Ketahui Adab Menyambut Idul Fitri - Pegadaian Syariah
logo

Ketahui Adab Menyambut Idul Fitri

7 bulan yang lalu    
Ketahui Adab Menyambut Idul Fitri

Lebaran sebentar lagi. Lebaran atau hari raya Idul Fitri adalah penutup bulan suci Ramadan yang kita lakukan selama satu bulan penuh. Mari kita sambut hari kemenangan dengan penuh etis dan estetis. Berikut ini ada beberapa adab dalam rangka menyambut Idul Fitri sebagaimana ditulis dalam Kitab Mausu'ah al Adaab al Islamiyyah karya Syekh Abdul Azis bin Fathi As-SayyIed Nada.

Pertama, niat yang ikhlas. Mari kita niatkan merayakan Idul Fitri dalam rangka ketaatan kita kepada Allah SWT, menjalankan amalan yang diajarkan oleh syariat Islam, serta menjauhi segala larangan Allah dan Rasulullah. Jangan lupa untuk kita pilah niat yang tepat dalam rangka ibadah mahdhah atau ghairu mahdhah.

Ketika melaksanakan salat Ied, maka kita ikuti tata cara ibadah salat Ied. Sedangkan aktivitas ghairu mahdhah seperti silaturahim, saling memberikan makanan, dan berbagai aktivitas lain yang bukan merupakan aktivitas ibadah ritual, maka silahkan dilakukan sesuai kebiasaan atau adat atau urf yang berlaku, tidak perlu saling menyalahkan jika ada aktivitas yang tidak sesuai dengan pendapat kita.

Kedua, mandi yang bersih. Pada saat tiba hari raya Idul Fitri, hendaknya kita awali dengan mandi, baik menjelang subuh maupun ketika akan berangkat salat Ied. Tujuannya adalah agar kita dalam kondisi segar, bersih, dan wangi ketika berkumpul bersama kaum muslimin lainnya. Kehadiran kita bisa memberikan rasa nyaman bagi orang lain. Kita juga bisa menjalankan ibadah salat Ied dengan nyaman.

Ketiga, menggunakan wewangian. Pada saat hari raya Idul Fitri, hendaknya kita menggunakan parfum yang terbaik. Hari raya Idul Fitri adalah hari ketika kita berkumpul salat bersama dan silaturahim dengan sesama. Akan terasa sangat nyaman jika badan kita bersih karena mandi dan menggunakan wewangian yang harumnya menyenangkan hati orang lain. Kita pun bisa menjalankan ibadah salat Ied dengan nyaman.

Keempat, menggunakan pakaian baru. Pada saat tiba hari raya Idul Fitri, hendaknya kita menggunakan baju baru dalam rangka syukur kita atas hadirnya hari kemenangan setelah sebulan penuh menjalankan puasa di bulan suci Ramadan. Pakaian baru juga menyebabkan silaturahim lebih nyaman dan semarak kemenangan lebih terasa. Ibadah salat Ied yang kita lakukan semakin nyaman dan khusyu’.

Kelima, menunaikan zakat fitrah sebelum salat Idul Fitri. Zakat adalah fikih ibadah, ada perintahnya, sehingga wajib kita lakukan. Amannya, mari kita tunaikan zakat pada malam hari terakhir di bulan suci Ramadan. Zakat kita tunaikan dalam rangka berbagi kepada orang yang membutuhkan. Zakat bisa menghadirkan silaturahim yang hangat, tak kenal strata sosial dan ekonomi. Zakat fitrah juga semakin memupuk persaudaraan dan persatuan antarummat Islam.

Keenam, makan sebelum berangkat dari rumah. Ada sebuah hadits yang diriwayatkan Ath-Thabrani, Rasulullah SAW sebelum berangkat salat pada hari raya Idul Fitri memakan kurma terlebih dahulu. Dalam riwayat lain disebutkan, Rasulullah SAW tidak berangkat salat Idul Fitri kecuali setelah makan, sedangkan beliau tidak makan pada hari raya Idul Adha, kecuali setelah pulang dan makan dari hewan kurbannya (HR at-TirmIedzi). Silahkan makan kurma atau makanan lain sebelum salat Ied dilakukan.

Ketujuh, bersegera menuju tempat salat. Pada saat pagi Hari Raya tiba, mari bersegera menuju masjid atau tempat salat dalam rangka menjalankan ritual ibadah, bertemu dengan umat Islam dalam rangka silaturahim, dan memperokokoh persatuan ummat Islam di Indonesia. Mari bersegera menuju tempat salat dalam rangka terus mengumandangkan takbir dan bacaan pujian lain kepada Allah dalam rangka Idul Fitri.

Kedelapan, wanita keluar ke tempat salat. Menurut Syekh SayyIed Nada, wanita dianjurkan untuk keluar menuju tempat salat meskipun dalam kondisi sedang haid. Di tempat salat, mereka dapat menyaksikan khutbah dan salat Ied, bisa mendapat kemuliaan hari raya serta merasakan kebahagiaan bersama orang lain.

Meskipun begitu, hendaknya wanita yang haid memisahkan diri dari tempat salat. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Bukhari-Muslim, Rasulullah SAW memerintahkan gadis-gadis pingitan, anak-anak, serta wanita haid untuk keluar, namun wanita haid yang menyaksikan kebaikan dan dakwah kaum Mukminin, hendaklah mereka memisahkan diri dari tempat salat.

Kesembilan, anak-anak keluar ke tempat salat. Ibnu Abbas RA berkata, ''Aku keluar bersama Rasululah SAW pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, kemudian beliau salat dan berkhutbah'' (HR Bukhari-Muslim). Menurut Syekh SayyIed Nada, hendaknya anak-anak ikut keluar sehingga mereka ikut merasakan kebahagiaan Hari Raya, bersenang-senang dengan pakaian baru, keluar ke tempat salat, dan menyaksikan jamaah kaum Muslimin walaupun mereka tidak shalat karena masih kecil. Hal ini membiasakan mereka untuk merayakan Idul Fitri dengan semarak.

Kesepuluh, keluar untuk salat dengan berjalan kaki. Kaum muslimin dianjurkan untuk ke luar berjalan kaki untuk salat Idul Fitri, sebagaimana Rasulullah SAW keluar pada dua hari raya dengan berjalan kaki, salat tanpa azan dan iqamat, dan pulang berjalan kaki melalui jalan lain (HR Ibnu Majah). Boleh juga kita berangkat dan pulang berjalan kaki dengan jalur yang berbeda.

Kesebelas, bertakbir dengan suara keras sampai ke tempat salat. Hendaknya kita mengucap takbir serta bacaan pujian lain kepada Allah sejak malam hari menjelang Idul Fitri, takbir khas yang biasanya dikumandangkan di Hari Raya. Hal ini untuk menambah semarak berbagai aktivitas ibadah yang kita jalankan di Hari Raya tersebut, semakin mendekatkan diri kita kepada Allah.

Keduabelas, bersalaman dan saling mengucapkan selamat di antara orang yang salat. Mari tak bosan kita mengucapkan selamat Idul fitri kepada orang lain di sekitar kita, baik bertemu secara langsung maupun melalui dunia maya. Mari kita pererat tali silaturahim dan persatuan ummat Islam. Di daerah pedesaan, masih kental kebiasaan salam setelah salat Idul Fitri. Salaman dilakukan dengan seluruh jamaah diiringi salawat badar. Ini tak mengapa untuk dilakukan. Bukan ritual ibadah mahdhah.

Ketigabelas, bersilaturahim. Silaturahim memperpanjang usia dan menghadirkan rezeki, apalagi silaturahim dalam rangka Idul Fitri. Silaturahim menghadirkan komunikasi yang baik. Dari komunikasi tersebut sering muncul ide-ide baru baik untuk kepentingan diri sendiri maupun lebih luas lagi dalam rangka memenuhi kebutuhan ummat.

Keempatbelas, saling memberikan hadiah. Di kawasan pedesaan, hal ini mungkin lazim saja terjadi, misalnya saling memberikan makanan, minuman, kue, dan lain-lain. Hal ini dilakukan dalam rangka mempererat tali persaudaraan sesama umat Islam. Dengan demikian, persatuan Islam semakin kuat.

Jika kamu ingin menambahkan sarana untuk menyambut Idul Fitri namun dana yang ada kurang mencukupi, kamu bisa menggunakan produk pembiayaan terbaru dari Pegadaian Syariah yang bernama Rahn Hasan. Melalui Rahn Hasan, kamu bisa mengajukan pembiayaan tanpa harus membayar mu’nah pemeliharaan (biaya pemeliharaan), hanya cukup membayar kewajiban pokok dan biaya akad awal saja (mu’nah akad). Kamu bias mendapatkan pinjaman maksimal 500 ribu rupiah dengan jangka waktu pinjaman maksimal 60 hari.

Demikian adab yang harus kita perhatikan dalam rangka menyambut Idul Fitri. Semoga bermanfaat. Amin.

 

Artikel ditulis oleh Tim Advika, keterangan lebih lanjut hubungi e-mail info@advikamedia.com



Artikel Terkait


  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu

Komentar Artikel "Ketahui Adab Menyambut Idul Fitri"