Memaknai Muhasabah Diri Menjelang Pergantian Tahun - Pegadaian Syariah
logo

Memaknai Muhasabah Diri Menjelang Pergantian Tahun

5 bulan yang lalu    
Memaknai Muhasabah Diri Menjelang Pergantian Tahun

Seakan tiada terasa, sesaat lagi tahun 2018 segera berakhir dan berganti tahun 2019. Pergantian tahun biasanya ditandai dengan resolusi atau muhasabah, baik untuk diri sendiri, keluarga, kantor, maupun lingkungan sekitar.

Ada berbagai cara dalam melakukan muhasabah . Berikut ini ada beberapa hal yang bisa dilakukan dalam memaknai muhasabah diri menjelang pergantian tahun.

Pertama, menyelami kembali makna muhasabah. Muhasabah berasal dari kata hasibah yang artinya menghisab atau menghitung. Dalam penggunaan katanya, muhasabah diidentikan dengan menilai diri sendiri atau mengevaluasi, atau introspeksi diri. Secara umum adalah menghitung yang tak hanya sekedar hitungan matematis atau fisik, yang secara kuantitas dengan jumlah tertentu, namun juga bermakna menghitung secara nonfisik dan kualitas. Sebagimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat Al-Hasyr ayat 18,  “ Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiapb diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. ” Contoh indikator kuantitas adalah hal yang sifatnya bisa dihitung secara matematis, misalnya jumlah saldo tabungan, jumlah uang sedekah rutin, jumlah anak yatim yang diasuh, dan sejenisnya. Sedangkan contoh indikator kualitas adalah peningkatan berbuat baik kepada orangtua, peningkatan kinerja, peningkatan kualitas ibadah, peningkatan rasa ikhlas, sabar, syukur dan berbagai aktivitas sejenisnya.

Kedua, merenungi kembali bahwa setiap jiwa yang bernyawa, pasti akan dijemput ajal. Artinya, muhasabah dilakukan terus menerus setiap saat, oleh karena tidak akan ada manusia yang tahu pasti kapan ajal menjemput. Muhasabah paling terasa adalah ketika disadari bahwa kita hidup harus mempersiapkan bekal mati, seperti dalam firman Allah SWT di Al-Qur'an Surat Ali Imran ayat 185, “ Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati ."

Bekal mati ada banyak, namun hadits menggariskan bahwa kekayaan yang bisa dibawa mati adalah sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih yang mendoakan. Rasulullah SAW bersabda, “ Jika seseorang telah meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, anak sholeh yang mendoakannya ” (HR. Muslim no. 1631).

Muhasabah dalam rangka persiapan kematian harus dilakukan terus menerus. Pergantian tahun hanyalah momen tambahan untuk merealisasikan muhasabah yang mungkin tidak sempat dilakukan secara khusus selama ini. Muhasabah dalam rangka mempersiapkan kematian ini juga sejalan dengan doa yang biasanya kita panjatkan, yakni semoga kita diberi kesempatan bertaubat sebelum mati ( taubatan qablal maut ) rahmat saat kematian ( rahmatan indal maut ), ampunan setelah mati ( maghfiratan ba'dal maut ) dan kemudahan dalam menjalani sakaratul maut ( hawwin 'alayna fi sakaratil maut ).

Ketiga, menghitung amalan yang sudah dilakukan. Sebagaimana yang disebutkan sebelumnya bahwa kekayaan yang bisa dibawa mati adalah amalan sedekah jariyah, amalan ilmu yang bermanfaat serta anak saleh yang mendoakan. Muhasabah bagian amalan sedekah jariyah bisa dilakukan dengan menghitung semua aktivitas yang bisa menyebabkan amal sedekah jariyah makin banyak yang disalurkan.

Misalnya seberapa banyak harta yang sudah ada di tabungan, seberapa banyak aset kita, seberapa banyak uang yang bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Selanjutnya bisa ditentukan berapa jumlah uang atau harta yang sudah disedekahkan.

Sedekah secara total tidak perlu dihitung, hanya saja bisa diketahui dengan misalnya seberapa banyak uang atau harta yang bisa disedekahkan sebulan terakhir. Sebagai orang awam mungkin kita akan berpikir bahwa sebelum bersedekah, maka kita harus memenuhi kebutuhan diri sendiri dan keluarga terlebih dulu. Ini tidak masalah, asalkan tetap diagendakan sedekah rutin.

Ada juga yang berkeyakinan kuat bahwa lakukan sedekah dulu, baru harta hadir kemudian. Ini juga boleh diyakini oleh karena Allah SWT memang menjamin tidak akan kekurangan orang yang bersedekah. Amalan lain yang sudah dilakukan bisa dicermati juga baik secara kuantitas maupun kualitas. Ketika membuat resolusi, lebih baik dituliskan, agar bisa dilihat dan diingat dengan mudah.

Amalan berikutnya adalah terkait dengan ilmu yang bermanfaat. Misalnya terkait dengan aktivitas akademik, aktivitas non akademik seperti misalnya mengaji fikih mu’amalah atau fikih ibadah. Silahkan cermati juga apakah kamu sudah berbagi atas ilmu yang kamu punya atau belum. Ketika kamu berbagi ilmu dengan keluarga maupun anak didik, maka disitulah muncul anak-anak baik, anak biologis, maupun anak didik atau anak asuh yang kelak menjadi salah satu amalan yang bisa jadi bekal setelah mati.

Keempat, mempersiapkan amalan yang akan dilakukan. Agar mudah, persiapan amalan yang dilakukan juga bermuara pada harta yang bisa dibawa mati, yakni sedekah jariyah, ilmu yang manfaat dan anak saleh yang mendoakan sebagimana Allah SWT firmankan dalam Surah Al-Zalzalah ayat 7-8, “ Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat dzarrah niscaya dia akan melihat (balasan)nya.Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat dzarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” Persiapan terkait amalan sedekah jariyah tentu berkait dengan harta atau amalan. Persiapan ini meliputi aktivitas cara memperoleh harta dan membelanjakannya.

Berdasarkan hadits di atas bisa dicermati bahwa salah satu amalan yang bisa dibawa mati adalah sedekah jariyah. Artinya, ketika kita memiliki banyak harta, maka semakin banyak pula harta yang bisa kita sedekahkan. Oleh sebab itu, kamu bisa merencanakan target harta yang bisa kamu peroleh termasuk target harta yang akan kamu sedekahkan.

Selanjutnya persiapkan rinci aktivitas dalam rangka memeroleh ilmu dan membagikannya. Di sinilah letak aspek pendidikan atau kompetensi keilmuan yang harus ditambah. Sementara aktivitas berbagi harta atau ilmu kepada anak, anak didik, anak asuh dan lainnya juga harus direncanakan rapi agar meningkat dari sisi kuantitas dan kualitas.

Silahkan kamu punya impian tinggi untuk ketiga aspek tersebut, kemudian uraikan rencana tersebut secara rinci baik jangka pendek, menengah maupun panjang. Jangan lupa tuliskan, lakukan, evaluasi dan review kembali. Begitu seterusnya.

Kelima, tawakkal tiada henti. Tawakkal adalah mewakilkan semua urusan kita kepada Allah SWT. Allah SWT berjanji jika kita tawakkal, maka akan dipenuhi kebutuhan kita. Allah SWT juga berfirman dalam Al-Quran Surat Ath Thalaq ayat 3 , “ Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan  (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu .”

Ibnu Kastir menafsirkan ayat ini bahwa Imam Ahmad mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Waki', telah menceritakan kepada kami Basyir ibnu Sulaiman, dari Sayyar Abul Hakam, dari Tariq ibnu Syihab, dari Abdullah ibnu Mas'ud yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW telah bersabda, “ Barang siapa yang mempunyai suatu keperluan, lalu ia menyerahkannya kepada manusia, maka dapat dipastikan bahwa keperluannya itu tidak dimudahkan baginya. Dan barang siapa yang menyerahkan keperluannya kepada Allah SWT, maka Allah akan mendatangkan kepadanya rezeki yang segera atau memberinya kematian yang ditangguhkan  (usia yang diperpanjang).”

Ayat ini menegaskan bahwa ketika kamu sudah berdoa serta berikhtiar dengan menghitung amalan yang kamu lakukan selama setahun, kemudian mempersiapkan amalan yang akan dilakukan, sudah ikhtiar maksimal, selanjutnya serahkan semuanya kepada Allah, insya Allah diberikan kelancaran, kemudahan dan keberkahan dalam semua urusan.

Semoga semua aktivitas kita terkait muhasabah diri ini bisa diridai oleh Allah SWT. Amin.

 

Artikel ditulis oleh Tim Advika, keterangan lebih lanjut hubungi e-mail info@advikamedia.com



Artikel Terkait


  3 tahun yang lalu
  3 tahun yang lalu
  3 tahun yang lalu
  3 tahun yang lalu

Komentar Artikel "Memaknai Muhasabah Diri Menjelang Pergantian Tahun"