Mengenal Hukum Waris dalam Islam - Pegadaian Syariah
logo

Mengenal Hukum Waris dalam Islam

2 bulan yang lalu    
Mengenal Hukum Waris dalam Islam

Waris menurut bahasa ialah berpindahnya sesuatu dari seseorang kepada orang lain, atau dari suatu kaum kepada kaum lain. Sedangkan menurut istilah, waris adalah berpindahnya hak kepemilikan dari orang yang meninggal kepada ahli warisnya yang masih hidup, baik yang ditinggalkan itu berupa harta (uang), tanah, atau apa saja yang berupa hak milik legal secara syar’i .

Ilmu waris merupakan salah satu ilmu yang sangat penting untuk diketahui oleh orang Islam. Jika ibadah seperti salat tidak diatur secara rinci teknisnya dalam Al-Qur’an, skema waris diatur cukup rinci dalam Al-Qur’an.

Ada beberapa dalil yang mengatur skema hukum waris dalam Islam , misalnya Al-Qur’an Surat An-Nisa ayat 7, “Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan kedua orangtua dan kerabatnya, dan bagi perempuan ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan kedua orangtua dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bagian yang telah ditetapkan.”

Ibnu Katsir menafsirkan bahwa semua pihak tersebut sama dalam hukum Allah SWT. Mereka mempunyai hak waris, sekalipun terdapat perbedaan menurut bagian-bagian yang ditentukan oleh Allah SWT bagi masing-masing dari mereka sesuai dengan kedudukan kekerabatan mereka dengan si mayat, atau hubungan suami istri, atau hubungan  al-wala . Karena sesungguhnya hubungan  wala  itu merupakan daging yang kedudukannya sama dengan daging yang senasab.

Dalil berikutnya adalah Al-Qur’an Surat An-Nisa ayat 11, “ Allah mensyariatkan (mewajibkan) kepadamu tentang (pembagian warisan untuk) anak-anakmu, (yaitu) bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan. Dan jika anak itu semuanya perempuan yang jumlahnya fauqotsnataini (maksudnya dua ke atas), maka bagian mereka 2/3 dari harta yang ditinggalkan. Jika dia (anak perempuan) itu seorang saja, maka dia memperoleh 1/2 (harta yang ditinggalkan). Dan untuk kedua ibu-bapak, bagian masing-masing 1/6 dari harta yang ditinggalkan, jika dia (yang meninggal) mempunyai anak. Jika dia (yang meninggal) tidak mempunyai anak dan dia diwarisi oleh kedua ibu bapaknya (saja), maka ibunya mendapat 1/3. Jika dia (yang meninggal) mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat 1/6. (pembagian-pembagian tersebut di atas) setelah (dipenuhi) wasiat yang dibuatnya atau (dan setelah dibayar) hutangnya. (Tentang) orangtuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih banyak manfaatnya bagimu. Ini adalah ketetapan Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.”

Ibnu Katsir menafsirkan bahwa sebagian pemikir mengambil istimbath dari firman Allah ini, “Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian waris untuk) anak-anakmu. Yaitu, bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan.” Bahwa Allah lebih sayang kepada makhluk-Nya daripada seorang ibu kepada anaknya. Di mana Allah mewasiatkan kepada kedua orangtua tentang anak-anak mereka. Maka dapatlah diketahui bahwa Allah lebih sayang kepada mereka daripada mereka sendiri. Selain kedua ayat di atas, ayat lain dalam Al-Qur’an yang mengatur rinci tentang hukum waris adalah surat An-Nisa ayat 12 dan ayat 17.

Rukun dan Syarat

Rukun waris ada 3, yakni pewaris, ahli waris, dan harta warisan. Pewaris adalah orang yang meninggal dunia dan ahli warisnya berhak untuk mewarisi harta peninggalannya. Ahli waris adalah mereka yang berhak untuk menguasai atau menerima harta peninggalan pewaris dikarenakan adanya ikatan kekerabatan ( nasab ), ikatan pernikahan, atau lainnya. Harta warisan adalah segala jenis benda atau kepemilikan yang ditinggalkan pewaris, baik berupa uang, tanah, dan sebagainya.

Syarat waris ada 3, yakni meninggalnya seseorang (pewaris) baik secara hakiki maupun secara hukum (misalnya dianggap telah meninggal), adanya ahli waris yang hidup secara hakiki pada waktu pewaris meninggal dunia, serta seluruh ahli waris diketahui secara pasti termasuk jumlah bagian masing-masing.

Peninggalan

Peninggalan adalah segala sesuatu yang ditinggalkan oleh pewaris, baik berupa harta (uang) atau lainnya. Termasuk dalam peninggalan ini adalah hutang piutang, baik yang berkaitan dengan pokok harta (misalnya harta yang berstatus gadai) maupun yang berkaitan dengan kewajiban pribadi yang harus ditunaikan seperti pembiayaan atau kredit yang harus ditunaikan.

Ada 3 ketentuan sebelum harta warisan diwariskan. Pertama, semua biaya pemakaman pewaris menggunakan harta milik pewaris dengan catatan tidak berlebihan. Kedua, hutang piutang yang masih ditanggung pewaris, ditunaikan terlebih dahulu. Ketiga, wajib memenuhi wasiat pewaris dengan catatan tidak melebihi jumlah sepertiga dari seluruh harta peninggalan yang sah diwariskan.

Ahli Waris

Berikut ini adalah ketentuan mengenai ahli waris berdasarkan pada kitab fikih Syafi’i Matan Ghoyah wat Taqrib (Matan Abi Syuja) .

Ahli waris dari laki-laki ada 10, yaitu:

  1. Anak laki-laki.
  2. Cucu laki-laki dan seterusnya ke bawah.
  3. Ayah.
  4. Kakek dan seterusnya ke atas.
  5. Saudara laki-laki.
  6. Anak laki-laki dari saudara laki-laki (keponakan) walaupun jauh (seperti anak dari keponakan).
  7. Paman.
  8. Anak laki-laki dari paman (sepupu) walaupun jauh.
  9. Suami.
  10. Bekas budak laki-laki yang dimerdekakan.

Ahli waris dari perempuan ada 7, yaitu:

  1. Anak perempuan.
  2. Anak perempuan dari anak laki-laki (cucu perempuan) dan seterusnya ke bawah.
  3. Ibu.
  4. Nenek dan seterusnya ke atas
  5. Saudara perempuan.
  6. Istri.
  7. Bekas budak perempuan yang dimerdekakan.

Hak waris yang tidak bisa gugur:

  1. Suami dan istri.
  2. Ayah dan ibu.
  3. Anak kandung (anak laki-laki atau perempuan).

Yang tidak mendapatkan waris ada 7, yaitu:

  1. Budak laki-laki maupun perempuan.
  2. Budak yang merdeka karena kematian tuannya ( mudabbar ).
  3. Budak wanita yang disetubuhi tuannya dan melahirkan anak dari tuannya ( ummul walad ).
  4. Budak yang merdeka karena berjanji membayarkan kompensasi tertentu pada majikannya ( mukatab ).
  5. Pembunuh yang membunuh orang yang memberi waris.
  6. Orang yang murtad.
  7. Berbeda agama.

Hukum waris juga mengenal adanya ashobah dan ashabul furudh . Ashobah  adalah orang yang mendapatkan warisan dari kelebihan harta setelah diserahkan pada ashabul furudh . Sedangkan ashabul furudh  adalah orang yang mendapatkan warisan berdasarkan kadar yang telah ditentukan dalam kitabullah. Berikut ini ketentuannya:

Kadar waris untuk  ashabul furudh :

  1. 1/2
  2. 1/4
  3. 1/8
  4. 2/3
  5. 1/3
  6. 1/6

Ashabul furudh yang mendapatkan 1/2 ada lima:

  1. Anak perempuan.
  2. Anak perempuan dari anak laki-laki (cucu perempuan).
  3. Saudara perempuan seayah dan seibu.
  4. Saudara perempuan seayah.
  5. Suami jika tidak memiliki anak atau cucu laki-laki.

Ashabul furudh yang mendapatkan 1/4 ada dua:

  1. Suami jika istri memiliki anak atau cucu laki-laki.
  2. Istri jika tidak memiliki anak atau cucu laki-laki.

Ashabul furudh yang mendapatkan 1/8: istri jika memiliki anak atau cucu laki-laki.

Ashabul furudh yang mendapatkan 2/3 ada empat:

  1. Dua anak perempuan atau lebih.
  2. Dua anak perempuan dari anak laki-laki (cucu perempuan) atau lebih.
  3. Dua saudara perempuan seayah dan seibu atau lebih.
  4. Dua saudara perempuan seayah atau lebih.

Ashabul furudh yang mendapatkan 1/3 ada dua:

  1. Ibu jika si mayit tidak dihajb.
  2. Dua atau lebih dari saudara laki-laki atau saudara perempuan  yang seibu.

Ashabul furudh yang mendapatkan 1/6 ada tujuh:

  1. Ibu jika memiliki anak atau cucu, atau memiliki dua atau lebih dari saudara laki-laki atau saudara perempuan.
  2. Nenek ketika tidak ada ibu.
  3. Anak perempuan dari anak laki-laki (cucu perempuan) dan masih ada anak perempuan kandung.
  4. Saudara perempuan seayah dan masih ada saudara perempuan seayah dan seibu.
  5. Ayah jika ada anak atau cucu.
  6. Kakek jika tidak ada ayah.
  7. Saudara laki-laki dan saudara perempuan seibu.

Urutan ‘ ashobah  dari yang paling dekat:

  1. Anak laki-laki.
  2. Anak dari anak laki-laki (cucu).
  3. Ayah.
  4. Kakek.
  5. Saudara laki-laki seayah dan seibu.
  6. Saudara laki-laki seayah.
  7. Anak laki-laki dari saudara laki-laki seayah dan seibu (keponakan).
  8. Anak laki-laki dari saudara laki-laki seayah (keponakan).
  9. Paman.
  10. Anak paman (sepupu).
  11. Jika tidak didapati  ‘ashobah , baru beralih ke bekas budak yang dimerdekakan.

Selain ketentuan mengenai ashobah dan ashabul furudh juga ada kondisi hajb. Hajb  atau penghalang dalam waris bisa diurai sebagai berikut:

  1. Nenek terhalang mendapatkan waris jika masih ada ibu.
  2. Kakek terhalang mendapatkan waris jika masih ada ayah.
  3. Saudara laki-laki seibu tidak mendapatkan waris jika masih ada anak (laki-laki atau perempuan), cucu (laki-laki atau perempuan), ayah dan kakek ke atas.
  4. Saudara laki-laki seayah dan seibu tidak mendapatkan waris jika masih ada anak laki-laki, cucu laki-laki, dan ayah.
  5. Saudara laki-laki seayah tidak mendapatkan waris jika masih ada anak laki-laki, cucu laki-laki, ayah dan saudara laki-laki  seayah dan seibu.

Yang menyebabkan saudara perempuan mendapatkan jatah separuh laki-laki karena adanya 4 orang:

  1. Anak laki-laki.
  2. Cucu laki-laki.
  3. Saudara laki-laki seayah dan seibu.
  4. Saudara laki-laki seayah.

Paman laki-laki, anak laki-laki dari paman (sepupu), anak laki-laki dari saudara laki-laki (keponakan) dan tuan yang membebaskan budak mendapatkan waris tanpa saudara-saudara perempuan mereka.

Demikian hukum waris dalam Islam, semoga bermanfaat.

 

Artikel ditulis oleh Tim Advika, keterangan lebih lanjut hubungi e-mail info@advikamedia.com



Artikel Terkait


  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu

Komentar Artikel "Mengenal Hukum Waris dalam Islam"