Tiru Cara Berdagang Rasulullah SAW Agar Sukses dan Berkah - Pegadaian Syariah
logo

Tiru Cara Berdagang Rasulullah SAW Agar Sukses dan Berkah

7 bulan yang lalu    
Tiru Cara Berdagang Rasulullah SAW Agar Sukses dan Berkah

Rasulullah SAW adalah seorang pedagang. Rasulullah SAW telah memberikan teladan bisnis yang sukses dan barakah. Sukses dalam bisnis adalah ketika bisnisnya berhasil menyebabkan sedekah jariyah yang maksimal. Rasulullah SAW bersabda, “ Jika seseorang telah meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, do’a anak yang sholeh ” (HR. Muslim). Sedangkan barakah dalam bisnis adalah bertambahnya kebaikan yang disebabkan oleh keberadaan bisnis tersebut.

Ada banyak cara berdagang Rasulullah SAW, sebanyak hadits yang membahas tentang bisnis. Berikut ini adalah sebagian dari cara berdagang Rasulullah SAW yang bisa kita tiru agar binis kita juga sukses dan berkah.

Pertama, bisnis dengan tenaga dan kemampuan sendiri serta bisnis yang bersih. Dari Rifa'ah Ibnu Rafi' bahwa Rasulullah SAW pernah ditanya, “ Pekerjaan apakah yang paling baik? Beliau bersabda: ‘ Pekerjaan seseorang dengan tangannya dan setiap jual-beli yang bersih ’” (HR al-Bazzar, hadits shahih menurut Hakim).

Bisnis yang dilakukan Rasulullah SAW adalah bisnis dengan ikhtiar sendiri, dengan tenaga sendiri, dengan keahlian sendiri. Artinya, seorang pebisnis harus punya modal, baik berupa modal barang, uang maupun keahlian. Hadits ini juga menjadi landasan bahwa seorang karyawan yang berjualan jasa keahlian kepada perusahaan tempat ia kerja juga merupakan aktivitas bisnis sesuai syariah Islam. Berikutnya, bisnis harus bersih, yakni dijalankan sesuai syariah Islam, tidak melanggar larangan Syariah Islam dalam bisnis.

Kedua, tidak melakukan transaksi gharar. Abu Hurairah ra berkata, “ Rasulullah SAW melarang jual-beli dengan cara melempar batu dan jual-beli gharar (yang belum jelas harga, barang, waktu dan tempatnya) ” (HR Muslim). Gharar adalah ketidakjelasan dalam bisnis. Gharar memastikan transaksi yang seharusnya tidak pasti atau menidakpastikan transaksi yang seharusnya pasti.

Ada hadits lain terkait jual beli gharar ini, yakni, Anas berkata, “ Rasulullah SAW melarang jual-beli dengan cara muhaqalah, muhadlarah (menjual buah-buahan yang belum masak yang belum tentu bisa dimakan), mulamasah (menjual sesuatu dengan hanya menyentuh), munabadzah (membeli sesuatu dengan sekedar lemparan), dan muzabanah ” (HR Bukhari). Selain itu, ada hadits dari Abu Hurairah ra bahwa “ Rasulullah SAW melarang jual-beli anak hewan dalam kandungan dan mani ternak jantan ” (HR al-Bazzar dengan sanad lemah).

Ketiga, tidak melakukan 2 jual beli dalam 1 jual beli. Ibnu Umar ra berkata, “ Rasulullah SAW melarang dua jual-beli dalam satu transaksi jual-beli ” (HR Ahmad dan Nasa'i. Hadits shahih menurut Tirmidzi). Menurut riwayat Abu Dawud, “ Barangsiapa melakukan dua jual-beli dalam satu transaksi, maka baginya harga yang murah atau ia termasuk riba .”

Kedua hadits tersebut menegaskan larangan bisnis yang melibatkan 2 jual beli dalam 1 jual beli. Jumhur Ulama menafsirkan skema bisnis dimaksud adalah ketika jual beli dengan ada 2 harga berbeda ketika kontan atau kredit, namun belum memilih 1 harga. Hadits ini menegaskan kebolehan jual beli dengan menyodorkan banyak alternatif harga, asalkan memilih satu harga saja ketika sepakat melakukan jual beli.

Keempat, tidak melakukan multiakad yang terlarang. Dari Amar Ibnu Syu'aib, dari ayahnya, dari kakeknya ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, " Tidak dihalalkan meminjam dan menjual, dua syarat dalam satu transaksi jual-beli, keuntungan yang belum dapat dijamin, dan menjual sesuatu yang tidak engkau miliki " (HR Imam Lima. Hadits shahih menurut Tirmidzi, Ibnu Khuzaimah dan Hakim).

Hadits ini menegaskan transaksi bisnis yang melibatkan multiakad, yakni percampuran antara pinjaman dan jual beli namun masuk kategori riba, dilarang menghadirkan 2 syarat dalam jual beli, dilarang mengambil keuntungan atas benda yang belum dikuasai, serta dilarang menjual barang yang belum milik. Dalam konteks muamalah kontemporer, skema transaksi di Lembaga Keuangan Syariah sudah menghindari larangan tersebut. Hadits ini membuka peluang bolehnya multiakad selain transaksi tersebut.

Kelima, tidak melakukan manipulasi. Manipulasi yang dilarang adalah manipulasi dalam permintaan maupun penawaran. Ibnu Umar ra berkata, “ Rasulullah SAW melarang berjualan dengan najasy (memuji barang dagangan secara berlebihan)” (HR Muttafaq Alaihi). Hadits ini menegaskan larangan aktivitas goreng menggoreng saham dalam rangka manipulasi kualitas saham.

Dari Ma'mar Ibnu Abdullah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, " Tidak akan menimbun (barang) kecuali orang yang berdosa " (Riwayat Muslim). Hadits ini melarang kita melakukan bisnis dengan manipulasi menimbun barang sampai kondisi barang langka di pasaran kemudian menjual dengan harga tinggi.

Keenam, tidak melakukan transaksi riba. Jabir ra berkata, “ Rasulullah SAW melaknat pemakan riba, pemberi makan riba, penulisnya, dan dua orang saksinya. Beliau bersabda, ‘Mereka itu sama. ’” (HR Muslim). Hadits ini menegaskan larangan melakukan riba, baik dalam jual beli maupun hutang piutang. Riba dalam hutang piutang terjadi ketika ada pinjaman bersyarat aliran manfaat bagi pemberi pinjaman. Riba dalam jual beli terjadi ketika ada pertukaran barang ribawi yang tidak senilai, tidak setara dan tidak kontan.

Ketujuh, tidak melakukan suap. Dari Abdullah Ibnu Amar Ibnu al-'Ash ra bahwa, “ Rasulullah SAW melaknat orang yang memberi dan menerima suap ” (HR Abu Dawud dan Tirmidzi. Hadits shahih menurut Tirmidzi). Hadits ini menegaskan larangan pemberian suap dalam melancarkan urusan bisnis.

Kedelapan, melakukan kongsi investasi. Dari Shuhaib ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, " Tiga hal yang di dalamnya ada berkah adalah jual-beli bertempo, ber-qiradl (memberikan modal kepada seseorang hasil dibagi dua), dan mencampur gandum dengan sya'ir untuk makanan di rumah, bukan untuk dijual " (HR Ibnu Majah dengan sanad lemah).

Hadits ini menegaskan barakah dalam hutang karena jual beli dan dalam bisnis berbasis kongsi investasi. Kongsi investasi adalah transaksi bisnis antara pemodal dan pengusaha dengan skema bagi hasil. Pemodal tidak bertindak sebagai pengusaha.

Kesembilan, melakukan kongsi usaha. Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, " Allah berfirman: Aku menjadi orang ketiga dari dua orang yang bersekutu selama salah seorang dari mereka tidak berkhianat kepada temannya. Jika ada yang berkhianat, aku keluar dari (persekutuan) mereka" (HR Abu Dawud dan dinilai shahih oleh Hakim). Hadits ini menegaskan salah satu skema bisnis yang diperbolehkan oleh Rasulullah SAW adalah syirkah (kongsi usaha), yakni adanya pemodal dan pengusaha yang saling melakukan persekutuan dagang dengan skema bagi hasil.

Kesepuluh, melakukan transaksi berbasis rahn. Transaksi rahn (gadai) ini selain diatur kebolehannya dalam Al-Qur’an, ada juga hadits dari ‘Aisyah   ra, beliau berkata, “ Rasulullah SAW wafat, sedangkan baju perang beliau masih digadaikan kepada seorang Yahudi dengan nilai tiga puluh sha’ gandum ” (HR Bukhari, HR An Nasai, HR Ibnu Majah, HR Ahmad, HR Ibnu Hibban).

Hadits tersebut menegaskan kebolehan bisnis berbasis gadai syariah. Ada beberapa produk yang disediakan oleh Pegadaian Syariah terkait skema bisnis berbasis gadai syariah, misalnya pembiayaan Rahn,Arrum BPKB, Rahn Hasan, dan Rahn Tasjily Tanah yang cocok digunakan sebagai alternatif untuk mendapatkan modal awal maupun modal tambahan.

Selain itu, hadits tersebut menegaskan kebolehan melakukan transaksi bisnis dengan Yahudi atau nonmuslim. Bahkan, Rasulullah SAW menggadaikan barang yang sangat berharga dalam urusan militer saat itu kepada nonmuslim, yakni baju perang. Hadits tersebut juga menyiratkan bahwa Rasulullah SAW wafat masih meninggalkan hutang yang kemudian dilunasi oleh sahabat. Hal ini membuktikan kezuhudan dan kesederhanaan Rasulullah SAW dalam urusan kepemilikan harta, karena sampai urusan makanan pun masih berhutang.

Demikian sebagian dari cara berdagang Rasulullah SAW. Kita bisa menirunya agar bisnis kita bisa sukses dan berkah.

 

Artikel ditulis oleh Tim Advika, keterangan lebih lanjut hubungi e-mail info@advikamedia.com



Artikel Terkait


  3 tahun yang lalu
  3 tahun yang lalu
  3 tahun yang lalu
  3 tahun yang lalu

Komentar Artikel "Tiru Cara Berdagang Rasulullah SAW Agar Sukses dan Berkah"