Yang Harus Diperhatikan Saat Gadai Sertifikat Tanah di Pegadaian Syariah - Pegadaian Syariah
logo

Yang Harus Diperhatikan Saat Gadai Sertifikat Tanah di Pegadaian Syariah

6 bulan yang lalu    
Yang Harus Diperhatikan Saat Gadai Sertifikat Tanah di Pegadaian Syariah

Tanah merupakan salah satu harta yang sudah diatur tata kelola serta ketentuan kepemilikannya sejak masa Rasulullah SAW. Ketentuan kepemilikan atas tanah ini sangat penting karena menyangkut hak yang ditetapkan oleh Allah SWT bagi manusia untuk memanfaatkan tanah.

Dalam Islam segala sesuatu yang ada di langit dan bumi termasuk tanah hakikatnya adalah milik Allah SWT semata. Sebagaimana yang terdapat dalam Surat An-Nur ayat 42, " Dan kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan kepada Allah-lah kembali (semua makhluk). " Begitupula dalam Surat Al-Hadid ayat 2, " Kepunyaan-Nyalah kerajaan langit dan bumi, Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. "

Ayat-ayat tersebut menegaskan, bahwa kepemilikan hakiki dari segala sesuatu yang ada di langit maupun di bumi adalah Allah SWT. Lantas manusia berperan sebagai apa dalam hal kepemilikan ini?

Allah SWT sebagai pemilik yang hakiki kemudian memberikan kuasa ( istikhlaf ) kepada manusia untuk mengelola dan memelihara kepemilikan Allah ini sesuai dengan yang d syaria'atkan. Dalilnya apa? Sebagaimana Allah firmankan dalam Surat Al-Hadid ayat 7, " Dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya ."

Imam alQurthubi menjalaskan ayat ini dalam tafsirnya, adalah asas atau dalil bahwa ala-usul kepemilikan  (ushul milki) adalah milik Allah SWT semata, dan manusia sebagai pengelola dari kepemilikan Allah ini.

Dengan demikian, Islam telah menjelaskan dengan gamblang terkait kepemilikan tanah dalam Islam. Ada 2 (dua) poin yang menjadi inti dari kepemilikan ini, yaitu pemilik hakiki dari tanah adalah Allah SWT dan Allah SWT sebagai pemilik hakiki telah memberikan kuasa kepada manusia untuk mengelola tanah menurut hukum-hukum Allah.

Ada dua macam tanah yang diatur dalam syariah Islam, yaitu tanah usyriah ( al-ardhu al-'usyriyah ) dan tanah kharajiyah ( al-ardhu al-kharajiyah ). Tanah usyriah adalah tanah yang penduduknya masuk Islam secara damai tanpa peperangan, contohnya Madinah Munawwarah dan Indonesia. Contoh yang termasuk dalam tanah usyriah adalah seluruh Jazirah Arab yang ditaklukkan dengan peperangan, misalnya Mekkah, termasuk jenis ini adalah tanah mati yang telah dihidupkan oleh seseorang ( ihya`ul mawat ).

Sedangkan tanah kharajiyah adalah tanah yang dikuasai kaum Muslimin melalui peperangan ( al-harb ), misalnya tanah Irak, Syam, dan Mesir, kecuali Jazirah Arab atau tanah yang dikuasai melalui perdamaian ( al-shulhu ), misalnya tanah Bahrain dan Khurasan.

Menurut Abdurahman Al Maliki, suatu tanah bisa dimiliki oleh umat Islam melalui 6 cara, yaitu melalui jual beli, waris, hibah, ihya al mawat (menghidupkan tanah yang mati), tahjir (membuat batas atau pagar pada tanah mati), dan pemberian negara kepada rakyat ( iqtha’ ). Setelah tanah itu dimiliki, tanah bisa dikelola dan dimanfaatkan dengan baik.

Syariat Islam mengatur agar pemilik tanah pertanian mengolahnya sehingga menjadi tanah yang produktif. Negara dapat membantunya dalam menyediakan sarana produksi pertanian seperti irigasi dan sejenisnya. Apabila kita tidak mampu mengelola dan memanfaatkan tanah tersebut, maka sebaiknya tanah tersebut diserahkan pengelolaannya kepada orang  yang dianggap mampu.

Saat ini, tanah memiliki berbagai fungsi sesuai dengan pemenuhan kebutuhan kontemporer. Selain ditata-kelola agar produktif, ternyata tanah juga bisa dijadikan agunan untuk gadai. Salah satu contoh pemanfaatannya lewat produk yang dikeluarkan oleh Pegadaian Syariah, yakni Rahn Tasjily Tanah untuk gadai sertifikat tanah.

Rahn Tasjily Tanah merupakan fitur layanan Rahn (gadai syariah) yang jaminannya berupa bukti kepemilikan tanah atau sertifikat tanah yang ditujukan kepada petani dan pengusaha mikro untuk mengembangkan usahanya.

Ada beberapa keunggulan yang dimiliki produk Rahn Tasjily Tanah, misalnya produk ini tersedia di outlet Pegadaian Syariah di seluruh Indonesia. Kondisi ini ditambah dengan kenyataan bahwa Pegadaian Syariah adalah perusahaan BUMN (Badan Usaha Milik Negara) sehingga kredibilitasnya terjamin. Pinjaman ( marhun bih ) yang diberikan juga kompetitif, mulai dari Rp 1 juta sampai dengan Rp 200 juta.

Ada beberapa syarat dan ketentuan yang harus disiapkan dalam rangka pengajuan pembiayaan Rahn Tasjily Tanah, yakni fotokopi KTP atau identitas resmi lainnya, menyerahkan sertifikat tanah dengan status hak milik, menyerahkan IMB jika di atasnya terdapat bangunan, dan fotokopi pembayaran PBB terakhir. Adapun ketentuan tanah adalah tanah produktif yang di atasnya terdapat tanaman pertanian (tumbuh-tumbuhan) atau kandang ternak permanen yang memberikan hasil yang dapat diperjualbelikan.

Ada 2 jenis Rahn Tasjily Tanah yang bisa diajukan oleh nasabah, yakni pinjaman Rahn Tasjily Tanah Reguler dan Rahn Tasjily Tanah Fleksi. Pinjaman Rahn Tasjily Tanah Reguler yaitu Rahn Tasjily Tanah yang kewajibannya dibayarkan oleh rahin dengan cara angsuran yang disetor setiap bulan. Sedangkan Rahn Tasjily Tanah Fleksi yaitu pinjaman Rahn Tasjily Tanah yang kewajibannya dibayarkan oleh rahin dengan sekali bayar dan berkala (3, 4 dan 6 bulan).

Kategori Rahn Tasjily Tanah Reguler menawarkan pilihan jangka waktu angsuran yakni 12, 18, 24, 36, 48 dan 60 bulan. Sedangkan kategori Rahn Tasjily Tanah Fleksi ada beberapa aternatif angsuran. Jika Rahn Tasjily Tanah Fleksi dilakukan satu kali pembayaran, maka alternatifnya adalah 3, 4 dan 6 bulan. Jika Rahn Tasjily Tanah Fleksi dilakukan secara berkala 3 atau 4 atau 6 bulan, alternatif pilihan jangka waktunya adalah 12, 24, 36, 48 dan 60 bulan.

Keunggulan utama skema Rahn Tasjily Tanah adalah transaksinya yang sesuai prinsip syariah. Pegadaian Syariah juga memiliki Dewan Pengawas Syariah yang mengawasi kesesuaian produknya dengan syariah Islam. Selain itu, prosedur dan alur bisnis produk ini mudah dilakukan dan prosesnya cepat. Alur syariah produk ini bisa dibuktikan dengan mencermati alur skema transaksinya.

Alur transaksi Rahn Tasjily Tanah dimulai dengan nasabah menggadaikan sertifikat tanah di Pegadaian Syariah. Setelah itu, nilai tanah ditaksir sehingga diperoleh nominal nilai taksiran. Dari nilai taksiran tersebut, Pegadaian Syariah menentukan biaya jual beli manfaat tempat penyimpanan (sewa) dan jasa penjagaan agunan sertifikat tanah.

Selanjutnya nasabah mendapatkan pinjaman dari Pegadaian Syariah. Pinjaman ini berupa sejumlah uang dengan nominal tertentu yang harus dikembalikan sesuai dengan jumlah uang yang dipinjam nasabah. Uang pinjaman ini boleh tunai, boleh ditransfer.

Berdasarkan alur tersebut, bisa diketahui bahwa jumlah uang yang harus dibayarkan nasabah adalah senilai pinjaman ditambah dengan senilai harga jual beli manfaat (sewa) dan jasa atas pemeliharaan agunan.

Skema ini halal karena tidak menabrak larangan  laa yahillu salaf wa bay'  (tidak halal ada pinjaman dan jual beli) oleh karena tidak ada skema riba dalam pinjaman. Riba pinjaman ini terjadi ketika ada pinjaman bersyarat aliran manfaat bagi pinjaman. Selain itu, akad intinya adalah akad gadai yang menghadirkan transaksi jual beli manfaat, bukan akad pinjaman.

Sebagaimana kelaziman transaksi gadai, ada pengikatan agunan dengan skema gadai yang artinya nasabah sukarela menyerahkan agunan sertifikat tanah diproses untuk memenuhi kewajibannya jika ia tidak melakukan pembayaran atas kreditnya. Kesediaan nasabah ini dibuktikan dengan tanda tangan dokumen yang sudah dibubuhkan.

Jika nasabah gagal bayar, tentu saja tidak serta merta agunan sertifikat tanah dieksekusi begitu saja, pasti ada kesempatan bagi nasabah untuk menebus sertifikat tanahnya dengan tetap melakukan pembayaran atas kreditnya. Jika nasabah benar-benar tidak melakukan pembayaran, maka agunan berupa sertifikat tanah tersebut diproses untuk dijual.

Jika hasil penjualannya melebihi jumlah pinjaman, maka kelebihannya dikembalikan kepada nasabah. Jika hasil penjualannya kurang dari jumlah pinjaman, maka nasabah tetap wajib membayar kekurangannya.

Demikian hal-hal yang harus diperhatikan dalam melakukan gadai sertifikat tanah di Pegadaian Syariah. Semoga bermanfaat. Amin.

Artikel ditulis oleh Tim Advika, keterangan lebih lanjut hubungi e-mail info@advikamedia.com



Artikel Terkait


  3 tahun yang lalu
  3 tahun yang lalu
  3 tahun yang lalu
  3 tahun yang lalu

Komentar Artikel "Yang Harus Diperhatikan Saat Gadai Sertifikat Tanah di Pegadaian Syariah"