Perencanaan Keuangan ala Nabi dan Rasul - Pegadaian Syariah
logo

Perencanaan Keuangan ala Nabi dan Rasul

5 bulan yang lalu    
Perencanaan Keuangan ala Nabi dan Rasul

Rasulullah SAW bersabda, “ Jika seseorang telah meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, do’a anak yang sholeh ” (HR. Muslim). Hadits ini menyebutkan bahwa salah satu perkara amalan yang tidak putus setelah meninggal adalah sedekah jariyah.

Tidak mungkin ada sedekah tanpa harta. Oleh sebab itu, pengelolaan harta khususnya pengelolaan keuangan menjadi sangat penting. Berikut ini adalah perencanaan keuangan ala Nabi dan Rasul yang perlu kamu ketahui.

Pertama, memastikan sumber dan peruntukan harta harus halal. Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 168-169, “ Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui. ” Sebagaimana juga sabda Rasulullah SAW, “ Tidaklah melangkah kaki seorang anak Adam di hari kiamat sebelum ditanyakan kepadanya empat perkara: tentang umurnya untuk apa dihabiskan, tentang masa mudanya untuk apa digunakan, tentang hartanya dari mana diperoleh dan ke mana dihabiskan, dan tentang ilmunya untuk apa dimanfaatkan ” (HR. Tirmidzi).

Hadits ini menegaskan bahwa hal utama di dalam mengelola uang harus selalu berpedoman pada prinsip memeroleh uang dari sumber yang halal serta membelanjakan uang juga untuk transaksi halal.

Kedua, membiasakan untuk bersedekah. Rasulullah SAW bersabda, “ Janganlah engkau menyimpan harta (tanpa menyedekahkannya). Jika tidak, maka Allah akan menahan rizki untukmu .” Dalam riwayat lain disebutkan, “ Infaqkanlah hartamu. Janganlah engkau menghitung-hitungnya (menyimpan tanpa mau menyedekahkan). Jika tidak, maka Allah akan menghilangkan barokah rizki tersebut. Janganlah menghalangi anugerah Allah untukmu. Jika tidak, maka Allah akan menahan anugerah dan kemurahan untukmu ” (HR. Bukhori dan Muslim).

Hadits tersebut menegaskan bahwa aktivitas yang bisa menyebabkan uang kamu tidak berkurang bahkan bertambah adalah sedekah. Hal ini diperkuat oleh Hadits Rasulullah SAW, “ Harta tidak akan berkurang dengan disedekahkan ” (HR. Tirmidzi).

Ada sedekah wajib yang harus kamu tunaikan yakni zakat. Rasulullah SAW bersabda, " Sesungguhnya Allah telah mewajibkan mereka zakat dari harta mereka yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan dibagikan kepada orang-orang fakir di antara mereka " (Muttafaq Alaihi). Ketentuan zakat harus mengikuti dalil perintah oleh karena zakat termasuk dalam fikih ibadah.

Ketiga, menabung. Rasulullah SAW juga mengajarkan kepada kita untuk menabung dalam rangka persiapan hidup di masa depan, baik untuk diri sendiri, untuk keluarga maupun dalam rangka beramal untuk lingkungan sekitar. Rasulullah SAW bersabda, “Simpanlah sebagian dari harta kamu untuk kebaikan masa depan kamu, karena itu jauh lebih baik bagimu” (H.R Bukhari).

Namun, Rasulullah SAW melarang kita untuk menimbun uang, sebagaimana Hadits beliau, " Tidak akan menimbun (barang) kecuali orang yang berdosa " (HR. Muslim). Ketika kamu menyimpan harta dalam bentuk emas, maka ada ketentuan zakat yang harus dikeluarkan ketika sudah mencapai haul dan nishab zakat.

Keempat, dikelola untuk kongsi bisnis dan investasi. Rasulullah SAW menegaskan keutamaan kongsi usaha sebagaimana hadits beliau, " Allah berfirman, ‘Aku menjadi orang ketiga dari dua orang yang bersekutu selama salah seorang dari mereka tidak berkhianat kepada temannya. Jika ada yang berkhianat, aku keluar dari (persekutuan) mereka’" (HR. Abu Dawud).

Kita juga diajarkan untuk melakukan investasi, sebagaimana hadits, " tiga hal yang di dalamnya ada berkah adalah jual beli bertempo, ber-qiradl (memberikan modal kepada seseorang hasil dibagi dua), dan mencampur gandum dengan sya'ir untuk makanan di rumah, bukan untuk dijual " (HR. Ibnu Majah). Hadits tersebut juga menegaskan bahwa ada keberkahan dalam hutang atas jual beli dan hutang amanah dalam bisnis.

Kelima, amanah dalam berhutang. Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa utang uang kepada orang lain dan berniat akan mengembalikannya, maka Allah akan luluskan niatnya itu; tetapi barangsiapa mengambilnya dengan niat akan membinasakan (tidak membayar), maka Allah akan merusakkan dia" (Riwayat Bukhari)

Tidak ada larangan dalam berhutang, bahkan Allah SWT mengabadikan bahasan hutang dalam ayat terpanjang dalam Al-Qur’an yakni Surat Al-Baqarah ayat 282. Ada berkah dalam berhutang, ada bencana dalam berhutang. Berkah dalam hutang bisa diraih dengan mengedepankan amanah dalam berhutang.

Jangan lupa siapkan harta yang bisa digadaikan. Hal ini pernah dicontohkan Rasulullah SAW sebagaimana Hadits dari ‘Aisyah ra, “ Rasulullah SAW membeli makanan dari seorang Yahudi dengan pembayaran tempo dan beliau menggadaikan baju perangnya ” (Muttafaq Alaih).

Bagi kamu yang memiliki harta gadai, kamu bisa menggadaikannya di Pegadaian Syariah jika kamu memerlukan pembiayaan konsumtif maupun produktif. Produk yang bisa kamu pilih adalah Rahn (gadai syariah) , Rahn Hasan (gadai kebajikan) , Rahn Tasjily Tanah (gadai sertifikat tanah) , dan Arrum BPKB (gadai BPKB kendaraan dalam rangka modal kerja).

Keenam, menggunakannya untuk wakaf. Ibnu Umar berkata: Umar ra memperoleh bagian tanah di Khaibar, lalu menghadap Rasulullah SAW untuk meminta petunjuk dalam mengurusnya. Ia berkata, “ Wahai Rasulullah, aku memperoleh sebidang tanah di Khaibar, yang menurutku, aku belum pernah memperoleh tanah yang lebih baik daripadanya. ” Beliau bersabda, " Jika engkau mau, wakafkanlah pohonnya dan sedekahkanlah hasil (buah)nya ." Ibnu Umar berkata, “ Lalu Umar mewakafkannya dengan syarat pohonnya tidak boleh dijual, diwariskan, dan diberikan. Hasilnya disedekahkan kepada kaum fakir, kaum kerabat, para hamba sahaya, orang yang berada di jalan Allah, musafir yang kehabisan bekal, dan tamu. Pengelolanya boleh memakannya dengan sepantasnya dan memberi makan sahabat yang tidak berharta ” (Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut riwayat Muslim) Dalam riwayat Bukhari disebutkan, Umar menyedekahkan pohonnya dengan syarat tidak boleh dijual dan dihadiahkan, tetapi disedekahkan hasilnya.

Hadits tersebut menegaskan urgensi wakaf dalam perencanaan harta dan keuangan menurut Rasulullah SAW.

Ketujuh, persiapkan waris dan wasiat. Hal penting yang harus kamu perhatikan terkait perencanaan keuangan masa depan adalah waris dan wasiat. Rasulullah SAW bersabda, " Berikan bagian warisan kepada ahli warisnya, selebihnya adalah milik laki-laki yang paling dekat " (Muttafaq Alaihi).

Sedangkan dalam hal wasiat, Rasulullah SAW bersabda, " Seorang Muslim tidak berhak mewasiatkan sesuatu yang ia miliki kurang dari dua malam (hari), kecuali jika wasiat itu tertulis disisinya " (Muttafaq Alaihi).

Terkait harta yang boleh diwasiatkan, Saad Ibnu Waqqash ra berkata, “Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku mempunyai harta dan tidak ada yang mewarisiku kecuali anak perempuanku satu-satunya. Bolehkah aku bersedekah dengan dua pertiga hartaku?” Beliau menjawab, " Tidak boleh ." Aku bertanya, “ Apakah aku menyedekahkan setengahnya? ” Beliau menjawab, " Tidak boleh ." Aku bertanya lagi, “ Apakah aku sedekahkan sepertiganya?” Beliau menjawab, " Ya, sepertiga, dan sepertiga itu banyak. Sesungguhnya engkau meninggalkan ahli warismu kaya lebih baik daripada engkau meninggalkan mereka dalam keadaan fakir meminta-minta kepada orang " (Muttafaq Alaihi).

Demikian perencanaan keuangan ala Nabi dan Rasul. Semoga bermanfaat. Amin.

 

Artikel ditulis oleh Tim Advika, keterangan lebih lanjut hubungi e-mail info@advikamedia.com

 



Artikel Terkait


  3 tahun yang lalu
  3 tahun yang lalu
  3 tahun yang lalu
  3 tahun yang lalu

Komentar Artikel "Perencanaan Keuangan ala Nabi dan Rasul"