Rukun Jual Beli dalam Islam yang Perlu Kamu Ketahui - Pegadaian Syariah
logo

Rukun Jual Beli dalam Islam yang Perlu Kamu Ketahui

5 bulan yang lalu    
Rukun Jual Beli dalam Islam yang Perlu Kamu Ketahui

عن رفاعة بن رافع ، انَّ النبيّ صلى الله عليه وسلم سئل : اىُّ الكسب اطيب؟ قال: عمل الرّجل بيده وكلّ بيعٍ مبروْرٍ. رواهُ البزّارُ وصحّحهُ الحاكم

"Dari Rifa’ah bin Rafi’ RA. Bahwa nabi Muhammad SAW pernah ditanya: ‘Pekerjaan apakah yang paling baik?’ beliau menjawab: ‘Pekerjaan seseorang dengan tangannya sendiri dan setiap jual beli yang baik’ (Hadist Riwayat al-Bazzar dan dinilai Shahih oleh Imam Hakim).”

---

Jual beli adalah pertukaran barang dengan barang atau barang dengan manfaat dalam rangka kepemilikan atas barang atau manfaat tersebut. Salah satu aspek terpenting yang menyebabkan sah atau tidaknya transaksi jual beli adalah rukun jual beli. Ketika ada satu saja rukun yang tidak terpenuhi, maka otomatis jual beli menjadi tidak sah atau batil. Selain rukun, ada juga syarat sah jual beli. Syarat merupakan kriteria yang harus dipenuhi dan melekat pada setiap rukun jual beli.

Berikut ini adalah rukun jual beli yang perlu kamu ketahui, beserta syarat yang harus dipenuhi pada setiap rukunnya.

Pertama, adanya pihak yang berakad (aqidain). Pihak yang berakad dalam jual beli adalah penjual dan pembeli. Penjual dan pembeli ini sama-sama harus berakal. Oleh sebab itu, tidak sah jika penjual atau pembelinya adalah orang gila, meskipun objek yang diperjualbelikan adalah milik orang gila tersebut.

Penjual dan pembeli juga sudah baligh atau dewasa. Secara hukum, anak-anak tidak sah melakukan jual beli yang berkonsekuensi hukum, karena dikhawatirkan terjadi penipuan. Namun, anak-anak bisa melakukan jual beli jika urf /kebiasaan yang berlaku demikian, asalkan kelazimannya tidak terjadi penipuan.

Penjual dan pembeli melakukan jual beli atas kehendak sendiri, bukan karena paksaan. Penjual atau pembeli boleh saja menjadi wakil atau pihak yang diberi kuasa atas jual beli tersebut.

Contohnya adalah jual beli emas tidak tunai (cicil emas) di Pegadaian Syariah . Penjualnya adalah pihak Pegadaian Syariah dan pembelinya adalah nasabah. Pihak Pegadaian Syariah dan nasabah harus sama-sama cakap hukum. Boleh ada kuasa beli ( wakalah ) dari Pegadaian Syariah kepada nasabah untuk selanjutnya barang tersebut dijual oleh Pegadaian Syariah kepada nasabah setelah sebelumnya secara prinsip barang sudah sah milik Pegadaian Syariah.

Kedua, adanya objek akad. Objek akad ini bisa berupa barang atau aset ( ayn ), bisa berupa manfaat, bisa juga berupa harta ribawi (yang paling populer adalah uang atau alat tukar). Termasuk dalam objek akad jual beli adalah adanya tsaman atau harga yang biasanya ditandai dengan adanya harta ribawi tersebut.

Objek jual beli ini harus suci dan bukan zat haram, kecuali barang yang dibutuhkan untuk keperluan darurat ( dharuriyat) misalnya dalam rangka keperluan pengobatan, misalnya cacing, alkohol, ular, dan sejenisnya. Kriteria darurat dalam hal barang adalah ketika barang tersebut bisa mencegah terjadinya kerusakan, kemusnahan dan kematian. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 173:

فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ

Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas maka tidak ada dosa baginya ” (Al-Baqarah: 2:173).

 

Hal ini juga terdapat dalam kaidah fiqhiyah

إِذَا تَزَاحَمَتِ الْمَصَالِحُ قُدِّمَ اْلأَعْلَى مِنْهَا وَإِذَا تَزَاحَمَتِ الْمَفَاسِدُ قُدِّمَ اْلأَخَفُّ مِنْهَا

 

“Jika ada beberapa kemaslahatan bertabrakan, maka maslahat yang lebih besar (lebih tinggi) harus didahulukan. Dan jika ada beberapa mafsadah (bahaya, kerusakan) bertabrakan, maka yang dipilih adalah mafsadah yang paling ringan.”

Objek jual beli juga harus bernilai dan bermanfaat. Definisi manfaat ini akan beranekaragam. Setiap orang memiliki kriteria yang berbeda-beda dalam memaknai apakah objek jual beli tersebut memiliki nilai manfaat atau tidak. Tolok ukurnya adalah ketika barang tersebut bisa dimanfaatkan oleh pembelinya asalkan tidak melanggar syariah Islam.

Objek jual beli harus dimiliki oleh penjual. Tidak boleh menjual barang yang belum sah dimiliki. Cara agar barang sah milik adalah ketika rukun dan syarat jual beli sudah dipenuhi. Setelah sah miliki, maka barang bisa diperjualbelikan kembali.

Objek jual beli juga harus bisa disaksikan dan diserahkan. Jika objeknya berupa barang, maka barang itu bisa dilihat dan diserahkan secara fisik. Jika objeknya berupa manfaat, maka manfaat itu bisa dihadirkan dan diserahkan nilai gunanya kepada pembeli. Terkait dengan teknis penyerahan barang dan manfaat, bisa diatur sesuai jenis jual belinya. Ketika skema jual belinya adalah jual beli pesanan, maka pada waktu yang telah ditentukan dalam pesanan, objek tersebut bisa benar-benar diserahkan sesuai pesanan.

Contohnya adalah produk Tabungan Emas di Pegadaian Syariah. Transaksi yang terjadi ketika nasabah menyetorkan uang adalah membeli emas senilai dengan uang yang disetorkan. Aktivitas ini disebut jual beli oleh karena terjadi pertukaran antara uang dengan emas. Objek akadnya adalah emas, yang mana bernilai dan bermanfaat. Emasnya benar-benar ada dan dipersiapkan oleh pihak Pegadaian Syariah, bisa diserahkan kepada nasabah, dan barang tersebut milik Pegadaian Syariah yang dibeli dari supplier misalnya Antam atau UBS. Barang tersebut juga bisa benar-benar diserahkan sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam jual beli emas secara tabungan tersebut.

Ketiga, adanya ijab kabul. Ijab kabul adalah shighat akad , yakni komunikasi transaksi sebagai bukti serah terima ( qabdh ) objek akad dari penjual kepada pembeli. Ada beberapa jenis serah terima dalam akad, yakni qabdh hukmi dan qabdh haqiqi. Semua qabdh ini bermuara kepada urf .

Qabdh hukmi adalah serah terima yang ditandai dengan keabsahan dari sisi hukum. Misalnya ketika terjadi jual beli kendaraan bermotor, maka qabdh hukmi -nya adalah ditandai dengan bukti kepemilikan berupa BPKB. Oleh sebab itu, pada transaksi berbasis qabdh hukmi biasanya yang diagunkan adalah bukti kepemilikannya oleh karena secara hukum mengikat kuat sebagai bukti kepemilikan atas barang.

Qabdh haqiqi adalah serah terima secara hakikat yang tidak memerlukan keabsahan dari sisi hukum. Misalnya ketika melakukan jual beli makanan, maka serah terimanya dilakukan dengan menyerahkan fisik makanan dan makanan tersebut bisa dikuasai pembeli dan bisa dimakan.

Qabdh urf adalah muara dari qabdh hukmi dan qabdh haqiqi . Serah terima atas transaksi jual beli bisa dilakukan secara hukmi atau haqiqi atau dengan teknis tertentu akan merujuk kepada urf (adat atau kebiasaan) yang berlaku di masyarakat. Misalnya di masyarakat tertentu ada yang melakukan kebiasaan bahwa qabdh dalam jual beli itu harus ada pengucapan, “Saya jual barang A kepada kamu dengan harga Rp1 juta”, kemudian pembeli juga mengucapkan, “Saya beli barang A tersebut dari kamu dengan harga Rp1 juta”, kemudian keduanya bersepakat secara lisan.

Namun, ada juga kebiasaan dalam jual beli yang tidak memerlukan ucapan dalam rangka serah terima barang. Misalnya jual beli di swalayan, minimarket, atau supermarket. Pembeli tinggal menyodorkan barang yang ia beli ke kasir, kemudian kasir menghitung harga barang dengan mesin sensor harga, kemudian ada harga total yang harus dibayarkan oleh pembeli. Antara kasir dan pembeli tidak wajib ada komunikasi lisan asalkan kedua belah pihak sudah paham dan tidak terjadi kezhaliman. Transaksi ini sah sesuai syariah Islam bahwa telah terjadi jual beli antara penjual (yang diwakili oleh kasir) dengan pembeli.

Contoh lainnya yaitu ijab kabul pada produk Tabungan Emas berawal ketika nasabah membuka rekening dengan mengisi formulir dan menyerahkan berkas persyaratan yang dibutuhkan. Pada saat nasabah setor dana, terjadilah pertukaran uang dengan saldo emas (jual beli emas) dengan bukti kepemilikan emas sebesar saldo yang tercantum dalam buku tabungan. Selanjutnya, emas tersebut benar-benar bisa diserahkan secara fisik jika nasabah menginginkannya.

Demikian rukun jual beli dalam Islam yang perlu kamu ketahui. Semoga bermanfaat.



Artikel Terkait


  3 tahun yang lalu
  3 tahun yang lalu
  3 tahun yang lalu
  3 tahun yang lalu

Komentar Artikel "Rukun Jual Beli dalam Islam yang Perlu Kamu Ketahui"