantung jenis hartanya) dan mencapai nishab (hitungan jumlah harta yang wajib dizakati).

Hukum dan kewajiban zakat ini sesuai firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat At-Taubah ayat 103, “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka”.

Ibnu Katsir menafsirkan bahwa Allah SWT memerintahkan Rasul-Nya untuk mengambil zakat dari harta mereka guna membersihkan dan menyucikan mereka melalui zakat itu. Pengertian ayat ini umum, sekalipun sebagian ulama mengembalikan damir yang terdapat pada lafaz amwalihim kepada orang-orang yang mengakui dosa-dosa mereka dan yang mencampurbaurkan amal saleh dengan amal buruknya. Karena itulah ada sebagian orang yang enggan membayar zakat dari kalangan orang-orang Arab Badui menduga bahwa pembayaran zakat bukanlah kepada imam, dan sesungguhnya hal itu hanyalah khusus bagi Rasulullah Saw. 

Hukum infaq mengacu pada firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 195, “ Dan infaqkanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan ”. Ibnu katsir menafsirkan bahwa sehubungan dengan ayat tersebut, Imam Bukhari meriwayatkan, dari Hudzaifah, katanya, “ Ayat tersebut diturunkan berkenaan dengan masalah infaq .”

Ada infaq yang wajib ain , ada infaq yang wajib kifayah dan ada infaq yang sunnah . Infaq yang wajib misalnya adalah nafkah untuk diri, anak, istri dan keluarga. Infaq wajib lainnya misalnya infaq dalam rangka membayar kafarat , menunaikan nadzar dan bahkan ada yang mendefinisikan zakat sebagai bagian dari cara menginfaqkan harta. Infaq yang wajib kifayah misalnya membelanjakan harta untuk kepentingan pendidikan Islam, sumbangan bencana, dan sejenisnya. Selebihnya, infaq dihukumi sunnah jika harta tersebut diinfaqkan dalam kebaikan dan kebenaran sesuai syariah Islam.

Hukum sedekah ada yang wajib dan ada yang sunnah . Sedekah wajib adalah zakat. Firman Allah yang tersebut di atas sebagai ayat perintah zakat, menggunakan kata shadaqah . Ibnu Rusyd dalam Kitab Bidayatul Mujtahid menegaskan bahwa perintah (wajib) untuk melakukan sedekah yang dimaksud adalah perintah zakat. Sedangkan selain hal yang sifatnya wajib, sedekah terhukum sunnah , berpahala jika dilakukan, namun tidak berdosa jika tidak dilakukan. Sebagaimana Allah Firmankan dalam Surah an Nisa ayat 114 yang artinya "Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisik-bisikan mereka, kecuali (bisik-bisikan) orang yang menyuruh bersedekah, atau berbuat kebaikan, atau mendamaikan di antara manusia. Dan siapa yang berbuat demikian dengan maksud mencari keridhoan Allah, tentulah Kami akan memberi kepadanya pahala yang amat besar."

Keempat, perbedaan objek harta. Objek harta zakat adalah bahan makanan atau uang setara dengan bahan makanan. Sedangkan objek zakat mal adalah sesuai dengan harta yang dimiliki seperti emas, perak, hasil pertanian, hasil perdagangan, bahkan saat ini ada zakat profesi.

Objek harta infaq identik dengan harta yang sifatnya material, meskipun ada juga yang memilah objek harta infaq adalah amal kebaikan. Sedangkan objek harta sedekah bisa bermacam-macam. Rasulullah bersabda, “ Setiap tasbih adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, amar ma’ruf adalah sedekah, nahi munkar adalah sedekah dan menyalurkan syahwatnya pada istri juga sedekah ” (HR Muslim). Jadi, objek sedekah ini bisa material, bisa amal baik.

Kelima, perbedaan jumlah. Jumlah harta yang wajib dizakati, ada aturan khusus, misalnya sudah mencapai nishab (85 gram jika emas) dan mencapai haul (satu tahun jika emas). Harta lain yang wajib dizakati, bisa memiliki nishab dan haul yang berbeda-beda. Jumlah penyaluran zakat juga bermacam-macam, secara umum adalah 2,5% dari harta, atau 10% jika hasil pertanian, dan lain-lain.

Jumlah harta yang diinfaqkan dan disedekahkan, tidak ada ketentuannya, terserah dari kemampuan pelakunya. Namun, khusus infaq dan sedekah wajib harus ditunaikan sesuai dengan ketentuan, misalnya infaq dalam rangka kafarat atau nadzar , atau sedekah wajib dalam rangka zakat yang memang ada ketentuannya. Sedangkan infaq dan sedekah nonmateri, tidak ada aturan jumlahnya.

Keenam, perbedaan peruntukan. Peruntukan zakat diatur dalam firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat Al-Taubah ayat 60, “ Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana ”.

Ibnu Katsir menafsirkan ini bahwa setelah Allah SWT menyebutkan bantahan orang-orang munafik yang bodoh kepada Nabi SAW serta celaan mereka kepada Nabi SAW dalam pembagian harta zakat, maka Allah SWT menjelaskan bahwa Dialah yang membagikannya dan Dialah yang menjelaskan hukumnya serta mengatur urusannya, Dia tidak akan menyerahkan hal tersebut kepada siapa pun. Maka Allah SWT membagi-bagikannya di antara mereka yang telah disebutkan di dalam ayat ini.

Peruntukan infaq tidak diatur khusus dalam Islam, hanya saja diutamakan untuk fakir dan miskin, kecuali infaq wajib seperti nafkah terhadap diri dan keluarga. Sedangkan peruntukan sedekah juga bebas saja asalkan sesuai dengan prinsip bahwa orang yang diberi sedekah adalah orang yang membutuhkan. Khusus zakat wajib seperti zakat, maka peruntukannya ikut aturan peruntukan zakat.

Ketujuh, perbedaan waktu pelaksanaan. Pelaksanaan zakat fitri harus ditunaikan sebelum salat Idul Fitri. Pelaksanaan zakat mal dilakukan setelah mencapai haul dan nishab . Peruntukan infaq wajib sesuai dengan kondisi, misalnya nadzar dalam waktu tertentu, harus ditunaikan seperti waktu yang dinyatakan dalam nadzar. Pada prinsipnya, waktu infaq ini bebas saja. Pelaksanaan sedekah juga bebas saja kecuali sedekah wajib (zakat) yang sudah ada waktu khusus sesuai syariah Islam.

Demikian perbedaan zakat, infaq dan sedekah. Semoga manfaat dan barakah.

 

Artikel ditulis oleh Tim Advika, keterangan lebih lanjut hubungi e-mail info@advikamedia.com



Artikel Terkait


  3 tahun yang lalu
  3 tahun yang lalu
  3 tahun yang lalu
  3 tahun yang lalu

Komentar Artikel "Ini Dia Perbedaan Zakat, Infaq, dan Sedekah"