Wirausaha dalam Islam - Pegadaian Syariah
logo

Wirausaha dalam Islam

11 bulan yang lalu    
Wirausaha dalam Islam

Pemahaman sederhana dari istilah wirausaha adalah membuat usaha sendiri. Ketika ada itikad dan proses pembuatan usaha mandiri, maka tentu akan berhadapan dengan berbagai risiko. Risiko yang muncul bisa berasal dari sisi penata-kelolaan semua unsur yang terlibat dalam usaha maupun risiko hasil yang akan diperoleh, yakni untung, rugi atau impas.

Bagaimana dengan konsep wirausaha Islam?

Sebelumnya, kita perhatikan dulu bahwa Al-Qur’an dan hadits mengenal istilah tijarah (dagang atau transaksi motif profit yang bisa meliputi jual beli atau kongsi) dan bay’ (jual beli atau dagang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia). Dari sini terlihat bahwa sejatinya konsep Islam tidak memilah posisi kita ini sebagai pemilik usaha atau bukan, namun lebih kepada transaksi dagangnya.

Seorang pemilik usaha, bisa jadi ia hanya merupakan pemegang saham (melakukan transaksi kongsi), namun bisa sekaligus sebagai pedagang (dalam definisi sebagai pelaku kongsi dan/atau sekaligus sebagai pelaku jual beli barang/jasa). Bahkan, seorang karyawan akan pasti disebut sebagai pedagang, oleh karena ia adalah penjual/pedagang jasa.

Tepat juga jika akhirnya muncul definisi wirausaha dalam konteks membuat usaha sendiri (entrepreneurship) dan pengusaha dalam konteks seseorang sebagai bagian dari organisasi atau statusnya sebagai karyawan (intrapreneurship). Ada jargon bagi karyawan bahwa karirmu ditentukan oleh dirimu. Ini mencerminkan bahwa penerapan jiwa kewirausahaan yang dimiliki oleh karyawan akan menyebabkan hasil maksimal dalam berkarir.

Jadi, seorang wirausaha bisa berarti ia sebagai pemilik usaha maupun sebagai karyawan atau sebagai pemilik usaha sekaligus sebagai karyawan. Semua pihak sama-sama penting. Semua pihak bisa saling sinergi satu sama lain.

Rasulullah SAW telah memberikan rumus sumber nafkah, sebagaimana diriwayatkan oleh Rifa'ah Ibnu Rafi' bahwa Nabi Muhammad SAW pernah ditanya, pekerjaan apakah yang paling baik? Beliau bersabda, “Pekerjaan seseorang dengan tangannya dan setiap jual-beli yang bersih.” Riwayat al-Bazzar. Hadits shahih menurut Hakim. (Bulugh al Maram min Adillat al Ahkam, halaman 227).

Hadits tersebut mengungkap bahwa pekerjaan yang hasilnya bisa dimiliki sebagai sumber penghasilan yang layak, halal dan baik dipergunakan untuk pemenuhan nafkah adalah pekerjaan seseorang yang dari tangannya sendiri, dari keringatnya sendiri, serta jual beli yang tidak ada khianat, menghindari kecurangan dan kezhaliman. (Ibaanat al Ahkaam Syarh Bulugh al Maram min Adillat al Ahkaam, Juz 3 halaman 2).

Ini adalah rumusan utama dari seorang pedagang. Ini juga yang akan menjadi rumusan utama jika ingin disebut sebagai wirausaha Islam. Ciri-ciri seorang wirausaha dalam konteks punya usaha sendiri pun otomatis bisa diterapkan oleh wirausaha Islam dalam konteks sebagai karyawan.

Secara operasional, ada beberapa ciri wirausaha Islam. Ciri ini bisa diterapkan oleh siapapun yang berprofesi sebagai pemilik usaha, karyawan, maupun pemilik usaha sekaligus karyawan.

Pertama, meniru sifat Nabi, yakni shiddiq, amanah, tabligh, fathonah. Seorang wirausaha Islam harus mampu meniru sifat Nabi yang pertama, yaitu shiddiq yang artinya adalah berkata benar, bertindak benar. Seorang wirausaha Islam harus mampu berkata dan bertindak dengan benar, atau diam saja (jika tidak mampu berkata dan bertindak benar).

Berikutnya adalah amanah. Seorang wirausaha Islam harus punya sifat amanah, yakni menjaga kepercayaan, baik dari sisi internal maupun eksternal. Kepercayaan juga menjadi kunci utama hadirnya bisnis. Perhatikan Nabi Muhammad SAW ketika beranjak memasuki usia dewasa, ia diberi julukan Al Amin oleh warga Makkah dan diberikan kepercayaan mengelola dana oleh berbagai pihak.

Pemberian kepercayaan paling fenomenal adalah ketika ia berusia 25 tahun, ia diberi kepercayaan untuk mengelola seluruh harta Khadijah sekaligus menjadi istri Nabi Muhammad SAW. Faktor utama kondisi ini adalah adanya sifat amanah yang melekat pada Nabi Muhammad SAW.

Berikutnya adalah tabligh, yakni kemampuan menyampaikan, kemampuan berkomunikasi efektif. Bisnis efektif akan dipengaruhi oleh efektivitas komunikasi, baik secara internal maupun eksternal.

Sifat Nabi Muhammad SAW berikutnya yang patut dicontoh oleh wirausaha Islam adalah fathonah, yakni memiliki kecerdasan dalam berbisnis. Sejatinya, setiap manusia memiliki potensi kecerdasan masing-masing. Namun tidak semuanya memiliki kemauan dan kemampuan untuk mengoptimalkan kecerdasannya.

Kata kuncinya adalah punya kemauan kuat untuk memaksimalkan potensi akal yang kita miliki. Potensi ini bisa terus diasah dengan terus menggali ide, melakukan diskusi, melakukan eksperimen bisnis, berani mengambil risiko bisnis, dan berbagai hal yang bisa terus mengasah kecerdasan kita. Kegagalan di satu langkah bisnis, akan menyebabkan kecerdasan kita meningkat jika terus mau belajar dari berbagai peristiwa yang telah terjadi.

Kedua, siap dengan risiko bisnis. Ada kaidah fikih berbunyi al ghunmu bi al ghurmi wa al kharraj bi adhdhaman, untung muncul bersama risiko dan hasil usaha muncul bersama biaya. Selain keberanian mengambil risiko, seorang wirausaha Islam juga harus mampu menerima risiko dengan logis.

Ketika berbisnis, sudah sewajarnya kita harus siap dengan risiko untung, rugi, atau impas. Kita pun harus siap dengan berbagai konsekuensi logis dari bisnis, yakni adanya effort atau usaha atau pengeluaran biaya yang dilakukan dalam rangka mencapai hasil yang maksimal.

Ketiga, jiwa kepemiminan. Rasulullah SAW bersabda, kullukum raa’in wa kullukum mas`uulun ‘an ra’iyyatihi, setiap dari kalian adalah pemimpian dan akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpin.

Salah satu ciri dari wirausaha Islam adalah adanya jiwa kepemimpinan. Kepemimpinan dimulai dari memimpin diri sendiri. Jika sudah berhasil memimpin diri sendiri, selanjutnya mampu menjadi pemimpin terhadap orang lain secara perseorangan maupun kelompok.

Jiwa kepemimpinan ini sangat besar dampaknya bagi proses jalannya usaha. Usaha yang baik akan hadir dalam koletivitas yang baik. Ada pemimpin yang adil, dan yang dipimpin juga harus menaati pemimpinnya. Dengan demikian, penatakelolaan usaha akan lebih tertata rapi, sehingga risiko bisa diminimalisir dan bisa menghasilkan keuntungan yang maksimal.

Keempat, militansi tinggi. Allah berfirman fa man ya’mal mitsqaala dzarratin khayran yarahu wa man ya’mal mitsqaala dzarratin syarran yarahu. Sesiapa yang melakukan perbuatan baik sebesar biji dzarrah, maka Allah akan melihat dan membalasnya. Begitu juga sesiapa yang melakukan perbuatan buruk ebesar biji dzarrah, maka Allah akan melihat dan membalasnya.

Pengawas wirausaha Islam bukan lagi manusia, tetapi Allah. Seorang wirausaha Islam akan sangat yakin, bahwa ketika atasannya tidak tahu, ketika bawahan dan rekan bsinisnya tidak tahu atas perbuatan baik yang diperbuat, ia tetap yakin bahwa Allah pasti akan membalasnya.

Dengan demikian, kinerja wirausaha Islam tidak lagi semata dipengaruhi oleh ada atau tidaknya pengawasan dari sisi manajemen perusahaan. Semua langkah bisnisnya dijalankan dalam rangka mencapai ridha Allah. Sehingga militansi wirausaha Islam akan tetap terjaga.

Kelima, selalu bertakwa kepada Allah. Allah berfirman, wa man yattaqillaaha yaj’al lahuu makhrajan wa yarzuqhu min haitsu laa yahtasib. Sesiapa yang bertakwa kepada Allah, maka Allah akan memberikan kepadanya jalan keluar atas persoalan dan akan memberikan rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangka.

Ruh utama dari wirausaha Islam adalah kemauan kuat untuk bertakwa, yakni menjalankan semua perintah Allah dan meninggalkan larangan Allah. Wirausaha Islam berkeyakinan bahwa jalan untuk memperoleh jalan keluar atas persoalan dan rezeki berlimpah adalah takwa.

Contoh aktivitas wirausaha Islam misalnya, jika sudah waktu sholat, segeralah sholat berjamaah. Jika ada kelebihan harta, segera berzakat dan bersedekah. Jangan lupa untuk terus tinggalkan maksiat. Meskipun, ketika Allah tidak berkunjung memberikan solusi atas persoalan dan tidak juga melimpahkan harta kepada kita, bukan berarti kita tidak masuk dalam kategori orang bertakwa. Teruskan saja takwanya, karena Allah lebih tahu apa yang kita butuhkan.

Demikian ciri dan karakteristik wirausaha Islam. Jika Anda memiliki kebutuhan modal kerja untuk bisnis Anda, Anda tinggal datang ke Pegadaian Syariah. Ada banyak produk berbasis gadai syariah dan pembiayaan syariah yang siap membantu permodalan Anda. Selamat berwirausaha!

 

Artikel ditulis oleh Tim Advika, keterangan lebih lanjut hubungi e-mail info@advikamedia.com

 



Artikel Terkait


  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu

Komentar Artikel "Wirausaha dalam Islam"