Usaha Dagang Menurut Islam dan Cara Memulainya - Pegadaian Syariah
logo

Usaha Dagang Menurut Islam dan Cara Memulainya

6 bulan yang lalu    
Usaha Dagang Menurut Islam dan Cara Memulainya

Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surat An-Nisa ayat 29, “ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu,” Ayat ini adalah rumus utama dalam menjalankan usaha dagang menurut Islam.

Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini bahwa Allah melarang hamba-hamba-Nya yang beriman memakan harta sebagian mereka tehadap sebagian lainnya dengan bathil , yaitu dengan berbagai macam usaha yang tidak syar’i seperti riba , judi dan berbagai hal serupa yang penuh tipu daya, sekalipun pada lahiriahnya cara-cara tersebut berdasarkan keumuman hukum syar’i , tetapi diketahui oleh Allah dengan jelas bahwa pelakunya hendak melakukan tipu muslihat terhadap riba.

Terkait ayat tersebut, Ibnu Katsir juga menafsirkan bahwa seakan-akan Allah berfirman: janganlah kalian menjalankan (melakukan) sebab-sebab yang diharamkan dalam mencari harta, akan tetapi dengan perniagaan yang disyari’atkan, yang terjadi dengan saling meridhai antara penjual dan pembeli, maka lakukanlah hal itu dan jadikanlah hal itu sebagai sebab dalam memperoleh harta benda.

Rasulullah SAW juga telah memberikan rumus sumber nafkah, sebagaimana diriwayatkan oleh Rifa'ah Ibnu Rafi' bahwa Nabi Muhammad SAW pernah ditanya, pekerjaan apakah yang paling baik? Beliau bersabda: " Pekerjaan seseorang dengan tangannya dan setiap jual-beli yang bersih ." Riwayat al-Bazzar. Hadits shahih menurut Hakim. [ Bulugh al Maram min Adillat al Ahkam, halaman 227 ].

Hadits tersebut mengungkap bahwa pekerjaan yang hasilnya bisa dimiliki sebagai sumber penghasilan yang layak, halal dan baik dipergunakan untuk pemenuhan nafkah adalah pekerjaan seseorang yang dari tangannya sendiri, dari keringatnya sendiri, serta jual beli yang tidak ada khianat, menghindari kecurangan dan kezhaliman. [ Ibaanat al Ahkaam Syarh Bulugh al Maram min Adillat al Ahkaam, Juz 3 halaman 2 ].

Sederhananya, nafkah terbaik menurut Islam adalah yang dijalankan melalui usaha dagang. Usaha dagang sesuai syariah Islam adalah yang dijalankan dengan menghindari transaksi yang dilarang, selebihnya bisa kamu lakukan. Hal ini sesuai dengan kaidah fikih muamalah bahwa hukum asal dari muamalah adalah mubah sampai ada dalil keharamannya. Itulah rumus utama usaha dagang menurut Islam.

Al-Qur’an mendefinisikan usaha dagang dengan istilah tijarah (disebut 8 kali dalam Al-Qur’an), sedangkan istilah jual beli ( bay ) disebut sebanyak 6 kali dalam Al-Qur’an. Berbagai kitab klasik mengelompokkan usaha dagang terdiri dari transaksi ( akad ) jual beli ( bay ) dan kongsi ( syirkah ). Setiap kongsi juga harus melibatkan transaksi jual beli jika ingin hadir keuntungan. Dengan demikian, usaha dagang menurut Islam adalah ketika profit atau keuntungan yang diperoleh adalah melalui transaksi jual beli.

Jual beli menurut Kitab Fath al Qarib dan Kitab Kifayatul Akhyar adalah transaksi pertukaran. Objek pertukaran ini bisa berupa uang, barang, manfaat dan harta ribawi (khusus barang ribawi ini ada syarat dan ketentuan khusus). Jadi, usaha dagang menurut Islam adalah usaha apapun yang melibatkan pertukaran antara empat objek pertukaran tersebut, yang tidak melanggar syariat Islam.

Dari sisi keabsahan transaksi, jual beli yang sah adalah jual beli yang memenuhi rukun dan syarat jual beli. Rukun jual beli terdiri dari adanya penjual, pembeli, objek jual beli dan harga serta ijab qabul. Kongsi juga harus memenuhi rukun dan syaratnya.

Masih menurut Kitab Fath al Qarib , jual beli yang boleh dilakukan itu ada 2 jenis, yakni jual beli barang yang bisa disaksikan oleh para pihak dan jual beli sesuatu dalam tanggungan yang spefisikasinya sudah bisa ditentukan (biasa disebut dengan jual beli pesanan). Rumus ini menyebabkan berbagai model bisnis kontemporer bisa diakomodir, termasuk bisnis online , tentu dengan syarat dan ketentuan tidak menzhalimi antar pihak.

Ada beberapa jenis transaksi terlarang yang harus dihindari dalam usaha dagang, yaitu riba, gharar, maisir, zhalim , maksiat dan transaksi haram lainnya. Pengusaha harus paham hal ini agar dengan mudah mengidentifikasi transaksi usaha dagang yang harus dihindari.

Riba dibagi menjadi 2 yakni, riba pinjaman dan riba jual beli. Riba pinjaman adalah pinjaman dengan syarat adanya aliran manfaat bagi pemberi pinjaman. Sedangkan riba jual beli adalah pertukaran barang ribawi (emas, perak, gandum, kurma, anggur burr, anggur syair dan qiyasnya seperti mata uang) yang tidak memenuhi kaidah kontan, sejenis, setara dan berbagai syarat khusus lainnya.

Gharar adalah ketidakpastian, yakni memastikan hal yang seharusnya dipastikan atau menidakpastikan hal yang seharusnya dipastikan. Praktik gharar adalah jual beli yang objeknya masih berupa risiko, jual beli dengan sepakat adanya banyak harga, dan lain-lain.

Maisir adalah mengeluarkan sedikit dengan menginginkan hasil banyak. Praktik maisir adalah ketika ada transaksi beberapa pihak yang saling menyetorkan dana, nanti ada pihak yang memperoleh dana itu karena menang (hasil undian), sedangkan kemenangan itu diperoleh dengan mengambil hak pihak yang kalah.

Zhalim adalah transaksi menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya. melakukan hal aniaya, melakukan transaksi yang tidak adil dan fair. Maksiat adalah transaksi melawan perintah Allah dan melakukan larangan Allah. Itulah transaksi-transaksi yang harus dihindari dalam usaha dagang.

Cara Mulai Usaha Dagang

Cara mudah memulai usaha dagang adalah dengan melakukan usaha dagang yang objek dagangnya selain barang dan uang, yakni manfaat. Inilah yang biasanya disebut dengan usaha dagang tanpa modal uang atau barang. Modalnya adalah kemampuan untuk melakukan sesuatu (bahasa fikihnya disebut dengan bay manfaat a’maal atau jual beli jasa atau biasanya disebut ijarah ).

Usaha dagang jasa ini bermacam-macam, mulai dengan menjadi pegawai, pengajar, konsultan, dan lain-lain. Modal yang kita persiapkan adalah kemampuan dan kompetensi kita. Lakukan dari yang paling kamu bisa dan berpotensi menghadirkan pembeli jasa yang kamu punya.

Berikutnya adalah usaha dagang yang membutuhkan modal berupa uang atau barang. Jika kamu bingung untuk mendapatkan modal yang sesuai dengan syariah, Pegadaian Syariah punya jalan keluarnya melalui pembiayan Arrum BPKB.

Pembiayaan Arrum BPKB memudahkan para pengusaha kecil untuk mendapatkan modal usaha dengan jaminan kendaraan bermotor. Kendaraan tetap bisa kamu gunakan untuk mendukung usaha sehari-hari, hanya surat-suratnya saja yang dijadikan sebagai jaminan untuk modal usaha.

Keunggulan produk ini adalah prosedur pengajuan yang  mudah karena kamu hanya cukup menyerahkan BPKB kendaraan bermotor sebagai agunan dan  proses marhun bih (pinjaman) hanya butuh 3 hari. Selain itu, mu'nah pemeliharaan (biaya pemeliharaan jaminan) per bulan hanya 0,7% dari nilai jaminan dan pilihan jangka waktu pinjaman yang beragam, mulai dari 12, 18, 24, 36 bulan.

Persyaratannya pun mudah dan sederhana, yakni kamu memiliki usaha yang memenuhi kriteria kelayakan serta telah berjalan 1 (satu) tahun, menyerahkan fotokopi KTP dan kartu keluarga, serta dokumen kepemilikan kendaraan bermotor (BPKB asli, fotocopy STNK dan Faktur Pembelian).

Demikian usaha dagang menurut Islam, cara memulainya, dan solusi mudahnya. Semoga bermanfaat!

 

Artikel ditulis oleh Tim Advika, keterangan lebih lanjut hubungi e-mail info@advikamedia.com



Artikel Terkait


  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu

Komentar Artikel "Usaha Dagang Menurut Islam dan Cara Memulainya"