Konsep Toleransi Antar Umat Beragama dalam Islam - Pegadaian Syariah
logo

Konsep Toleransi Antar Umat Beragama dalam Islam

4 bulan yang lalu    
Konsep Toleransi Antar Umat Beragama dalam Islam

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, toleransi adalah bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dan sebagainya) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri. Toleransi juga dimaknai sebagai suatu sikap saling menghormati dan menghargai antar kelompok atau antar individu dalam masyarakat atau dalam lingkup lainnya. Sikap toleransi menghindarkan terjadinya diskriminasi, meski banyak terdapat kelompok atau golongan yang berbeda dalam suatu kelompok masyarakat.

Islam sangat menghargai toleransi antarmanusia. Hal ini senada dengan kenyataan bahwa manusia di muka bumi ini beranekaragam. Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Hujurat ayat 13, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Ibnu Katsir menafsirkan ayat tersebut bahwa secara garis besar semua manusia bila ditinjau dari unsur kejadiannya, yaitu tanah liat, sampai dengan Adam AS dan Hawa adalah sama saja. Sesungguhnya perbedaan keutamaan di antara mereka adalah karena perkara agama, yaitu ketaatannya kepada Allah dan Rasul-Nya. Oleh karena itu, sesudah melarang perbuatan menggunjing dan menghina orang lain, Allah SWT berfirman mengingatkan mereka bahwa mereka adalah manusia yang mempunyai martabat yang sama.

Ayat tersebut menegaskan bahwa secara kodrati, Allah menciptakan manusia di muka bumi ini beranekaragam, ada laki-laki, ada perempuan, ada berbagai bangsa, suku, bahasa, kebudayaan, agama, ras, golongan dan berbagai keanekaragaman lainnya. Allah menciptakan manusia dalam rangka saling mengenal dan berinteraksi satu sama lain. Ayat tersebut jelas ditujukan untuk seluruh umat manusia, bukan hanya untuk umat Islam saja.

Allah juga berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Mumtahanah ayat 8-9, “Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barang siapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”

Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini bahwa kita boleh melakukan toleransi kepada siapapun yang tidak membantu (orang-orang) untuk memerangi dan mengusir kita. Allah tidak melarang kita untuk menjalin hubungan baik dengan orang-orang kafir yang tidak memerangi kita karena agama, seperti kaum wanita dan orang-orang lemah dari mereka.

Ibnu Katsir menegaskan bahwa sesungguhnya Allah hanya melarang kita berhubungan dengan mereka yang memusuhi dan memerangi serta mengusir kita dan orang-orang yang membantu mereka mengusir kita. Allah SWT melarang kita berteman dengan mereka dan memerintahkan kepada kita untuk memusuhi mereka. Kemudian Allah SWT menguatkan ancamannya bagi orang yang tetap mau berteman dengan mereka melalui firman Allah, “Dan barang siapa menjadikan mereka sebagai kawan (auliyaa), maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”

Ibnu Katsir menambahkan bahwa semakna dengan ayat tersebut adalah firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi kawan-kawanmu (auliyaa), sebagian mereka adalah kawan bagi sebagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi kawan, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (Al-Qur’an Surat Al-Maidah Ayat 51).

Berdasarkan nash Al-Qur’an dan hadits tersebut, bisa dimaknai bahwa Islam mengajarkan toleransi antar umat beragama. Toleransi ini diberikan kepada orang yang memang tidak mengusir atau memerangi umat Islam karena alasan agama.

Rasulullah SAW juga bersabda, “Barangsiapa yang membunuh non-Muslim yang terikat perjanjian dengan umat Islam, maka ia tidak akan mencium keharuman surga. Sesungguhnya keharuman surga itu bisa dicium dari jarak 40 tahun perjalanan di dunia” (HR. Bukhari). Hadits ini menegaskan bahwa jika umat Islam tidak menghargai umat agama lain, Rasulullah SAW memperingatkan keras kepada mereka untuk tidak memperoleh surga.

Kita hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. UUD 1945 pasal 29 ayat 2 menguatkan tentang perlunya toleransi beragama yang harus dilaksanakan di Indonesia, “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadah menurut agamanya dan kepercayaannya itu.” 

Berikut ini ada beberapa hal yang bisa kita cermati terkait konsep dan praktik toleransi antarumat beragama sehari-hari dalam naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pertama, Indonesia bukan negara agama. Satu hal yang harus kita sadari bersama bahwa Indonesia bukan negara milik agama tertentu, bukan negara yang memiliki satu landasan ajaran agama tertentu. Indonesia adalah negara dengan multiagama. Oleh sebab itu, ketika kita menjalankan kehidupan sehari-hari terutama terkait dengan interaksi dengan pemeluk agama lain, maka kita harus selalu merujuk pada ketentuan legal formal yang berlaku di Indonesia.

Saat ini ada beberapa ketentuan legal formal yang sudah sesuai dengan syariah Islam, namun tetap saja harus dijalankan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku di Indonesia, misalnya ketentuan mengenai perbankan syariah yang sudah diatur selevel Undang-undang, yakni UU No. 21 tahun 2008 tentang Perbankan Syariah. Berbagai Lembaga Keuangan Syariah pun sudah ada rujukan legal formalnya.

Dengan demikian, jika kita ingin agar ajaran agama kita diterapkan secara legal formal sesuai dengan hukum positif yang berlaku di Indonesia, mengikat kepada semua pelakunya meskipun berasal dari agama lain, maka terlebih dulu harus sudah ada payung hukumnya.

Kedua, memahami ajaran agama sendiri. Salah satu hal penting dalam penerapan toleransi antar umat beragama adalah pentingnya kita memahami ajaran agama kita sendiri secara komprehensif. Hal ini dilakukan agar kita tidak mudah memberikan tudingan atau sikap negatif kepada pihak lain, baik pemeluk agama sendiri maupun pemeluk agama lain, apalagi terkait dengan isu sensitif keagamaan.

Pemahaman yang luas dan komprehensif terhadap ajaran agama sendiri bisa menyebabkan kita memiliki ilmu yang luas, sudut pandang yang komprehensif sehingga bisa tepat dan bijak dalam bersikap terhadap pemeluk agama lain.

Ketiga, memahami ajaran agama lain. Kita juga patut memahami ajaran agama lain meskipun tidak perlu secara rinci. Paling tidak, kita bisa memahami ajaran-ajaran tertentu yang bisa menimbulkan persinggungan dengan ajaran agama lain. Misalnya dalam Islam ada ajaran menyembelih hewan kurban, sementara di ajaran agama tertentu sangat dihindari untuk melakukan penyembelihan hewan tertentu. Kita tetap bisa menjalankan ajaran agama kita tersebut dengan tenggang rasa dalam bersikap agar tidak menyinggung perasaan umat lain.

Keempat, tidak mencampuradukkan ajaran agama. Toleransi tidak bisa dimaknai dengan mencampuradukkan ibadah kita dengan ajaran ibadah agama lain. Misalnya ketika ada misa di gereja, tidak masalah kita berada di dalam gereja (misalnya karena harus menyiapkan kebutuhan logistik jemaah), asalkan kita tidak ikutan mengakui dan melaksanakan kegiatan ibadah mereka.

Kelima, menjalankan muamalah antarumat beragama dengan baik. Ajaran Islam selain urusan ritual ibadah disebut dengan muamalah. Dalam hal muamalah, semua diperbolehkan sampai ada dalil keharamannya. Kita boleh bertransaksi muamalah dengan pemeluk agama lain, misalnya dalam transaksi jual beli, belajar mengajar, berolahraga, dan lain-lain.

Rasulullah SAW sendiri pernah mencontohkan bermuamalah dengan Yahudi. Rasulullah SAW pernah bersabda sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, dari Aisyah ra, “Sesungguhnya Rasulullah SAW pernah membeli makanan dengan berutang dari seorang Yahudi, dan Nabi menggadaikan sebuah baju besi kepadanya.”

Akhirnya, mari kita terus meningkatkan kerukunan dan toleransi antar umat beragama agar hidup kita tetap tenang, tenteram, dan damai.

 

Artikel ditulis oleh Tim Advika, keterangan lebih lanjut hubungi e-mail info@advikamedia.com



Artikel Terkait


  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu

Komentar Artikel "Konsep Toleransi Antar Umat Beragama dalam Islam"