Mengenal Konsep Dasar Bisnis Syariah - Pegadaian Syariah
logo

Mengenal Konsep Dasar Bisnis Syariah

6 bulan yang lalu    
Mengenal Konsep Dasar Bisnis Syariah

Al-Qur’an menyebut kata tijarah untuk istilah bisnis (dagang) dan kata bay’ untuk istilah jual beli. Al-Qur’an juga menyebut kata tijarah sebanyak 8 kali dan kata bay’ sebanyak 6 kali. Mari kita simak 2 ayat yang membahas tentang Tijarah .

Ayat pertama adalah Al-Qur’an Surat An-Nisa ayat 29, “ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian saling memakan harta sesama kalian dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan (tijarah) yang berlaku dengan suka sama suka di antara kalian. Dan janganlah kalian membunuh diri kalian, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepada kalian .”

Ibnu Katsir menafsirkan bahwa Allah SWT melarang hamba-hamba-Nya yang beriman memakan harta sebagian dari mereka atas sebagian yang lain dengan cara yang batil, yakni melalui usaha yang tidak diakui oleh syariat, seperti dengan cara riba dan judi serta cara-cara lainnya yang termasuk ke dalam kategori tersebut dengan menggunakan berbagai macam tipuan dan pengelabuan. Sekalipun pada lahiriahnya cara-cara tersebut memakai cara yang diakui oleh hukum syara', tetapi Allah lebih mengetahui bahwa sesungguhnya para pelakunya hanyalah semata-mata menjalankan riba, tetapi dengan cara hailah (tipu muslihat). Demikianlah yang terjadi pada kebanyakannya.

Ibnu Katsir juga menegaskan bahwa ungkapan tijaratan atau tijaratun dalam ayat tersebut merupakan bentuk istitsna munqati' . Seakan-akan dikatakan, "Janganlah kalian menjalankan usaha yang menyebabkan perbuatan yang diharamkan, tetapi berniagalah menurut peraturan yang diakui oleh syariat, yaitu perniagaan ( tijarah ) yang dilakukan suka sama suka di antara pihak pembeli dan pihak penjual; dan carilah keuntungan dengan cara yang diakui oleh syariat."

Ayat berikutnya adalah Al-Qur’an Surat Fathir ayat 29, “ Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan salat dan menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan (tijarah) yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.”

Ibnu Katsir menafsirkan bahwa Allah SWT menceritakan tentang hamba-hamba-Nya yang beriman, yaitu orang-orang yang membaca kitab-Nya dan beriman kepadanya serta mengamalkan isi yang terkandung di dalamnya, antara lain mendirikan salat dan menginfakkan sebagian dari apa yang diberikan oleh Allah kepada mereka di waktu-waktu yang telah ditetapkan, baik malam ataupun siang hari, baik sembunyi-sembunyi ataupun terang-terangan.

Allah menegaskan bahwa jika kita melakukan hal tersebut, maka itulah indikasi aktivitas yang bisa menghadirkan perniagaan ( tijarah ) yang tidak akan merugi, baik perniagaan dalam arti bisnis material maupun bisnis spiritual berharap pahala di sisi Allah yang pasti mereka dapati, seperti yang telah disampaikan Ibnu Katsir bahwa " Sesungguhnya tiap-tiap orang itu berada di belakang perniagaannya, dan sesungguhnya kamu pada hari ini berada di belakang semua perniagaan ". Tujuan dari aktivitas tersebut ditegaskan pada ayat berikutnya yakni agar Allah menyempurnakan pahala amal perbuatan mereka dan melipatgandakannya dengan tambahan-tambahan yang belum pernah terdetik dalam kalbu mereka.

Dua ayat tersebut menegaskan bahwa jika ingin memperoleh harta secara halal, maka harus dilakukan dengan cara berbisnis atau berniaga ( tijarah ) yang memenuhi rukun dan syarat bisnis serta dilaksanakan secara rela sama rela. Ada 3 hal yang bisa dilakukan agar bisnis tidak merugi dalam arti material dan spiritual adalah membaca Al-Qur’an, mendirikan salat, dan menafkahkan harta secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan.

Sementara itu, Rasulullah SAW pun telah memberikan rumus sumber nafkah, sebagaimana diriwayatkan oleh Rifa'ah Ibnu Rafi' bahwa Nabi Muhammad SAW pernah ditanya, pekerjaan apakah yang paling baik? Beliau bersabda: " Pekerjaan seseorang dengan tangannya dan setiap jual-beli yang bersih ." Riwayat al-Bazzar. Hadits shahih menurut Hakim. [ Bulugh al Maram min Adillat al Ahkam, halaman 158 ].

Hadits tersebut mengungkap bahwa pekerjaan yang hasilnya bisa dimiliki sebagai sumber penghasilan yang layak, halal dan baik dipergunakan untuk pemenuhan nafkah adalah pekerjaan seseorang yang dari tangannya sendiri, dari keringatnya sendiri, serta jual beli ( bay’ ) yang tidak ada khianat, menghindari kecurangan dan kezhaliman. [ Ibaanat al Ahkaam Syarh Bulugh al Maram min Adillat al Ahkaam, Juz 3 halaman 2 ].

Ayat Al-Qur’an dan hadits tersebut memberikan rumusan bahwa berniaga ( tijarah ) yang sesuai syariah Islam adalah melalui jual beli ( bay’ ) yang bersih, tidak khianat, dan tentu saja terpenuhi rukun dan syaratnya. Selain jual beli ( bay’ ), ada model bisnis syariah berupa akad kongsi ( syirkah ). Namun, skema kongsi ini baru bisa menghasilkan keuntungan jika telah melalui skema jual beli. Pada saat kongsi, belum boleh ada kepastian adanya hasil. Harus melalui Kongsi terlebih dulu.

Jual beli dari sisi objeknya dibagi menjadi 3, yakni jual beli barang, jual beli manfaat dan jual beli harta ribawi. Pembagian objek jual beli ini menyebabkan kita bisa dengan mudah mengidentifikasi skema transaksi apa saja yang termasuk dalam bab jual beli yang merupakan bagian dari bisnis syariah.

Jual beli manfaat dibagi menjadi 2, yakni jual beli manfaat barang (sewa menyewa) dan jual beli manfaat perbuatan (jasa). Jual beli manfaat oleh Ibnu Rusyd dalam Kitab Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid disebut dengan ijarah dan ditegaskan memiliki hukum yang sama dengan jual beli.

Sementara itu, khusus jual beli harta ribawi harus memenuhi syarat sejenis, setara, setimbangan, sewaktu dan ada beberapa syarat lain tergantung harta ribawi yang diperjualbelikan. Harta ribawi ini terdiri dari emas, perak, kurma, garam, gandum burr, gandum sya’ir serta qiyas dari harta ribawi tersebut seperti mata uang.

Dengan demikian, siapapun yang melakukan jual beli dengan objek jual beli termaksud, maka otomatis ia sedang melakukan bisnis syariah. Pegawai berarti pebisnis oleh karena berjualan jasa. Tukang ojek adalah pebisnis karena berjualan jasa. Pemilik perusahaan juga pebisnis karena melakukan kongsi dan/atau jual beli. Pebisnis yang menjalankan rukun dan syarat bisnis ini otomatis disebut telah menjalankan bisnis syariah.

Kitab Fathul Qarib membagi jual beli yang sesuai syariah menjadi dua besaran, yakni jual beli barang yang bisa disaksikan barangnya dan jual beli sesuatu (barang atau manfaat) dalam pesanan yang sudah ditentukan spesifikasi objek jual belinya. Rumus ini juga yang menjadi landasan bolehnya transaksi bisnis online, dropship atau reselling asalkan barang atau jasa yang dipesan bisa diserahkan sesuai pesanan. Jika barang atau jasa yang dipesan belum sesuai pesanan maka ada pilihan membatalkan transaksi jual belinya.

Rukun akad bisnis syariah ini terdiri dari pelaku (para pihak), objek (barang, manfaat, harta ribawi dan harga) serta ijab qabul yakni shighat (ucapan atau serah terima jual beli dengan berbagai bentuk yang sah). Dalam rukun dan syarat jual beli tidak disebut bahwa pelakunya harus beragama Islam. Hal ini menjadi landasan bahwa bisnis syariah pun bisa dijalankan oleh nonmuslim.

Demikian konsep dasar bisnis syariah . Semoga kita semua bisa menjalankan bisnis sesuai Syariah. Amin.

 

Artikel ditulis oleh Tim Advika, keterangan lebih lanjut hubungi e-mail info@advikamedia.com



Artikel Terkait


  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu

Komentar Artikel "Mengenal Konsep Dasar Bisnis Syariah"