Ketahui Zakat Pertanian dalam Islam - Pegadaian Syariah
logo

Ketahui Zakat Pertanian dalam Islam

4 bulan yang lalu    
Ketahui Zakat Pertanian dalam Islam

Zakat merupakan salah satu ajaran agama Islam yang masuk dalam urusan ibadah. Hukum asal dari ibadah adalah haram sampai ada dalil perintahnya. Berikut ini beberapa dalil terkait perintah zakat. Dalam Al-Qur’an Suart Al-Baqarah ayat 267 Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu.”

Allah juga berfirman dalam Al-Qur’an Al-An’am ayat 141, “Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon kurma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya), dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah baknya di hari memetik hasilnya (dengan dikeluarkan zakatnya); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”

Ibnu Katsir menafsirkan ayat tersebut bahwa Allah menjelaskan bahwa Dialah Pencipta segala tanaman, buah-buahan, dan binatang ternak yang semuanya itu diperlakukan oleh orang-orang musyrik sesuai dengan pemikiran mereka yang rusak, dan mereka membaginya menjadi beberapa bagian serta mengelompokkannya menjadi beberapa kelompok, lalu dari kesemuanya itu ada yang mereka jadikan haram dan ada yang mereka jadikan halal.

Masih dalam Tafsir Ibnu Katsir, beliau menafsirkan ayat Wa aatuu haqqaHu yauma hashaadiHi (“Dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya.”) berdasarkan perkataan`Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu `Abbas: “yaitu zakat yang diwajibkan pada hari penimbangan hasilnya dan setelah diketahui jumlah timbangannya tersebut.”

Rasulullah SAW bersabda, “Pada pertanian yang tadah hujan atau mata air atau yang menggunakan penyerapan akar (Atsariyan) diambil sepersepuluh dan yang disirami dengan penyiraman maka diambil seperduapuluh” (HR Bukhari). HR Muslim juga meriwayatkan hadits dari Rasulullah SAW, “Semua yang diairi dengan sungai dan hujan maka diambil sepersepuluh dan yang diairi dengan disiram dengan pengairan maka diambil seperduapuluh” (HR Muslim). Rasulullah SAW juga bersabda, “Tidak ada zakat bagi tanaman di bawah 5 wasaq” (HR Bukhari dan Muslim).

Dalil-dalil tersebut mempertegas perintah ajaran agama Islam kepada kita untuk menunaikan zakat pertanian.

Ada beberapa hasil pertanian yang wajib dizakati. Pertama, hasil pertanian menurut jumhur ulama yakni sya’ir (gandum kasar), hinthoh (gandum halus), kurma dan kismis (anggur kering). Kedua, jumhur ulama meluaskan zakat hasil pertanian pada tanaman lain dengan metode qiyas, yakni yang memiliki illat (sebab hukum) yang sama. Hasil pertanian tersebut misalnya berupa biji-bijian, buah-buahan, tanaman yang bisa menjadi makanan pokok dan dapat disimpan (jagung, gandum, sagu, singkong), serta tanaman yang dapat ditakar.

Cara mudah merumuskan hasil pertanian yang wajib dizakati adalah berupa biji-bijian atau buah-buahan, bisa ditakar dengan satuan alat takar, merupakan komoditas yang bisa disimpan, tumbuh dengan usaha dari manusia, dan mencapai nishab zakat pertanian. Rumus ini perlu diketahui oleh karena tidak menutup kemungkinan ada jenis tanaman pertanian yang wajib dizakati selain yang tersebut di atas.

Terkait dengan sayur-sayuran apakah wajib dizakati, menurut Imam Abu Hanifah wajib dizakati. Namun, menurut pendapat yang lebih kuat, sayur-sayuran tidak termasuk hasil pertanian yang wajib dizakati.

Ketentuan nishab zakat pertanian adalah 5 wasaq atau kurang lebih 720 kg. Dengan demikian, ketika misalnya hasil pertanian mencapai 1 ton, maka telah mencapai nishab hasil pertanian yang harus dizakati. Ketika hasil pertanian tidak memenuhi nishab, belum tentu tidak dikenakan kewajiban zakat. Jika pertanian dan hasilnya tersebut dijalankan dalam rangka perdagangan, maka bisa masuk dalam perhitungan zakat perdagangan.

Ada ketentuan khusus mengenai kadar zakat hasil pertanian. Pertama, jika tanaman diairi dengan air hujan atau dengan air sungai tanpa ada biaya yang dikeluarkan atau bahkan tanaman tersebut tidak membutuhkan air, dikenai zakat sebesar 10 %. Kedua, jika tanaman diairi dengan air yang memerlukan biaya untuk pengairan misalnya membutuhkan pompa untuk menarik air dari sumbernya, seperti ini dikenai zakat sebesar 5%.

Jika sawah sebagiannya diairi air hujan dan sebagian waktunya diairi air dengan biaya, maka zakatnya adalah ¾ x 1/10 = 3/40 = 7,5 %. Dan jika tidak diketahui manakah yang lebih banyak dengan biaya ataukah dengan air hujan, maka diambil yang lebih besar manfaatnya dan lebih hati-hati. Dalam kondisi ini lebih baik mengambil kadar zakat 1/10. Hitungan 10% dan 5% adalah dari hasil panen dan tidak dikurangi dengan biaya untuk menggarap lahan dan biaya operasional lainnya.

Zakat hasil pertanian ini ditunaikan tidak seperti zakat mal yang harus menunggu haul (satu tahun). Namun, zakat hasil pertanian ini dikeluarkan setiap kali panen.  Kewajiban zakat disyaratkan ketika biji tanaman telah keras (matang), demikian pula tsimar (seperti kurma dan anggur) telah pantas dipetik (dipanen). Sebelum waktu tersebut tidaklah ada kewajiban zakat. Dan di sini tidak mesti seluruh tanaman matang. Jika sebagiannya telah matang, maka seluruh tanaman sudah teranggap matang.

Demikian uraian singkat mengenai zakat pertanian dalam Islam. Bagi petani yang ingin menambah modal usaha di bidang pertanian, Pegadaian Syariah bisa membantu kebutuhan modal pertanian melalui pembiayaan Arrum BPKB. Pembiayaan ini memudahkan para pengusaha kecil untuk mendapatkan modal usaha dengan jaminan BPKB kendaraan. Jadi, kendaraan tetap pada pemiliknya sehingga dapat digunakan untuk mendukung usaha sehari-hari.

Keunggulan pembiayaan Arrum BPKB salah satunya proses pinjaman dilakukan secara cepat dan mudah. Selain itu, mu'nah pemeliharaan (biaya pemeliharaan) per bulan hanya di kisaran 0,7% dari nilai taksiran agunan.

Bagi kamu yang ingin mengajukan pembiayaan Arrum BPKB, minimal kamu memiliki usaha yang memenuhi kriteria kelayakan dan telah berjalan 1 (satu) tahun. Selain itu, menyerahkan fotokopi KTP dan Kartu Keluarga dan dokumen kepemilikan kendaraan bermotor (BPKB asli, fotokopi STNK, dan Faktur Pembelian). Semoga bermanfaat.

 

Artikel ditulis oleh Tim Advika, keterangan lebih lanjut hubungi e-mail info@advikamedia.com



Artikel Terkait


  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu

Komentar Artikel "Ketahui Zakat Pertanian dalam Islam"