Teladani 3 Kisah Sahabat Nabi yang Sukses Berbisnis - Pegadaian Syariah
logo

Teladani 3 Kisah Sahabat Nabi yang Sukses Berbisnis

2 minggu yang lalu    
Teladani 3 Kisah Sahabat Nabi yang Sukses Berbisnis

Ada banyak sahabat Nabi yang hidup pada masa Rasulullah SAW dan setelah baginda wafat. Namun di antara sekian banyak sahabat Nabi tersebut , ada beberapa sahabat yang memiliki kelebihan khusus yakni di bidang bisnis. Berikut ini 3 kisah sahabat Nabi yang sukses dalam berbisnis, yakni Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf dan Urwah Al Bariqi.

Usman bin Affan

Usman bin Affan ra merupakan sosok pribadi yang ksatria di medan kedermawanan, kemurahan hati dan infak, karena ia menggunakan seluruh harta benda yang ia punya untuk pengabdian terhadap Islam dan kaum Muslimin sejak ia masuk Islam hingga meninggal dunia. Beliau turut serta dalam semua peperangan bersama Rasulullah SAW, kecuali Perang Badar.

Ada beberapa kisah menarik terkait pribadi Utsman ra. Salah satu kisah populer terkait dengan strategi bisnisnya terjadi saat para sahabat Rasulullah berhijrah dari Mekah ke Madinah, mereka mengeluhkan minimnya persediaan air tawar di Madinah.

Di Madinah, tidak terlalu jauh dari Masjid Nabawi, ada sebuah properti sebidang tanah dengan sumur yang tidak pernah  kering sepanjang tahun. Sumur itu dikenal dengan nama Sumur Ruma karena dimiliki seorang Yahudi bernama Ruma.

Sang Yahudi menjual air kepada penduduk Madinah dan setiap hari orang antri untuk membeli airnya. Di waktu-waktu tertentu, sang Yahudi menaikkan seenaknya harga airnya dan rakyat Madinah pun terpaksa harus tetap membelinya karena hanya sumur inilah yang tidak pernah kering.

Melihat kenyataan ini, Rasulullah berkata, “Kalau ada yang bisa membeli sumur ini, balasannya adalah surga.” Usman bin Affan ra. mendekati sang Yahudi dan menawarkan untuk membeli sumurnya, namun ditolaknya karena ini adalah bisnisnya dan ia mendapat banyak uang dari bisnisnya.

Tetapi Usman bukan hanya pebisnis sukses yang kaya raya, tetapi ia juga negosiator ulung. Ia bilang kepada Ruma, “Aku akan membeli setengah dari sumurmu dengan harga yang pantas, jadi kita bergantian menjual air, hari ini kamu, besok saya.”

Melalui negosiasi yang sangat ketat, akhirnya sang Yahudi mau menjual sumurnya senilai 1 juta dirham dan memberikan hak pemasaran 50% kepada Usman bin Affan ra. Ternyata Usman menggratiskan air tersebut kepada semua penduduk Madinah. Penduduk pun mengambil air sepuas puasnya sehingga hari keesokannya mereka tidak perlu lagi membeli air dari Ruma sang Yahudi. 

Merasa kalah, sang Yahudi akhirnya menyerah. Ia meminta sang Utsman untuk membeli semua kepemilikan sumur dan tanahnya, namun Beliau tidak harus membayar lagi seharga yang telah disepakati sebelumnya. Sampai sekarang di Madinah, sumur tersebut dikenal dengan nama Sumur Usman dan tanah luas di sekitar sumur tersebut menjadi sebuah kebun kurma yang diberi air dari sumur tersebut.

Kebun kurma tersebut dikelola oleh badan wakaf pemerintah Arab Saudi sampai hari ini dan hasilnya diekspor ke berbagai negara di dunia. Hasil pendapatannya diberikan untuk anak yatim piatu dan dana pendidikan. Sebagian lagi dikembangkan menjadi hotel dan proyek proyek lainnya dan dimasukkan kembali pada sebuah rekening tertua di dunia atas nama Usman bin Affan.

Abdurrahman bin Auf

Abdurrahman bin Auf memang pebisnis yang handal. Dengan modal secukupnya, Beliau berjualan keju dan minyak samin serta bangkit dan mampu menikah dengan salah satu perempuan Anshar. Setelah menikah dengan memberi mahar sebutir emas, atau setara dengan berat sebutir kurma, Rasulullah SAW memintanya mengadakan walimah. Ini adalah pertanda, bahwa pernikahan sesederhana apa pun harus dilanjutkan dengan walimah meskipun hanya dengan menyembelih seekor kambing.

Rasulullah SAW juga sangat menghargai kemandirian Abdurrahman bin Auf dalam hal ekonomi. Nabi SAW bersabda,  “Seorang yang mencari kayu lalu memanggulnya lebih baik daripada orang yang mengemis yang kadangkala diberi atau ditolak” (H.R. Bukhari). Pesan ini membuat seluruh Muslimin yang ada di Madinah bangkit dan bekerja menjadi petani, pedagang, dan buruh. Tidak ada seorang pun yang menganggur, termasuk kaum perempuan.

Dalam beberapa waktu, Abdurrahman bin Auf menjadi orang kaya dan Rasulullah SAW, berkata kepadanya,  “Wahai Abdurrahman bin Auf, kamu sekarang menjadi orang kaya dan kamu akan masuk surga dengan merangkak (mengingsut). Pinjamkanlah hartamu agar lancar kedua kakimu” (H.R. Al-Hakim).

Pernyataan itu membuat Abdurrahman bin Auf berpikir keras dan banyak menginfakkan hartanya di jalan Allah SWT. Beliau berkata, “Kalau bisa aku ingin masuk surga dengan melangkah (berjalan kaki).” Ia berlomba dengan pebisnis lain, yaitu  Ustman bin Affan dalam bersedekah. Abdurrahman bin Auf memberikan separuh hartanya untuk dakwah Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW berkata,  “Semoga Allah SWT memberkahi apa yang kamu tahan dan kamu berikan.“ Abdurrahman bin Auf hartanya menjadi berlipat ganda sehingga ia tak pernah merasa kekurangan.

 

Urwah Al Bariqi

Urwah Al Bariqi adalah salah satu pengusaha yang pandai berkomunikasi, membangun relasi, dan negosiasi. Ada beberapa cerita tentang kemampuan bisnis Urwah, di antaranya ketika Urwah diberi uang satu dinar oleh Rasulullah SAW untuk membeli seekor kambing. Kemudian Beliau membeli dua ekor kambing dengan harga satu dinar. Ketika ia menuntun kedua ekor kambing itu, tiba-tiba seorang lelaki menghampirinya dan menawar kambing tersebut. Maka ia jual satu ekor kambing dengan harga satu dinar. Beliau pun menghadap Rasulullah SAW dengan membawa satu dinar dan satu ekor kambing. Rasulullah SAW lalu meminta penjelasannya dan Urwah ceritakan kejadiannya, maka Rasulullah SAW pun berdoa, “ Ya Allah berkatilah Urwah dalam bisnisnya .”

Cerita tersebut menampakkan bahwa Urwah pintar berbisnis. Selain itu, Urwah merupakan pribadi yang jujur dan amanah dengan menceritakan kejadian yang sesungguhnya bahkan menceritakan juga jumlah keuntungan yang ia peroleh, padahal Rasulullah SAW hanya membutuhkan 1 ekor kambing atas uang 1 dinar yang diberikan kepada Urwah. Dalam suatu riwayat, Urwah juga dikisahkan bisa menjual semua barang yang ada di tangannya.

Demikian teladan kisah sahabat Nabi yang sukses berbisnis. Semoga kita bisa meniru perilaku bisnis para sahabat Nabi. Amin.

 

Artikel ditulis oleh Tim Advika, keterangan lebih lanjut hubungi e-mail info@advikamedia.com



Artikel Terkait


  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu

Komentar Artikel "Teladani 3 Kisah Sahabat Nabi yang Sukses Berbisnis"