Mengurai Makna Idul Adha - Pegadaian Syariah
logo

Mengurai Makna Idul Adha

5 bulan yang lalu    
Mengurai Makna Idul Adha

Idul Adha adalah hari raya umat Islam yang diawali dengan salat Idul Adha dan ditandai dengan penyembelihan hewan kurban. Pelaksanaan penyembelihan hewan kurban ini bisa dilakukan pada tanggal 10 Dzulhijjah (setelah salat id) dan ditambah tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah (Hari Tasyriq).

Hari raya ini disebut iid an nahr atau iid al adh-haa karena pada hari itu terdapat syariat Islam berupa pelaksanaan udh-hiyah (sembelihan), sehingga Idul Adha bisa disebut juga dengan yaum al udh-hiyah (hari sembelihan). Perintah ibadah kurban bermula ketika Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim as untuk menyembelih putra tercintanya yakni Nabi Ismail as.

Dalam rangka mengurai hikmah dan makna Idul Adha , mari kita urai lagi sejarah Idul Adha. Menurut sejarah, Nabi Ibrahim as termasuk Nabi yang kaya raya. Kitab Misykat al Anwar menjelaskan bahwa konon, Nabi Ibrahim as memiliki kekayaan 1.000 ekor domba, 300 ekor lembu, dan 100 ekor unta. Riwayat lain menyatakan bahwa kekayaan Nabi Ibrahim as mencapai 12.000 ekor ternak. Jika disetarakan dengan nilai kekayaan saat ini, maka jelas bahwa Nabi Ibrahim as adalah miliuner.

Ketika Nabi Ibrahim ditanya siapa pemilik harta kekayaan itu, maka Nabi Ibrahim as menjawab, “ Kepunyaan Allah SWT, tapi kini masih milikku. Sewaktu-waktu bila Allah SWT menghendaki, aku serahkan semuanya. Jangankan cuma ternak, bila Allah SWT meminta anak kesayanganku Ismail, niscaya akan aku serahkan juga .”

Ibnu Katsir mengemukakan bahwa untuk menguji keimanan dan ketakwaan Nabi Ibrahim as, maka Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim as agar mengorbankan putranya, Nabi Ismail as yang saat itu masih berusia 7 tahun. Anak yang elok rupawan, sehat, cekatan agar disembelih dengan tangan Nabi Ibrahim as sendiri. Sungguh ujian yang dahsyat.

Perintah ini dinyatakan dalam Al-Qur’an Surat Ash Shaaffaat ayat 102, “ Ibrahim berkata: “Hai anakkku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu “maka fikirkanlah apa pendapatmu? Ismail menjawab: Wahai bapakku kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.”

Nabi Ibrahim as sempat digoda setan agar tidak menyembelih Nabi Ismail as dengan berbagai alasan. Peristiwa ini dikenal dengan ritual melempar jumrah. Namun Nabi Ibrahim tetap menjalankan perintah Allah SWT. Di saat Nabi Ibrahim as tawakkal pasrah total kepada Allah SWT, Dia mengganti Nabi Ismail as dengan kambing sebagai Kurban, sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat Ash Shaaffaat ayat 107-110, “ Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim (pujian yang baik) dikalangan orang-orang yang datang kemudian. Yaitu kesejahteraan semoga dilimpahkan kepada Nabi Ibrahim. Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.”

Sejarah ini telah membuktikan bahwa Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as dengan ikhlas hati melaksanakan perintah Allah SWT. Atas ketabahan dan kesabarannya, Nabi Ibrahim as diberi gelar Khalilullah (kekasih Allah).

Ajaran ini diikuti oleh Rasulullah SAW dan umatnya hingga saat ini. Ada beberapa makna Idul Adha dan ibadah kurban yang bisa kamu cermati dan kamu jadikan renungan hikmah untuk menjalankan aktivitas sehari-hari.

Pertama , makna ikhlas menjalankan perintah Allah SWT. Ini adalah makna utama dan pertama yang bisa kita teladani dari peristiwa ibadah kurban. Kita meneladani peristiwa sejarah kurban ini untuk terus mematuhi perintah Allah SWT (apapun itu perintah-Nya) dan menjauhi larangan Allah SWT (apapun itu larangan-Nya) tanpa mempertimbangkan logis atau tidaknya perintah Allah SWT itu. Inilah hakikat dari takwa.

Kedua , makna ikhlas atas cobaan yang menimpa. Rasa-rasanya, cobaan yang dihadapi oleh Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as adalah cobaan yang sangat berat jika kita bayangkan ada dalam posisi beliau. Nabi Ibrahim as membuktikan keikhlasan dalam rangka menyerahkan salah satu hal paling berharga yaitu putra tercintanya sendiri kepada Allah SWT, sementara Nabi Ismail as juga pasrah kepada ayahnya ketika memang itu adalah perintah Allah SWT.

Dengan demikian, ujian seberat apapun, asalkan itu merupakan kebenaran, bukan dalam rangka maksiat namun dalam rangka ketaatan kepada Allah SWT, insyaallah ada hikmah terbaik yang diperoleh kelak.

Ketiga , makna kedekatan. Idul Adha disebut juga Idul Kurban. Sesuai maknanya, kurban berasal dari kata qaraba yang artinya dekat. Dengan demikian Idul Adha memiliki makna bagi kita untuk terus mendekatkan diri kepada Allah dalam kondisi apapun.

Selain mendekatan diri kepada Allah SWT, Idul Kurban bisa bermakna sebagai sarana mendekatkan diri kepada keluarga dan sanak saudara. Perlu diketahui bahwa kurban boleh dilakukan atas nama diri sendiri dan keluarga. Daging kurban juga boleh dimakan sendiri dan keluarga.

Keempat , makna silaturahim. Di Indonesia, Idul Adha ditandai dengan mudik ke kampung halaman, meskipun tidak semeriah Idul Fitri. Mudik ini tentu saja dilakukan dalam rangka untuk terus bisa menjamin silaturahim dengan sanak saudara dan tetangga di kampung. Ketika kita tidak mudik, maka Idul Adha menyebabkan kita berinteraksi dengan tetangga dan masyarakat sekitar dalam rangka pelaksanaan salat Idul Adha dan penyembelihan hewan kurban.

Salat Idul Adha dan penyembelihan hewan kurban juga disunnahkan dilaksanakan di lapangan terbuka ( Fiqh as Sunnah Juz 2 halaman 378). Menurut Kitab Ahkaam ad Diin halaman 32, penyembelih hewan kurban juga disunnahkan dilaksanakan oleh shahibul kurban (orang yang memiliki hajat menjalankan ibadah kurban). Hal ini semakin memperlancar silaturahim antar sesama.

Kelima , makna solidaritas kepada sesama. Daging kurban boleh dimakan oleh shahibul kurban dan keluarganya, disedekahkan kepada orang yang tidak mampu, dan dihibahkan ( Syarh al Muhadzdzab Juz 8 halaman 416). Hal ini menunjukkan bahwa ibadah kurban memberikan kesempatan kepada kita untuk mempererat solidaritas kepada sesama, berbagi dengan orang lain, berbagi dengan orang tidak mampu dan masyarakat sekitar.

Keenam , makna pengorbanan. Ibadah kurban megajarkan kita untuk menyadari bahwa dalam mencapai sesuatu, harus siap ada pengorbanan. Ketika kita menginginkan pencapaian yang tinggi, bersiaplah memberikan pengorbanan yang tinggi. Prestasi besar membutuhkan pengorbanan yang besar. Prestasi menjadi orang yang mulia di sisi Allah juga tentu membutuhkan pengorbanan yang besar.

Ketujuh , semuanya milik Allah SWT. Kita harus menyadari bahwa apa yang ada di langit dan bumi ini adalah milik Allah SWT. Semua harta benda yang kita miliki, sejatinya adalah milik Allah SWT. Bahkan diri kita sendiri adalah milik Allah SWT. Dia bisa sewaktu-waktu mencabut nikmat yang ada pada diri kita.

Demikian uraian hikmah dan makna Idul Adha , semoga ibadah kurban kita diterima di sisi Allah SWT sebagai amal kebaikan. Amin.

 

Artikel ditulis oleh Tim Advika, keterangan lebih lanjut hubungi e-mail info@advikamedia.com



Artikel Terkait


  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu

Komentar Artikel "Mengurai Makna Idul Adha"