Manfaat dan Panduan Lengkap Manasik Haji bagi Para Calon Jemaah Haji - Pegadaian Syariah
logo

Manfaat dan Panduan Lengkap Manasik Haji bagi Para Calon Jemaah Haji

6 bulan yang lalu      Haji
Manfaat dan Panduan Lengkap Manasik Haji bagi Para Calon Jemaah Haji

Manasik haji adalah tata cara pelaksanaan ibadah haji yang kegiatannya biasa dilaksanakan sebelum keberangkatan ibadah haji. Adapun waktu pelaksanaan ibadah haji sendiri adalah pada bulan Dzulhijjah (bulan haji) yaitu pada saat jemaah haji wukuf di Arafah pada hari arafah (9 Dzulhijjah), pelaksanaan qurban pada hari nahr (10 Dzulhijjah) dan pada hari tasyriq (11, 12, dan 13 Dzulhijjah).

Tata cara dan urutan pelaksanaan ibadah haji harus sesuai dengan syarat dan rukun haji. Syarat wajib haji ada 5 (lima), yakni Islam, baligh (dewasa), berakal sehat, merdeka (bukan budak), dan istitha’ah (mampu). Apabila orang belum memenuhi syarat tersebut, maka belum diperintahkan untuk ibadah haji.

Sedangkan untuk rukun haji ada 6 (enam), yakni ihram (niat), thawaf ifadhah, sa’i, wukuf di Arafah, bercukur, dan tertib sesuai dengan tuntunan manasik haji. Apabila jemaah tidak melaksanakan salah satu rukun haji tersebut, maka ibadah hajinya tidak sah.

Berikut ini adalah panduan manasik haji bagi calon jemaah haji. Panduan ini sangat bermanfaat bagi calon jemaah haji agar memahami rukun dan syarat haji, pelaksanaan ibadah haji sesuai rukun dan syarat, serta berbagai hal yang harus dilakukan ketika menjalankan ibadah haji.

Pertama, Ihram.Ihram adalah niat masuk untuk mulai melaksanakan ibadah haji dengan menghindari hal-hal yang dilarang selama ber-ihram. Pada saat ihram, jemaah haji memulainya dari miqat (tempat dan waktu ditetapkannya mulai ihram oleh pemerintah, baik ketika dalam pesawat menuju Jeddah maupun di Bandara King Abdul Azis Jeddah).

Kedua, Mabit di Mina. Pagi hari pada 8 Dzulhijjah, jemaah berangkat ke Mina. Selanjutnya bermalam di Mina agar bisa menjalankan salat subuh di Mina.

Ketiga, Wukuf di Padang Arafah.Wukuf adalah berada di mana saja di Arafah dalam keadaan suci maupun tidak (haidh, nifas, junub). Waktu wukuf adalah pada hari Arafah, yakni dari tergelincirnya matahari pada tanggal 9 Dzulhijjah sampai dengan terbit fajar tanggal 10 Dzulhijjah. Wukuf dinilai sah, walaupun dilaksanakan sesaat dalam rentang waktu tersebut, akan tetapi diutamakan mendapatkan sebagian waktu siang tanggal 9 Dzulhijjah dan malam menjelang tanggal 10 Dzulhijjah.

Keempat, Mabit di Muzdalifah. Setelah wukuf di Arafah, jemaah melakukan mabit di Muzdalifah. Mabit di Muzdalifah dimulai setelah maghrib sampai terbit fajar tanggal 10 Dzulhijjah dan boleh sesaat asalkan sudah lewat tengah malam. Bagi yang sehat wajib mabit di Muzdalifah, tetapi bagi yang sakit dan yang mengurus orang sakit ataupun yang mengalami kesulitan (masyaqqah) boleh tidak mabit di Muzdalifah, dan tidak dikenakan dam.

Kelima, Melempar Jumrah Aqabah. Melontar jumrah ialah melontar marma (tempat melontar) dengan batu kerikil sebanyak 7 kali lontaran kerikil yang dilaksanakan pada hari Nahr dan hari Tasyriq. Melontar jumrah tidak boleh diwakilkan kecuali karena uzur, baik karena sakit atau karena masyaqqah (kesulitan yang berat).

Keenam, Tahallul Awal. Setelah melempar jumrah, segera potong rambut. Setelah tahallul dilakukan, maka jemaah sudah boleh menggunakan pakaian biasa, parfum, serta menggunting kuku dan bulu. Namun, belum boleh melakukan jimak (bersetubuh) dengan isteri.

Ketujuh, Menyembelih Kambing. Pada tanggal 10 Dzulhijjah atau setelahnya yakni pada Hari Tasyriq (11, 12, dan 13 Dzulhijjah), jemaah haji menyembelih kambing. Memotong kambing ini wajib bagi yang mengerjakan haji Tamattu’ dan Qiran. Sedangkan untuk yang mengerjakan haji Ifrad, tidak wajib.

Kedelapan, Thawaf Ifadhah. Thawaf ifadhah adalah thawaf rukun haji dengan mengelilingi Ka’bah dengan memposisikan Ka’bah berada di sebelah kiri badan. Pelaksanaan thawaf sebanyak 7 (tujuh) kali putaran yang dimulai dan diakhiri di Hajar Aswad. Selama thawaf disunatkan berdoa dan berzikir.

Kesembilan, Sa’i. Sa’i adalah berjalan dan/atau berlari kecil dimulai dari bukit Shafa ke bukit Marwah dan sebaliknya, sebanyak 7 (tujuh) kali, yang berakhir di bukit Marwah (perjalanan dari bukit Shafa ke bukit Marwah dihitung satu kali dan juga dari bukit Marwah ke Shafa dihitung satu kali). Bagi yang uzur boleh menggunakan kursi roda.

Kesepuluh, Mabit di Mina. Setelah melaukan Thawaf dan Sa’i, jemaah haji menuju ke Mina untuk melaksanakan mabit selama 2 malam atau 3 hari. Selama di Mina melakukan lempar 3 jumrah, yakni jumrah shughra, wustha, dan aqabah. Utamanya, jemaah Haji meninggalkan Mina setelah melempar Jumrah pada tanggal 13 Dzulhijjah.

Kesebelas, Thawaf Wada’. Bagian akhir dari ritual ibadah haji adalah thawaf wada’.Thawaf wada’ ini dilakukan ketika jemaah haji akan meninggalkan Ka’bah dan telah menyelesaikan ibadah haji. Bagi jemaah haji yang sakit, thawaf wada’ ini tidak diwajibkan dan tidak dikenakan dam.

Demikian manasik haji bagi calon jemaah haji. Rasulullah SAW bersabda, “Dan haji mabrur tidak ada balasan yang pantas baginya selain surga.” (HR. Bukhari No. 1773 dan HR. Muslim No. 1349).

Bagi masyarakat Indonesia yang ingin mewujudkan niat melaksanakan ibadah haji, Pegadaian Syariah menyediakan layanan Arrum Haji yang memberikan nasabahnya kemudahan pendaftaran dan pembiayaan haji. Nasabah cukup menyiapkan jaminan emas minimal Rp 7 juta atau setara dengan logam mulia atau emas 15 gram dan bukti SA BPIH SPPH.

Nasabah juga diminta membuka rekening tabungan haji dengan setoran Rp 500 ribu. Nantinya, rekening ini akan diisi uang pinjaman sebesar Rp 25 juta dalam bentuk tabungan haji dari Pegadaian Syariah. Adapun angsuran yang dilakukan nasabah setiap bulannya adalah setoran pengembalian pinjaman serta angsuran biaya sewa tempat untuk penjagaan dan pemeliharaan barang jaminan nasabah selama nasabah belum melakukan pelunasan.

Pengembalian pinjaman dapat diangsur selama 12, 18, 24 atau 36 bulan. Biaya pemeliharaan barang jaminan (mu’nah pemeliharaan) per bulan kurang lebih setara dengan 0.95 persen x nilai taksiran jaminan. Biaya pemeliharaan ini akan disebutkan nominal rupiahnya di setiap akad pembiayaan Arrum haji ini.

Untuk bisa memanfaatkan layanan ini, calon jemaah haji cukup dengan memenuhi syarat dan ketentuan yang berlaku atau dapat mendatangi kantor Pegadaian Syariah terdekat. Sejumlah syarat yang bisa dipersiapkan nasabah di antaranya menyerahkan fotokopi KTP, jaminan emas, buku tabungan, SPPH, dan SA BPIH.

Keunggulan produk Arrum Haji adalah nasabah memperoleh tabungan haji yang langsung dapat digunakan untuk memperoleh nomor porsi haji. Emas dan dokumen haji yang dimiliki nasabah juga aman tersimpan di Pegadaian Syariah. Biaya pemeliharaan barang jaminan juga terjangkau. Emas yang dijaminkan nantinya dapat dipergunakan untuk pelunasan biaya haji.

Selanjutnya, selamat menjalankan ibadah haji sesuai jadwal yang telah ditentukan. Semoga memperoleh predikat haji mabrur oleh Allah SWT. Amin.

 

Artikel ditulis oleh Tim Advika, keterangan lebih lanjut hubungi e-mail info@advikamedia.com




Komentar Artikel "Manfaat dan Panduan Lengkap Manasik Haji bagi Para Calon Jemaah Haji"