Yuk, Ketahui Asal Mula dan Sejarah Puasa Ramadan! - Pegadaian Syariah
logo

Yuk, Ketahui Asal Mula dan Sejarah Puasa Ramadan!

8 bulan yang lalu    
Yuk, Ketahui Asal Mula dan Sejarah Puasa Ramadan!

Tak banyak di antara kita yang tahu asal mula dan sejarah puasa Ramadan. Puasa yang disyariatkan selama 30 hari ini ternyata disyariatkan sejak bulan Sya’ban pada tahun ke-2 Hijriyah. Rasulullah SAW sendiri sempat melaksanakan puasa Ramadan selama 9 tahun, sebelum beliau wafat pada bulan Rabi’ul Awwal tahun ke-11 Hijriyah.

Adakah jenis puasa yang disyariatkan sebelum Ramadan? Dalam hal ini, kalangan ulama ada beda pendapat. Menurut kalangan ulama dari madzhab Hanafiyah dan Ibnu Hajar dari madzhab Syafiiyah, puasa yang pertama kali diwajibkan sebelum Ramadan adalah puasa hari Asyura.

Puasa ini hukumnya wajib dilaksanakan berdasarkan hadits dari Jabir bin Samurah ra “Rasulullah SAW menyuruh untuk melaksanakan puasa hari ‘Asyura dan benar-benar mengingatkan kami untuk melaksanakannya, kami pun berjanji untuk melaksanakan puasa tersebut di sisi Rasulullah. Ketika puasa Ramadan di-fardhu-kan, Rasulullah pun tidak lagi menyuruh kami untuk melaksanakan puasa hari ‘Asyura tersebut”. (HR. Muslim). Jadi, puasa hari Asyura ini akhirnya dihapuskan dengan hadirnya puasa Ramadan.

Pendapat tersebut adalah menurut madzhab Hanafiyah dan sebagian Syafiiyah. Madzhab Hanafiyah menambahkan juga puasa 3 hari pada setiap bulan. Sedangkan menurut jumhur Ulama dan pendapat paling masyhur di kalangan Syafiiyah, tidak ada puasa yang dihukumi wajib sebelum puasa Ramadan.

Itulah beda pendapat di kalangan ulama terkait pensyariatan puasa Ramadan. Berikut ini adalah beberapa dalil yang menunjukkan syariat puasa Ramadan.

Pertama, syariat puasa Ramadan menurut Al-Qur’an. Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 183, yakni “Hai orang-orang yang beriman, ditetapkan atas kalian puasa sebagaimana ditetapkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertaqwa.”

Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir menegaskan bahwa Allah menyerukan kepada orang-orang yang beriman dari umat ini dan memerintahkan mereka untuk berpuasa. Puasa berarti menahan diri dari makan, minum, dan bersetubuh, dengan niat yang tulus karena Allah karena puasa mengandung penyucian, pembersihan, dan penjernihan diri dari kebiasaan-kebiasaan yang jelek dan akhlak tercela.

Allah juga menyebutkan sebagaimana Dia telah mewajibkan puasa itu kepada mereka, Dia juga telah mewajibkannya kepada orang-orang sebelum mereka, karena itu ada suri teladan bagi mereka dalam hal ini. Maka hendaklah mereka bersungguh-sungguh dalam menjalankan kewajiban ini dengan lebih sempurna daripada yang telah dijalankan oleh orang-orang sebelum mereka. 

Ibnu Katsir juga menyatakan bahwa pada permulaan Islam, puasa dilakukan tiga hari pada setiap bulan. Kemudian hal itu dihapus dengan puasa satu bulan penuh, yaitu pada bulan Ramadan.

Diriwayatkan dari Mu’adz, Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Atha’, Qatadah, dan adh-Dhahhak bin Muzahim, bahwa puasa itu pertama kali dijalankan seperti yang diwajibkan kepada umat-umat sebelumnya, yaitu tiga hari setiap bulannya. Ditambahkan oleh adh-Dhahhak, bahwa pelaksanaan puasa seperti ini masih tetap disyari’atkan pada permulaan Islam sejak Nabi Nuh as. sampai Allah menasakhnya dengan puasa Ramadan.

Pada Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 285, Allah berfirman, “Barangsiapa yang menyaksikan masuknya bulan (Ramadan), maka berpuasalah.” Terkait ayat ini, Ibnu Katsir menafsirkan bahwa Ini merupakan kewajiban yang bersifat pasti bagi orang yang menyaksikan permulaan bulan (Ramadan), artinya bermukim di tempat tinggalnya (tidak melakukan perjalanan jauh) ketika masuk bulan Ramadan, sedang ia benar-benar dalam keadaan sehat fisik, maka ia harus berpuasa.

Kedua, syariat puasa Ramadan menurut hadits. Ibnu Umar berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Islam dibangun di atas lima pondasi: kesaksian bahwa tiada yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, pendirian shalat, penunaian zakat, haji, dan puasa Ramadan.” (HR Bukhari Muslim).

Masih menurut Hadits, dari Thalhah ibn ‘Ubaidillah, bahwa seorang Arab Badui datang menemui Rasulullah SAW, kemudian ia bertanya kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah, beritahu aku shalat apa saja yang diwajibkan oleh Allah kepadaku?”, Rasulullah SAW menjawab: “Shalat lima waktu, kecuali jika ingin menambah yang tathawwu’ (sunnah).”, Arab badui itu bertanya lagi: “Beritahu aku puasa apa saja yang diwajibkan oleh Allah kepadaku?”, Rasulullah SAW menjawab: “Puasa bulan Ramadan, kecuali jika ingin menambah yang tathawwu’.”, Arab badui itu bertanya lagi: “Beritahu aku zakat apa saja yang diwajibkan oleh Allah kepadaku?”, Rasulullah SAW kemudian memberitahunya tuntunan-tuntunan Syariah Islam. Arab badui itu kemudian berkata, “Demi Zat yang memuliakanmu, aku tidak akan menambah (dengan yang tathawwu’) maupun mengurangi apa yang telah diwajibkan oleh Allah kepadaku.” Rasulullah SAW kemudian bersabda, “ia akan beruntung jika ia benar.”, atau “ia akan masuk surga jika ia benar.” (HR Bukhari Muslim). Kedua Hadits di atas menegaskan kewajiban berpuasa Ramadan.

Ketiga, syariat puasa Ramadan menurut ijma’. Umat Islam dari masa ke masa telah ber-ijma’ akan wajibnya puasa Ramadan, dan tidak ada yang mengingkari kewajiban ini kecuali orang yang memang ingkar terhadap ajaran Islam. Bahkan puasa (Ramadan) ini merupakan salah satu dari rukun Islam.

Demikian uraian tentang asal mula puasa Ramadan dari sisi sejarah, syariat, dan dalil yang menunjukkan kewajibannya. Semoga puasa kita di-ridhai Allah SWT. Amin.

 

Artikel ditulis oleh Tim Advika, keterangan lebih lanjut hubungi e-mail info@advikamedia.com



Artikel Terkait


  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu
  2 tahun yang lalu

Komentar Artikel "Yuk, Ketahui Asal Mula dan Sejarah Puasa Ramadan!"