Memahami Prinsip Sistem Keuangan Islam - Pegadaian Syariah
logo

Memahami Prinsip Sistem Keuangan Islam

8 bulan yang lalu    
Memahami Prinsip Sistem Keuangan Islam

Sistem keuangan Islam adalah sistem keuangan yang dijalankan berdasarkan ketentuan syariat Islam. Sistem keuangan Islam ada dalam ranah muamalah maliyah (sistem muamalah yang mengatur urusan harta dan transaksi antarmanusia). Dalam konsep dan pelaksanaannya, ada beberapa prinsip sistem keuangan Islam yang bisa kamu pahami dan kamu terapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pertama, prinsip kemaslahatan. Perhatikan dengan seksama, bahwa prinsip utama adanya aturan, hukum, atau syariat (termasuk dalam bidang keuangan Islam) adalah dalam rangka menghadirkan kemaslahatan (jalb al mashalih). Kaidah fikih merumuskan bahwa pasangan dari jalb al mashalih (menghadirkan kemaslahatan) adalah dar`u al mafasid (menghindari kerusakan). Itu merupakan aktivitas yang saling melengkapi satu sama lain.

Kemaslahatan ini tak bisa dilepaskan dari maqashid syariah (tujuan-tujuan syariah). Asy Syathibi dan al Ghazali merumuskan maqashid syariah terdiri dari terjaganya agama (hifzh ad diin), terjaganya jiwa (hifzh an nafs), terjaganya akal (hifzh a aql), terjaganya keturunan (hifzh an nasl), dan terjaganya harta (hifzh al maal).

Selain itu, indikator kemaslahatan adalah terpenuhi kebutuhan dharuriyat dan hajiyat. Kebutuhan dharuriyat adalah kebutuhan yang jika tidak terpenuhi, maka akan menimbulkan kerusakan, kehancuran, kematian. Contoh kebutuhan dharuriyat adalah kebutuhan makan, pakaian dan tempat tinggal. Sedangkan kebutuhan hajiyat adalah kebutuhan yang jika tidak terpenuhi, tidak akan menyebabkan kehancuran atau bahkan kematian, namun menimbulkan kesempitan dan kesulitan. Contoh kebutuhan hajiyat adalah rumah, kendaraan, dan sejenisnya.

Kedua, prinsip keseimbangan. Al-Qur’an Surat Al Qashah: 77 menyatakan, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

Tafsir Ibnu Katsir mengungkapkan bahwa carilah dari apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (keselamatan) dunia ini, yaitu gunakanlah apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu berupa harta yang melimpah dan kenikmatan yang panjang dalam berbuat taat kepada Rabbmu serta bertaqarrub kepada-Nya dengan berbagai amal-amal yang dapat menghasilkan pahala di dunia dan di akhirat.

Kalimat selanjutnya menegaskan bahwa janganlah kamu melupakan bagianmu dari (keselamatan) dunia ini, yaitu apa-apa yang dibolehkan Allah di dalamnya berupa makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal dan pernikahan. Sesungguhnya Rabbmu memiliki hak, dirimu memiliki hak, keluargamu memiliki hak serta orang yang berziarah kepadamu pun memiliki hak. Maka berikanlah setiap sesuatu dengan haknya.

Poin utama dari prinsip ini adalah agar kita selalu menjaga keseimbangan dalam hidup, baik untuk urusan duniawi dan ukhrawi, baik urusan jasmani maupun rohani. Pepatah Arab mengatakan bahwa bekerjalah tuk duniamu seakan engkau hidup selamanya, beramallah tuk akhiratmu seakan esok hari engkau tiada.

Ketiga, prinsip persaudaraan. Sesama mukmin itu saudara. Tak disebut mukmin ketika kita tidak mencintai sesama mukmin. Sistem keuangan Islam juga harus dijalankan dalam semangat memperkuat tali persaudaraan, silaturahim, kerukunan, dan toleransi.

Salah satu hal penting yang harus diperhatikan agar keuangan Islam makin kuat adalah kemauan dan kemampuan untuk saling toleransi terhadap perbedaan pendapat dalam madzhab keuangan Islam. Agar persaudaraan terus terjalin, kerukunan terjaga, untuk kepentingan luas, mari kita tawadhu dengan arahan Ulama Dewan (Majelis Ulama Indonesia) dan Umara Dewan (Negara Kesatuan Republik Indonesia).

Terkait dengan solidaritas dan persaudaraan di bidang harta atau keuangan, Islam juga memerintahkan kepada kita untuk menunaikan zakat, baik zakat fitri, zakat mal, bahkan saat ini ada zakat profesi. Islam juga mengajarkan pembelanjaan harta untuk sedekah, wakaf dan infaq. Al-Qur’an bahkan memberikan rumusan agar bisnis tidak merugi, maka kita diminta untuk menginfakkan harta kita di jalan Allah yang tentu saja diberikan kepada sesama kita yang membutuhkan.

Keempat, prinsip keadilan. Keadilan bisa dimaknai tidak zhalim. Keadilan dan tidak zhalim adalah sama-sama bermakna menempatkan sesuatu pada tempatnya, melakukan sesuatu sesuai kewajiban dan hak masing-masing pihak yang bertransaksi. Al-Qur’an menyatakan bahwa jangan zhalim dan dizhalimi.

Prinsip keadilan ini terutama untuk menegaskan bahwa praktik alur transaksi keuangan harus dijalankan sesuai syariah Islam di bidang muamalah, yaitu tidak menabrak larangan dalam transaksi. Contoh larangan dalam transaksi adalah riba, gharar, maisir, maksiat, transaksi zat haram, transaksi batil dan lain-lain.

Riba dalam pinjaman adalah ketika ada simpanan atau pinjaman yang disyaratkan adanya aliran manfaat bagi pemberi pinjaman. Sedangkan riba dalam jual beli adalah ketika ada pertukaran (jual beli) barang ribawi yang tidak memenuhi kaidah setara, sejenis, dan kontan.

Gharar adalah memastikan hal yang seharusnya tidak pasti atau memastikan hal yang seharusnya tidak pasti. Maisir adalah mengeluarkan sesuatu sedikit untuk mengharapkan banyak dari hak orang lain yang diambil secara batil, misalnya dalam permaian atau iuran atau sejenisnya. Berikutnya adalah terpenuhinya rukun dan syarat transaksi agar transaksi tidak batil.

Setelah keadilan dalam alur akad terpenuhi, selanjutnya keuangan Islam dibangun atas prinsip rela sama rela. Ketika ada ketidakrelaan, silahkan memilih untuk tidak melakukan suatu transaksi. Ketidakrelaan bisa mengotori sahnya transaksi.

Kelima, prinsip rahmatan lil alamin (rahmat bagi seluruh alam). Rahmat adalah kebaikan luar biasa yang tidak diminta, namun diberikan. Pemberian ini ditujukan untuk siapapun, tidak membedakan aspek suku, agama, dan lain-lain. Tentu saja prinsip ini harus ditempatkan sebagaimana mestinya dalam arti tidak mengambil hak orang lain dan tidak berbuat zhalim. Prinsip ini juga mengajarkan kepada kita bahwa transaksi muamalah bidang ekonomi Islam boleh dilakukan oleh siapun asalkan memenuhi rukun dan syarat akad.

Demikian uraian mengenai Prinsip Sistem Keuangan Islam, semoga bisa memberikan pemahaman dan menggugah semangat untuk bertransaksi di lembaga keuangan syariah.

 

Artikel ditulis oleh Tim Advika, keterangan lebih lanjut hubungi e-mail info@advikamedia.com



Artikel Terkait


  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu

Komentar Artikel "Memahami Prinsip Sistem Keuangan Islam"